18

1586 Words
Thalia melirik Rere yang baru meletakan secarik kertas yang dilipat empat ke mejanya. Ia kemudian meraih kertas tersebut, sementara Rere langsung keluar dari kelasnya. 'Ditunggu di lapangan samping sekolah, awas aja kalau gak dateng,' Thalia mencebikan bibirnya, ia kemudian mendesis kesal sembari meremas kertas tersebut. ••• Thalia memenuhi isi surat yang tadi diberikan Rere sebelum jam istirahat. Ia sudah mengumpulkan keberanian untuk menghadapi gadis-gadis yang baginya menjijikan. Di samping sekolah, terdapat lapangan besar yang ditutupi cukup banyak pohon serta rerumputan. Lapangan itu memang hampir tidak pernah dipakai dan diurus. "Wah, lont* kita udah dateng nih," sambut Oyoy, saat Thalia baru tiba. Di sana ada Oyoy, Rere, Wina, dan empat gadis-gadis lainnya yang sudah menunggu. "Gak ngaca?" sahut Thalia. "Cewek... yang ngejar-ngejar cowok sampe mati-matian, ngintilin kemana-mana, padahal perasaannya gak pernah dianggep... eum, lebih murahan siapa ya jadinya? Kayaknya kalau doinya minta tidur bareng diiyain nih," "Ngomong apa lu barusan?" hardik Oyoy sembari mendekat ke Thalia. "Mau gue ulang gue ngomong apa? Udah berapa tahun ya lo suka sama Han? Sampe ngorbanin banyak hal, segala cara lo lakuin, tapi Han aja gak peduli sedikitpun sama lo, haha. Miris. Dia malah sukanya sama gue, jadiannya sama gue. Padahal gue gak pernah ngejar-ngejar dia loh, gue gak pernah ngorbanin apapun buat dia. Beda banget sama lo kan? Dia cowok baik-baik sih, meskipun lo kasih s**********n lo dia tetep gak akan mau," Oyoy mengangkat satu tangannya hendak menjambak rambut Thalia, tapi Thalia sudah lebih dulu meraih tangannya, dan mencengkeram erat pergelangan tangannya. "Elu jangan sembarangan ngomong! Lo yang murahan! Kemaren aja jalan kan tuh sama banyak cowok," Wina tiba-tiba nimbrung. Thalia menyeringai. "Alah, bilang aja lo pengen ada di posisi gue," kata Thalia. "Sekarang lo semua ngajak gue ribut, juga karena irikan gue kemaren jalan sama cowok-cowok inceran kalian? Hahaha," Thalia hanya tertawa beberapa saat, tawanya berubah jadi gertakan gigi, ia kemudian menatap tajam Oyoy. "Yang ada di otak kalian tuh cuman cowok ya? Sadar gak sih betapa menjijikkannya kalian, cuman gara-gara cowok kalian ngelakuin pembullyan. Gak cuman ke gue lagi, lo juga berani bawa-bawa ibu gue," Sebelah tangan Thalia yang semula tidak memegang apapun, beralih menjambak rambut Oyoy keras-keras. Rasanya ia ingin membuat Oyoy botak. "Lo yang parah, dasar! Elo yang lont*! Elu yang murahan! Ngejar-ngejar cowok, sampe mati-matian! SIAPA YANG MURAHAN GUE TANYA?!" Buk! Thalia menendang perut Oyoy sampai Oyoy jatuh ke tanah dan terdorong cukup jauh. "Ngaca lo semua! Muka sampah! Kelakuan sampah! Ngejar-ngejar cowok sampe kayak orang gila! Gak tau diri kalian! Hah! Sini gue hajar lo semua! Dasar ekor anjing!" Rere tiba-tiba melempar batu dan mengenai kepala Thalia. Dan di saat Thalia sedang kesakitan, Oyoy bangkit berdiri dan memukulinya. Tapi Thalia tidak pasrah begitu saja, ia menarik kerah baju Oyoy sampai kancing-kancingnya terlepas, kemudian menarik rambutnya kuat-kuat. Rere, Wina dan teman-temannya yang lain mencoba membantu dengan cara memukul dan menjambak Thalia juga. Tapi Thalia seperti orang kesetanan, ia bahkan bisa menarik rambut dari dua pemiliknya sekaligus, lalu menghantamnya ke tanah, hingga dagu mereka membentur tanah. "Gue bakal diem aja kalau lo gak bawa-bawa mama gue b*****t!" teriak Thalia sembari menarik rambut dari pucuk kepala Oyoy, dan menekannya tubuhnya secara paksa sampai Oyoy jadi berlutut di depannya. "Tapi ibu lo emang lont* kan?! Hah! Ngaku aja lo! Janda kegatelan! Ibu lo emang lon-," belum sempat Oyoy menyelesaikan kalimatnya, Thalia yang sedang memegangi ujung kepalanya, melepas sepatunya dan memasukan ujungnya ke mulut Oyoy. "Makan tuh anjing!" Bruk! Wajah Thalia tiba-tiba ditendang, entah oleh siapa. Sampai tubuh Thalia jatuh, dan sedikit terdorong ke belakang. "Thalia, lo keterlaluan!" seru Rere sembari memeluk Oyoy dari samping, yang sedang terbatuk-batuk karena disumpal sepatu. "Baru segini aja kalian bilang gue udah keterlaluan? Kalian mikir gak gimana pas gue dibully kalian hah?! Ini belum sampe gue bawa-bawa orang tua kalian!" kata Thalia sembari bangkit berdiri. "Gara-gara cowok... hahaha, kalian bawa-bawa mama gue," Thalia melepas satu sapatunya yang lain, kemudian berlari ke arah mereka, ia memukul satu persatu wajah mereka dengan sepatunya, lalu dijambak lagi dan membenturkan kepala mereka satu sama lain. "Thalia!" Thalia terkejut saat tiba-tiba mendengar suara Jeno. Ia menoleh ke belakang dan mendapati ada sembilan anak laki-laki yang sedang berlari menghampirinya dengan tujuh gadis-gadis yang tampak sudah tidak berbentuk, sama sepertinya. "Udah!" seru Jeno. "Gak bisa! Gue mau bunuh mereka!" balas Thalia, dengan tangan terulur hendak menyerang mereka lagi, namun Jeno langsung menangkap tubuhnya dan menariknya ke belakang untuk menjauh. "Thalia udah!" Thalia meronta. "Enggak! Gak mau! Mereka harus mampus!" Thalia menggigit lengan Jeno yang melingkar di bahunya, kemudian berlari ke arah gadis-gadis itu, ia menendang wajah Oyoy, kepala Rere, dan d**a Wina. "Lo boleh kalau mau bully gue, jelek-jelekin gue! Tapi jangan bawa-bawa ibu gue! Lo gak tau apa-apa soal gue dan ibu gue b*****t! Lo mau ibu lo gue kata-katain hah?! Mau lo?!" "Thalia!" Jeno kembali berusaha menghentikan Thalia, tapi Thalia tiba-tiba berjongkok dan menangis, membuat semuanya terkejut dan tertegun. Status Oyoy kembali terngiang di benaknya, ia tidak bisa membayangkan kalau mamanya melihat itu. Wajah letih mamanya yang seharian bekerja lalu harus menangis karena ketikan anak-anak yang menyedihkan, membuat perasaannya benar-benar sakit. Thalia tanpa sadar menangis dengan suara keras, ia kemudian memukul-mukul pahanya. Sekarang ia merasa bersalah, karena merasa tidak bisa melindungi mamanya. Di saat mamanya selalu melindunginya dari ayah yang tak menyukainya, ia malah membuat mamanya terseret ke dalam hal seperti ini. Han tiba-tiba berjalan mendekati Oyoy, ia melihat seragam Oyoy yang kancingnya sudah terlepas semua, sementara ia tidak menggunakan apa-apa lagi di dalamnya selain pakaian dalam. Han melepas jaket ungu yang sedang dipakainya, kemudian melemparnya ke arah Oyoy. "Pake tuh," ucap Han. "Jangan pernah ngomong sama gue lagi," Jino mendekati Thalia, kemudian berjongkok di depannya. Ia merapihkan rambut Thalia yang menutupi sebagian wajahnya, dan sedikit menempel dengan kening dan wajahnya, karena keringat dan darah. "Udah Tha, sekarang kita ke UKS dulu," ucap Jino. "Jangan, ke klinik atau rumah sakit aja, kalau ke sekolah entar jadi perkara. Siapa gitu di antara kita, izinin Thalia sama cewek-cewek yang lain ke wali kelas masing-masing kalau mereka gak bisa ikut pelajaran selanjutnya, karena kecelakaan," tutur Brian. "Ya udah," balas Jino. Ia kemudian mengusap-ngusap wajah Thalia yang kotor, serta menyeka air matanya. Thalia berusaha menghentikan tangisannya, tapi ia malah sesenggukan. Jino akhirnya memeluk Thalia, sembari mengusapi bahunya. Jeno terdiam, padahal ia yang ada di dekat Thalia lebih dulu sebelum Jino, tapi ia tidak ada inisiatif untuk melakukan itu, karena masih shock melihat Thalia tiba-tiba menangis. Gadis dingin yang terlihat selalu kuat itu, menangis di depan banyak orang. Padahal bukan kali ini ia melihat Thalia menangis. "Hyujin, Jeno, Brian, kalian yang bawa Thalia ke klinik deh. Ada kok klinik yang deket di sini," celetuk Jazmi. Ia kemudian melirik Oyoy dan lainnya. "Kalau kalian gue panggilin taksi online aja. Yang paling parah lukanya cuman Oyoy kan?" Jazmi menghela napas. "Sadar gak sih? Tingkah kalian tuh... mengerikan dan menjijikkan banget. Dengan kalian yang kayak gini, ngikutin cowok yang kalian suka kemana-mana, liat-liat privasinya, ngata-ngatain dan nyerang cewek yang deket sama gebetan kalian, itu gak akan bikin perasaan kalian terbalas. Justru sebaliknya. Kekanakan banget tau gak? Kayak Han pacaran sama Thalia, emang itu salah Thalia? Hannya yang suka sama Thalia, dan itu hak Han buat suka sama siapa aja, kalian gak berhak ngatur, dan maksa dia buat suka sama kalian," "Bawa-bawa orang tua lagi, gak ngotak," gumam Randy. "Jadi cewek punya harga dirinya lah dikit, kasian gue sama kalian. Gara-gara cowok sampe nyakitin sesama cewek," "Gak peduli lo deketin gebetan lo lebih lama dari siapapun, kalau cowoknya gak suka sama lo, bukan salah cewek yang akhirnya deket dan jadian sama cowok inceran lo, ngerti?" kali ini Brian yang angkat bicara. "Cobalah mikir rasional, bertahun-tahun sekolah buat apa? Buat cari uang doang?" Henry melirik Felix, sambil tertawa-tawa kecil dan menunjuk-nunjuk kepalanya menggunakan jari telunjuknya, lalu mengibaskan tangannya, yang seolah mengatakan 'Kok ada orang gak punya otak gini?' Felix hanya balas tersenyum kecil sambil menggendikan bahu. Henry lupa dengan adiknya sendiri sepertinya. Brian mengambil sepatu milik Thalia yang bercecer kemana-mana, lalu memasangkannya kembali pada kaki Thalia. Tangisan Thalia sudah reda, meskipun kadang-kadang masih sesenggukan. "Kuat berdiri gak?" tanya Jino. Thalia tidak menjawab, tapi ia berusaha bangkit berdiri sendiri. Hanya saja kakinya rupanya gemetaran. "Biar gue gendong aja," kata Jino sembari berjongkok dengan memunggungi Thalia. Brian pun menuntun Thalia untuk naik ke atas punggung Jino. "Oyoy mungkin gak bisa berdiri juga," ucap Thalia dengan nada lirih. Ia sebenarnya tidak ingin berkata begitu, tapi ada perang batin yang menyuruhnya mencari bantuan untuk Oyoy. Merasakan dirinya yang kesakitan dan susah berdiri, kondisi Oyoy juga mungkin sama sepertinya. Ia ada yang membantu, tidak masalah. Sedangkan Oyoy tidak ada, teman-temannya sepertinya tidak bisa diharapkan. Makanya Thalia merasa kasihan. Meskipun ia sendiri sebenarnya tidak rela punya perasaan kasihan seperti ini pada Oyoy. "Siapa yang mau bantu gendong Oyoy? Sampe mobil aja, dia kayaknya gak bisa berdiri," kata Jino. Tidak ada yang bersuara sampai beberapa menit, sampai akhirnya Jeno mengajukan diri. "Ya udah, gue aja," ucap Jeno.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD