1-Kejutan Anniversary [Bagian 1]
"Sayang...."
Kanin berjingkat kala ada sepasang lengan yang melingkar di perut. Punggungnya lalu bersentuhan dengan d**a hangat yang membuat bulu kuduknya meremang.
"Mikirin apa?" bisik Zevan sambil menyandarkan pipi di kepala Kanin.
Kanin mengusap lengan yang masih dilapisi dengan jas, tapi dia bisa merasakan otot kekar di baliknya. "Lagi inget-inget lagi betapa bahagianya rumah tangga kita."
Katanya, cobaan dalam rumah tangga itu terjadi di tahun awal pernikahan dan sering disebut dengan tahun kertas. Masa di mana sepasang suami istri menulis harapan, cita-cita dan gambaran rumah tangga ke depannya dan belum banyak tertampar realita. Namun, tahun kertas memberi kesan mudah sobek yang diibaratkan dengan kepercayaan yang masih begitu lemah.
Banyak orang bilang, pernikahan mulai kuat ketika memasuki tahun ketiga, tahun kulit. Saat suami dan istri telah sepenuhnya paham kelebihan dan kekurangan masing-masing. Layaknya kulit yang melindungi tubuh. Beberapa kali mungkin terluka dan nyaris sobek, tapi perlahan akan sembuh oleh waktu.
Itulah yang dialami Kanin dan Zevan. Seminggu yang lalu, 3 Januari 2024 pernikahan mereka telah menginjak tahun kulit. Kanin berharap, akan lebih banyak kebahagiaan lebih dari dua tahun sebelumnya. Sejauh ini dia diperlakukan seperti seorang ratu. Dihujani kasih sayang, kejutan mewah dan keluarga mertua yang sangat suportif. Kanin tidak merasakan betapa "seramnya" pernikahan seperti yang dibilang sebagian orang. Zevan sangat berbeda dan pernikahan mereka sangat diberkati.
Kanin melonggarkan pelukan lalu berbalik, memandang wajah oval dengan cambang halus yang memberi kesan manly. Baginya, Zevan perwujudan dari kesempurnaan. Setiap inci terpahat sempurna. Perhatiannya lalu tertuju ke mata cokelat madu dengan bulu mata panjang yang selalu membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Mata itu seperti memiliki sihir karena setiap memperhatikan, Kanin seperti terbang dan diakhiri dengan kadar cintanya yang semakin bertambah. Belum lagi aquiline nose yang selalu membuat Kanin iri karena hidungnya tidak begitu mancung.
Kedua tangan Zevan berganti menangkup pipi Kanin, membuat lamunan wanita itu terputus. Saat istrinya menatap tanpa berkedip, dia segera membungkuk dan mempertemukan bibir keduanya. Zevan menggerakkan bibir atasnya dan Kanin segera membalas. Ciuman mereka kian intens kala satu tangan Zevan mulai turun ke kancing piama Kanin dan berusaha membukanya. Jemarinya lalu menyelinap masuk, mengusap sesuatu yang sebelumnya tertutupi. Tubuh Kanin meremang atas sentuhan itu, sementara bibir mereka masih saling memagut. Namun tiba-tiba, Zevan mengakhiri ciuman lalu mengedipkan mata kala Kanin hendak protes.
Zevan berbalik seraya melepas kancing jasnya, seolah tidak terjadi apa-apa. "Kenapa, Sayang? Jatah semalem nggak puas?"
Kanin memandang Zevan tidak terima, tapi jika tidak berhenti pasti akan lupa diri. Dia bergegas mengekori sambil menghilangkan kekecewaan yang masih melingkupi. "Mau aku siapin air dingin atau hangat?"
"Apapun, yang penting sama kamu," jawab Zevan penuh godaan. "Mau lanjut?"
Mata bundar Kanin memandang sorot mata Zevan. Yah, bisa dibilang Zevan lebih hyper. "Aku mau masak, Kak Zevan," jawabnya setengah berbisik. Setelah itu berlari menjauh, sengaja membalas perbuatan suaminya.
"Kanin!" Zevan selalu gemas ketika Kanin memanggilnya "Kak", mengingatkannya saat awal pertemuan. Di mana Kanin masih tampak polos dan malu-malu.
Di dapur, Kanin mulai menyiapkan bahan masakan. Namun, di tengah kegiatannya, ada suara yang menginterupsi, tapi bukan suara suaminya. Dia bergegas ke pintu utama. Begitu membuka pintu, Kanin terkejut karena tidak mendapati siapapun. Dia mengedarkan pandang lalu perhatiannya tertuju ke bocah lelaki yang berdiri di samping gerbang dengan tas punggung di depan badan. Jantung Kanin mencelos lalu bergegas mendekat. "Sama siapa?"
Bocah berambut lebat itu mengulurkan sebuah kertas. Kanin mengernyit lalu menerimanya dengan tangan bergetar.
ZATAMA ZALOUIS. 8 Oktober 2021.
Kanin berjongkok dan mendapati mata berwarna kecokelatan itu menatapnya takut-takut. Kulit putih dengan pipi chubby itu terdapat bekas makanan yang tidak dibersihkan. "Zatama sama siapa?"
Zatama menunduk lalu air matanya turun. Kanin memegang pipi Zatama dan memandangnya. Bocah itu tersenyum meski air matanya menetes. Kanin terdiam, senyuman Zatama mengingatkannya dengan senyum khas suaminya. Bahkan lirikan usai tersenyumpun sama. Kanin tiba-tiba seperti tersengat listrik usai pemikiran itu muncul. Dia menarik tangannya, sementara matanya terus memandang bocah itu.
"Sayang!" Dari arah dalam, Zevan belum sempat mandi, bermaksud membujuk sang istri untuk melanjutkan aktivitas yang sengaja dia akhiri dan membuatnya menyesal. Saat melihat pintu utama terbuka, dia memutuskan keluar. Ternyata, memang ada Kanin yang berjongkok, tapi di depannya ada seorang anak kecil. "Kanin!"
Kanin seketika berdiri dan anak kecil itu bersembunyi di balik kakinya. Jantungnya lalu berdegup lebih cepat tanpa sebab.
Zevan segera mendekat. "Siapa?"
Kanin berjinjit ke telinga Zevan. "Tadi ada yang pencet bel, tahu-tahu dia udah di sini."
Emosi Zevan seketika menyeruak. "Kita bawa ke kantor polisi!"
Kanin menoleh ke Zatama yang berdiri mematung, tapi tidak dengan jemarinya yang memencet bagian depan tasnya. "Jangan dulu!"
Zevan tahu Kanin memiliki hati yang lembut tapi untuk sekarang tidak seharusnya hanya mengandalkan perasaan. "Gimana kalau ini penipuan, terus nuduh kita nyulik?"
Kanin sebenarnya juga berpikiran seperti itu. Di zaman yang serba canggih, modus penipuan semakin beragam. "Telepon pengacara mama," pintanya setelah itu berjongkok menghadap Zatama. "Mau masuk sebentar?"
Zevan memperhatikan bagaimana Kanin berbicara dengan lembut. Bocah itu akhirnya menggandeng tangan Kanin dan melewatinya. Ekor matanya lalu menangkap sebuah kertas yang tergeletak di dekat pagar. Penasaran, dia mendekati kertas itu dan mengambilnya.
ZATAMA ZALOUIS.
Ekspresi Zevan sedikit berubah. Nama itu tampak tidak asing, tapi siapa?
Kalau punya anak nanti, aku pengen ngasih nama Zalouis. Tiba-tiba Zevan terngiang sebuah ucapan seseorang di masa lalu.
"Nggak mungkin!" Zevan tanpa sadar mencengkeram kertas yang masih dipegang. "Nggak mungkin dia."