"Gue nggak bisa pulang sama lo sekarang Kal, gue ada urusan sekalian mau main ke rumah Kevin sih. Maaf ya." Dinda menyengir sambil memasukkan berkas berkas yang harus di kerjakan dirumah, tugas dari ketua osis. Sekarang mereka sedang berada di depan ruang osis, karena Kalya pikir Dinda ingin pulang bersamanya tapi ternyata Dinda tidak bisa dan katanya dia juga mau main ke rumah pacarnya, Kevin.
"Yah terus gimana dong?" Ucap Kalya, dia biasanya selalu pulang dengan Dinda.
"Naik taksi atau lo aja yang bawa mobil gue nih, biar nanti gue yang naik taksi, gimana?" Tawar Dinda ramah dan Kalya langsung menggeleng, memang Dinda itu baiknya kelewat batas. "Gue naik taksi aja deh, hati hati ya Din." Kalya tersenyum.
"Gausah naik taksi, bareng sama gue aja." Tiba-tiba ada seseorang yang menyahut dari dalam ruang osis, orang itu tersenyum sambil melihat Kalya dan Dinda bergantian.
"Wahh Aldo, ide bagus tuh, yaudah Kal lo balik sama Aldo aja ya, jadi nggak usah buang-buang duit juga kan?" Dinda nyengir. Kalya terdiam, boleh juga tawaran Aldo, jadi dia tidak perlu bayar ongkos kan? Dan juga kalian jadi semakin deket kan, lo gausah ngedumel tentang Aldo terus, hihihi." Kalya langsung menepuk bahu Dinda menatapnya tajam seolah-olah berkata "gue bunuh lo nanti."
Dinda terkekeh pelan lalu dia langsung ngacir pergi. Kalya melihat Dinda sebal lalu kemudian berganti melihat Aldo yang tengah menatapnya sambil tersenyum. "Ayo." Ujar Aldo kemudian dia langsung melangkah ke arah parkiran sekolah, Kalya mengikutinya dari belakang.
Namun, tiba tiba langkah Kalya terhenti karena dia melihat Daniel yang sedang duduk di atas motornya, membenarkan sedikit rambutnya yang berantakan, dan itu terlihat sangat tampan menurut Kalya. Beberapa saat dia terdiam sampai Daniel sudah memakai helm nya. Dia melihat Kalya lalu tersenyum kecil, dan Kalya langsung salah tingkah.
Daniel menutup kaca helm nya lalu menyalakan mesin motornya dan akhirnya pergi dari tempat parkiran. Motor Daniel sudah berlalu, namun Kalya masih diam di tempatnya, sampai-sampai Aldo harus mengklasoni dirinya karena sudah dipanggil puluhan kali perempuan itu tidak menanggapinya.
"Ayo." Ujar Aldo yang sudah siap diatas motor.
"Ehh iya maaf, aduh gue melamun." Kalya terkekeh pelan lalu kemudian dia naik ke atas motor Aldo, memegang bahu cowok itu agar tidak jatuh.
Motor Aldo melaju dengan kecepatan normal, tidak ada obrolan diantara mereka, Aldo fokus menyetir sedangkan Kalya sibuk melihat pohon pohon yang berlalu meninggalkan nya dibelakang. Kalya merenung, hatinya masih sangat menyayangi Daniel tapi, dia tidak boleh terus-terusan seperti ini, dia tidak boleh. Mereka sudah putus, dan itu berarti mau tidak mau dia harus melupakan Daniel.
Dia ingin cerita dengan Abi, abangnya. Namun hal itu tidak akan terjadi mengingat bahwa Abi sangat tidak suka melihat Kalya dekat dengan laki-laki, katanya masih kecil belum pantas memikirkan cinta, walaupun menyebalkan Kalya sangat menyayangi abangnya yang super perhatian itu.
"Kita mau makan dulu? Gue tau tempat makan yang enak, yah bukan tenpat makan mahal sih, tapi ini enak banget." Kalya mengangguk, "boleh." Jawabnya dengan senyuman kecil.
***
Mereka telah sampai di tempat makan di pinggir jalan. Kalya kaget, ini adalah tempat makan yang sering dia kunjungi bersama Daniel, dan dia sangat menyukai ketoprak mang Ujang yang emang rasanya enak banget.
"Lho, mba Kalya kan? Kok bukannya sama mas Daniel, malah sama cowo lain mba." Tanya Mang Ujang kepo, Mang Ujang memang sudah mengenali Kalya dan Daniel karena sangkin seringnya mereka makan disini.
"Ahh, udah putus mang." Jawab Kalya sambil tersenyum. Aldo terdian melihat mereka berdua, ternyata Kalya sering kesini bersama Daniel.
"Mang pesen ketoprak dua sama es teh manisnya dua ya, Kal , kamu pedes?" Tanya Aldo melihat Kalya yang sedang tersenyum sambil melihat tempat duduk pojok sana.
"Mang Ujang udah hafal pesanan ku kok, kita langsung duduk aja ya Do." Kalya tersenyum lalu melangkah dan duduk di salah satu meja yang tak jauh dari gerobak mang Ujang.
Aldo mengikuti dari belakang, dia menarik bangku dan duduk di hadapan Kalya. "Sering kesini sama Daniel?" Tanya Aldo dan Kalya mengangguk.
"Sering banget, hehe." Kalya tersenyum sambil melihat tempat duduk paling pojok yang sering dia duduki bersama Daniel, katanya enak dipojok biar bisa pacaran dan ketawa bebas, jadi nggak malu dilihatin orang.
Pikirannya kembali melayang saat mereka masih pacaran dan sering makan disini. Daniel yang jahil yang mampu membuat Kalya tertawa bebas akibat lelucon nya yang unik. Kalya senyum-senyum sendiri sambil terus melihat tempat duduk itu, hatinya sangat susah untuk berpaling ke lain hati, dia sangat menyayangi Daniel.
Sudahlah, itu hanya masa lalu dan mau tidak mau Kalya harus melupakannya, jika Daniel saja bisa melupakan Kalya, kenapa dia tidak bisa? Ah, iya perepuan adalah makhluk yang lemah akan cinta. Kalya buru-buru meminum es teh manis yang sudah dibawakan Mang Ujang barusan. Tidak seharusnya dia mengingat lagi kenangan antara dia dan juga Danielyang sekarang sudah tidak ada guna nya lagi.
"Nah, silahkan dimakan mba, mas." Mang Ujang meletakkan dua piring diatas meja, Aldo tersenyum tipis, begitu juga dengan Kalya.
"Makasih mang." Ujar Kalya lalu kemudian mengambil sendok dan mulai menyantap makanannya. Oh, dia sangat merindukan ketoprak mang Ujang ini, kapan ya terakhir kali mereka tidak kesini? Sekitar tiga bulan yang lalu? Ah, lagi-lagi dia memikirkan Daniel.
Dia tidak boleh begini terus, sekarang dia harus menyusun jadwal untuk melupakan Daniel.
***
Daniel bersandar di motornya sambil melihat punggung gadis yang berada di hadapannya, dia sedang bertengkar dengan gadis itu yang bernama Nanda. Sahabatnya saat dia masih kecil namun tiba-tiba Nanda lebih memilih untuk pindah ke London dan menetap disana.
"Daniel, ahh gue harus gimana? Gue harus gimana supaya lo percaya sama gue? Gue sayag sama lo Daniel." Nanda berbalik dan langsung memeluk tubuh Daniel tiba-tiba dan itu langsung membuat Daniel kaget dan melepaskan pelukan mereka paksa. "Lo apa-apaan sih Nan? Udah gila yah?" Daniel menatap Nanda kesal.
"Ah sorry gue cuma kelepasan." Nanda menunduk, dia sadar bahwa perbuatannya tadi salah.
Daniel terus memperhatikan gadis itu, sampai sesaat kemudian ada cairan merah menetes dari atas mengenai baju Nanda, Danil mendekati Nanda dan mengangkat wajah gadis itu, benar saja. Hidung Nanda mengeluarkan darah dan Daniel panik setengah mati.
"Gue bawa tissue, nggak usah khawatir." Nanda tersenyum tipis sambil mengeluarkan tissue dari tas nya dan mengelap hidungnya yang berdarah. Daniel terlihat agak tenang saat darah sudah menghilang dari penglihatannya.
Laki-laki itu langsung mendekati Nanda dan tangannya langsung melingkar di tubuh gadis itu, memeluk Nanda dengan perasaan bersalah dan tubuh bergetar, "Maaf, maafin gue." Daniel memeluk Nanda erat dan gadis itu membalas pelukannya.
Daniel memejamkan matanya, merasa bersalah. Nanda memiliki riwayat penyakit kanker dan itu membuat Daniel merasa bahwa dia harus bisa menjaga gadis itu, melihat Nanda seperti ini sangat membuat Daniel merasa bersalah, Nanda sahabatnya dan dia tidak bisa membiarkan Nanda melawan penyakitnya sendiri.
"Maaf, maafin gue." Dia semakin erat memejamkan matanya, mengeluarkan air matanya yang sedari tadi dia tampung. Tidak hanya satu orang yang dia sakiti, Kalya pun sudah dia sakiti. Nanda adalah alasan mengapa Daniel meninggalkan Kalya walaupun dia masih sangat mencintai dan menyanyangi gadis itu.
Daniel tau ini tidak benar, namun demi kebaikan dia melakukan ini semua dan melepaskan gadis yang sudah sangat dia cintai itu.
***
"Disini kayaknya adem banget, ngeliat novel-novel banyak gitu bikin mata seger." Kalya tersenyum sambil melihat Daniel yang berdiri di sampingnya, menatapnya dengan lembut dan tak lama dia tersenyum tipis melihat Kalya.
"Ngeliatin kamu kayaknya lebih adem, lebih indah, dan lebih bikin mata seger." Ujar Daniel lalu Kalya terbahak.
"Ehh serius lho, malah ketawa." Daniel tersenyum makin lebar melihat wajah Kalya yang langsung berubah menjadi malu-malu.
"Bohong ah." Kalya mengeluarkan permen dari kantung celana nya, dia tampak kesulitan saat membuka bungkus permen itu akibat sangat lengket. Daniel terkekeh meliat tingkah pacarnya itu,dia langsung mengambil permen itu dan dengan mudahnya Daniel membuka bungkus permen itu dan membuangnya ke tempat sampah.
"Makasih." Kalya terenyum lalu memakan permen itu. Daniel ikut tersenyum.
"Sayang." Daniel mengarahkan tangan nya ke Kalya, melihat gadis itu. "Sebentar." Kalya merogoh kantung celana nya dan meletakkan permen di atas telapak tangan Daniel yang terbuka.
"Ihh buka itu." Daniel memasukkan permen itu ke kantung celana nya dan langsung menggandeng tangan Kalya, mengenggamnya dengan erat, seakan-akan tidak ada hari esok untuk mereka berdua.
"Aku minta digandeng, bukannya permen." Kalya langsung tertawa dan membalas gandengan tangan Daniel.
Ahh.. lagi-lagi Kalya mengingat kenangan mereka saat mereka masih pacaran, tidak bukannya semakin melupakan Kalya malah semakin mengingat semua kenangan tentang Daniel.
"Kamu tau? Aku rindu kamu yang dulu." Ujar Kalya lirih sambil melihat foto dirinya dan Daniel sebelum akhirnya dia masukkan ke dalan kardus besar dan menyimpannya di pokokan kamarnya.
Kenangan tentang dirinya dan Daniel tidak akan bisa terhapus begitu saja, semua butuh proses, dan Kalya sangat siap untuk mengalami proses yang sulit untuk melupakan Daniel.
***
"Baiklah, semuanya apakah kalian mengerti dengan pelajaran yang sudah saya terangkan?" Bu Sofia melihat anak muridnya satu-satu, mereka semua mengangguk paham.
"Baiklah, kalau begitu Kalya, tolong jawab soal di depan ya." Bu Sofia memberikan spidol kepada Kalya, tanpa takut Kalya berdiri dan maju ke depan, menajawab soal-soal di depan dengan serius.
"Sudah bu." Kalya memberikan spidol kepada Bu Sofia, wanita parh baya itu mengangguk melihat hasil kerja Kalya. "Ya, kamu betul. Bagus Kalya,silahkan duduk." Kalya tersenyum mendengar pujian Bu Sofia.
Dia berbalik berjalan menuju tempat duduknya, namun langkahnya terhenti saat dia meliat Daniel tersenyum kecil kearahnya sambil terus menatapnya. Lalu tak lama laki-laki itu mengacungkan ibu jarinya lalu bersandar di tembok, memejamkan matanya.
Kalya terdiam lalu kemudian langkahnya menjadi kaku, sendinya seakan-akan mati. Tidak, ini tanda bahaya, bisa-bisa dia gagal melupakan Daniel.
***