07

1355 Words
Thalia langsung masuk ke dalam setelah menyusun sepatunya di rak yang ada di samping pintu. Jeno, Jino dan Brian baru menyusul. Thalia tidak sadar kalau tadi ia tidur di pangkuan Brian, karena benar-benar tidur dengan pulas. Dari bangun sampai keluar mobil pun masih setengah sadar. Saat sampai di ruang tengah, ia terkejut melihat ada anak laki-laki jangkung yang tidur di atas sofa. Dengan ragu-ragu Thalia mendekati sofa, dan dugaannya benar, kalau yang tidur di sofa adalah adik laki-lakinya. "Nolan!" seru Thalia.                                   Anak laki-laki yang dipanggil Nolan itu, tersentak saat mendengar suara kakaknya, dan otomatis bangkit duduk. "Kak," gumam Nolan. Thalia langsung meletakkan tasnya sembarangan di karpet, dan duduk di depan Nolan. "Muka kamu kenapa ini?!" seru Thalia panik sembari menangkup wajah Nolan, tapi Nolan menepis tangannya sembari berdecak. "Aku gak papa, ini udah luka kemaren, yahh, sedikit ditambah sama papa sih. Kemaren aku berantem sama temen di sekolah, terus papa dipanggil hari ini. Kakak taulah, habis itu papa ngapain aku," tutur Nolan. "Udah diobatin mama kok, gak usah panik gitu," Nolan kemudian melirik Jino, Brian dan Jeno yang berdiri tak jauh dari sofa, dan menatapnya keheranan. "Ini orang-orang yang nge kost di rumah mama?" tanya Nolan. "Iya," balas Thalia. Jeno baru hendak mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan memperkenalkan diri pada Nolan, tapi Nolan sudah lebih menolaknya. "Gue udah tau nama kalian dari nametag, gak usah ngenalin," ucap Nolan. "Yang hidungnya panjang, namanya Jeno, yang bibirnya gede, namanya Jino, terus yang kepalanya kecil, Brian. Gue Nolan," Plak! Thalia memukul kepala Nolan, kemudian memelototinya. "Sopan sama yang tua!" bentak Thalia. "Minta maaf!" Nolan mengangkat bahunya. "Apaan sih? Orang gak salah juga," Thalia kembali memukul kepala Nolan, yang membuat Nolan akhirnya dengan terpaksa meminta maaf pada ketiganya. "Kalian istirahat gih, gue mau ngobrol sama adek gue," ucap Thalia, seusai Nolan minta maaf. "Oke," ucap ketiganya serempak, sebelum akhirnya berlalu ke lantai atas. "Mama kenapa pilih anak cowok buat nge kost di sini?" tanya Nolan. Thalia menggendikan bahu. "Setau Kakak, anak temen-temen mama, kebanyakan cowok. Dan yang bermasalah sama jarak sekolah, cuman mereka. Terus karena masih SMA, mereka masih harus dalam pantauan orang tua," "Kalau Kakak diapa-apain mereka gimana? Mereka kayaknya bukan anak baik-baik," "Jangan ngaco, sembarangan aja main ngejudge. Yang nakal justru kamu," Bibir Nolan mengerucut. "Jadi kamu ini kabur?" tanya Thalia, yang Nolan balas dengan anggukan. "Bodo amatlah, paling papa sekarang lagi pacaran," ucap Nolan. "Kenapa hak asuh aku jatuhnya ke papa sih?" "Mana Kakak tau?" timpal Thalia. "Mama berarti udah ada di rumah ya?" "Iya, soalnya aku telfon. Sekarang udah istirahat di kamar sih. Ck, aku tidur dimana dong? Kamarnya kan udah dipake semua," "Kamar Kakak mau?" Nolan menggeleng. "Bau rokok," bisiknya kemudian. Thalia tercenung. "Kamu gak bocorin ke mama kan?" "Tergantung," balas Nolan sembari menengadahkan tangan kanannya di depan wajah Thalia, yang membuatnya merengut sambil berdecak kesal. Thalia mengambil dompetnya dari dalam tas, dan mengeluarkan uang lima puluh ribuan selembar. "Kakak cuman punya segitu, sisanya buat beli kebutuhan," ucap Thalia. "Yaa... segini juga lumayan, makasih," kata Nolan. "Badan kamu kan pasti sakit. Numpang tidur di kamar temen-temen Kakak aja," "Gak enak ah," "Sejak kapan kamu jadi gak enakan? Udah sana!" "Iya-iya. Masih mau nonton TV," "Besok gak sekolah emang?" "Enggak. Orang lagi diskors," "Ck, ampun dah," gumam Thalia sembari bangkit berdiri. "Kakak ke kamar dulu," "Iyaa..." balas Nolan, sembari berbaring kembali di sofa. Thalia terdiam sesaat, sebelum pergi meninggalkan Nolan. Nolan melirik punggung Thalia yang menjauh, kemudian berdecak kesal. Hubungan mereka sebenarnya tidak sebaik yang kelihatannya. Nolan selalu iri, karena hak asuh Thalia dipegang mamanya, sementara ia di tangan papanya. Setiap kali bertemu Nolan selalu minta alasannya, atau mengajak Thalia bertengkar dengan mengungkit hal itu, tapi ia selalu gagal memancingnya. Papa mereka bukan berarti jahat, hanya saja terlalu abai dengan anak-anaknya. Ia lebih suka memberi perhatian pada pacarnya yang bergonta-ganti. Dan jelas ekonominya tidak stabil. Kalau anaknya berbuat salah, pasti dipukul. Nolan terima dipukul sekali dua kali, kalau kesalahannya fatal. Tapi semakin bertambahnya usia, papa malah jadi lebih sering memukulnya, bahkan untuk kesalahan kecil. ••• Thalia mengetuk-ngetuk ujung rokoknya, hingga abunya berjatuhan ke atas mug kosong, yang memang sengaja ia siapkan untuk asbak. Nolan pasti masuk ke kamarnya lewat jendela yang memang tidak ditutup, jadi tahu kalau kamarnya bau rokok. Jadi percuma sudah ia kunci pintunya. Karena sudah tidur di mobil, sekarang ia malah jadi tidak mengantuk. Thalia pun memutuskan untuk tetap berjaga sambil baca novel. Tok-tok-tok, pintu kamarnya tiba-tiba terdengar diketuk. Thalia otomatis menurunkan novel yang sedang dibacanya, dan mematikan rokoknya. Dengan tergesa, ia membereskan jejak-jejak merokoknya, sebelum membukakan pintu. "Loh, Jino?" gumam Thalia, sesaat setelah ia membuka pintu. Iya, Jino yang datang. Dengan hanya menggunakan celana pendek hitam selutut, kaos hitam, lengan pendek, gambar logo spiderman, dan rambut acak-acakan. Jino tiba-tiba mengibaskan tangan kanannya di depan wajahnya sambil mendengus. "Ampun, lo baru ngerok-," Thalia langsung menutup mulut Jino, agar ia tidak bisa menyelesaikan ucapannya. Jino menepis tangan Thalia, sambil bersungut. "Kenapa ke sini?" tanya Thalia. "Adek lo numpang tidur di kamar gue, tapi akhirnya kasur gue malah dikuasain sama dia. Beserta bantal dan selimut. Gue mau tidur di sofa, tapi pinjem bantal sama selimut lo, gue cuman bawa satu dari rumah," balas Jino. "Emang gak papa lo tidur di sofa? Badan lo kan gede, harus ngeringkuk dong," "Lo mau nampung gue?" "Kenapa lo gak tidur bareng Jeno atau Brian?" "Brian suka kentut kalau tidur, Jeno lasak," Thalia tertawa mendengarkannya. "Ya udah, bentar, gue ambilin dulu bantal sama selimutnya," Jino menganggukkan kepalanya, dan membiarkan Thalia kembali masuk ke kamarnya. Jino tiba-tiba jadi teringat pembicaraannya dengan Nolan sebelum ia tidur tadi. "Anehkan? Kenapa mama milih kak Thalia dibanding gue? Padahal waktu orang tua ceraikan, gue masih kecil, harusnya yang mama pilih gue dong. Mama gak sayang sama gue kayaknya. Atau enggak ambil dua-duanya kek, kalau emang mama sayang sama kak Thalia," Thalia tak lama kembali dengan membawa selimut dan bantal. "Nih," ucapnya, sembari menyerahkannya pada Jino. "Gue mau nanya," kata Jino, yang membuat Thalia menatapnya dengan sebelah alis terangkat. "Lo sama adek lo, akur gak sih?" tanya Jino. "Kepo," "Ck, apa sih? Kalau orang nanya dijawab kepo mulu," decak Jino kesal. "Eumm... biasa aja sih, kayak adek kakak pada umumnya. Tapi yaa, sedikit beda karena kita anak broken home, dan hak asuhnya dibagi dua. Gue tau dia gak suka hak asuhnya jatuh ke tangan papa, tapi... dia gak tau aja, papa itu sayang banget sama dia dibanding sama gue," ujar Thalia. "Kalau gitu kenapa dia ngerasa gak nyaman?" "Mungkin karena papa pacaran. Gue pun bakal gak nyaman kalau mama pacaran, meskipun itu hak dia sih. Di benak kita, anak-anaknya, lebih pengen liat orang tuanya balik lagi. Liat mereka pacaran sama orang lain, kayak ngeliat mereka lagi selingkuh," "Pasti berat buat kalian," Thalia menggendikan bahu. "Yah, udah takdir gue begini, jadi jalanin aja. Gak usah kasian lo sama gue," "Ah, enggak kok! Orang gue juga punya masalah sendiri!" tukas Jino. "Ya udah, tidur sana. Gue juga mau istirahat," Jino menganggukkan kepalanya. Thalia pun masuk kembali ke dalam kamarnya. ••• Nolan berdecak, melihat panggilan masuk dari ayahnya yang terus menerus masuk. "Gak diangkat?" tanya mama, sembari meletakan makanan yang baru dimasaknya. "Papa yang nelfon," ucap Nolan. "Hah, andai aja aku tinggal di sini," Mama tidak menjawab. Jino, Jeno dan Brian tak lama muncul, dan mama langsung menyambut mereka. "Ayo duduk-duduk. Katanya kalian mau ke pasar ya pagi ini?" "Iya Tan," balas Jeno. "Kok ke pasar? Emangnya gak sekolah?" tanya Nolan. "Kelas kita siang," jawab Jino. Thalia tak lama datang, dengan rambut setengah basah. "Emang gak ada hairdryer apa? Masak mau makan, rambutnya basah gitu," kata mama. "Bikin rambut rusak kalau sering pake hairdryer," balas Thalia, sembari hendak duduk di sebelah Jino, namun bersamaan dengan tangan Jino yang terulur hendak mengambil salah satu lauk, sehingga tangannya hampir mengenai d**a Thalia. Nolan yang melihat, terkejut, dan otomatis berdiri sambil memukul tangan Jino. "Hati-hati dong!" seru Nolan. "Aduh, iya maaf, gak sengaja," balas Jino, sembari memegangi tangannya yang baru dipukul Nolan. "Udah Kak, duduk sebelah aku!" titah Nolan. Thalia menurut, karena tidak mau membuat Nolan semakin marah. Yah, bukannya ia tidak sadar kalau Nolan sering dongkol padanya, tapi ia tahu Nolan tidak benar-benar membencinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD