24

1527 Words
Thalia tidak tahu di mana letak lukanya, pasti ada di kepalanya dan tertutup rambut, jadi ia hanya bisa terus menyeka darah yang turun ke keningnya. Awalnya ia sudah khawatir pendarahan, tetapi untungnya darah yang mengalir ke keningnya berangsur berkurang. "Thalia, lo di sini toh," Thalia tersentak, saat tiba-tiba mendengar suara anak laki-laki di belakangnya, ia menoleh, dan mendapati Jazmi berdiri di depan bilik yang ditempatinya dengan sebelah tangan memegangi tirai penutup bilik. Ia kemudian masuk ke bilik, sembari menurunkan tirai itu dari tangannya. "Lo kenapa?" tanya Jazmi.                             Matanya melirik ke arah baskom berisi air berwarna merah yang berada di atas meja, matanya seketika melebar, apa lagi saat ia menyadari tangan Thalia tengah memegangi handuk putih yang warnanya juga sudah berubah jadi merah. Meskipun dilanda rasa khawatir, Jazmi mencoba tetap bersikap tenang dan santai. Kalau panik, pasti akan membuat Thalia jadi tidak nyaman, dan menyangkal bantuannya. "Ada yang ganggu lo lagi? Bagian mana yang luka?" tanya Jazmi sembari mendekati Thalia. Thalia membuka mulutnya hendak bicara, namun ia tiba-tiba malah menutup mulutnya kembali. "Tha," gumam Jazmi. "Bagian kepala yang luka, cuman gak parah kayaknya," kata Thalia pada akhirnya. "Boleh gue liat? Kalau gak parah biar gue obatin," Thalia menganggukkan kepalanya. Jazmi pun mendekat, kemudian memeriksa kepala Thalia, ia membuka beberapa helai rambutnya, agar kulit kepala Thalia terlihat. "Kok lo bisa ada di sini?" tanya Thalia. "Jam istirahat kan udah selesai dari tadi, tapi lo gak balik-balik, jadi guru nyuruh gue nyari lo," Thalia merespon dengan anggukan kepala. "Lukanya gak parah banget, tapi gak sepele juga. Gue cari penjaga UKS dulu ya?" ujar Jazmi. "Emang kayak gimana lukanya?" "Kayaknya rambut lo yang ada di atas lukanya harus digunting, gue takut salah," "Udahlah, potong aja, biarin," "Yakin lo?" "Lo bisa obatin lukanya kan habis itu?" Jazmi terdiam sejenak. "Yah, gue bisa, tapi gue takut salah," "Takut salah motong rambut gue?" Jazmi mengangguk. "Udahlah potong aja, gue gak gitu peduli soal rambut, atau apapun itu," Jazmi menghela napas. "Ya udah, tunggu gue ambil peralatannya dulu," "Oke," Jazmi pun bergegas pergi untuk mengambil kotak obat dan gunting, dan Thalia hanya menunggu di depan meja. Tak berselang lama Jazmi pun kembali, ia berdiri di belakang Thalia dengan gunting di tangannya, sementara kotak obat yang tadi ia bawa, diletakkan di atas meja. Jazmi mulai menggunting rambut yang ada di bagian atas luka Thalia. Padahal yang punya rambut Thalia, tapi yang tidak tega mengguntingnya malah dirinya. "Gue dilempar vas bunga pas lagi di kamar mandi dari atas, gak tau sama siapa. Vas tanah liat gitu, untung kecil, dan gak ada isinya," Thalia akhirnya menceritakan penyebab lukanya. "Jangan-jangan Oyoy sama temen-temennya ya?" respon Jazmi. "Mungkin, pastilah mereka dendam,". "Lo gak papa?" "Jelas apa-apalah, tapi ya mau gimana lagi? Gue harus tahan, sebentar lagi juga lulus," "Gak dilaporin aja?" "Dilaporin kemana?" "Ya ke sekolah," "Gak ada bukti. Lagian sekolah pasti lebih mihak Oyoy sama temen-temennya, secara dia kan berduit. Gue gak papa kok, nanti juga lama-lama biasa, asal gak bawa-bawa mama gue aja kayak waktu itu. Gak usah ngomong ke yang lain, gue gak mau bikin keributan," ••• Jazmi meminjamkan Thalia topi, agar orang-orang tidak menyadari kalau ada luka di kepalanya. Thalia pun beralasan kepalanya sakit pada guru, makanya telat masuk kelas. Meskipun tetap dapat omelan, gurunya tetap memperbolehkannya untuk ikut pelajaran. Jeno, Brian dan Jino entah kenapa tidak ada yang mengajaknya bicara, Thalia sih tidak masalah, ia juga sedang malas untuk bicara. Saat pulang sekolah, Thalia pamit pulang duluan pada Jeno, Brian dan Jino. Sebelum Thalia benar-benar pergi, saat gadis itu sedang membereskannya tasnya, Jeno sempat bertanya. "Kenapa gak bareng aja?" tanya Jeno. "Gue mau beli sesuatu," balas Thalia. "Gak bareng aja belinya?" "Ya ampun, ngapain rame-rame? Udah ya, gue duluan," Thalia dengan buru-buru bergegas keluar dari kelas. "Kok Thalia pake topi lo Jaem?" celetuk Brian sesaat setelah Thalia pergi. "Rambutnya lepek," balas Jazmi asal. Ia kemudian melirik Jeno dan Jino yang mendelik ke arahnya. "Apa? Kalian jadi sensitif banget deh soal Thalia. Cewek yang gak pernah kalian peduliin juga sebelumnya," tutur Jazmi. "Emang selama ini lo peduli?" tanya Jino. Jazmi tidak menjawab, ia beranjak berdiri, kemudian mengenakan tas ranselnya sembari berjalan keluar kelas. ••• Thalia pergi ke toko aksesoris untuk membeli handuk khusus kepala dengan model seperti kupluk. Agar ia punya alasan lebih masuk akal untuk menutupi kepalanya di rumah. Selesai dari aksesoris, Thalia tak lupa mampir ke warung untuk membeli sekotak rokok dan pemantik. Sebelum pulang, Thalia pergi ke tempat sepi dulu untuk merokok. Yang ia temukan celah di antara minimarket dan pertokoan. Lumayan, meskipun sempit dan sebenarnya agak terbuka. Tapi jarang orang lewat sini, tempatnya juga lumayan bersih. Thalia berjongkok di pojok, dan mulai menyalakan rokoknya. Meskipun rasanya pahit, ada kenikmatan tersendiri saat merokok, yang membuat rasa stressnya terasa dilepas. Sembari menghisap rokoknya, ia banyak termenung. Kalau bukan karena mamanya, mungkin saat ini ia sudah tidak ada. Dibenci papanya sendiri, dan sempat dibenci adiknya juga, ditambah ia sendirian, tidak punya teman sama sekali, membuatnya merasa benar-benar putus asa. Sekarang bebannya ditambah lagi dengan pembullyan. Semua bebannya ia simpan sendiri, ia tanggung sendiri, ia lalui sendiri. Thalia menundukkan kepalanya sembari memegangi bahu kanannya, isakan tangis tak lama terdengar, ia pun meremas rokoknya dengan tangan kosong, membiarkan telapak tangannya luka. Rasanya tidak sesakit perasaannya. "Thalia!" Thalia terkejut saat tiba-tiba ada yang meneriaki namanya, ia sontak mengangkat kepalanya, dan betapa terkejutnya ia saat melihat Brian berdiri di depannya. Brian langsung berjongkok di depannya, ia meraih tangan kanan Thalia yang sedang meremas rokok, lalu membuka genggaman tangannya secara paksa, untuk mengeluarkan rokok yang sedang diremasnya. "Lo gila Tha?!" seru Brian. "Liat! Tangan lo jadi luka kayak gini?" Thalia tidak menjawab, ia hanya menunduk sembari menyeka air matanya. Paling memalukan, kalau ketahuan orang ia sedang seperti ini. Menyedihkan. "Kok bisa lo ada di sini?" tanya Thalia. "Lo kenapa?" Brian malah balik bertanya, bukannya menjawab pertanyaan Thalia. "Gue gak papa," "Emang gue bakal percaya lo bilang gitu, setelah gue liat lo kayak gini?" "Bukan urusan lo," "Tha, angkat kepala lo, liat gue, bilang lo kenapa. Lo gak boleh nyimpen perasaan lo sendiri," "Gak ada masalah apa-apa, guenya aja yang cemen," kata Thalia dengan kepala yang semakin menunduk, ia tidak mau Brian melihat wajahnya yang berantakan. "Tha, liat gue," kata Brian sembari lebih mendekat ke arah Thalia. "Thalia!" Brian meraih kedua wajah sisi wajah Thalia, hingga gadis itu sontak mendongakan kepalanya. Brian menghela napas, dibanding menuntut Thalia untuk bercerita, ia akhirnya memilih hanya memeluk Thalia. Thalia tidak membalas pelukannya, ia hanya meletakan keningnya di bahu kanan Brian, sembari memegangi topi yang dikenakannya agar tidak jatuh. "Lo sekarang udah punya temen, lo udah gak sendirian lagi Tha. Sekali pun lo gak bisa cerita, ada kita yang bisa nenangin lo," ucap Brian. Thalia menghela napas berat. "Gue cuman nyusahin. Gue gak pantes punya temen, gue cuman nyusahin," balas Thalia. "Anggep aja janji pertemanan itu kayak janji pas nikah," Brian kemudian terkekeh di akhir. "Susah senang kita selalu ada satu sama lain. Hari ini lo mungkin ngerepotin, tapi besok mungkin gue yang ngerepotin lo. Semua orang punya masalahnya sendiri-sendiri, kita sebagai temen ya saling bantu dong," Thalia menutup matanya sejenak untuk mengeluarkan air matanya. "Gue gak mau semakin ngerasa bersalah...," "Lo ngerasa bersalah kenapa?" "Gak tau...," Brian menghela napas sembari menepuk-nepuk punggung Thalia. ••• "Gue tadi mau jajan, terus minimarket yang deket dari tempat gue nongkrong tadi di sini," ujar Brian, sembari menggigit es krimnya. Keduanya saat ini sedang dalam perjalanan pulang. Setelah Thalia tenang, Brian mengajaknya beli es krim dan cemilan lainnya, lalu nanti mampir ke apotek sebelum pulang ke rumah untuk mengobati tangan Thalia. "Lo nongkrong sama siapa?" tanya Thalia. "Di mana?" "Biasalah, tapi Han, Jino, sama Jazmi gak ikut. Di warung bakso, tapi sekarang udah pada pulang,"" "Kenapa Han, Jino sama Jazmi gak ikut?" Brian menggendikan bahunya. "Dari pagi hawa mereka aneh terus," ucap Brian. "Aneh gimana?" "Suram, tegang, gak enak bangetlah. Padahal gara-gara cewek aja," "Oh ya? Padahalkan pertemanan kalian kuat banget, masak gara-gara cewek aja jadi kayak gitu?" "Yahh, sekuat apapun pertemanan, tetep gak bisa ngehindarin konflik. Tapi kan ada gue, sama yang lain-lainnya, yang bisa bantu mereka biar baikan. Cuman yaa... buat saat ini biarin mereka dulu aja, kalau dipaksa buat baikan juga gak bagus, harus ada kesadaran sendiri, yang penting gak lupa diingetin aja," "Ceweknya emang kayak apa dah? Sampe direbutin gitu," "Lumayan spesial sih. Gimana ya? Padahal dingin sama ketus gitu, tapi ada aja sifat-sifatnya yang ngejutin, yang bikin terkesan. Bahkan dia gak sengaja ketawa aja, rasanya bikin gimana gitu, soalnya jarang sih. Tapi bakal lebih bagus sih, kalau dia sering senyum atau ketawa, soalnya manis," Thalia mengangguk-angguk. "Ohh gitu," gumam Thalia. "Jangan-jangan lo suka dia juga ya?" Brian tertawa kecil. "Bisa jadi, soalnya akhir-akhir ini sering bareng sih. Tapi beberapa kali dia bikin gue kesel. Yahh, padahal wajar sih, orang sesekali bikin kesel. Cuman tau temen-temen gue kayaknya tertarik juga sama dia, mending mundur deh," Thalia menyenggol lengan Brian menggunakan sikunya sembari terkekeh. "Widih, berkorban nih ceritanya?" Brian tergelak. "Gak papa, cewek kan banyak," "Iyalah! Ngapain rebutan satu cewek sampe ngerusak pertemanan. Terserah gimana ceweknya nanti bakal milih siapa," Brian menganggukkan kepalanya setuju. Ia kemudian menatap Thalia yang sedang menatap ke depan. 'Gak peka sama sekali itu dirinya sendiri?'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD