"Ada yang gak beres sama Thalia," ujar Jino.
"Iya, kok bisa pas ada Oyoy, Rere sama Wina juga di sini," timpal Jeno.
"Emang dia punya masalah apa sama mereka?" tanya Aaron.
"Thalia kan dibully sama cewek-cewek gara-gara pacaran sama Han, salah satunya Oyoy. Oyoy kan punya geng, pasti sama gengnya juga ngebully," jelas Jino. "Mereka putus gara-gara Thalia dibully itu,"
"Anjir, mereka korban sinetron apa gimana dah? Drama banget hidupnya. Masak gara-gara Han pacaran sama Thalia, Thalianya diserang?" timpal Aaron.
"Loh, lo gak tau? Padahalkan kita udah omongin," kata Jeno.
"Emang kalian udah cerita Han sama Thalia putus gara-gara itu? Kalian cuman bilang Han sama Thalia pernah pacaran," balas Aaron.
"Gak ngerti juga sama pemikiran cewek kayak gitu, hahaha. Gue ngerasa geli sebenernya pas denger cerita itu," kata Jino. "Emangnya kalau Han gak pacaran sama Thalia, dia bakal pacaran sama Oyoy gitu? Gak ngerti deh sama pikirannya,"
"Obsesi atau ngehalu sih itu," gumam Aaron.
"Yang gue heran kenapa cewek suka banget nyerang sesama cewek?" kata Jeno.
"Ah, tapi sering juga cowok bacok-bacokan gara-gara rebutan cewek," timpal Jino.
Jeno mengacak rambutnya. "Anjinglah, kenapa sih orang-orang? Padahal dia belum tentu sehidup semati sama yang diperjuangin itu,"
"Hahaha, jadi inget adeknya Henry yang udah gede gue, diakan pernah marah-marah, nangis-nangis, terus kita yang jadi korban pas main ke rumahnya, gara-gara biasnya pacaran," celoteh Jino. "Ngehujat pacar biasnya lagi, dibilang keganjenan. Padahal kalau dia yang deketin biasnya, terus pacaran sama biasnya, berarti dia juga keganjenan dong? Dan itu mustahil sih,"
"Ah, iya, inget gue. Habis dimarahin sama Henry, baru dia diem," sahut Aaron. "Cewek-cewek itu harus dimarahin Henry juga kali yaa...,"
"Kemaren ada juga kan tuh, artis yang dihujat sama cewek-cewek, gara-gara pacarnya ngidolain artis itu," tutur Jeno. "Padahal artisnya gak tau apa-apa, kocak. Kenal aja kagak sama cowoknya tuh,"
"Wah, iya tau tuh itu, gilaaa, merinding gue. Kalau punya pacar kayak gitu, langsung gak mau kenal, beneran. Malu njir," kata Jino sambil tertawa. "Mereka sekolah gak sih? Penasaran gue, hahaha,"
"Kita kayaknya udah terlalu sering ikut ibu-ibu kita arisan deh, jadi jago banget ngerumpinya," celetuk Aaron, yang membuat Jino dan Jeno langsung diam.
Tapi kemudian Jino masih tertawa meskipun tidak menggelegar seperti sebelumnya.
Jeno memukul bahunya. "Apaan sih lu? Masih ketawa aja,"
"Gak tau, perut gue geli aja," gumam Jino.
Thalia, Brian, Jazmi dan Han, akhirnya kembali setelah membeli cemilan dan minuman. Selang beberapa menit kemudian, Randy, Henry dan Felix akhirnya datang juga.
Mereka pun segera masuk ke studio, karena film sebentar lagi akan ditayangkan.
Wina, Oyoy dan Rere pun memasuki studio yang sama. Thalia yang memang sengaja memilih film yang sama seperti yang akan ditonton mereka, padahal Thalia tidak tahu itu film apa.
Anehnya, kesembilan cowok ini setuju saja dengan pilihan Thalia.
Dan ternyata itu film bergenre romance, Thalia langsung eneg di awal. Bukan karena ia tidak suka film bergenre romance, hanya saja terlalu menggelikan bagi Thalia. Banyak kata-kata puitis yang maknanya padahal hanya gombalan, dan adegan-adegan romantis yang membuat bulu kuduk Thalia meremang.
Apa lagi ini ceritanya tentang percintaan di masa remaja, tapi terlalu dramatis.
Thalia menoleh ke arah yang lain, untuk melihat reaksi kesembilan anak laki-laki yang duduk di setiap kedua sisinya, mereka tampak menghayati film, terutama Jino, Brian, Jazmi dan Henry.
Ngomong-ngomong, Wina, Rere dan Oyoy, duduk di belakang mereka, dengan jarak hanya satu barisan kursi.
Felix dan Randy sempat menyapa, tapi karena tidak dekat, jadi hanya menyapa saja sebagai formalitas.
Wina, Rere dan Oyoy, sebenarnya sudah tidak tahan untuk memaki Thalia, tapi mereka harus menahannya demi imej mereka di depan ke sembilan anak laki-laki itu.
Brian yang duduk tepat di sebelah kanan Thalia, tiba-tiba menyandarkan kepalanya pada bahu Thalia.
"Itu nanti cowoknya mati sia," bisik Brian.
"Anjir, lo bisa ngomong gitu juga," balas Thalia.
"Gue males banget kalau ada karakternya yang mati, sakit banget hati gue,"
"Kan bukan pacar lo beneran yang mati,"
"Gue ngebayangin itu gue,"
"Emang lo pernah punya pacar?"
"Kagak,"
"Tapi lo bisa bayangin?"
"Kalau berimajinasi punya pacar sering,"
Thalia terkekeh kecil mendengarnya tanpa sadar, membuat Brian sontak mengangkat kepalanya dan menatap Thalia. Membuat Thalia bungkam, dan menatap Brian dengan tatapan gugup.
Pasti reaksinya akan seperti Jino saat mendengarnya tertawa pertama kali.
Dan benar saja. Brian tiba-tiba tersenyum lebar, sembari berkata. "Wah, lo ketawa nih,"
"Ah, apaan sih? Lebay banget, cuman ketawa juga," kata Thalia.
Brian merubah senyumannya jadi senyuman kecil. "Tapi lo jarang banget ketawa, boro-boro ketawa, senyum aja kayaknya susah banget,"
Thalia tersenyum simpul sesaat, kemudian mengalihkan pandangannya pada layar.
"Ck, gak nyaman banget sih ada lont* di depan kita," samar-samar suara Rere terdengar di belakang.
Thalia menarik ke atas sudut kiri bibirnya.
"Ngeri banget sih, ada stalker di sini," ujar Thalia, yang membuat fokus ke sembilan anak laki-laki itu teralih padanya.
"Jadi bener ada yang nguntit kita?" tanya Han dengan mata melebar.
Thalia menolehkan kepalanya ke belakang, dan menatap sinis Wina, Rere serta Oyoy yang bungkam.
"Iya ada, tapi orangnya kayak setan jadi gak keliatan," kata Thalia.
"Ahh, ngeri banget!" seru Jino.
"Shutt, jangan berisik," ucap Aaron, yang membuat semuanya langsung diam.
•••
Selesai nonton, Thalia mengajak Jino dan lainnya untuk makan siang di restoran cepat saji.
Mereka menggabungkan dua meja agar duduknya tidak terpisah-pisah.
"Tha, yang lo bilang ada stalker itu, seriusan?" tanya Jino, sesaat setelah mereka duduk di kursi masing-masing.
Thalia tidak menjawab, dan malah mengalihkan pembicaraan dengan bertanya mau pesan apa.
"Kalian mau pesen apa? Biar gue yang pesenin," tutur Thalia.
Meskipun kebingungan, karena Thalia tidak mau menjawab pertanyaan Jino, mereka akhirnya memberitahu Thalia hendak pesan apa, dan Thalia mencatatnya di ponsel.
"Mau ditemenin siapa?" tanya Jeno.
"Gak usah ditemenin, gue sendiri aja," balas Thalia sembari beranjak berdiri dari kursinya.
Ia sebenarnya hanya ingin pergi sebentar, karena merasa tidak nyaman sudah terlalu lama berkumpul dengan banyak orang.
"Ya udah, gue pergi dulu," ucap Thalia sebelum pergi.
Kesembilan anak laki-laki itu saling tatap sejenak, kemudian memilih mengeluarkan ponsel masing-masing.
Beberapa saat berlalu, mata Han yang sedang menatap layar ponselnya tiba-tiba melebar, ia kemudian memekik, yang membuat perhatian teman-temannya teralih padanya.
"Gue kayaknya tau deh kenapa Thalia aneh hari ini," ucap Han sembari menegakan tubuhnya.
Ia lalu meletakan ponselnya di tengah-tengah meja yang menampilkan screenshot status cerita seseorang. Ia memang sengaja men- screenshot terlebih dahulu status cerita itu sebelum diperlihatkan ke teman-temannya, agar bisa lebih lama dilihat.
"Ini ngomongin Thalia sama mamanya kan?" ucap Han. "Gak cuman satu, geser aja,"
Jeno mengambil ponsel Han, kemudian ibu jarinya menggeser gambar tersebut agar menampilkan gambar yang lain.
"Ini si Oyoy kelainan jiwa?" celetuk Jino.
Brian meringis. "Dia kok bisa tau lagian kita tinggal di rumah Thalia?"
"Gue sebenernya pernah ngeliat Oyoy sama dua temennya yang lain berkeliaran di sekitar rumah Thalia, pas kita main waktu itu. Gue kira mereka juga main di sekitar situ, masak ngikutin kita sih?" ujar Henry.
"Dia kan pernah ngebully Thalia gara-gara gue pacaran sama Thalia, gak menutup kemungkinan dia emang ngikutin kita waktu itu,"
Jino berdecak. "Ihh, serem banget,"
"Sementara diem aja. Thalia dari tadi juga kayaknya nyindir mereka bertiga deh," kata Jeno sembari mengembalikan ponsel milik Han pada pemiliknya.
"Cewek-cewek kalau udah gelut serem, harus kita pantau. Soalnya akar masalah ada di antara kita," tutur Randy.
"Loh, kok jadi kita?" tanya Jino tak terima.
"Tiga cewek inikan suka sama salah satu dari kita, atau tiga dari kita, makanya mereka jadi ngelakuin hal kayak gini, Thalia gak terima, entar besok pas di sekolah bisa aja mereka perang," ujar Randy.
"Thalia bilang dia gak akan bisa ngelawan, yang nyerang juga gak cuman tiga orang, mereka pasukannya banyak," timpal Han.
"Tapi dia nunjukin mau ngelawan sekarang. Kayaknya gara-gara mereka bawa-bawa mamanya," kata Randy.
Jino menggelengkan kepala sembari mengurut keningnya.
"Cewek-cewek kenapa sih?" gumam Jino.
"Jangan nyalahin semua cewek dong, si Thalia korban," sahut Brian.
"Ya gue gak maksud nyalahin semua cewek, cuman yang kayak Oyoy dan kawan-kawan ini pasti ada banyak," kata Jino.
"Ya emang," timpal Felix. "Hah, cuman gara-gara cowok anjir, jadi gak waras. Bawa-bawa orang tua lagi,"
Thalia tak lama kembali, dan mereka buru-buru mengalihkan topik.