26

893 Words
Kepala Jeno terangkat, dan ia beralih meletakan dagunya di atas bahu Thalia, dengan kepala bersandar pada leher -sejujurnya Thalia geli lehernya bersentuhan dengan rambut Jeno-. Matanya kemudian melirik ke arah Thalia yang sedang sibuk memotong bawang. "Kok lo kayaknya gak pernah nangis pas motong bawang?" tanya Jeno. "Soalnya udah biasa," balas Thalia. "Jadi udah adaptasi matanya," "Bisa gitu yaa," gumam Jeno. "Ya bisalah," "Kayak kita tinggal bareng, lama-lama kita terbiasa ya?" "Hhhmm," "Lo pernah kepikiran suka sama di antara kita gak?" tanya Jeno secara gamblang. "Enggak," balas Thalia jujur. "Kenapa?" "Harus banget gue suka sama kalian lebih dari temen? Kalau cuman hubungan temen udah bisa bikin nyaman dan seneng, buat apa lebih dari itu? Mau ngapain juga pacaran?" "Pas lo pacaran sama Han ngapain aja? Pernah ciuman gak?" Thalia seketika menyikut perut Jeno, membuat Jeno seketika menjauh darinya sembari meringis dan memegangi perutnya. "Ya ampun Tha, sakit banget," keluh Jeno. "Rasain. Lagian pertanyaan lo aneh-aneh aja," balas Thalia ketus. Jeno mengerucutkan bibir. "Penasaran aja gue," "Kita gak pernah ngapa-ngapain," gumam Thalia. Antara benar dan tidak juga, mereka lebih banyak hanya bergandengan tangan atau berpelukan. Han pernah menciumnya sekali, tapi hanya bagian ujung bibirnya. Mereka sama-sama tidak mengerti hal apa yang bisa dilakukan orang pacaran selain itu, takut kalau bersentuhan yang berlebihan akan menimbulkan hal yang tidak diinginkan terjadi. Meskipun Han terlihat tengil, dia anak laki-laki yang benar-benar baik, bahkan cenderung pemalu sebenarnya. "Han emang gak m***m sih, sama kayak Felix, cuman ngumpatnya jago," ucap Jeno. "Oh, jadi kalian semua m***m? Sampe Aaron, Randy juga?" tanya Thalia. "Yaa... gak m***m juga, gimana cowok rata-rata aja sih," Thalia menjeling ke arah Jeno. "Serem amat kalian, jauh-jauh dari gue," Jeno tertawa. "Lo pikir kita gak punya moral?" "Udah sana lo," usir Thalia. "Dih, ngusir," gumam Jeno, yang tidak Thalia tanggapi. Ia kembali sibuk memasak. Namun Jeno tidak kunjung pergi, yang membuat Thalia akhirnya mengajukan pertanyaan. "Lo kenapa tadi? Lagi ada masalah?" tanya Thalia. "Iyaa," balas Jeno. "Lo gak mau nanya masalahnya apa?" "Cerita aja, itu kan tergantung lo mau cerita atau enggak. Kalau gue nanya entar lo nangis lagi," "Hahaha, apaan deh? Masak gue gitu? Elo kali yang gitu," "Ya udah, jadi lo kenapa?" tanya Thalia. Sambil mengerucutkan bibirnya, Jeno pun mulai menceritakan masalahnya. "Orang tua gue masak berantem sampe pisah ranjang coba," gumam Jeno sebagai penutup ceritanya. "Coba aja lo telfon atau chat orang tua lo, kalau lo sayang mereka, dan sekarang lo lagi berjuang buat ngadepin ujian," ujar Thalia. "Emang ngaruh?" tanya Jeno. "Coba aja, kali aja mereka luluh setelah denger pernyataan lo," balas Thalia. "Mama gue dulu maju mundur buat cerai sama bokap, karena Nolan suka bilang sayang ke mama papa gue," "Nanti gue coba, thankyou solusinya. Jino sih tadi udah ngasih solusi, biar gue diem aja, tapi tetep aja gue kepikiran," "Gak salah sih kalau Jino nyuruh diem aja, apa lagi kalau emang gak tau harus ngapain. Takutnya malah salah bertindak. Tapi sekedar bilang sayang, dan bilang lo lagi berusaha banggain mereka, gak akan salah," Jeno mengangguk-angguk, ia kemudian tanpa sadar jadi menatapi Thalia. Thalia yang sadar diperhatikan, menoleh ke arahnya, yang membuat Jeno sontak langsung membuang muka. ••• Jino memainkan telinga handuk kepala Thalia, yang membuat Thalia mendelik sinis ke arahnya. "Makan yang bener, main-main aja lu!" gertak Thalia. "Iya, maaf, habis lucu sih," gumam Jino. "Rambut lo masih basah Tha?" tanya Brian. "Iya, rambut gue emang suka lama keringnya kalau habis keramas," balas Thalia. Padahal kenyataannya, ia sama sekali tidak keramas. "Btw, kenapa dah tadi pake topi Jazmi?" tanya Jino. "Kepo," Jino mengerucutkan bibir mendengar jawaban Thalia. "Ih, serius kenapa?" Jino memang tidak akan diam kalau rasa penasarannya tidak terjawab. "Gue kepanasan. Tadi kan gue ke UKS, karena agak pusing kepalanya, jadi pinjem topi Jazmi buat ngelindungin kepala gue dari matahari," celoteh Thalia. Ia benar-benar pintar berbohong. "Kalau lo sakitkan harusnya langsung pulang," ucap Jino. "Tapi gue kan ada urusan," Jino tiba-tiba meletakkan punggung tangannya di atas kening Thalia. "Lo emang agak anget sih badannya, apa efek berantem kemaren? Kalau badan tiba-tiba disakitin gitu emang pasti kaget, terus jadi demam. Mending besok lo gak usah sekolah, istirahat aja di rumah," ujar Jino. "Enggaklah, gak mau, nanti ketinggalan pelajaran," tukas Thalia. "Bisa pinjem catetan gue, besok gue full deh dengerin penjelasan guru, biar bisa dijelasin ke elo. Gue ingetannya tajem kok. Dari pada lo maksain diri," Jeno dan Brian tiba-tiba berdehem, lalu terbatuk-batuk, yang membuat Jino mendelik sinis ke arah mereka. "Liat besok, kalau gue emang gak kuat ke sekolah, ya udah," kata Thalia. "Jangan maksain diri," "Enggak...," ••• Brian tersentak kaget, saat ke dapur dan menemukan Jino sedang membuat teh hangat. "Buat siapa tuh? Kalau mau main game mah minum kopi," kata Brian. "Buat Thalia," balas Jino. "Gilaa, lo kalau deketin cewek terang-terangan ya? Kalau lo gak suka sama Thalia, bakal sebaik ini gitu sama dia?" Jino sedikit terkejut mendengar ocehan Brian, ia menatap Brian dengan tatapan tajam, yang membuat cengiran Brian seketika hilang. "Emang gue selama ini gimana? Kok seolah-olah lo baru kenal gue hari ini?" tanya Jino. "Ya ampun, bercanda," ucap Brian. Jino menghela napas. "Gue bodo amat sama perasaan gue ke Thalia, perasaan gue juga belum sejauh itu ke dia. Han yang bener-bener suka sama dia," kata Jino, ia lalu melenggang pergi sembari membawa teh hangat yang tadi ia buat. Brian mengerjap. Jino dan Han sepertinya sudah berbaikan, tapi... apa karena Jino mengalah?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD