"Dan, nanti lo ikut perang ke sekolah tetangga?" Tanya Anton dan Daniel malah diam saja, tak menyahut apa yang Anton katakan. Bisa dibilang sekarang dia sedang dalam mood yang tidak bagus. Karena, adiknya Jennie memaksanya untuk ikut ke mall untuk membeli make up
Dan, Daniel sudah tau kalau pasti adiknya akan melakukan hal-hal yang selalu membuatnya malu, seperti memakaikan lipstick secara paksa di bibirnya, menguncirkan rambutnya ke atas, dan lain lain.
"Gak, gue mau nganterin adik gue." Jawab Daniel sambil terus memasang wajah kusut, masih kesal dengan bayangan yang terus menghampirinya jika nanti adiknya itu berbuat macam-macam padanya.
"Yah, padahal jagoannya kan elo, masa iya lo kagak ikut, kagak seru ah." Anton mengambil sebatang rokok di saku nya, lalu segera menyalakan rokoknya dan tidak lama asap putih keluar dari bibir Anton, Daniel langsung batuk-batuk ketika asap putih itu tercium olehnya.
"Anjeng ah lo, gue gak suka bau rokok b*****t! Malah ngerokok disini setan." Daniel bangkit dan langsung pindah tempat, menjauh dari Anton sambil menutupi hidungnya.
***
"Gue mau bolos!" Daniel pergi menuju perpustakaan karena dia sudah tidak kuat dengan pelajaran lagi, kepalanya sangat pusing dan matanya sudah merengek minta tidur, dia sudah tidak tahan.
Daniel masuk ke dalam perpustakaan, untunglah ibu yang menjaga perpustakaan sedang tidak ada, jadi dia bisa bebas masuk tanpa harus kena omelan, karena saat jam pelajaran dan ada siswa yang mau masuk kecuali ingin meminjam buku, sudah pasti, dia tercatat ingin membolos dan tidur di perpustakaan yang sangat-sangat adem.
Daniel duduk di bangku paling belakang, dia langsung menyandarkan kepalanya ke atas meja, memejamkan matanya yang sudah sangat berat itu. Dan tak lama pun dia langsung terlelap tidur.
"Permisi Bu." Kalya masuk ke dalam perpustakaan dan agak sedikit terkejut ketika melihat bahwa penjaga perpustakaan tidak ada di tempatnya. Kemana ibu Rose? Biasanya beliau selalu menjaga perpustakaan agar tidak ada murid yang bolos.
"Yah, ya udah deh langsung masuk aja, lagipula mau minjem buku doang." Kalya masuk ke dalam lalu mulai mencari-cari buku yang dia incar di rak rak buku. Dia tersenyum saat melihat bahwa buku yang dia cari sudah ditemukan oleh dirinya sendiri, langsung saja Kalya mengambil buku itu dan berjalan ke kursi belakang. Dia berniat untuk menunggu Bu Rose sambil membaca buku yang ada ditangannya sebentar.
Kalya duduk bersandar sambil membuka halaman bukunya, dia terus fokus membaca sampai akhirnya dia mendengar suara seseorang mendesis, dia langsung menoleh dan melihat seorang laki-laki yang menyandarkan kepalanya di atas meja sambil memejamkan matanya dengan tenang. Kalya terdiam melihat laki-laki itu yang tak lain adalah Daniel.
Kalya terdiam sesaat melihat wajah Daniel yang sangat damai dan juga tenang, dia sangat menyukai saat Daniel terlelap seperti ini, entah kenapa dia sangat menyukainya. Seketika saja dia langsung merindukan kebersamaan nya dengan Daniel dulu, namun dengan secepat kilat dia menghapus bayangan itu dan mengalihkan pandangannya dari Daniel.
Sedangkan, laki-laki itu perlahan membuka matanya sambil melihat Kalya yang sedang menatap keluar perpustakaan, dia terdiam sambil memandangi Kalya yang sangat dia rindukan itu, dia tersenyum tipis.
Kalya menoleh lagi kearah Daniel dan mendapatkan laki-laki sudah membuka matanya sambil memperhatikan dirinya.
"Lo bolos ya?" Tanya Kalya agak sedikit gugup karena Daniel melihatnya dengan tatapan seperti itu.
"Hm." Daniel hanya menjawab dengan dehaman dan Kalya langsung paham. "Mana sih Bu Rose mau minjem buku juga." Kalya menatap ke depan, tidak mau melihat Daniel yang menatapnya seperti itu, dia salah tingkah.
"Kenapa semuanya jadi kayak gini? Padahal kita bisa saja saling bersama lagi." Gumam Daniel namun terdengar oleh Kalya dan gadis itu langsung menatap Daniel penuh tanda tanya, Daniel mengangkat kepalanya, duduk dengan tegap lalu menatap ke depan.
"Cuma asal ngomong." Ucap Daniel lalu terjadi keheningan yang cukup lama.
"Lo bolos ya?" Tanya Daniel curiga, dia melihat Kalya dekat-dekat. "Kagak ya! Lo kali yang bolos, ngepain anak rajin kayak gue bolos?" Bantah Kalya tak terima.
"Udah deh lo ngaku aja, lo bolos kan? Ketauan tuh muka-muka mau bolos."
"Kurang ajar yah mulut lo, gak pernah disekolahin apa?" Ujar Kalya ketus, matanya menyorot tajam melihat Daniel. "Lah ini gue lagi sekolah. Mabok mba?" Ujar Daniel balas menjawab dengan ketus
Mereka terus berdebat, lalu tak lama kemudian pintu perpustakaan terbuka lebar, Pak Rudi datang sambil membawa rotan ditangannya, Pak Rudi, guru paling kejam di SMA ini, Pak Rudi melihat kearah Daniel dan Kalya yang duduk di bangku belakang sambil memasang wajah terkejut.
"Ngepain kalian berdua disini? Kalian berdua pasti bolos, iya kan?!! Bisa-bisanya kalian bolos ya! Sekarang kalian ikut bapak ke lapangan." Ujar Pak Rudi tegas, dia memukul meja dengan rotan sehingga meimbulkan suara yang sangat berisik.
"Nggak pak! Kalya nggak bolos, saya pak yang bolos, dia enggak bolos pak." Daniel sontak langsung berdiri dan melawan kata-kata Pak Rudi.
"Halaah, jangan membela dia! Saya tau apa yang terjadi dengan kalian! Sekarang kalian berdua ikut dengan saya ke lapangan! Kesalahan tetaplah kesalahan!" Pak Rudi ngotot dan Daniel hanya bisa pasrah.
"Ayo." Daniel langsung berjalan mengikuti Pak Rudi yang sudah keluar perpustakaan.
"Lari kalian selama tiga puluh kali, saya liatin dari sini." Pak Rudi berdiri di pinggir lapangan, Daniel dan Kalya terkejut, tiga puluh kali sangatlah banyak.
"Tanpa protes." Sambungnya lagi dan akhirnya mereka berdua terdiam. Daniel dan Kalya mula berlari mengellingi lapangan.
Baru saja putaran yang ke dua belas, Kalya beberapa kali sudah jatuh karena kakinya terasa sangat sakit, namun dia tetap berusaha untuk berlari. Hingga putaran ke lima belas, Kalya jatuh dan meringis kesakitan kerana kakinya sangat sakit.
"Lo duduk aja." Ujar Daniel ikut berhenti ketika dia melihat Kalya terjatuh. "Tapi masih ada lima belas putaran lagi, nanti Pak Rudi marah." Ujar Kalya dengan nafas tang tersenggal-senggal.
"PAK! SAYA YANG GANTIIN KALYA LARI, DIA KASIAN KECAPEAN." Daniel berteriak dan Pak Rudi mengangkat jempolnya ke atas, memberi tanda bahwa dia setuju. Tanpa basa-basi Daniel langsung berlari kelilng lapangan, dia harus mengelilingi lapangan tiga puluh putaran lagi, dan dia tidak masalah dengan itu karena sudah tertanam di hatinya kalau dia akan menjaga Kalya sampai kapan pun.
***
Daniel langsung duduk di lapangan ketika sudah menyelesaikan larinya selama empat puluh lima putaran, dia merasa bahwa kakinya ingin putus saat itu juga, dia mengeklap keringat yang terus berjatuhan dengan tangannya, lalu tiba-tiba ada seseorang yang memberikan air mineral dingin kepadanya, Daniel mendongak dan melihat Kalya yang sudah berdiri di hadapannya.
"Ini, makasih yah tadi." Kalya berjongok dan membukakan tutup botol untuk Daniel dan memberikannya kepada laki-laki itu.
Daniel tersenyum dan mengambil air mineral itu dan segera meminumnya hingga setengah botol. "Gausah makasih, gue juga sebagai cowok gak bakal ngeliat orang yang gue sayang kecapean kayak gitu.. ehh." Daniel langsung salah tingkah karena dia keceplosan dengan apa yang dia katakan.
"Gajelas lo." Kalya menepuk bahu Daniel pelan dengan wajah ketus.
"Gue ke kelas duluan ya." Daniel hendak berdiri namun dia langsung terduduk kembali karena kakinya sangat lemas bahkan untuk berdiri.
"Gue bantuin sini." Kalya berdiri dan mengulurkan tangannya melihat Daniel dengan tatapan teduh.
"Gausah." Tolak Daniel agak sok jual mahal, Kalya terdiam lalu kemudian dia berjalan menjauh. "Yaudah kalau gak mau, disin aja sampe sekolah tutup." Ledek Kalya.
"Ehh Kalya! Iya-iya bantuin sini." Teriak Daniel agak sedikit merengek dan Kalya bebralik kemudian berlari kecil menghampiri Daniel sambil terkekeh, bisa-bisanya dia jual mahal disaat dia sedang dalam keadaan gawat seperti ini.
"Ayo." Tanpa sadar Kalya tersenyum lebar sambil mengulurkan tangannya dan menatap Daniel, laki-laki itu terdiam beberapa saat, terpana dengan senyuman yang sudah lama tidak pernah dia lihat lagi.
Daniel membalas uluran tangan itu dan mulai berdiri pelan-pelan. "Makasih." Ujar Daniel sambil tersenyum.
"Sama-sama." Kalya mulai membantu Daniel berjalan, rasa canggung langsung terasa, tidak ada yang mau membuka suara sampai akhirnya mereka berdua tiba di kelas.
***
"Daniel mana?" Tanya Kalya ketika melihat Anton, salah satu teman Daniel yang paling dekat dengannya dulu, Anton tersenyum lalu kemudian dia menunjuk bangku belakang dengan dagu nya, dan benar saja, Daniel ada disana sedang tiduran di atas tiga bangku yang sudah disusunya memanjang.
Kalya mengangguk paham, "Kecapean ya?" Bisik Kalya dan Anton menganggguk, tanpa sadar Kalya terkekeh pelan, entah kenapa dia membayangkan betapa baiknya Daniel tadi yang membiarkan dirinya lari lebih lama karena dirinya.
"Hmm, Kal. Gue keluar ya, jagain Daniel ya, tadi gue disuruh sama tuh anak buat jagain dia tidur, takut ada yang bawa kabur katanya." Celetuk Anton dan Kalya langsung tertawa. "Gimana bisa sih ada yang mau bawa kabur dia yang jelek itu." Ujar Kalya sambil terkekeh, "Kedengeran dia dicincang lo Kal."
"Gak takut." Jawab Kalya cepat dan Anton menghela nafas. "Ohh iya, dia kan takut sama lo ya." Kalya langsung terbahak. Semasa pacaran memang Daniel sering curhat gak jelas gitu ke Anton, dan isi curhatannya pasti gini doang. "Gue takut sama Kalya." dan itu diucapkan berulang kali oleh Daniel.
"Gue duluan deh ya, byee." Anton langsung ngacir keluar saat dia melihat seorang perempuan berdiri di depan pintu kelas sambil melambaikan tangannya kearah Anton, Kalya melihat Anton dan perempuan itu yang kemudian menghilang saat mereka berjalan menjauh,
Kalya kembali melihat Daniel yang terlelap, menutup wajahnya dengan handuk putih dan tidur dengan damai. Kalya menaruh minuman sari buah yang sangat disukai oleh Daniel di atas mejanya, memandangi Daniel sebentar lalu kemudian pergi dari sana. Saat perempuan itu sudah pergi, Danie membuka matanya dan menurunkan sedikit handuk putih yang ada di wajahnya, menatap sebentar Kalya alu kemudian kembali memejamkan matanya.
***
Bel sekolah berbunyi, Daniel jalan menuju parkiran dengan langkah lunglai, langkahnya terhenti saat melihat Nanda yang sudah berdiri di samping motornya sambil tersenyum manis, Daniel berdecak kesal, bagaimana bisa gadis itu ada disini?
"Ngepain lo?" Tanya Daniel ketus lalu melebarkan langkahnya menuju motornya, mengambil helm dan mengabaikan Nanda yang terus memperhatikannya. "Nungguin lo, gue kangen." Ujar Nanda lembut.
"Oh." Daniel naik ke atas motornya lalu kemudian dia melemparkan helm kepada Nanda dan langsung ditangkap oleh gadis itu. "Naik." Ucap Daniel cepat dan tanpa aba-aba Nanda langsung naik ke atas motor besar milik Daniel.
"Kalya duluan yaa." Dinda tersenyum sambil melambaikan tangannya dan pergi bersama pacarnya, Kalya balas melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar. Tatapannya kembali fokus saat dia melihat Dinda telah menghilang, namun,
Ada sesuatu yang sangat menganggu nya. Dia melihat di pintu gerbang ada motor Daniel yang sedang membonceng seorang perempuan, seketika saja hati Kalya merasa sakit, apa itu selingkuhan Daniel selama ini? Apa perempuan itu yang telah merusak hubungannya?
Pikiran Kalya terus berjalan, bahkan semenjak melihat itu dia merasa tidak tenang.