Kalya terdiam sebentar, apakah tadi Daniel bersama kekasihnya yang baru? Lalu kenapa hatinya merasa sakit dan tidak terima? Jadi wanita itu yang membuat hubungan mereka hancur? Kalya melihat sekitar, ada banyak sekali motor-motor yang berjejer di lapangan, itu adalah motor orang tua yang ingin menjemput anaknya pulang.
"Kalya." Bella menepuk bahu Kalya pelan, dan Kalya langsung menoleh melihat salah satu temannya itu.
"Lo belum pulang? Pulang bareng sama gue aja yuk, gue nggak ada temen nih, gue bawa motor kok." Kalya terlihat gelagapan, dia tadi sudah memikirkan Daniel dan itu membuatnya salah tingkah.
"Ayo deh Bell, kebetulan abang gue nggak jemput kayaknya." Kalya tesenyum dan sebelum saat mereka berdua melangkah, ada seseorang yang memanggil nama Kalya, duduk di atas motor sambil membuka helm nya.
"Bang Abi?" Kalya melihat abangnya yang turun dari atas motor dengan gantengnya, bahkan beberapa orang tua murid terkesima melihatnya. Kalya hanya bisa menggelengkan kepalanya, lagi lagi dia menjadi pusat perhatian karena wajahnya yang tampan. Lalu dia menghampiri Kalya dan Bella.
"Ayo pulang, abang tadi udah beliin makanan kesukaan kamu." Abi tersenyum manis, membuat semua orang ikut tersenyum.
Kalya melihat Bella, merasa tak enak jika dia membatalkan ajakannya dan pergi bersamka Abi, namun dia melihat Bella sedang terkesima melihat Abi yang sangat tampan sampai-sampai mulutnya terbuka.
"Ahh iya bang." Kalya ikut tersenyum. "Bell, sorry gue pulang sama abang gue ya, duluan Bella." Kalya tersenyum dan Bella mengangguk pelan. "I-iya." Jawabnya lalu tersenyum malu malu.
"Abang ngapain sih kesini? Jadi pusat perhatian kan, abang sih ah." Kalya berbisik sambil beberapa kali mencubit kecil perut abangnya itu.
"Lah? Nggak boleh jemput adik tercinta sendiri?" ucap Abi dan banyak sekali orang yang terkekeh karena ucapannya itu.
"Abaang." Kalya melotot tajam melihat Abi yang semakin lama semakin menyebalkan di matanya. Abi langsung tertawa melihat tingkah menggemaskan adiknya itu.
"Udah ah naik, kebanyakan marah marah nanti besok muka kamu keriput abang nggak mau tanggung jawab." Abi naik keatas motornya dan memberikan helm kepada Kalya, sedangkan gadis itu menatapnya sinis dan mengambil helm itu dengan kasar.
"Lain kali gausah jemput." Ujar Kalya lalu naik ke atas motor besar milik abangnya itu.
***
Daniel menghentikan motornya di tempat makan sederhana yang sering dia makan bersama Kalya dulu, warung ketoprak milik Mang Ujang.
"Mang, pesen ketopraknya dua ya, yang satu pedes yang satu kagak." Ujar Daniel ,rasanya sudah rindu tidak makan lagi ditempat ini.
"Ehh den Daniel, kemarin mba Kalya, sekarang den Daniel. Wahh saya udah lama nggak ketemu kalian, tau-tau kesini udah misah aja." Ujar Mang Ujang sambil mengambil beberapa bahan-bahan.
"Tau darimana saya udah putus mang?"
"Mba Kalya yang bilang sendiri sama saya." Mang Ujang tersenyum lalu dia melihat Nanda yang berdiri di samping Daniel dan tertawa pelan.
"Wahh sudah dapat pasangan masing-masing ya? Mba Kalya kemarin juga sama cowok kesini den, ehh den Daniel juga bawa pacar barunya." Mang Ujang mengulek ketopraknya sambil tertawa.
"Sama cowok!" Daniel meninggikan suaranya, sampai-sampai Mang Ujang kaget dibuatnya.
"Dia sama cowok?" Mang Ujang mengangguk takut-takut dan Daniel merasa emosi nya naik ke ubun-ubun, apa yang telah dilakukan Kalya bersama cowok itu kemarin? Kencan? Oh tuhan bahkan mendengar nya saja Daniel sudah sangat muak, siapa cowok yang sudah mengambil kembali hati Kalya?
"Ini den sudah siap, jangan marah-marah den nanti pelanggan saya kabur semua." Daniel melihat Mang Ujang yang sudah ketakutan, dia langsung merasa bersalah karena sudah kelepasan di tempat yang tidak tepat.
"Maaf mang." Ujar Daniel ketus lalu kemudian mengambil dua piring itu dan mulai mencari tempat duduk. Dia duduk di bangku pojok, tempat yang dulu nya sudah menjadi tempat fovorit dia dan juga Kalya.
"Lo nggak apa-apa?" Nanda duduk sambil melihat raut wajah Daniel yang sepertinya sedang marah, atau tidak nyaman. "Gue nggak apa-apa, udah sana lo makan, gue mau pergi dulu." Daniel bangkit dari duduknya lalu mengambil tas nya, sedangkan Nanda melihatnya dengan tatapan heran.
"Lho? Kita kan baru aja sampe, masa lo mau pulang?" Nanda menautkan keningnya sambil terus menatap Daniel. "Gue duluan." Daniel menyelempang tas nya asal lalu kemudian berjalan pergi ke arah motornya terparkir, dia terdiam sebentar lalu kembali menghampiri Nanda.
"Lo pulang naik taksi aja nggak apa-apa kan? Ini ongkosnya." Daniel memberikan dua lembar seratus ribuan lalu segera lari menuju motornya, menaikinya lalu pergi. "DANIEL!" Nanda berteriak kencang tidak perduli dengan pengunjung lain, bisa-bisanya Daniel meninggalkannya disini sendirian.
***
Daniel melajukan motornya kencang, hatinya benar-benar kacau saat dia mengetahui kalau Kalya sudah ada gandengan baru, hatinya cemburu, meskipun dia bukan siapa-siapa Kalya lagi sekarang, tapi tetap saja, dia belum bisa melupakan Kalya.
Daniel menghentikan motornya di taman, dia melepas helm nya dengan kasar dan duduk termenung di atas motor, benar-benar menyakiti hatinya, semua kenyataan yang harus dia terima bahwa Kalya sudah benar-benar melupakannya, Kalya sudah tidak memikirkannya lagi, dan dia sudah tidak ada lagi di hati Kalya.'
Perpisahan ini memang dari awal selalu salah, seharusnya tidak ada perpisahan diantara mereka, namun, waktu dan takdir membuat Daniel marah, kedatangan Nanda yang secara tiba-tiba membuatnya sangat-sangat marah, merelakan orang yang dicintainya demi sahabat yang sedang butuh kasih sayangnya.
"Kalau bisa gue ulang waktu, gue nggak akan pernah mau terlibat sama kalian berdua." Ujar Daniel lirih sambil terus merenung di atas motornya, menghabiskan waktu senja nya disana.
***
Kalya sudah sampai di rumah, badannya pegal-pegal semua karena dia merasa lelah hari ini, pulang dengan abangnya tidak langsung sampai ke rumah, tapi jalan-jalan dahulu keliling Jakarta, katanya dia rindu dengan kota kelahirannya setelah sekian lama tinggal di liuar negeri.
"Kamu istirahat gih, capek kan? Tapi enak kan jalan-jalan sama abang?" Tanya Abi sambil melepas sarung tangannya, Kalya melihat Abi kesal, "Bang, aku pulang sekolah jam 4 sore dan kita baru sampe rumah jam sembilan malam, abang ajak yang lain deh kalau mau jalan-jalan lagi aku capek kalau jalan-jalan lagi sama abang." Kalya memasang wajah masam, dan Abi terkekeh.
"Uhh sayaaang udah ah, jangan manja nanti abang beliin eskrim lima biji." Abi mengacak rambut Kalya gemas. "Iyaa abaang." Kalya tersenyum lalu kemudian naik ke kamarnya meninggalkan Abi dibawah.
Kalya menaruh tas nya diatas kasur lalu segera merebahkan dirinya diatas kasur, tulang belakangnya langsung berbunyi saat dia merebahkan dirinya diatas kasur, "Yaampun pegelnya." Kalya meringis lalu kemudian dia memejamkan matanya.
Drrrttt... Drrrtt
Ponselnya bergetar disebelah tempat dia tidur, Kalya membuka matanya perlahan, melirik ponselnya nama Dinda muncul disana tanda ada panggilan telepon darinya. "Ada apa nih anak? Tumben." Kalya menggeser bulatan berwarna hijaulalu menempelkan ponselnya ke telinga.
"Halo Din?"
Tidak ada jawaban dari Dinda dan itu membuat Kalya bingung, lalu tak lama kemudian dia mendengar suara tangisan dari seberang sana. "Dinda?" Kalya semakin khawatir saat mendengar suara tangisan dari Dinda.
"Lo kenapa Din? Ya aampun lo kenapa?" Kalya langsung duduk diatas kasur karena sakin paniknya , ada apa dengan sahabatnya ini?
"Kal.. ya?" Dinda akhirnya bersuara dengan suara bergetar. "Din, lo kenapa?" Kalya semakin panik.
"Gue mau ngasih tau.. tapi, gue.. gakuat." Tangis Dinda kembali pecah lagi, Kalya langsung menenangkan sahabatnya itu, sepertinya Dinda sedang dalam masalah.
"Lo bisa cerita sama gue Din, ada apa?"
"Gue takut lo jauhin gue Kal, hikss." Dinda menangis kencang.
"Nggak bakal, ada apa Din? Sebaiknya lo cerita sama gue daripada lo pendem sendiri." Ujar Kalya tegas.
"Gue.. gue."
Kalya terus menunggu jawaban Dinda.
"Gue hamil." Kalya langsung melotot dan langsung tertawa lepas.
"Mau ngeprank gue lo? Hahaha nggak lucu Din sumpah." Kalya tertawa kencang, ada-ada saja Dinda ini.
"Gue serius! Ini anak Kevin,dan gue nggak tau harus gimana Kal, gue sama dia emang udah ngelakuin hubungan layaknya suami istri, gue takut Kal, gue harus apa?" Dinda berteriak kencang sambil menangis dan itu membuat tawa Kalya terhenti.
"Lo serius? Dinda?" Kalya langsung panik, dia mengigit bibirnya.
"Iya kal, apa gue harus aborsi anak gue aja ya? Atau gue.."
"JANGAN!" Bentak Kalya,dia tau arah pikir Dinda yang sedang putus asa seperti ini,hamil diluar nikah memang cara yang sangat fatal, bisa menghancurkan masa depan dan sahabatnya sedang menjalani peristiwa ini.
"Gue harus apa, gue udah nggak tau lagi harus gimana Kal, satu sisi gue pengen aborsi anak ini, tapi disatu sisi lagi gue pengen ngebesarin dia, gue sayang sama anak ini." Ujar Dinda sambil menangis, Kalya melihat jam di nakas, ini sudah pukul setengah sepuluh dan Kalya pasti tidak boleh keluar rumah.
"Dinda, tenang sekarang ya, pokoknya jangan buat macem-macem untuk saat ini ya, gue besok kerumah lo ya, Dinda tenang ya jangan pikir yang macem macem." Ujar Kalya lembut.
Dinda masih menangis disana,"Iya Kal, maaf ya malem-malem ganggunlo, gue tau lo nggak boleh keluar karena ini udah malem, maaf ya Kal, iya Kal gue nggak akan ngelakuin hal macem-macem, makasih ya Kal." Ujar Dinda lalu memutuskan telepon, walaupun Dinda sudah berkata bahwa dia tidak akan melakukan hal macam-macam tapi hatinya tetap merasa tak tenang.
***
Kalya berlari di koridor sekolah, dia ingin langsung ke kelas Dinda karena katanya dia masuk hari ini, dia ingin tau bagaimana kondisi sahabatnya itu.
Brukk!!
Karena terlalu terburu-buru dia sampai menabrak seseorang, untung saja dia dan orang itu tidak jatuh. "Aduh maaf." Kalya membenarkan rambutnya dan melihat orang yang barusan dia tabrak. "Daniel?"
Daniel memasang wajah dingin. "Cie buru-buru amat, mau nemuin gandengan baru nya yah?" Tanya Daniel dengan nada sindiran membuat Kalua bingung.
"Maksud lo?" Tanya Kalya.
"Selamat deh sama gebetan baru nya, semoga bisa jadian." Daniel tersenyum miring lalu kemudian berlalu dari hadapan Kalya.
Kalya terdiam, apa maksud Daniel barusan? Dan mengapa hati Kalya langsung tak terima saat Daniel berkata seperti itu?