To: Jino
Lagi di mana? Kok belum pulang? Brian dichat dibaca doang. Awas aja lu juga gitu, gue patahin leher lu,
From: Jino
Gue sama Brian lagi ngerjain tugas di kafe depan sekolah, ada yang lain juga,
Dia cuman bisa buka hp bentar, makanya dibaca doang,
To: Jino
Sok-sokan rajin,
From: Jino
Masalahnya ini tugas yang harus dikumpulin besok Bambang. Lah lu, udah ngerjain belum. Kalau belum, mampus!
To: Jino
Anjir, anjir, anjir!
From: Jino
Mampus, mampus, mampus!
Makanya jangan main game mulu lu, Brian sampe keringet dingin nih keinget tugas buat besok belum dikerjain, gue sih udah setengah,
To: Jino
Gue nyontek lo aja deh,
From: Jino
Kalau udah kerja, gak bisa nyontek kerjaan ke orang lain bung,
To: Jino
Alah, sialan lu, sok banget,
From: Jino
Hanya mengingatkan...,
Jeno melirik Thalia yang sedang menonton televisi.
"Tha, besok ada tugas yang harus dikumpulin katanya, lo udah ngerjain?" tanya Jeno.
"Gue hari itu dapat tugas, hari itu juga dikerjainnya, biar gak numpuk," balas Thalia.
Jeno menghela napas. "Gue sama sekali belum ngerjain, gak tau lagi soal apa tugasnya,"
"Salin aja yang punya gue, tapi sedikit dibedain jawabannya,"
"Wah, serius nih?"
"Iya, serius, tapi ini pertama dan terakhir, lo gak boleh nyalin terus,"
"Oke, oke! Ini yang pertama dan terakhir,"
"Ambil aja bukunya di kamar gue, ada di meja belajar. Di samping lampu belajar ada tumpukan buku tuh, bukunya pas ada di bawah buku matematika, sampulnya warna coklat,"
"Oke!" Jeno dengan bersemangat langsung bergegas pergi ke lantai atas.
•••
"Ah, ini dia," gumam Jeno sesaat setelah menemukan buku yang Thalia maksud. "Fisika lagi, anjir, untung Thalia mau ngasih bukunya. Banyak yang salah atau enggak, bodo amatlah, yang penting udah ngerjain,"
Saat Jeno hendak keluar dari kamar Thalia, ia malah salah fokus pada laci meja belajar Thalia yang sedikit terbuka. Karena rasa penasaran yang tinggi, Jeno menarik laci tersebut. Ia terdiam sejenak sembari mengamati isi laci, tidak ada yang aneh atau menarik, di dalamnya hanya ada barang-barang yang biasa pelajar punya, tidak terhitung beberapa bungkus rokok serta pemantik.
Namun saat Jeno membuka tumpukan barang, ia akhirnya menemukan satu strip obat yang masih dibungkus kardusnya. Ia meraih obat tersebut, dan membaca kegunaannya dengan salah satu alis terangkat.
Rupanya itu obat tidur. Keterangannya sih obat herbal, tapi setahu Jeno, tetap tidak baik minum obat tidur, mau herbal sekalipun, pasti tetap ada bahan kimianya. Apa lagi kalau diminumnya sering.
Jeno kemudian mengembalikan obat tersebut ke laci, dan menutupnya dengan tidak terlalu rapat, seperti sebelumnya.
'Tapi Thalia cuman punya satu strip, berarti dia minumnya gak sering. Kali kalau udah urgent aja,' batin Jeno.
Tetapi sepertinya dugaan Jeno salah, karena saat ia melihat rak kayu yang berada di sebelah meja belajar, ia melihat tumpukan obat yang sama di sana. Karena rak tidak ada pintunya, ia jadi bisa melihatnya dengan mudah. Padahal sebelumnya Jeno tidak melihatnya, mungkin karena ia tidak terlalu memperhatikan.
Mau tidak mau ia jadi khawatir, bahkan meskipun Thalia bukan orang yang dikenalnya, kalau melihat orang minum obat-obatan seperti ini, tetap saja membuatnya khawatir. Apa lagi jelas Thalia orang yang dekat dengannya saat ini.
"Jeno!" teriak Thalia tiba-tiba, yang membuatnya tersadar dari lamunannya.
Jeno buru-buru keluar kamar dan turun ke bawah. Ia melihat Thalia masih di tempat yang sama, tapi teriakannya tadi cukup keras.
"Kok lama-lama di kamar gue?" tanya Thalia dengan nada sedikit sengit, matanya menatap tajam Jeno.
"Maaf, gue nyari-nyari bukunya tadi. Thanks btw,"
"Hhmm," balas Thalia.
Jeno kemudian menatap sejenak Thalia yang kini kembali memfokuskan pandangannya pada TV.
"Tha, lo suka susah tidur?" tanya Jeno tanpa basa-basi.
"Ho'oh," balas Thalia santai. "Lo liat ya? Tapi itu obat herbal kok, aman,"
"Tetep aja bahaya lah, meskipun katanya obat herbal tapi pasti tetep ada bahan kimianya, apa lagi kalau diminumnya sering. Mending tidur dengan cara alami," tutur Jeno.
"Tapi gue kan gak bisa, lagian gak tiap hari kok minumnya, kalau udah sampe menjelang tiga masih gak bisa tidur, baru gue minum,"
"Gak cek ke dokter? Kali aja dokter punya solusi buat insomnia lo,"
"Bukan penyakit serius, jadi santai aja,"
Jeno mendengus, memang tidak akan mudah menasehati orang seperti Thalia.
"Udah sana salin tugasnya, gue mau masak makan malem dulu," kata Thalia sembari beranjak berdiri, tapi Jeno buru-buru mencegahnya.
"Jangan, lo kan masih sakit. Gue aja yang masak," ucap Jeno, tapi Thalia menatapnya dengan tatapan ragu. "Atau gak pesen aja, gimana?"
Thalia mendengus. "Gue gak papa, cuman masak doang gak berat,"
"Enggak, jangan, lo masih sakit. Lagian kalau cuman masak yang gampang-gampang, gue bisa kok,"
"Bener lo bisa?"
"Iya bisa,"
"Masak telur dadar aja deh,"
"Hah? Cuman itu?"
"Gue gak percaya soalnya,"
"Segitunya, ya udah telur aja,"
"Iya itu aja, jangan masak yang lain,"
"Oke,"
•••
"Cogan pulang!" Thalia mengalihkan pandangannya dari televisi, ke arah pintu penghubung ruang tamu dan tengah.
Tak lama Jino muncul sambil berlari-lari kecil, dan merentangkan kedua tangannya, seolah hendak memeluk seseorang.
Dari belakang Brian tiba-tiba menendang bokongnya.
"Mau meluk siapa lo? Jomblo aja, kayak yang punya istri di rumah," kata Brian.
"Apa sih, julid aja lu," gumam Jino sembari mengerucutkan bibir dan mengusapi bokongnya.
Pandangan Jino kemudian teralih pada Thalia, yang terang-terangan mengamatinya dengan Brian sedari tadi.
"Lo udah mendingan Tha?" tanya Jino.
Thalia tersenyum kecil. "Iya udah. Oyoy sama yang lain gimana?"
Jino menggendikan bahu. "Gak tau, ngapain kita urusin?"
"Iya sih, cuman...,"
'Iya ya, ngapain gue urusin? Kenapa gue harus peduli sama setan?' batin Thalia.
"Kalian udah makan?" giliran Thalia yang bertanya.
"Udah jelas belum, tadinya mau makan di luar, tapi kita inget, lo paling udah masak," ujar Jino.
"Gue gak boleh masak sama Jeno, tadinya udah masak, jadinya dia yang masak,"
Jino dan Brian seketika memekik. "Hah? Serius lo?!"
"Iya, emang kenapa? Tadinya udah gue larang, cuman dia bilang bisa,"
Aroma gosong tak lama tercium dari dapur, disusul dengan teriakan Jeno.
"THAAA!!! KOK LENGKET GINI TELURNYA?!"
•••
Telur yang Jeno masak, untungnya masih bisa dimakan, meskipun bagian bawahnya sedikit gosong. Tidak ada yang salah dengan masakan Jeno sebenarnya, hanya saja dia pakai teflon yang sudah banyak goresannya.
Untungnya lagi, mama Thalia pulang awal hari ini, dan membawakan makanan. Jadi mereka bisa makan dengan lauk lain selain dengan telur dadar buatan Jeno.
"Muka kamu kenapa Tha?" tanya mama, di tengah makan malam.
"Gak papa, cuman kecelakaan dikit," balas Thalia.
"Kecelakaan atau berantem?"
"Hhmm, ya gitu deh,"
"Jawab yang bener dan jujur!" mama tiba-tiba membentak, membuat semua yang berada di meja makan terkejut.
"Ahh, maaf, maaf," gumam mama.
"Kalau pun aku berantem, bukan karena mau buat onar,"
"Iya, Mama percaya. Tapi kalau berantem di sekolah, Mama bisa dipanggil,"
Thalia menopang dagunya. "Aku gak berantem di sekolah kok,"
"Orang tua Oyoy sebenernya ngehubungin Mama, dan bilang anaknya dilukain sama kamu, jadi kamu mau dituntut. Gak taunya kamu juga luka. Kalau gitu Mama juga bisa nuntut balik Oyoy," tutur mama. "Hari ini Mama pulang lebih cepet juga karena panik pas habis ditelfon itu,"
"Waduh, kok jadi tuntut-tuntutan," gumam Jeno. "Yang salah pertama Oyoy Tante, meskipun Thalia juga gak luka, Tante sama Thalia tetep bisa nuntut balik atas pencemaran nama baik,"
Thalia menendang kaki Jeno dari bawah meja, ia tidak mau Jeno mengungkap alasan sebenarnya ia dan Oyoy bertengkar.
"Emangnya Oyoy ngapain?" tanya mama.
"Pokoknya dia jelek-jelekin Tante sama Thalia di media sosial. Udah gitu, Oyoy sama temen-temennya ini, suka ngikutin saya, Jeno, Brian, Han, dan temen-temen kita yang lain juga. Kalau mau nuntut Oyoy, kesalahan dia lebih banyak. Kita bisa temuin orang tua Oyoy, dan kasih semua bukti," celoteh Jino.
"Kasih aja buktinya ke Tante, biar Tante yang urus,"
"Enggak, jangan!" tukas Thalia.
"Iya, jangan Tante. Mereka pasti bakal nuduh Tante ngerekayasa buat belain anak Tante," kata Brian.
Mama mengernyit. "Oyoy... jelek-jelekin Tante... separah apa sih? Sampe kalian gak mau Tante tau?"
"Udahlah Ma, kita bela diri kalau bener-bener dituntut sama mereka. Mereka itu kan lagi emosi aja, makanya ngancem-ngancem mau nuntut. Padahal kita bisa nuntut lagi dengan pasal yang lebih banyak. Kalau Oyoy biarin orang tuanya nuntut aku, keterlaluan sih dia, gak ada takut-takutnya. Berarti dia gomblokkk banget, karena gak nyadar perbuatannya ngelanggar hukum," kata Thalia, yang diangguki setuju oleh Jeno, Brian dan Jino.
"Hah, kalian nih ya," gumam mama sembari menggelengkan kepala.
"Kita kenapa?" tanya Thalia.
Mama menghela napas, sembari menopang dagu, sebelum tersenyum. "Gak tau, Mama terharu aja. Kamu bisa setenang itu," ucap mama sembari mengusap kepala Thalia.
"Makasih juga ya, kalian mau jadi temen Thalia, Tante makasih banget. Jadi ada yang jaga Thalia, selama Tante gak bisa jaga dia. Biasanya Thalia jaga dirinya sendiri,"
"Aah, Mama apaan sih? Lebay banget," gumam Thalia dengan wajah memerah karena malu.
Jeno dan Jino tertawa kecil melihatnya.
"Kita seneng juga jadi temen Thalia Tan, meskipun Thalia kadang nyebelin, keras kepala, susah dinasehatin, malah suka terang-terangan nolak gak mau temenan sama kita," ucap Jino jujur.
"Marahin aja kalau udah nyebelin. Marahin kan tanda sayang," kata mama.
"Idih!" seru Thalia.
Brian yang sebelumnya hanya diam, akhirnya menunjukkan perubahan ekspresi. Ia tersenyum kecil.
•••
Selesai makan malam, mama menyuruh semuanya langsung ke kamar dan istirahat. Karena pulang awal dari biasanya, mama bilang ia jadi belum lelah, dan mau beres-beres rumah.
Ke empatnya pun pergi ke atas, namun sebelum Jeno, Jino dan Brian masuk ke kamar mereka, Thalia tiba-tiba bicara, yang membuat pergerakan ketiganya yang sama-sama hendak membuka pintu kamar terhenti.
"Makasih ya," ucap Thalia.
Ketiganya sontak menoleh ke arahnya.
"Makasih, udah... mau jadi temen gue, padahal gue nyebelin dan cuman mau manfaatin kalian. Gue baru sekarang ngerasain, berartinya punya temen sekarang. Gue juga minta maaf, atas semua kesalahan gue ke kalian," tutur Thalia.
Brian berjalan beberapa langkah mendekati Thalia. Ia kemudian tersenyum kecil.
"Gue gak nyangka itu bakal keluar dari mulut lo," ucap Brian. "Jadi sekarang lo mau temenan sama kita semua?"
Thalia menundukkan kepalanya sejenak. "Gue mau, tapi gue takut gak bisa jadi temen yang baik buat kalian,"
"Mana ada sih temen yang bener-bener baik? Emangnya kita pure baik? Kan enggak. Dalam pertemanan, kadang-kadang pasti ada situasi gak enak, kita semua sama-sama punya sifat nyebelin yang bikin jengkel satu sama lain, kalau ngaku salah, minta maaf, dan berusaha memperbaiki, harusnya sih gak masalah. Terus memaklumi satu sama lain juga, contoh kayak maklum sama tajemnya lidah Randy sama Aaron, usilnya Han sama Henry. Kalau gak saling maklum, pertemanan kita gak akan bertahan. Mereka kayak gitu juga bukan niatnya nyakitin," kata Jeno panjang lebar, yang Jino dan Brian angguki setuju.
"Kita gak bisa jadi temen yang sempurna, orang lain juga gak bisa jadi temen yang sempurna buat kita," timpal Jino. "Jadi... ya jangan banyak nuntut juga sama temen. Temen harus ini lah, itu lah,"
"Berarti sekarang kita temenan kan?" tanya Brian sembari menundukkan sedikit tubuhnya, agar wajahnya bisa sejajar dengan Thalia.
"Kalau bisa lebih dari temen, oke juga," celetuk Jino sembari tertawa.