Zevan bertekad ingin mencari Ibu Zatama secepat mungkin. Malam itu juga dia mendatangi tempat nongkrong yang sudah lama tidak dikunjungi, tapi tidak berhasil menemukan wanita yang dicari. Lantas, dia ingat dengan sosok wanita blasteran Belanda yang cukup berkuasa dan dulu menjalin persahabatan dengan Ibu Zatama. Dia memutuskan menemui wanita itu, karena hampir tidak ada petunjuk lagi.
Tidak sampai dua puluh menit, Zevan sudah duduk di ruang tamu bernuansa hijau mint dengan sisi tembok terdapat figura berisi foto keluarga besar Chloe yang mengenakan Klederdracht, pakaian tradisional Belanda. Tidak banyak ornamen di ruang tamu itu hanya foto-foto keluarga yang menghiasi beberapa sisi tembok. Siapapun yang melihat, pasti akan merasa Chloe si pecinta keluarga. Katanya, anak yang dekat dengan keluarga tidak akan macam-macam. Namun, berbeda dengan Chloe yang sering kabur sebelum akhirnya tinggal sendiri di apartemen. Pergi ke kelab sudah menjadi rutinitas sehari-hari. Intinya, tampangnya saja Chloe seperti anak baik-baik.
"Sorry, lama." Chloe keluar kamar usai diberi tahu asistennya jika Zevan datang. Dia berdiri di pembatas ruang tamu, memperhatikan seorang lelaki yang mengenakan jaket dengan rambut disisir asal-asalan duduk menatapnya. Lama tidak bertemu, dia merasa Zevan semakin tampan. Lelaki itu kian sexy dan ada magis yang membuat sebagian wanita rela duduk di pangkuannya tanpa banyak ancaman.
"Aku ke sini bukan jadi objek fantasimu," ujar Zevan melihat bagaimana Chole memandangnya.
Chole berjalan mendekat lalu memeluk tamunya. "Let me kiss you." Dia lalu mengecup bibir Zevan sebelum mendapat penolakan.
Panggilan sayang dan kecupan semacam itu sudah bukan hal baru bagi Zevan. Dulu, mantannya dan Chloe sempat bertengkar karena kebiasaan Chloe yang terkesan nyosor sana nyosor sini. Chole memang seperti itu, sering memanggil seseorang dengan sebutan sayang, babe, cintaku dan beberapa panggilan manis lainnya.
"Jadi, ada apa?" tanya Chloe seraya berpindah duduk di samping Zevan.
"Tahu di mana Fena sekarang?" tanya Zevan to the point.
"Terakhir aku denger, dia tolak semua tawaran setelah itu ngilang. Momennya nggak jauh setelah kamu nikah."
Zevan memandang Chloe penuh penilaian. Dia ingin mempertanyakan kehamilan Fena, tapi ekspresi Chloe menunjukkan jika tidak tahu apa-apa. "Tingkah dia sebelum ngilang?"
Chole memejamkan mata dengan jari telunjuk memegang pelipis. "Kelihatan lebih pendiem." Dia baru membuka mata dan menurunkan jemarinya usai menjawab. "Ngapain nyari? Kamu udah punya istri."
"Ada sesuatu yang harus aku selesaiin."
Chloe menatap penuh selidik. Zevan bukan orang sembarangan yang dengan mudah meminta tolong. Juga bukan tipe lelaki yang akan tunduk di depan wanita. Namun, Zevan kali ini melakukan itu. "Apa yang udah dilakuin Fena ke keluargamu?"
"Temui Fena dulu baru aku kasih tahu." Zevan berdiri, matanya lalu tertuju ke gaun tidur tipis yang dikenakan Chloe. Tidak banyak yang berubah, wanita itu selalu mengenakan pakaian terbuka dan seolah tidak takut ada yang memangsa.
Chole maju selangkah lalu memegang pundak Zevan. Matanya tertuju ke mata cokelat indah yang menatapnya tajam lalu mengusap pundak tegap itu sensual. "Tapi, ada bayarannya, Sayang."
"Aku tahu," jawab Zevan cepat.
Chloe berjinjit dan mencium bibir merah alami, tapi agak kering itu. Tidak disangka lelaki itu langsung membalas. Satu tangannya bergerak ke punggung Zevan, mengusapnya naik turun. Zevan mendorong Chloe hingga terduduk di tempatnya tadi. Posisi kaki wanita itu agak terbuka, menyibak gaun tidur yang panjangnya tidak seberapa.
Zevan mengakhiri ciuman lalu memandang wajah putih dengan freckles di bagian bawah mata. "Tahan sampai bisa dapet kabar Fena." Jemarinya lalu mengusap ke inti Chloe. Sebelum wanita itu bereaksi, dia segera keluar lalu meniup jari telunjuknya.
Sementara Chole tidak mengubah posisinya usai tindakan Zevan. "Udah lama nggak main." Jelas, main yang dimaksud bukan sekadar hang out. Menurutnya ciuman barusan lebih memabukkan daripada ciuman Zevan dulu. "Oke, Zevan. Aku bakal bantu."
***
Pukul satu malam, Kanin terbangun. Dia menoleh ke sisi kanan dan mendapati suaminya yang belum tertidur. Zevan duduk berselonjor dengan bantal yang ditegakkan sebagai sandaran punggung. Mata Zevan tampak serius menatap ponsel dengan kening yang terdapat guratan halus. Lampu kamar yang telah sepenuhnya padam menjadikan layar itu satu-satunya penerangan. Namun, sepertinya mata Zevan tidak terganggu dengan kondisi seperti itu.
Kanin merasa sejak kedatangan Zatama, Zevan tampak lebih serius. Dia hafal di luar kepala bagaimana tingkah Zevan. Ketika lelaki itu pulang dalam keadaan suntuk, pasti ada hal berat yang bersarang di kepala. Jika sudah seperti itu, Kanin memilih diam alih-alih menghibur. Zevan selalu butuh ruang sendiri untuk menekan gejolak emosinya.
"Belum tidur?" Kanin memberanikan diri mendekat lalu menepuk perut suaminya.
Zevan yang terlalu larut dengan ponselnya seketika berjingkat. Dia menoleh melihat istrinya yang memejamkan mata dengan raut agak lesu. Tangan kirinya lalu menepuk pundak Kanin menenangkan. "Bentar lagi."
"Banyak kerjaan?"
Ibu jari Zevan menekan tombol power lalu meletakkan ponsel di samping kaki. Dia memandang Kanin yang sekarang memperhatikannya. "Cuma bales chat Om Bernan. Ngabarin soal Zatama."
Kanin setengah terduduk. "Terus, di mana dia sekarang?"
Zevan mengangkat bahu, padahal tahu Zatama dibawa oleh Om Bernan ke suatu tempat, tapi bukan kantor polisi. "Waktu kamu keluar, sama sekali ada sekelebatan orang?"
Kanin menggeleng, tapi tiba-tiba ingat tindakannya tadi. "Sebenernya aku buka tas Zatama." Dia menatap Zevan yang langsung melebarkan mata. "Isinya cuma mainan."
Raut Zevan seketika berubah lega. Dia mengusap kepala Kanin lalu kembali mengambil ponsel. "Lanjut tidur, Sayang. Jangan terlalu banyak mikir."
Kanin kembali berbaring, tapi kali ini memunggungi Zevan. Meski dalam kondisi minim penerangan, dia bisa melihat jelas reaksi Zevan yang menurutnya berlebihan. "Sayang, seminggu sebelum kita nikah...."
Zevan melirik Kanin. "... apa?"
Jantung Kanin berdegup lebih cepat mengingat hal momen itu. "Aku sempet takut kamu balikan sama mantan karena kamu mendadak susah dihubungi. Hehe, itu nggak mungkin terjadi, kan?"
Perhatian Zevan seketika tertuju ke Kanin. "Kamu nggak lagi nyurigai aku, kan?"