5-Ada Rahasia Baru [Bagian 1]

870 Words
"Sayang! Aku berangkat dulu, ya!" Kanin tengah memasukkan potongan buah melon ke tempat makan kala teriakan Zevan terdengar. Dia buru-buru menutupnya dengan cepat. Setelah itu memasukkan ke kantung yang sudah ada kotak makan lain berisi nasi dan lauk pauk. "Sayang!" Suara Zevan kali ini lebih dekat. Kanin mengangkat kantung berwarna biru dongker dengan motif bintang dan mendekati suaminya. Dia memperhatikan raut Zevan yang tampak bersahabat. Pelan-pelan dia menghela napas panjang. Kemarin lusa, dia terlanjur penasaran dan tanpa pikir panjang setengah menyindir Zevan. Parahnya, lelaki itu sadar tengah dicurigai. Setelah itu Kanin buru-buru tidur alih-alih menjelaskan. Dia pikir mood suaminya tetap buruk setidaknya sampai tiga hari karena biasanya seperti itu, untungnya hal itu tidak terjadi. "Aku bawain bekal." Zevan maju selangkah lalu tangan kirinya melingkar ke pundak Kanin. "Makasih atas perhatiannya." Kanin mengurai pelukan dan menyerahkan kantung yang tidak kunjung diterima Zevan. "Inget, sampai kantor sempetin sarapan." Sebelum mengambil kantung yang diulurkan, Zevan sempat-sempatnya menjawil hidung Kanin penuh godaan. "Aku berangkat dulu," pamitnya, tapi tidak kunjung beranjak. Satu alis Kanin terangkat. Sebenarnya tahu apa yang diinginkan suaminya, hanya saja dia memilih pura-pura tidak mengerti. Mata lelaki itu beberapa kali berkedip dengan bibir bergerak maju. Jika Kanin belum juga paham, Zevan akan memajukan kepalanya seperti seekor kucing yang butuh dimanja. "Kanin!" geram Zevan kala Kanin hanya diam saja. "Hahaha...." Tawa Kanin pecah. Dia memeluk kepala Zevan dan menciumnya dengan gemas. "Semangat kerjanya, Sayang." Zevan memilih diam, karena bukan itu yang dimau. Padahal, hal semacam ini sudah ribuan kali dia lakukan. Kanin bukan wanita bodoh yang tidak tahu gestur lelaki, terlebih terhadap suaminya sendiri. Kanin membingkai pipi Zevan dan menjepitnya, hingga bibirnya mengerucut ke depan. Barulah setelah itu mengecup bibir Zevan. Kali ini, Zevan merespons dengan menahan pinggang Kanin. Lelaki itu balik mencium bibir manis kesukaannya. Dia menggigit pelan lalu memperhatikan sang pemilik. Wajah Kanin telah sepenuhnya memerah. Kanin mengusap bibirnya lalu mundur selangkah. "Udah sana! Nanti kesiangan." Zevan mengecup bibir Kanin sekali lagi. "Kalau kangen ke kantor, ya! Bye!" Setelah itu dia segera berbalik sebelum enggan berjauhan. Kanin tersenyum kecil dengan wajah seperti terkena sinar matahari selama berjam-jam. Dia mengusap pipi lalu mengikuti ke arah garasi samping. Kebiasaannya, harus melihat Zevan berangkat hingga mobilnya berbelok ke pertigaan komplek. Tin... Tin.... Zevan menyembunyikan klakson sebagai pertanda lalu melambaikan tangan. Sementara Kanin berdiri di depan pintu garasi dan melakukan hal yang sama. "Hati-hati, Sayang!" teriak Kanin sambil setengah berlari menuju depan pagar lalu memperhatikan mobil dengan nomor B 1 KNN. Zevan secara khusus memesan nomor itu di hari ulang tahun Kanin dua tahun lalu. Sebenarnya mobil itu untuk Kanin. Namun, dia cukup payah dalam mengemudi. Akhirnya, dia meminta sang suami agar memakai mobil itu, harapannya agar ke manapun Zevan pergi selalu ingat dirinya. Bucin? Memang. Mobil Zevan telah berbelok, tapi Kanin tidak kunjung beranjak. Sepertinya tanpa sadar dia melamun karena terbayang perayaan ulang tahunnya yang selalu mewah, Zevan yang menyiapkan semuanya. Wanita itu baru tersadar dari lamunan singkatnya, saat ada sebuah motor dari arah berlawanan mendekat. Seketika Kanin bergerak mundur dan menutup gerbang. "Permisi, rumah Pak Zevan sebelah mana, Bu?" Kanin dibuat kaget dengan pertanyaan itu. Dia melihat sebuah map cokelat yang dipegang. Aneh, Zevan sangat jarang menerima paket. Jika urusan kerjaan, pasti akan dikirim ke kantor. "Saya istrinya." "Oh, ini Bu ada paket." Pria bertubuh kurus itu menyerahkan map dari sela gerbang. "Atas nama Ibu siapa?" "Kanin," jawab wanita dengan piama berwarna putih tulang. Dia menerima map itu dan hanya tertulis nama dan alamat tujuan, tidak ada nama si pengirim. "Makasih, Pak." Setelah mengucapkan itu dia bergegas masuk lewat pintu garasi. Kanin segera menuju lantai dua bermaksud menelepon Zevan, merasa suaminya belum pergi jauh. Jika paket yang dia tebak berisi dokumen itu penting, Zevan bisa kembali untuk mengambil. Tut.... Saat mendengar nada sambung, Kanin mengembuskan napas lega. Dia mengangkat map cokelat itu dan menebak isinya. Selama tiga tahun pernikahan, baru kali ini dia menerima paket berisi dokumen untuk Zevan. "Apa, Sayang?" Zevan baru menjawab pada deringan ketiga. "Ini ada kurir anter dokumen. Penting nggak?" "Kalau dokumen pasti dikirim ke kantor. Buang aja, orang iseng mungkin." Kanin mengangguk mengiakan. "Ya udah, hati-hati nyetirnya, Kak Zevan." "Ya, Cinta!" Setelah itu sambungan terputus. Kanin menatap dokumen penuh ingin tahu, penasaran orang iseng macam apa yang mengirim paket ke Zevan. Keluarga Zevan orang terpandang dan pastinya banyak kenalan. Tidak seperti Kanin yang orang biasa, pastinya jarang ada orang iseng. "Apa aku buka? Mungkin beneran penting." Kanin membuka kamera, mengaktifkan video lalu menyandarkan ponsel di lampu tidur atas nakas. Barulah dia membuka dokumen menghadap ke kamera. Kedua alisnya hampir bertaut melihat beberapa dokumen asli. Berupa surat keterangan lahir dari rumah sakit hingga akta lahir. Dia membaca surat itu satu persatu dan tertulis atas nama Zatama Zalouis. Tangan Kanin seketika bergetar. Dia langsung ingat dengan bocah yang dua hari lalu menjadi tamu mengagetkan. Sekarang, dia dibuat syok karena dokumen bocah itu dikirim ke rumah. "Sebenernya dia siapa?" gumamnya dengan mata berkaca-kaca. Apakah orangtua Zatama memang sengaja membuang anaknya ke rumahnya? Namun, untuk apa? Kanin membaca dokumen itu lagi dan tertulis nama Fena Massari sebagai ibu Zatama. Bulu kuduknya meremang, siapa itu Fena? Mengapa menargetkan sang anak agar datang ke rumahnya? Dari sekian banyak rumah mengapa harus rumahnya? Ada pemikiran yang tiba-tiba muncul. Apa Zevan mengenal Fena?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD