27

1241 Words
Jeno menggigiti ujung pulpennya, sebelum tangannya bergerak untuk mengisi lembar jawaban dari tugasnya. Pintu kamarnya tiba-tiba diketuk, yang sontak membuatnya mengalihkan pandangan dari buku. "Siapa?" tanya Jeno. "Briannn...," balas seseorang yang tadi mengetuk pintunya. "Kalau mau ngajak main game, jangan masuk," kata Jeno. Pintu kamarnya tak lama terbuka, yang menampilkan Brian dengan bibirnya yang maju lima centi. Jeno mengernyit. "Kenapa lo?" "Dimarahin Jino,"                                        "Kok bisa? Lo ngapain tuh anak? Udah tau kalau Jino marah serem," Brian masuk terlebih dahulu ke kamar Jeno, tak lupa ia menutup pintunya kembali. "Gue cuman godain dia aja kayak biasa, tapi dia tiba-tiba marah. Gue bilang kalau lo gak suka Thalia, lo gak mungkin sebaik ini kan sama dia? Terus dia marah deh," adu Brian dengan bibir bawah maju. "Mukanya bisa biasa aja gak? Eneg gue liatnya asli," kata Jeno, yang membuat Brian semakin merajuk. "Lagian lo kalau mau godain orang liat-liat dulu dong. Kalau Jino lagi gak ada ekspresi, jangan lo senggol," ujar Jeno. "Tadi gak keliatan, soalnya posisi dia munggungin," balas Brian. Brian kemudian berjalan ke kasur Jeno, lalu berbaring di sana. "Dia udah baikan apa sama Han?" gumam Brian. "Manakutehe," balas Jeno dengan mata kembali fokus ke arah bukunya. "Han tuh susah sih buat ngalah kalau sama apa yang dia suka, jadi kita yang harus ngalah dan maklum," ucap Brian. "Meskipun kayak gitu, kalau Thalia gak mau balikan sama Han, Han gak bisa apa-apa," "Kalau dia akhirnya jadian sama yang lain? Han bakal gimana?" "Ya pasti kecewalah, tapi kayaknya gak akan marah kalau itu emang keputusannya Thalia," "Cuman kita pasti bakal canggung sama Han, kalau Thalia jadiannya sama salah satu dari kita," Jeno hanya membalas dengan gumaman. "Yah, tapi paling perasaan kayak gitu gak akan bertahan lamakan? Kita kan masih remaja, cintanya masih cinta monyet. Suka-sukaan karena terbiasa bareng aja akhir-akhir ini, udah gitu kita jarang banget gaul sama cewek," celoteh Brian. Jeno tertawa kecil. "Ketara banget lo ngehibur diri," ucap Jeno. "Tapi terus Jino di mana?" "Tadi sih masih bikinin teh buat Thalia, tapi sekarang paling udah diant-," belum sempat Brian menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba terdengar suara pecahan kaca dari arah kamar Thalia. Prang! Jeno dan Brian sontak beranjak dari tempat masing-masing dan pergi ke sumber suara. Pintu kamar Thalia untungnya tidak tertutup, jadi mereka bisa langsung masuk. Mata mereka membelalak, melihat Jino dalam keadaan membungkuk-bungkuk di samping ranjang Thalia dengan memegangi kening sebelah kanannya, sementara Thalia berusaha turun dari ranjang. Wajah gadis itu tampak merah padam dan pucat. Jeno dengan sigap menghampiri Jino, sementara Brian menahan Thalia yang hendak turun. Ia memegang kening gadis itu, suhu tubuhnya panas sekali. "Jin, lo kenapa?" tanya Jeno. Jino meringis, sembari mengangkat kepalanya. Jeno bisa melihat darah keluar dari kepalanya, dan merembes ke sela-sela jarinya yang berusaha menutupi lukanya. "Gak tau gue, tiba-tiba ada yang lempar batu dari jendela, pas gue mau nge cek suhu badannya Thalia," kata Jino. "Harusnya lo gak usah ke sini, gue gak papaaa...," isak Thalia. "Apanya yang gak papa? Lo panas gini," kata Brian. Suara mobil yang diparkir di halaman rumah tak lama terdengar, disertai pintu yang dibuka tutup. "Mama lo udah pulang kayaknya Tha," ucap Jeno. ••• "Orang tua kamu harus dikasih tau ini," gumam mama, sembari mengambil ponselnya yang ada di tasnya, namun Jino buru-buru mencegahnya. "Jangan hubungin orang tua aku Tante," ucap Jino. "Gak bisa gini dong, orang tua kamu harus tau," kata mama. "Jangan, nanti mereka khawatir. Terus mereka marah sama Tante, dan akhirnya aku gak boleh tinggal lagi di sini," "Ya emang harusnya gitu, rumah gak aman berarti, kalian gak bisa lagi tinggal lagi di sini, nanti kalian kenapa-napa," tutur mama. "Tante, justru di kondisi kayak gini harus ada laki-laki di rumah, yang bisa jaga Thalia sama Tante," ujar Jino. "Kalau gak ada kita, terus ada kejadian tadi sedangkan Thalia lagi sendirian di rumah, gimana?" "Gak bisa gini dong, emangnya kalian satpam? Kalian itu tanggung jawab Tante sekarang,gak bisa dong Tante taro kalian di keadaan bahaya kayak gini," "Terus Thalia sama Tante nanti gimana?" kali ini Brian yang bersuara. "Kita gak mau pulang, apa lagi ujian udah di depan mata.Please orang tua kita jangan dikasih tau, Tante minta satpam perketat keaman aja," "Aduh, tapi Tante tetep aja jadi gak tenang...," "Thalia gimana Tan? Pas Tante kerja, Thalia bakal sendirian di rumah kalau kita pergi. Biarin kita tetep di sini, kita gak papa kok," kata Jeno. Mama tetap terlihat gelisah, ia akan merasa bersalah pada teman-temannya, kalau sampai anak-anak mereka terluka. Cukup Jino saja, ia tidak mau jadi bertambah. "Kita gak papa kok Tan, sumpah. Ini luka di kepala aku juga gak seberapa," kata Jino. "Iya Tan, dia strong kok, udah biasa disakitin cewek juga," timpal Brian. Jino langsung menatapnya tajam, dan memukul bokongnya sampai Brian terdorong ke depan. "Aduh, kalian ini masih sempet aja bercanda," gumam mama. "Tapi beneran deh Tante, kita gak papa. Perketat keamanan aja di sini, lapor satpam juga siapa orang asing yang masuk perumahan, jangan sampe bikin kehebohan, takut orang tua kita tau. Terus yang terpenting, Thalia sakit sekarang, perlu dirawat ke rumah sakit gak sih? Aku takut ada luka dalem," celoteh Jeno. "Liat besok, kalau emang panasnya gak turun, kita bawa Thalia ke rumah sakit. Sekarang udah malem banget, Thalia juga pasti maunya istirahat aja. Makasih ya kalian udah jagain Thalia, Tante ke kamarnya dulu, mau liat kondisinya," ujar mama. "Iya Tante," sahut ketiganya berbarengan. Setelah mama Thalia pergi, Jeno langsung meraih dagu Jino, agar wajahnya mengarah ke arahnya, untuk melihat kondisi luka di kening Jino. Luka Jino sudah ditutup kain kasa, dan diberi obat merah oleh mama Thalia. Mama Thalia sendiri bilang, lukanya tidak parah, tapi bukan berarti luka ringan juga. "Apa sih liat-liat gue? Nanti jadi homo lo," kata Jino asal, yang membuat Jeno langsung menghempas wajah Jino. "Lo denger apa gitu gak di luar sebelum ada yang lemparin batu?" tanya Brian. "Ada suara motor," balas Jino. "Tapi Oyoy, Rere, sama temen-temennya ada yang pake motor gak sih? Setau gue gak kan ya?" "Gue rasa gak mungkin juga sih kalau cewek, soalnya udah malem banget. Meskipun... ya bisa aja. Tapi kemungkinan besarnya mereka nyuruh orang," kata Jeno. "Ada-ada aja deh, udah macem sinetron," gumam Brian. "Tapi... lo inget gak suara motor Felix? Suara motornya kan khas banget tuh, nah, suara motornya tuh persis banget sama suara motor Felix," ujar Jino. "Ah, yang bener aja lu? Kita gak denger tuh. Suara motor Felix kan berisik banget, makanya dia hampir gak pernah pake motornya," kata Jeno. "Kalian lagi sibuk sendiri kali, udah gitu udah lama kalian gak denger suaranya, jadi lupa kali, gak ngeh gitu loh, suara motor Felix tuh gimana," ucap Jino. Ketiganya terdiam sejenak, sampai akhirnya Brian tiba-tiba memukul bahu Jino. "Sakit a*u!" pekik Jino secara spontan. "Ih, Jino ngomongnya, gue aduin Aaron nanti, mampus lu," kata Jeno. "Ahh, apaan sih?! Orang gue tiba-tiba dipukul! Sakit tau!" seru Jino. "Lo mau nuduh Felix?!" tuding Brian pada Jino. "Apa? Enggak!" tukas Jino. "Cuman emang suara motornya mirip! Gak mungkinlah lagian dia, buat apaan juga? Aduhh... sakit bahu gue, lo mukulnya kekencengan!" Brian langsung berlari kabur saat melihat melihat tangan Jino terangkat, bersiap untuk membalasnya. Jino beranjak dari sofa dan mengejar Brian. Jeno yang melihatnya hanya bisa mendengus. Ia meraih ponselnya yang ada di saku celana untuk mengirim pesan pada seseorang. To: Lilix Lix, lagi di mana? From: Lilix Rumah Jen, kenapa? To: Lilix Gak papa..., Jeno terdiam sejenak, dengan mata menatap ikon telfon di samping nama kontak Felix. Ibu jarinya pun akhirnya memutuskan untuk menekan ikon itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD