Zevan bergegas ke kamar usai teringat sebuah nama, Zalouis. Dia mengambil ponsel dan mencari kontak Om Bernan, pengacara kepercayaan keluarganya. Dia segera menghubungi lalu berjalan mondar-mandir menunggu panggilannya terjawab. Sementara di bawah, Kanin sedang membujuk Zatama agar makan.
"Om. Bisa ke rumah? Aku butuh bantuan, Om," pinta Zevan begitu Om Bernan mengangkat panggilan.
"Ya.. Ya... Om langsung ke sana." Setelah itu sambungan terputus.
Zevan memegang ponsel di tangan kanan lalu menatap kertas yang dibawa Zatama. Kali ini perhatiannya tertuju ke tanggal lahir yang tertera. Jika dihitung, anak itu berusia dua tahun lebih tiga bulan.
"Nggak mungkin." Zevan menggeleng. Dia tidak mau memercayai sesuatu yang belum tentu pasti, tapi hatinya seolah menyakinkan itu. Seketika Zevan menuju ruang kerja untuk mencari bukti.
Tubuh lelaki itu terasa tak bertulang, dia menyalakan komputer tak sabaran dan setengah membanting mouse karena proses booting yang dirasa lama. Begitu komputer menyala, dia segera mencari rekaman CCTV. Dia dengan mudah menemukan rekaman saat Zatama berjalan seorang diri. Namun, bocah itu beberapa kali menoleh ke belakang dan sempat berbalik untuk kembali. Seperti ada orang dewasa yang memintanya untuk melanjutkan langkah. Lalu muncul seseorang yang membungkuk dengan scarf di kepala lalu memencet bel. Zevan tidak bisa menebak posturnya karena terus membungkuk saat terekam kamera.
"Kak Zevan, Om Bernan dateng!" Teriakan Kanin mengalihkan konsentrasi Zevan.
Pintu ruangan Zevan terbuka dari luar. Om Bernan segera mengunci pintu dari dalam dan mendekati lelaki yang tampak gelisah itu. "Ada apa?" tanyanya. "Kanin sama anak siapa itu?"
"Anak itu harus keluar dari rumahku, Om! Aku nggak mau tahu!" Nada Zevan terdengar memerintah, padahal belum menjelaskan secara pasti duduk permasalahannya. "Kalau bisa nggak usah ketemu, apalagi Kanin." Zevan membuang muka saat Om Bernan menatap penuh selidik. Di saat dia mencoba menenangkan diri, sebuah ingatan kembali muncul.
Zalouis nama yang bagus, kan? Aku suka nama Louis, tapi tambahan Za itu singkatan namamu, Zevan.
Ya, Zalouis kedengarannya bukan nama pasaran.
Zevan bergerak gelisah lalu memandang Om Bernan yang menatapnya intens. "Aku bakal cerita, Om. Tapi, tolong bawa anak itu dulu."
***
Zatama terlelap setelah kekenyangan. Satu tangannya melingkar di atas perut sementara tangan satunya memegang tas yang bersandar di sandaran kursi. Wajah bocah itu mulai berkeringat, meski tidak secemong saat baru datang. Kaninlah yang tadi membersihkan, untungnya Zatama nurut.
"Biar Om yang urus," ujar Om Bernan seraya mengambil tas Zatama. Perhatiannya lalu tertuju ke resleting bagian belakang yang setengah terbuka. "Kalian sempet buka?"
Kanin dan Zevan serempak menggeleng. "Nggak, Om," jawab Kanin cepat.
"Takutnya udah terlanjur dibuka, ternyata pelaku ngasih jebakan." Om Bernan lalu membungkuk. "Biar Om bawa."
"Bantuin!" Kanin memegang lengan suaminya. Biasanya Zevan akan menurut, tapi tidak dengan malam ini. Dia tetap berdiri di posisinya dengan tangan bersedekap. Sementara wajah kakunya memperhatikan Zatama yang perlahan berpindah ke gendongan Om Bernan.
"Om balik dulu!" Om Bernan menatap Kanin dan Zevan bergantian. Setelah itu dia menunduk, memastikan bocah di gendongannya tetap terlelap.
Kanin mengikuti Om Bernan menuju pintu utama. Sementara Zevan memutuskan duduk di tempat Zatama tadi lalu menyandarkan kepala. Pandangannya tertuju ke langit-langit, rautnya seperti orang yang akan mengerjakan ujian. Namun, pikirannya blank, masih tidak habis pikir bagaimana bisa ada anak kecil yang datang ke rumah. Padahal, komplek perumahannya dijaga ketat. Parahnya, dari sekian banyak rumah kenapa harus rumahnya? Terlebih, Kanin yang menemui.
"Kamu mau makan?" Beberapa menit kemudian Kanin kembali. "Aku pesenin, ya!"
"Kanin!"
Baru saja Kanin menaiki tiga anak tangga, tapi panggilan sang suami membuat langkahnya terhenti. Dia berbalik, memperhatikan Zevan yang masih menengadah. Melihat gelagat aneh suaminya, dia memutuskan menghampiri. "Kenapa?" tanyanya setelah duduk di samping Zevan.
Zevan menegakkan tubuh lalu memperhatikan Kanin. Rambut istrinya agak berantakan, sepertinya Kanin terus menggaruk kepalanya saat gelisah. Kemudian, sorot matanya juga terlihat khawatir. Tanpa suara, Zevan merengkuhnya. "Maaf, ya!"
"Maaf buat apa?" Kanin kembali berpikiran buruk.
"Masalah barusan," jawab Zevan. "Kamu pasti gelisah."
Kanin menghela napas pelan, dia pikir Zevan akan memberi tahu rahasia besar. "Itu bukan salahmu," bisiknya. "Kamu juga nggak tahu tiba-tiba ada anak kecil dateng." Dia membalas pelukan Zevan dan menepuk punggungnya beberapa kali.
"Aku udah cek CCTV, dia jalan sendiri." Zevan mengurai pelukan dan menatap Kanin meyakinkan. "Tapi, aku udah minta tolong satpam komplek buat cek semuanya." Dia menatap Kanin penuh tekad, tidak ingin ada yang mengusik rumah tangga yang dibangun dengan susah payah.
Perhatian Kanin masih terfokus ke Zevan yang begitu terusik usai kedatangan Zatama. "Padahal Sayang, aku pikir Zatama dikirim Tuhan buat kita," ujarnya pelan. "Dia mirip banget sama kamu."
"Enggak, Kanin!" cegah Zevan cepat. "Aku masih bisa nunggu anak dari rahimmu."
Bulu kuduk Kanin meremang mendengar suara Zevan yang sangat tegas. Selama tiga tahun menikah, suaminya tidak pernah berbicara dengan nada seperti itu. "Maaf...."
Zevan menarik napas panjang lalu mencoba melupakan rasa sebalnya atas ucapan Kanin. "Kamu jangan mikir macem-macem dan aku harap kamu nggak ambil tindakan apapun tanpa sepengetahuanku." Setelah mengucapkan itu dia beranjak menuju kamar.
Kanin memandang kepergian Zevan dengan air mata menetes. "Gimana bisa aku nggak mikir macem-macem?" Dia membungkuk mengambil sebuah kertas yang sengaja disembunyikan di bawah sofa. Sebetulnya dia membuka tas Zatama karena penasaran, dan dia menemukan sebuah fotocopy-an boarding pass dengan bagian nama yang sengaja dirobek. Di sana tertulis tanggal 25 Desember 2020 dengan tujuan ke Pulau Dewata. Seminggu sebelum pernikahan Kanin dan Zevan.
"Apa yang kamu sembunyiin dari aku, Kak?" Kanin menatap kertas yang dipegang dengan nanar.