"Gue anterin pulang ya, ini udah malem, nggak baik kan kalau anak perempuan pulang malam malam kayak gini, udahalah ayo gue anter." Ujar Daniel agak sedikit memohon karena ini sudah pukul setengah delapan malam dan Daniel khawatir akan terjadi sesuatu kepada Kalya.
Kalya menggeleng mantap, tidak sepertinya untuk saat ini dia tidak bisa pulang dengan Daniel karena laki-laki itu sungguh tampan malam ini, dia mengenakan celana jeans dan kaus hitam, walaupun sederhana namun itu mampu membuat jantung Kalya berdegup kencang. Oke, dia memang belum bisa melupakan laki-laki itu, tapi.. Pleasee lah jangan ganteng ganteng kayak gitu, bikin gagal move on aja.
"Gak! Gue bisa sendiri." ujar Kalya ngotot sambil memakai sepatunya, sedangkan Daniel sedang berdiri di belakangnya sambil memohon kepada Kalya supaya dia saja yang mengantarkan gadis itu pulang.
"Kenapa sih,gamau dianter sama gue? Ohhh takut baper lagi yaa? Emang ya dasar cewek, haha." Daniel tertawa kencang sambil melihat Kalya yang sudah jensampai engan perkataan nya itu.
"Gue tabok mau nggak? Kayaknya sepatu gue gatel pengen kenalan sama pipi lo." Ujar Kalya sambil menatap Daniel galak, ingin rasanya menelan laki-laki itu dalam keadaan hidup hidup, walaupun perkataan laki-laki itu ada benarnya, tapi kan..
"Gue balik." Kalya bangkit lalu kemudian dia langsung pergi dari hadapan Daniel menuju jalan pulang tanpa naik kendaraan apapun. Dan Daniel, laki-laki itu hanya bisa menatap punggung Kalya dari jauh sambil merasa bersalah sekaligus gelisah takut jika gadis itu kenapa kenapa.
***
Kalya sampai di rumahnya pukul delapan malam, karena memang jarak rumahnya dan Daniel lumayan jauh, tidak ada taksi yang lewat dan dia tidak mau naik angkutan umum tengah malam, takut.
"Assalammualaikum, Kalya pulang." Kalya berhenti sesaat di depan pintu rumahnya, menatap sepasang sepatu yang sudah sangat lama tidak dia lihat, dan dia sangat rindu dengan si pemilik sepatu itu. Senyumnya mengembang sempurna, buru-buru dia langsung membuka pintu rumahnya dan melangkah masuk.
"Bang Abi!!" Kalya berteriak semangat sambil terus tersenyum. Seorang pria berbadan tegap dan bertubuh jangkung itu datang dari arah dapur menghampiri seseorang yang barusan memanggil namanya. Seorang pria sekitar berusia dua puluh empat tahun, dengan wajah tampan dan berkulit cokelat membuat siapapun yang melihatnya jatuh cinta.
"Kalya adiknya abang." Pria itu tersenyum lalu Kalya langsung memeluk Abi yang tak lain adalah abangnya yang baru saja pulang dari luar negeri untuk bekerja.
"Abaang Kalya kangeen." Kalya tersenyum seraya melepas pelukannya dan menatap kedua mata milik abangnya itu, abang yang sudah sangat dia rindukan. Abi tertawa kecil lalu langsung mengacak poni Kalya pelan dengan gemas, dia sendiri juga rindu dengan adiknya yang satu ini.
"Abang, gimana disana? Pasti banyak cewek-cewek cantik, iya kan?" Tanya Kalya dan Abi langsung tertawa, sungguh tertawanya Abi itu mampu membuat siapapun jatuh hati, bahkan jika Abi bukan saudara kandung nya dia pasti sudah mendekati Abi dan memintanya dijadikan pacar.
"Iya, abang udah dapet satu." Ujar Abi malu malu.
"Wah serius?" Kalya berbinar menatap abangnya yang sekarang udah mempunyai pacar, karena setahu Kalya Abi ini tipe orang yang sangat cinta dengan pekerjaan sampai-sampai dia tidak dapat mencari orang untuk dia cintai juga.
"Namanya Lena, abang kenal dia waktu abang pergi jalan-jalan, dia perempuan yang ramah dan dia juga cantik." Kata Abi mulai menceritakan siapa sosok yang sedang dekat dengannya. Kalya mengangguk paham lalu dia tersenyum lebar.
"Ciee udah nggak jomblo." Ledek Kalya sambil menyenggol pelan bahu Abi yang membuat laki-laki itu tertawa.
"Abis darimana kamu? Jam segini baru pulang." Abi mulai memasang wajah galak.
"Kerja kelompok sama temen." Jawab Kalya lalu tersenyum, lalu kemudian Kalya langsung merangkul abang nya itu. "Kita nonton drakor yuk." Ajak Kalya, belum Abi menyetujui Kalya sudah menyeret laki-laki itu ke ruang keluarga untuk menonton drama korea bersama.
***
Kalya berlari menuju gerbang sekolah, sekarang sudah pukul setengah tujuh lewat sepuluh menit, dan dia sudah telat ke sekolah, ini pasti karena tadi malam dia dan Abi menonton drama korea sampai lupa waktu dan akhirnya mereka baru tidur jam dua pagi.
"Pak, buka, ahh." Kalya melihat gerbang yang sudah ditutup. Dia tidak sendirian dia bersama sepuluh anak lain yang juga telat.
Kalya melihat sekitar, dia sudah menarima nasibnya jika nanti dia harus mendapat hukuman lagi dari Bu Sondang, lagipula dia tidak sendirian, ada banyak anak anak lain yang telat. Kalya menghela nafas, namun tiba tiba dia terdiam melihat seseorang yang sedang bersandar sambil memainkan ponselnya dengan wajah yang serius.
"Daniel?" Kalya bergumam sambil terus memperhatikan Daniel yang sedang serius dengan ponselnya, ternyata laki-laki itu juga telat.
Kalya tanpa sadar tersenyum, entah kenapa hatinya terasa damai kalau melihat wajah Daniel.
Kalya tersenyum sambil terus memperhatikan Daniel yang sekarang juga sedang melihatnya balik. Kalya tak sadar kalau Daniel sudah memperhatikannya, dia masih terus memperhatikan laki-laki itu dengan senyuman seperti orang bodoh.
"Kalian semua masuk." Suara Bu Sondang membuat Kalya sadar, dia langsung menoleh dan melihat Bu Sondang yang sudah berdiri di depan pintu gerbang. Semua anak-anak masuk dan begitupun dengan Kalya, dia melangkah sambil sesekali melirik Daniel yang berada di belakangnya.
"Kamu langsung ke kelas aja." Langkah Kalya terhenti, dia berbalik dan melihat Daniel dan Bu Sondang sedang berbicara lalu tak lama Bu Sondang berlalu begitu saja.
"Ahh baik Bu." Daniel tersenyum lalu mulai melangkah pergi. "Apa apaan nih?" Namun kata kata Kalya membuat Daniel tidak jadi melangkahkan kakinya.
"Lo kok masuk kelas? Lo kan juga telat!" Omel Kalya tak terima, Daniel tersenyum meledek lalu dia mengangkat kedua bahunya.
"Entah, tanyakan sama Bu Sondang, kenapa gue ke kelas." Ujar Daniel dengan nada meledek, membuat Kalya naik darah. Kalya melangkah mendekat lalu menatap Daniel lekat-lekat, dan saat itu juga dia merasakan jantungnya sedang demo, namun dia memberanikan diri menatap mata Daniel dengan tatapan galak.
"Jangan mentang-mentang lo anak direktur lo jadi begini ya! Lo juga manusia, lo juga siswa, dan lo harus ikut peraturan sekolah! Kayak raja aja lo! Sekarang ke lapangan sama gue." Ujar Kalya galak dan Daniel hanya menatapnya dengan tatapan yang tak dapat dibaca.
"Eh! Lo nggak ada berhak ngatur gue, lo siapa sih? Sekolahan ini kelak yang pimpin itu gue, jadi jangan sok ngatur deh lo, sana pulang ke rumah kalau gak terima mau dihukum!" Daniel balas marah, ucapannya agak sedikit meninggi, lalu kemudian dia terdiam melihat wajah Kalya yang sepertinya bingung mau berkata apa apa lagi.
Semua orang melihat mereka berdua dengan tatapan heran, mungkin karena suara Daniel yang terlalu keras jadi semua anak anak melihat kearah mereka sambil memasang wajah penasaran. Kalya melihat sekitar, ini memalukan untuknya. Lalu tiba-tiba Bu Sondang datang sambil memperhatikan mereka berdua dengan tatapan bingung.
"Ada apa ini? Kenapa kalian berisik?" Ujar Bu Sondang lalu dia kemudian melihat Kalya dengan tatapan galak. "Pasti kamu kan? Kamu yang mulai keributan kan?" Tuduh Bu Sondang dan itu langsung membuat Kalya maupun Daniel kaget, kenapa ini jadi salah Kalya?
"Lari di lapangan sepuluh kali sekarang juga Kalya!" Perintah Bu Sondang dengan suara keras. Kalya diam saja tidak mengikuti perintah karena dia tau ini bukan salahnya.
"Kalya Putri Azzani! Cepat!" Bu Sondang makin menaikkan nada suaranya, Kalya melirik Daniel tajam lalu kemudian tanpa basa basi dia langsung berlari di lapangan dengan hati gondok.
Daniel melihat Kalya yang sedang berlari, di dalam hatinya terdapat rasa bersalah, dia memang mengalami hari yang buruk hari ini, namun dia tidak menyangka bahwa badmood nya itu malah membawa masalah bagi orang lain. Daniel memasang wajah baik baik saja seperti tidak merasa bersalah walaupun hatinya benar benar tidak tenang dan terus mengucapkan maaf.
***
Kalya duduk di pinggir lapangan sesudah dia berlari sepuluh kali mengitari lapangan, dia lelah dan susah bangkit walaupun hanya melangkah ke kantin untuk membeli air. Kalya menyandarkan tubuhnya di tiang gawang bola sambil terus mengatur nafasnya. Bisa bisanya Bu Sondang seperti ini padanya.
"Nih air." Seseorang memberikan air mineral kepada Kalya, membuat gadis itu mendongak dan melihat bahwa ada seseorang yang memberikannya sebuah minuman botol dan orang itu adalah Aldo, ketua osis paling kece yang pernah ada.
"Hah?" Kalya melihat Aldo dengan tatapan heran, cowok asing yang baru dia temui sekali sudah berani sok kenal dan sok perhatian dengan dirinya itukan membuat Kalya risih bercampur bingung.
Aldo tersenyum, senyuman manisnya memang mampu memikat siapapun, tapi sepertinya saat ini Kalya benar benar lelah sampai sampai dia tidak bisa melihat senyuman tulus dari cowok itu, dia langsung menyambar botol air mineral dan langsung meminum airnya sampai setengah.
"Akhirnya!" Kalya memekik kesenangan, rasa haus hilang sudah. Dia tersenyum lalu melihat Aldo dengan mata berbinar-binar, berterimakasih karena sudah membuat dirinya lepas dari kehausan.
"Sama sama." Baru saja Kalya ingin mengucapkan terimakasih, laki-laki itu sudah menjawabnya duluan, Kalya jadi tersenyum manis sambil bangkit.
"Gue ke kelas." jawabnya penuh semangat lalu kemudian segera berlari menuju ruang kelasnya.
***
Bel istirahat berbunyi sepuluh menit yang lalu, di kelas hanya tersisa Daniel yang sedang menyalin catatan Dimas di belakang denga wajah serius, sesekali dia berhenti menulis karena tangannya terasa sangat sakit karena catatan itu sangat sangat panjang yang membuat Daniel kesal.
"Ahh t*i banget lah, kebiasaan ngasih catetan bikin tangan sakit." Daniel berdecak sebal sambil terus menulis, hingga dia memekik kesal karena ada tulisan yang salah.
"Anjir, pake typo segala lagi, k*****t gue kagak ada tip-x lagi, sialan lah." Daniel sebal sendiri lalu dia mengobrak abrik tas teman temannya kesal sambil berharap menemukan sebuah tip-x disana. Daniel menghela nafas kasar ketika tidak menemukan satupun benda itu di dalam tas teman temannya, memang pada tidak modal mereka semua, yaa termasuk dirinya sih.
Daniel berdiri, mengedarkan pandangannya ke sekitar kelas, hingga dia melihat benda berwarna merah kecil tergeletak di atas meja seseorang. Daniel tersenyum lalu melangkah mendekat dan mengambil tip-x disana, dia baru sadar bahwa meja ini adalah tempat duduk Kalya. Dia terdiam beberapa saat sambil melihat meja Kalya yang tersusun rapih dan membuat Daniel tersenyum tipis.
Ahh dia langsung teringat kejadian tadi pagi, dia sudah membuat Kalya dihukum oleh Bu Sondang dan dia sangat merasa bersalah. Daniel langsung tersenyum senang saat dia mengingat bahwa Kalya sangat menyukai cokelat, dia langsung lari turun ke bawah untuk membalikkan gadis itu sebuah cokelat.
Daniel berlari menuju tempat yang dia tuju sambil tersenyum senang, entah apa yang ada dipikiran nya sekarang, yang penting dia hanya ingin membuat Kalya kembali tersenyum dan bisa memaafkan dirinya yang sudah membuat kesalahan. Daniel berhenti melihat Kalya yang sedang bersama teman temannya, dia tersenyum kecil sambil terus melangkah ke toko yang dia maksud, membeli beberapa cokelat dan langsung lari ke atas.
Daniel sampai di kelas sambil terus tersenyum, dia langsung meletakkan cokelat itu di dalam tas Kalya dan kembali ke tempat duduknya melanjutkan pekerjaan nya yang sempat tertunda, sesekali dia tersenyum jika membayangkan bagaimana reaksi Kalya nanti.
***
Bel masuk sudah berbunyi lima belas menit yang lalu, namun guru belum masuk ke kelas dan itu membuat anak anak bahagia, karena dia bisa melakukan hal apapun yang mereka suka. Kalya merasa bosan jika harus menyelesaikan tugas matematika nya untuk dua hari kedepan, di berbalik dan membuka ranselnya, meraba-raba mencari novel yang sudah dia bawa dari rumah.
"Ehh apa nih?" Kalya mengangkat suatu yang panjang dari dalam tas nya, dan dia langsung kaget saat mengeluarkan sesuatu itu dan ternyata itu adalah cokelat, makanan kesukaan nya.
"Ini punya siapa?" Kalya mengedarkan pandangannya ke sekitar kelas melihat kira-kira apa ada sesuatu yang mencurigakan di kelas ini. Kalya melihat Daniel yang tertangkap basah memperhatikan dirinya sambil tersenyum, namun cepat-cepat laki-laki itu menunduk malu sambil tersenyum sendiri membuat Kalya heran akan tingkahnya.
Kalya memperhatikan cokelat itu sekali lagi, lalu dia langsung membuka bungkus cokelat itu, mungkin ini adalah hadiah nya karena sudah belajar mati matian untuk ulangan harian tadi. Kalya langsung melahap cokelat itu dengan raut wajah bahagia, entah jika dirinya sudah dipertemukan dengan cokelat maka semuanya akan berubah menjadi indah.
Sedangkan, tanpa Kalya sadari, ada seseorang yang sedang memperhatikan dirinya sambil terus tersenyum, merasa bahwa hadiah nya memang yang paling cocok untuk Kalya.
Dia kembali menunduk sambil tersenyum, ya dia bahagia melihat Kalya bahagia.
~~~