"Si Jino beneran suka ya sama Thalia?" celetuk Brian, di tengah bermain game.
"Kalau beneran suka, emang kenapa?" balas Randy.
"Ya, gue minta pendapat kalian aja gimana, kan Thalia mantannya Han, berarti Jino nikung Han dong?"
"Kan udah mantan, bukan nikung dong namanya, tapi pacaran sama bekas temen," timpal Henry.
"Anjayyy...," gumam Brian. "Bahasanya gak enak banget lu, kebiasaan,"
"Jujur ya, Thalia cantik. Tapi karena gue gak begitu kenal dia, ya gue gak bisa suka sama dia. Tapi lo, Jeno sama Jino kan tinggal bareng dia, otomatis lebih tau Thalia itu gimana. Kalau ternyata sesuai sama kriteria di antara kalian bertiga, atau ngerasa cocok, ya ada kemungkinan di antara kalian bakal ada yang suka sama dia," tutur Aaron.
"Tapi kasian Han kan? Kayaknya dia masih suka sama Thalia," kata Felix.
"Iya sih, hubungan mereka kandasnya juga menyedihkan banget," ucap Brian. "Gara-gara cewek berotak seupil,"
"Tapi kalau ada yang suka sama Thalia, ya gak salah dong. Rasa suka kan munculnya bukan dari kehendak sendiri," ujar Randy.
Jazmi dan Jeno hanya diam menyimak. Jeno sibuk menatap layar ponselnya, namun telinganya terbuka lebar, sementara Jazmi langsung menurunkan ponselnya dari depan wajahnya, begitu Brian membuka topik pembicaraan tadi.
Tiba-tiba terdengar suara Han sedang bernyanyi dari luar kelas, disertai suara langkahnya yang sedang menuju kelas.
Ketujuh anak laki-laki yang sedang berkumpul di bangku Jeno pun langsung diam, dan kembali fokus bermain game.
"Gue bawain roti nih woy!" teriak Han. "Makan dulu! Jangan main game mulu!"
"Iya, iya, gak usah teriak-teriak," sahut Jazmi.
"Memble mana?" tanya Han sembari berjalan mendekati bangku Jeno.
"Main basket sama adek kelas," balas Randy.
"Wah, tumben. Terus Thalia mana? Gue beliin roti buat dia juga, dia suka banget roti rasa kacang ijo, tapi jarang ada euy di kantin, makanya gue langsung beliin sekalian," kata Han dengan cengiran khasnya.
Semuanya seketika saling melirik kecuali Jeno sama Jazmi.
"Dia lagi nonton basket," balas Felix jujur, yang membuatnya dapat senggolan dari Henry.
Senyuman Han seketika menghilang, matanya kemudian mengerjap, sebelum ia kembali menyunggingkan senyum.
"Oalah, tumben dia nonton basket, dia kan benci banget sama basket, soalnya gak pernah bisa main," kekeh Han.
"Lo tau banget Thalia," ucap Brian.
"Ya wajar kan?" balas Han dengan senyuman yang menghilang, terganti dengan rahang yang mengeras. "Itu aja sebenernya gak terlalu, lo, Jeno sama Jino yang lebih kenal dia kan?"
Randy langsung mem- pause gamenya, begitu merasakan suasana yang mendadak jadi tegang. Han memang biasanya ceria dan auranya cerah, tapi kalau sekalinya mengeluarkan aura suram, akan benar-benar terasa.
"Roti buat gue rasa apa Han?" tanya Randy sembari merebut kantung plastik yang Han bawa.
"Gue niat balikan sama Thalia, dia udah gak bakal diganggu Oyoy sama temen-temennya lagi kan?" celetuk Han, yang membuat semua temannya membelalakan mata, dan menatapnya.
"Kenapa? Aneh?" tanya Han. "Kalau pun gue gak diterima lagi, kalian gak mungkin macarin dia kan?"
Randy mendengus. "Lo gak berhak ngatur kita mau pacaran sama siapa. Kalau Thalia juga suka di antara kita, dan mau pacaran sama salah satu di antara kita, gimana?"
"Kalian pasti jaga perasaan gue kan?"
Tidak ada yang menjawab. Suasana hening untuk beberapa saat, sampai akhirnya terdengar tawa Jino dari luar kelas, juga gerutuan kesal Thalia.
Jino dan Thalia pun tak lama muncul. Dengan kondisi penuh peluh, Jino terlihat merangkul Thalia sambil tertawa-tawa, sementara Thalia mencoba menjauhkan Jino sambil mengomel.
Han dan yang lainnya menoleh ke arah mereka, membuat tawa Jino terhenti, namun ia masih tersenyum.
"Wah, pada ngumpul semua di sini, harusnya tadi kalian nonton gue main basket juga, biar gak main game mulu," ujar Jino tanpa mengerti situasi.
Thalia tiba-tiba menginjak kaki Jino, membuat Jino mengaduh dan sontak melepas rangkulannya dari bahu Thalia.
"Bau banget lo anjir! Udah ah, gue mau ke toilet," dengus Thalia sembari berlalu keluar kelas.
Jino tertawa. "Bohong banget gue bau!" seru Jino, namun tidak digubris oleh Thalia.
Tawa Jino pun mereda, ia menyeka peluh yang berada di rahangnya menggunakan lengan baju, sambil menatap teman-temannya dengan salah satu alis terangkat. Sekarang ia baru menyadari sepertinya ada masalah di antara teman-temannya.
"Kalian kenapa dah? Kok pada tegang gitu mukanya?" tanya Jino.
"Lo ngapain ngajak Thalia nonton lo main basket?" Han malah balik bertanya.
Jino mengernyit. "Tau dari mana gue ngajak?"
"Dia pasti diajak, atau lo paksa, karena Thalia gak pernah suka nonton basket," ucap Han.
Jino tertawa kecil. "Kan orang bisa berubah. Lagian emang kenapa sih? Masalah banget?"
"Jangan mentang-mentang lo tinggal sama dia, lo bisa deketin dia," kata Han.
"Lah, apaan sih? Siapa yang deketin dia? Lo cemburu? Kalian kan udah mantan. Lo niat balikan sama dia? Dia gak akan mau, dia yang pernah bilang sendiri, mending cari yang lain,"
Han hampir menghampiri Jino, kalau saja Jeno tidak meraih tangan kanannya, dan menahannya. Ia mencengkeram erat tangan Han, sampai Han tidak bisa berkutik.
"Jangan berantem gara-gara cewek," ucap Jeno, yang membuat Han dan Jino seketika bungkam. "Lo semua yang suka sama dia, gak berhak ngelarang siapapun buat deket sama dia. Kalian sama aja kayak Oyoy dan temen-temennya itu, kalau kayak gini. Meskipun lo larang A, B, C, buat gak deketin dia, belum tentu Thalia jadi suka sama lu,"
"Lagian kita kan temen, harusnya seneng dong liat temennya seneng. Jangan malah nyuruh temennya berkorban buat kita, mending diri kita sendiri aja yang berkorban,"
Randy dan Aaron menghela napas. "Kalian gelut gara-gara Thalia, gak taunya Thalia nikah sama orang lain entar, mampus," ucap mereka berdua secara bersamaan.
Mereka kemudian high five, bangga karena punya pemikiran dan kata-kata yang kompak.
•••
Thalia mengernyit kesakitan, sembari menyeka darah dari keningnya menggunakan handuk lembab. Setelah dari kamar mandi, ia langsung ke UKS.
Saat ia sedang berada di salah satu bilik, ada yang melempar vas bunga kecil dari atas. Vas bunga itu terbuat dari tanah liat, dan langsung pecah di atas kepala Thalia.
Thalia kira tidak akan ada luka, karena vasnya kecil, dan rasanya juga tidak begitu sakit saat menghantam kepalanya, hanya membuatnya terkejut.
Namun beberapa saat kemudian Thalia merasakan ada darah mengalir dari kepalanya. Ruang UKS sedang tidak ada yang jaga, jadi Thalia terpaksa menangani lukanya sendiri.
Ia sudah yakin, meskipun Oyoy sudah berhenti mengganggunya, akan ada teman-temannya yang tetap mengganggunya. Hanya saja tidak terang-terangan, agar ia tidak bisa membalas balik. Kalau ia balas balik, mereka bisa membela diri dan malah membalik fakta kalau Thalia yang sudah membully. Karena tidak ada bukti kalau mereka yang sudah melakukan bully terlebih dahulu pada Thalia.
Sekarang bully yang ia hadapi bukan karena cowok-cowok itu, tapi balas dendam karena ia sudah menyakiti mereka.
'Tahanlah, sebentar lagi juga lulus, jangan nangis,' Thalia mencoba menyemangati dirinya sendiri.
Ia mendadak takut dan ingin menangis, membayangkan kekerasan lain yang akan ia hadapi ke depannya.
Namun pada akhirnya tangisan Thalia pecah juga.