06

1050 Words
Thalia itu bukan cewek kuat seperti penampilannya, bukan juga cewek pemberani, bar-bar dan punya mental baja seperti mulutnya yang pedas. Justru sebaliknya, Thalia sebenarnya mudah tertekan yang sampai menimbulkan trauma, dan tidak bisa melawan saat orang melukainya. Hanya bisa menghindar dari penyebab ia dilukai. Ada alasan dibalik ia jadi pendiam. Ia sadar mulutnya bisa melukai seseorang, jadi ia memilih tidak banyak bicara, kecuali memang perlu. Ia tahu bagaimana rasanya terluka karena omongan orang, tapi ia sadar ia sering melukai orang juga menggunakan mulutnya. Ditambah, Thalia bukan orang baik yang mudah mengucapkan kalimat maaf. "Hei, ngelamun aja," Thalia tersentak, saat tiba-tiba mendengar suara Jeno di sebelahnya. "Mau beli yang mana?" tanya Jeno, sembari menyodorkan kertas berisi varian minuman yang akan dibeli. Jeno tersentak, saat menyadari mata Thalia berkaca-kaca, dan tangannya gemetaran saat ia hendak mengambil kertas menu. "Lo kenapa?" tanya Jeno khawatir, dengan nada pelan, agar tidak ada yang mendengar. Pasti tidak nyaman kalau semua perhatian jadi terfokus padanya. Thalia hanya bisa menundukkan kepala, saat Jeno menanyainya. Jeno akhirnya menarik kembali kertas menu yang tadinya mau diberikan pada Thalia. "Eh, gue sama Thalia ke toilet dulu ya?" ujar Jeno, sembari menyerahkan kertas menu tersebut pada Brian. "Oh, iya, oke, jangan lama-lama." Ucap Brian. Jeno pun meraih tangan Thalia, dan mengajaknya pergi ke toilet. Tapi mereka hanya berhenti di tengah lorong menuju toilet. "Thalia gak papa?" tanya Brian. "Kayaknya dia gak baik-baik aja," balas Jino, dengan alis bertaut. "Ck, salah gue nih. Dia kayaknya takut sama Wina, Oyoy, Rere," "Bisa jadi," Jino menghela napas.                                                 Sementara itu Thalia masih tetap menunduk, meskipun kini hanya ada ia berdua dengan Jeno. "Lo kenapa?" tanya Jeno. Thalia menggeleng, sembari menutupi matanya menggunakan lengan kanannya. Bahunya tak lama bergetar, dan Jeno tahu air mata pasti sudah keluar dari matanya, meskipun tidak terdengar isakannya. Perhatian orang yang lewat, jadi tertuju ke mereka. "Gue gak tau lo kenapa, tapi kalau lo emang mau nangis, nangis aja," ucap Jeno, sembari menarik tangan Thalia yang menutupi matanya. Ia kemudian merengkuh Thalia ke dalam pelukannya, sembari menyembunyikan wajah Thalia di dadanya, agar tidak ada yang bisa melihat kalau ia sedang menangis. 'Gue sendiri gak tau kenapa gue nangis. Tapi perasaan gue mendadak gak tenang dan takut.' Batin Thalia. Jeno sesekali akan mengusapi bahu Thalia, atau menepuk kepalanya. ••• "Udah mendingan?" tanya Jeno, beberapa saat setelah Thalia berhenti menangis. Thalia tidak berani menatap Jeno karena malu. "Udah, makasih. Maaf, gue gak jelas tiba-tiba nangis," kata Thalia. "Emang kalau nangis, penyebabnya harus jelas ya? Kalau lo nangis berarti perasaan lo lagi gak enak kan? Jadi gak papa nangis, kalau itu bikin lo mendingan," tutur Jeno. "Tapi mata gue sekarang jadi sembab," Jeno tiba-tiba melepas tas ranselnya, dan mengeluarkan topi miliknya. "Nih, pake," ucap Jeno, sembari meletakan topi tersebut di atas kepala Thalia. Thalia langsung membetulkan letak topinya, dan memastikan matanya bisa tertutup sempurna dengan topi itu. "Tapi kalau lo sering ngerasa gak nyaman dan sedih tanpa alasan gitu, saran gue coba pergi ke psikolog sih," ucap Jeno. "Maaf nih, kalau gue nyinggung," Thalia hanya memberi respon dengan tersenyum miring. "Tapi kita kayaknya gak jadi ya ke pasar? Udah hampir jam tujuh malem," tutur Jeno. "Iya kayaknya, besok pagi aja. Kelas kita kan besok, siang," balas Thalia, sembari berbalik dan jalan duluan keluar lorong. Mereka menemui Jino dan Brian yang masih ada di depan stand minuman. "Udah pesen?" tanya Jeno. "Udah," balas Jino. "Kok lama?" tanya Brian. "Sakit perut gue, si Thalia makeup ulang kayaknya, tapi gagal, hahaha," dusta Jeno. "Oh iya Tha, kata mama lo, lo suka minuman rasa dark chocolat sm oreo kan? Nih gue beliin," kata Jino, sembari menyerahkan satu minuman yang dipegangnya. "Hah? Lo nanya ke mama gue?" tanya Thalia, sembari menerima minuman tersebut. Jino menganggukkan kepala. "Biar begitu lo sama Jeno balik dari toilet, kita bisa langsung pergi cari tempat makan," "Nanti gue gantiin uangnya," ucap Thalia. "Gak usah, beneran gak usah," "Makasih," gumam Thalia. "Ngomong-ngomong bisa gak? Gue jalannya di tengah-tengah kalian? Maksudnya gue ketutupan kalian gitu, dari depan sama belakang," "Bisa aja, lo kan cebol," balas Jeno. Kalau Jeno tidak membantunya tadi, Thalia mungkin sudah mencubitnya. ••• Mereka makan malam di restoran ramen yang ada di samping supermarket. Jeno dan Brian sibuk membicarakan game yang semalam mereka mainkan, sementara Jino dan Thalia tidak ada yang buka suara. Jino sebenarnya ingin mengajak Thalia bicara, hanya saja... ia tidak tahu harus membicarakan apa. Jino sudah berpikir untuk membahas cuaca, tapi itu anehkan? Atau membahas soal perawatan kulit, tapi kulitnya sudah bagus. Mau membahas perihal di bioskop tadi, Jino takut Thalia merasa tidak nyaman. "Tha," Jino tiba-tiba sedikit menggebrak meja, membuat Thalia yang duduk di depannya terkejut, dan otomatis mendongak untuk menatapnya. "Apaan?! Ngagetin aja!" sungut Thalia. "Lo mantannya Han?" pertanyaan Jino, sukses membuat Brian dan Jeno terkejut. Berani banget nanya gituan, batin mereka berdua. "Ngapain nanya itu?" Thalia balik bertanya. "Eung... soalnya gue liat kalian lirik-lirikan pas di kantin tadi," kata Jino, bohong. "Kalau lirik-lirikan, emangnya udah pasti mantan ya? Soalnya Han ganteng, terus gue cantik, jadi makanya gitu kali," ujar Thalia. "Dih, percaya diri banget. Gantengan gue lagian dari pada Han," "Kenapa lo berpikir lo lebih ganteng dari Han, tau dari mana?" "Dari cermin," "Cerminnya rusak tuh," Jeno dan Brian tertawa lebar, apa lagi saat melihat raut wajah kesal Jino. "Akh, kalian! Kalau giliran nistain gue aja, langsung nyaut. Tadi fokus ngobrolin game juga!" protes Jino. Selesai makan malam, dengan sedikit gaduh, karena Jeno dan Brian tidak bisa berhenti mengganggu Jino. Akhirnya mereka pulang. Jino langsung memejamkan mata begitu masuk mobil, karena sudah lelah dan mengantuk. Jeno juga sebenarnya, tapi ia harus menyetir. Brian sedikit mengantuk, tapi tidak terlalu, jadi ia ambil inisiatif untuk menemani Jeno selama menyetir agar tidak mengantuk. Sementara Thalia juga sama seperti Jino, lelah dan mengantuk. Terlebih ia habis menangis, membuat matanya jadi terasa lebih berat. Brian melirik Thalia yang memeluk tasnya, dan meletakan kepalanya di atas tas, untuk tidur. Ia awalnya mengabaikan Thalia dalam posisi seperti itu, setelah perjalanan cukup lama, ia kembali melihat ke arah Thalia. Iseng, salah satu tangan terulur dan menarik pelan tangan Thalia yang sedang memeluk tas. Tubuh Thalia langsung roboh, dengan kepala menghantam paha Brian. Brian maupun Thalia sama-sama terkejut. Dengan kondisi setengah sadar, Thalia hendak mengangkat kepalanya dari atas pangkuan Brian, tapi Brian menahannya, sembari mengusapi bagian samping kepala Thalia, agar ia kembali tidur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD