Bab 3 : Susahnya Melupakan Masa Lalu

1699 Words
Kalya duduk di bangku nya sambil menunggu guru masuk ke dalam kelas, sambil menunggu dia membaca novel kesukaanya dan tidak memperdulikan kebisingan yang dibuat oleh orang-orang di bangku paling belakang. Siapa lagi kalau bukan Daniel dan kawan kawannya, mereka bernyanyi-nyanyi sambil menggendang meja, ada juga yang memukul mukulkan gagang sapu ke meja sehingga menimbulkan suara yang amat bising. "Woee biasanya Daniel sama Kalya dua duaan nih, ehh pas putus jadi berantem gini." Ledek salah satu teman Daniel yang bernama Yoga dengan suara kencang, setelah mengucapkan itu yang menurut Kalya itu sama sekali tidak lucu, dia tertawa terbahak-bahak dan itu semakin membuat Kalya jengkel. "Kena karma nya nanti udah selingkuh, iya nggak bbro?" Ujar Yoga lalu tertawa kencang yang membuat Kalya emosi, berita tentang dia yang selingkuh ternyata sudah menyebar, ini adalah fitnah dan sudah mencoreng nama baik Kalya sebagai peraih nilai terbaik di kelas. Kalya meremas halaman novelnya sampai sampai halaman novel itu robek dan rusak, emosinya sudah diujung tanduk. Dia berdiri lalu melihat Yoga dengan tatapan tajam. "Maksud lo apa gue yang selingkuh hah?" Kalya menggebrak meja cukup kencang sehingga semua orang yang berada di dalam kelas langsung memperhatikan dirinya. Daniel yang tadinya duduk diatas meja langsung turun dan melihat Kalya dengan tatapan panik. Yoga tersenyum melihat reaksi Kalya yang diluar dugaan, dia ikut berdiri dan kini tengah menantang Kalya dengan tatapan tajamnya. "Apa? Emang bener kan lo yang buat Daniel sakit? Lo kan yang selingkuh, emang ya tampilan aja kalem ternyata dalem nya cewek malem." Dengan mudahnya Yoga megatakan itu dan itu semakin membuat Kalya panas, hatinya terasa sakit saat Yoga mengatakan itu. Baru saja Kalya ingin mengangkat tanganya untuk menampar pipi Yoga, tapi dia sudah keduluan oleh Daniel yang sudah menonjok pipi Yoga hingga membuat laki-laki itu tersungkur manabrak meja dan kursi. Keributan semakin terjadi, semua anak anak menjerit karena aksi perkelahian disana. Kalya menutup mulutnya, terkejut melihat kejadian yang tak terduga, lalu pandangannya beralih kepada Daniel yang sekarang sedang melihat Yoga dengan tatapan benci. "Jaga mulut lo anjing! Dia bukan cewek malem setan!" Ujar Daniel sambil emosi. "Ada apa ini hah ribut ribut?" Semua murid menoleh melihat Bu Suci yang sudah berdiri di depan pintu sambil memegang selembaran kertas, Bu Suci langsung melangkah mendekati tempat perkelahian. "Daniel, Yoga! Ikut ibu." Ujarnya lalu segera meraih kuping kedua anak tersebut dan menggiringnya ke ruang BK. Kalya diam mematung sambil terus memikirkam bagaimana nasib mereka berdua, ini salah dia yang akhirnya menyebabkan mereka berdua masuk ke dalam ruang BK. *** "Kenapa kalian bertengkar? Apa yang kalian berdua perebutkan sampai kalian berdua bertengkar seperti ini? " Pertanyaan maut Bu Sondang membuat siapapun ciut, namun kali ini Bu Sondang tidak terlalu mengeraskan suaranya karena dia sedang berhadapan dengan anaak pemilik sekolah, Daniel Alfarenza Firdaus. "Tiba-tiba dia nonjok saya Bu, saya nggak ada urusan sama dia tiba-tiba aja dia nonjok saya." Yoga mengadu berharap membuat Daniel semakin terasa bersalah, namun yang ada malah semakin membuat dirinya terjerat dengan masalah, ini sekolah Daniel, dia yang akan menjadi pemilik sekolah selanjutnya. "Kamu ini, apa yang membuat kalian seperti ini hah? Pasti ada penyebab nya." Bu Sondang menatap Yoga galak. "Kalya Bu, dia yang buat kamu begini." Ujar Yoga lantang dan itu membuat Daniel terkejut. "Panggil dia kesini !" *** "Maaf bu." Kalya menunduk menyesal karena sudah membuat dua sahabat itu bertengkar, dan kini dia sudah berada di dalam ruang BK sendirian, sedangkan dua anak itu menunggu diluar. "Kamu! Berani sekali kamu membuat masalah, kamu tidak tau peraturan sekolah? Siapa saja yang membuat keributan akan diberikan hukuman yang setimpal dan kamu sudah membuat keributan Kalya, kamu membuat mereka berdua bertengkar, kamu yang akan bertanggung jawab." Omel Bu Sondang panjang lebar membuat Kalya semakin menunduk. "Kamu diberikan poin 50 karena sudah membuat keributan, mengerti?" Kalya melotot mendengar poin yang disebutkan, poin itu terlalu banyak untuknya, lima puluh poin. "Kamu boleh keluar." Ujar Bu Sondang sambil mengambil buku catatan poin dan dia langsung menulis poin Kalya ditambahkan 50 poin. "Bu, apa harus sebanyak itu? Saya, kan tidak ikut pukul memukul, kenapa saya yang-" Kalya langsung terdiam begitu mendapat tatapan tajam dari Bu Sondang, sekarang yang bisa dia terima adalah poin 50 yang masuk ke dalam nilainya. Kalya menunduk lalu kemudian dia keluar dari ruang BK. Manusia yang berkelahi tadi sudah ada di depan pintu. "Semua gara-gara lo Dan! Gue benci sama lo." Kalya menatap Daniel dengan tataan tajam, lalu dia beralih kepada Yoga yang sepertinya senang dia masuk ke dalam ruang BK. "Sana deh lo, ganggu aja benalu." Ujar Yoga, memang mulut cowok itu selalu saja kurang ajar. Kalya terdiam lalu kemudian dia langsung pergi meninggalkan mereka berdua. "Awas lo njing." Daniel melihat wajah Yoga emosi lalu dia langsung pergi meninggalkan laki laki itu disana. *** "Nah sekarang akan ada tugas kelompok, satu kelompok berisi dua orang ya, jadi kalian bisa lah membagi waktu kalian untuk kerja kelompok, dan Ibu tidak mau tau, tugas itu harus terkumpul lusa dan satu lagi, jangan ada yang protes soal kelompok, kalau ada yang protes kalian bisa keluar saat pelajaran saya berlangsung." Bu Sofia berkata dengan tegas sambil memperhatikan anak anak muridnya yang tenang. Semua murid langsung tegang melihat Bu Sofia berharap bahwa nanti mereka mendapatkan pasangan yang baik dalam bekerja sama. "Oke saya mulai. Adam dan Lala, Sintia dan Budi, Syifa dan Citra, Lani dan Shinta, Thoriq dan Bowo," "Lalu, Daniel dan Kalya, Bella dan Bayu, Endang dan Sisi." Kaly melotot begitu mendengar bahwa dia harus satu kelompok dengan Daniel, ini adalah masalah besar. "Bu saya bi-" "Tidak ada protes." Kalya langsung bungkam, hari ini dia sial sekali dan itu karena Daniel! Kalya melihat Daniel yang duduk belakang, dia bersandar sambil memegang kayu kecil dan dia mainkan disekitar dagunya, tatapannya yang serius saat menatap guru dan juga saat ini memakai kacamata bulat andalannya yang menurut Kalya dia akan semakin tampan dengan itu. Benar, dia malah terus memperhatikan Daniel tanpa sadar, seakan akan dia sudah terhipnotis oleh wajah tampannya itu. Ya Tuhan, kenapa dia tampan sekali? Dan kenapa Kalya selalu memikirkannya? Laki-laki itu sadar dan akhirnya dia melihat balik tatapan Kalya. Kalya tersadar lalu kemudian dia langsung kembali menghadap depan, jantungnya tiba tiba berdegup kencang. Mati, dia ketangkap basah! Bodoh! Sedangkan Daniel , dia tersenyum lalu melihat punggung Kalya sebentar dan kembali maling Bu Sofia dengan serius. Bel pulang sekolah pun berbunyi, Kalya bersiap siap keluar kelas sehingga ada seseorang yang berdiri tepat mejanya sambil berkacak pinggang. Kalya melihat orang itu dan dia langsung menghela nafas saat tau bahwa orang itu adalah Daniel, bisa nggak sih dia nggak disini. "Ayo buruan hari ini kita kerja kelompok , besok gue gabisa soalnya, mau ngedate." ujar Daniel berbohong, padahal dia besok mau menghabiskan waktunya untuk bermain game seharian. "Peduli gitu? Kagak!! Yaudah ayo ah lama lo." Kalya bangkit lalu kemudian dia jalan keluar kelas tanpa melirik Daniel sama sekali. "k*****t tuh cewek." Daniel langsung menyusul langkah perempuan itu dengan setengah berlari. "Jangan cuek cuek nanti nggak ada yang naksir." Ucap Daniel ketika dia sudah berdiri sejajar dengan Kalya. Kalya diam tak menjawab, yang dia inginkan adalah cepat cepat pulang. Daniel langsung naik ke atas motor besarnya ketika mereka sudah sampai di parkiran. "Naik." Daniel melirik jok di belakang. "Awas ngebut, mati lo sama gue!" Tanpa banyak bicara Kalya langsung naik ke atas motor Daniel dan memegang pundak laki laki itu. "Jalan." dia menepuknya pelan sambil melihat wajah Daniel yang sudah tertutup dengan helm. Daniel terdiam sesaat lalu kemudian dia sadar dan langsung menyalakan mesin motornya dan akhirnya mereka pergi menuju rumah Daniel yang tak jauh dari sekolah. *** "Daniel nan ganteng dan Indah ini pulang mama." Daniel berteriak ketika dia masuk ke dalam rumah sedangkan Kalya mengikuti Daniel dari belakang. "Anak mamaaa udah pulaang." Seorang wanita paruh baya datang, wanita itu tidak lain adalah Mama Daniel yang bernama Sabrina, walaupun sudah berumur beliau masih sangat cantik. "Mama, ehh aku bawa temen kita mau kerja kelompok, ini mantanku ma yang pernah aku bawa ke rumah." Terang Daniel lalu langsung menyalami tangan ibunya dan Kalya pun ikut salim dan tersenyum. "Ahh Kalya ya? Kenapa atuh putus sama Daniel? Nyebelin ya dia ya? Cubit aja atuh jangan diputusin kasihan dia jomblo melulu." Sabrina tertawa setelah dia mengatakan itu. Kalya hanya tersenyum tipis menanggapi candaan mamanya Daniel itu. "Duduk, mau minum apa nak Kalya?" Tanya Sabrina ramah dan Kaly langsung duduk lalu dia menggelengkan kepalanya. "Enggak tante, gausah." Kalya tersenyum malu malu lalu Sabrina tertawa. "Tante buatin s**u ya." Sabrina langsung ngacir ke dapur ketika dia melihat bahwa Kalya ingin menolak tawarannya lagi. Kalya tersenyum, sungguh baik ibunya Daniel. "Lo tunggu sini." Ujar Daniel cuek lalu langsung masuk ke dalam kamarnya. Lalu tak lama Daniel keluar dari kamarnya sambil membawa laptop milik nya yang sudah dipasang stiker Spiderman karena perlu diketahui Daniel ini pecinta berat Spiderman. Dia duduk di samping Kalya. "Nah, ayo kita mulai." Daniel membuka laptop nya dan Kalya mengambil buku bahasa inggris dari dalam tas nya. "Ini biar belajarnya tenang. Ehh iya Dan, mama mau keluar mau ketemu temen dulu, kamu jaga adik kamu Vivi ya, dia lagi bobo." ujar Sabrina dengan senyuman lembutnya, Daniel langsung hormat. "Siap." "Yaudah mama pamit ya, sekalian mau jemput Jennie." Sabrina langsung jalan keluar pintu dan pergi. Mereka berdua mulai belajar serius, entah kenapa suasana keduanya terasa canggung, apa karena mereka sekarang sudah tidak bersama lagi? "Abaaang." terdengar suara teriakan dari lantai atas dan Daniel dan Kalya mendongak melihat bahwa Vivi yang masih berusia lima tahun bangun dan berdiri di atas tangga. "Biar gue aja Dan, lo disini aja." Kalya bangkit dan berjalan mendekat kearah Vivi dan langsung menggendongnya. "Atukk, auss au inum." Vivi berceloteh dan itu membuat Kalya gemas. Kalya langsung membawa Vivi ke dapur dan memberinya air untuk dia minum sedangkan Daniel sesekali dia melirik Kalya yang sekarang sedang asik main di sofa bersama Vivi. Beberapa kali Vivi tertawa karena candaan Kalya yang membuat Daniel ikut tersenyum. Tiga jam pun berlalu, Daniel sudah menyelesaikan tugasnya lalu dia melihat dua gadis di sofa itu tertidur pulas. Kalya yang tidur sandaran dan Vivi yang tertidur di pangkuan Kalya. Daniel mendekat melihat mereka berdua dengan tatapan damai, lalu pandangannya beralih kepada Kalya yang terlelap, gadis itu sangat cantik dan Daniel merasa hatinya bergetar. "Ahh udah ah, apaansih." Daniel menggeleng lalu kembali menatap Kalya. "Maaf, udah buat lo sakit hati, gue sayang sama lo." Daniel tersenyum lalu kemudian dia mencium kening Kalya damai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD