21

1004 Words
"Bercanda!" teriak Jino. "Hahaha, kok jadi tegang dah kalian? Jangan-jangan udah ada ekhem-ekhem dibalik ajakan temen," "Hahaha, resek lu!" seru Jeno sembari memukul pipi Jino pelan. Tiba-tiba lampu padam, membuat keempatnya seketika mematung dengan mata melebar. "Kenapa ini?" gumam Brian, dari nada suaranya, terdengar ia sangat takut. "Gak tau, listriknya yang mati, atau emang token listriknya habis," timpal Thalia. "Ma!" panggil Thalia. "Ma! Ini listrik mati atau habis token Ma?!" Tidak ada jawaban. "Kayaknya mama udah tidur deh," Thalia tiba-tiba merasakan ada yang mendekat dan menggenggam tangannya. Dari aromanya, Thalia menebak ini Brian. Meskipun tidak yakin juga, karena belakangan, ketiga anak laki-laki ini pakai sabun mandi yang sama, dan Jino sudah tidak pakai parfum lagi. "Jen, gue tidur sama lo ya? Gue takut tidur sendiri kalau mati lampu gini...," Jino tiba-tiba terdengar merengek. "Gak mau ah, gue masih mau hidup besok. Lagian gak elit banget kalau gue mati karena ketendang atau ketindihan lo," "Aelahh, lebay banget, gue gak akan sampe segitunya kali. Pleaseee...," "Enggak!" "Huaaaa, Jeno jahat!" "Jino! Jangan-jangan lo kerasukan setan ya? Geleuh anying, jangan lendot-lendot gue!" "Takuttt!" "Gak akan ada setan!" "Ada! Pasti ada! Di dunia yang hidup gak cuman manusia, binatang, sama tumbuhan, ada malaikat, iblis, jin!" "Elu kan jin!" "Elu nyamain gue sama setan?" "Emang miripkan?" Thalia yang jengah mendengar pertengkaran Jeno dan Jino, mengambil ponselnya dari saku celana dan menyalakan senter tepat di bawah wajahnya yang membuat Jeno dan Jino sontak berteriak ketakutan sampai jatuh. "Buahahahaha, siapa suruh ribut?!" tawa Thalia. Jika biasanya mereka terpana melihat Thalia -karena jarang tertawa-, sekarang tawanya malah bikin jengkel. "Ah, Thalia, ngagetin banget!" seru Brian. Kening Thalia mengernyit, karena suara Brian terdengar jauh. "Bae, lo ada di mana?" tanya Thalia. "Gue ada di sebelah Jino dari tadi, dia yang paling deket sama gue tadi, jadi gue nempelin dia," balas Brian. Thalia seketika mematung, dengan peluh mulai bercucuran dari keningnya. Ia langsung mematikan senter ponselnya, sembari melepas paksa tangannya dari genggaman tangan orang di sampingnya. Lalu ia berjalan ke samping. "Lo jangan bercanda di kondisi kayak gini dong, jelas-jelas tadi ada yang genggam tangan gue. Masak itu bukan elo?" "Ngapain gue bercanda, gue serius, iyakan Jin?" "Iya kok Tha, dia ada di sebelah gue dari tadi," Thalia seketika berlari ke arah Jino, Jeno, dan Brian, dengan mengikuti arah suaranya, dan menubrukan tubuhnya di atas tubuh Jino dan Jeno. "Pantes tangannya dingin!" seru Thalia. Thalia kemudian buru-buru mengambil ponselnya, dan kembali menyalakan senternya, untuk memastikan orang yang tadi ia tubruk sungguhan Jeno dan Jino. Ia pun menyorot ke arah orang-orang yang ia tindih. Setelah wajah Jeno dan Jino terlihat, ia mengulurkan tangannya yang bebas untuk memegang wajah mereka dan sesekali mencubitnya, untuk memastikan mereka sungguhan manusia. Thalia bernapas lega, karena wajah yang ia sentuh hangat dan tidak tembus di tangannya. Ia kemudian menyorot ke sebelah Jino, sungguhan ada Brian berdiri di sana. Ia tampak hanya berdiri tegap sembari menutup kedua wajahnya dengan tangan. "Bae, coba buka tangan lo," titah Thalia. Tidak langsung ada respon dari Brian. "Brian!" teriak Thalia mulai panik. Brian pun menurunkan kedua tangannya dari depan wajahnya, lalu menoleh ke arah Thalia. Jino mengulurkan sebelah tangannya untuk mencubit-cubit kaki Brian. "Ini beneran lo kan?" tanya Jino. "Iya beneran, tapi kayak ada yang meluk gue sekarang, huaaaa," balas Brian disertai tangisan yang meledak. ••• Thalia mengunci pintu balkon, lalu ikut bergabung dengan Jino, Jeno dan Brian yang kini sedang duduk berjejer di tepian pagar balkon, sembari menekuk kedua kaki mereka. Ia duduk di sebelah Brian, di sebelah Brian, Jino, dan di sebelah Jino, Jeno. "Udah gue bilangkan, hantu itu ada," ucap Jino. "Udah gak usah dibahas!" sahut Jeno. "Tapi emang di rumah ini ada penghuninya, cuman biasanya gak ganggu kok, baru kali ini. Jangan-jangan hantunya cewek, terus suka salah satu dari kalian," ujar Thalia. "Aaaaa, jangan ngomong yang serem-serem dongg," rengek Brian. "Mama lo gak papa ditinggal sendiri di dalem?" tanya Jeno. Thalia menatap layar ponselnya, ia mencoba menghubungi mamanya, meskipun tidak tahu akan diangkat atau tidak, tapi ia berharap. Hingga tiga kali mencoba telfon, mamanya akhirnya mengangkat panggilan, yang membuat ke empat anak SMA itu seketika bernapas lega. "Apa sih? Ganggu Mama tidur aja!" protes mama, begitu telfon diangkat. "Mati listrik Ma!" seru Thalia. "Ya emang malem ini bakal mati listrik, kamu gak baca surat pengumuman? Ada perbaikan, jadi listrik bakal dimatiin sampe besok pagi. Makanya Mama kan nyuruh kalian tidur cepet tadi. Sekarang tidur aja kalian!" "Tapi masalahnya ada setan tadi, kita gak berani masuk ke rumah," "Lah, sekarang kalian lagi ada di luar?" "Kita di balkon," Mama terdengar menghela napas. "Ya terus Mama harus apa?" "Mama gak takut?" "Kalau takut ya dia malah bakal ganggu. Kalian tidur aja bertiga, Thalia di kamar Mama," "Huaaaa, gak berani ke bawah!" "Terus kamu mau tidur bareng sama cowok hah?" "Huaaa, gimana dong?" Brian, Jino dan Jeno, malah jadi salah fokus dengan Thalia yang merengek-rengek sejak tadi ke mamanya, kakinya juga terus bergerak gelisah dan sesekali menghentak lantai. "Mama gak tau mau kasih solusi apa lagi. Mama capek banget loh ini," "Hah, ya udah Mama lanjut tidur aja deh, aku sama yang lain bakal cari solusinya," "Ya udah," Sambungan telfon terputus, dengan sorot putus asa, dan bibir maju, ia menatap ketiga anak laki-laki itu yang sedang menatapnya juga. "Gimana dong?" tanya Thalia. "Kita tidur di balkon aja," usul Jino. "Yang bener aja!" sahut Jeno. "Lantai balkon kan bersih," kata Jino. "Tapi gue masak tidur bareng kalian?" gumam Thalia. "Lo berani ke dalem sendiri?" tanya Brian, yang Thalia jawab dengan gelengan. Karena sibuk memikirkan soal tidur, keempatnya jadi tanpa sadar malah berakhir tertidur di balkon dengan posisi duduk. Awalnya Brian yang tertidur di bahu Thalia, lalu disusul Jeno yang bersandar di bahu Jino. Lalu Thalia dan Jino terakhir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD