Part 1

1476 Words
Suasana kediaman Mahesa tampak lebih ramai dari biasanya, namun kali ini sedikit berbeda keramaian tersebut terasa mencekam, terlebih saat Daniel menggenggam tangan laki-laki yang dengan lancang telah mencoreng arang di wajahnya. “pi...” “jangan pernah sentuh tangan saya lagi, karena mulai detik ini kamu sudah bukan tanggung jawabku lagi” dengan langkah lebar Daniel meninggalkan ruang tengah rumahnya yang menjadi saksi betapa malunya ia saat ini. “umma” ucap Alisya menjabat tangan lembut sang ibu yang kini terasa kaku akibat rasa marah, malu dan sedihnya. Anak yang dulu ia besarkan dengan penuh cinta dengan mudahnya menaburkan garam pada lukanya. “silahkan kalian keluar dari kediaman ini, mulai detik ini kau sudah ku lepas dan jangan pernah sekalipun kau tunjukkan wajah kalian dihadapanku” bukan Nadine yang berkata melainkan Daniel. Alisya tak dapat mengungkapkan perasaannya, ditengah hari bahagianya ia juga harus mendapati kenyataan pahit dirinya terusir Bahkan seorang Nadinepun sudah tidak bisa membendung perasaannya kembali hatinya hancur melebihi apapun saat ini. “mbak, jangan pergi” cegat Alya memohon dengan air mata yang tak kalah membanjir “maafin aku yah dek, titip umma sama papi” “mbak aku mohon, bagaimana dengan dokter kamu? Kita sudah berjanji untuk lulus bersama” “apapun yang terjadi kamu harus tetap berjuang, setidaknya kamu jangan mengecewakan umma sama papi” kini pandangan Alisya menuju Alvian yang berdiri dengan wajah tak kalah kusutnya, dipeluknya laki-laki terbaik setelah ayahnya itu dengan erat seraya sesegukan meminta dikuatkan oleh kembarannya. Namun dugaannya salah laki-laki itu hanya diam tanpa menunjukkan reaksi apapun “pergilah, raih kebahagiaan kamu sebelum aku sendiri yang membawa kau dari pemuda itu” meski terdengar manis, kedua tangannya sudah mengepal kuat menahan gejolak emosinya. “mbak” teriak Alya saat Alisya benar-benar berjalan keluar rumahnya menuju Aditya yang sudah menunggu dihalaman kediaman Nadine. “selangkah kau berpindah dari tempatmu maka kamu juga keluar dari rumah ini Alya” ancam Daniel yang membuat langkahnya terhenti “mbak menyayangi kamu Ca, turuti ucapan papi sama umma yah dek” “mbak” teriak Alya bersama Nadine saat Alisya benar-benar keluar dari rumah yang memberikan dirinya kehidupan penuh cinta dan bahagia. Namun hidup adalah pilihan dan keluar dari rumah orang tuanya adalah pilihan Alisya saat ini. *** 5 tahun kemudian “ bangun perempuan pemalas” “ mas, kamu sudah sampai?” tanya Alisya dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul “yah, aku lapar. kau siapkan makan malam untukku” Tak ada penolakan sedikitpun, Alisya bangun dari rebahannya sedikit kesusahan menuju dapur memanaskan masakan yang tadi ia masak. “dasar lamban, cepatlah aku sudah lapar” maki suaminya “ iya mas, ini sebentar lagi” “kalau hamil membuatmu kesulitan melayaniku, lebih baik kau gugurkan dia” “mas dia anakmu, kenapa kau tega sekali” “kau terlalu bodoh membiarkan dia tumbuh di rahimmu, aku tidak pernah mengharapkan keturunan dari kau” “kalau begitu ceraikan aku mas, jangan jerat aku dalam hubungan seperti ini” ucap Alisya lemah, ia sudah tidak memiliki tenaga untuk berbicara panjang lebar. Prang Alisya terlontar kebelakang, bahkan kuah sup yang akan ia letakkan di atas meja tumpah mengenai tangan mungilnya. “mas ampun, sa..kit” ucapnya tersenggal merasakan panas di sekujur leher hingga wajahnya, tangan kekar suaminya menghalangi pernapasan karena cekikan yang ia terima. “bermimpilah, karena aku tidak akan melepaskan kau sampai aku puas, jadi jangan pernah berniat untuk pergi dariku sialan, kau mengerti?” ancam Aditya Mau tak mau Alisya hanya mengangguk, tak ada jalan selain menuruti ucapan laki-laki dihadapannya ini yang sudah dipenuhi iblis. “hapus air mata buayamu itu sialan, sial selera makanku hilang” Alisya terduduk di lantai dapurnya dengan leher dan kedua tangannya terasa perih. Lima tahun berumah tangga tak sekalipun ia mendapati kelembutan dari laki-laki yang berstatus suaminya, ia tak tau dimana letak kesalahan yang ia perbuat sampai membuat suaminya begitu membencinya, entah kemana perginya ucapan cinta yang selalu laki-laki itu ucapkan dulu, jangankan ucapan sayang bahkan setiap hari hanya sumpah serapa yang ia dengar dari mulut laki-laki itu. Tak ingin larut Alisya bangkit dari duduknya mencari kotak P3k mengoleskan salep pada tangannya, entah sudah berapa banyak bekas luka yang ia dapati selama lima tahun hidupnya berumah tangga. sangat kontras dengan kehidupannya ketika bersama orang tua nya, perihal orang tua, setelah statusnya resmi menjadi seorang istri tak sekalipun ia pernah berhubungan dengan keluarganya lagi, ia tak punya muka untuk sekedar mengunjungi kediaman orang tuanya. ____ Sementara ditempat lain Aditya tengah menenggak sampanyenya langsung dari botolnya. Ditemani beberapa wanita yang sudah ia sewa bersama teman-temannya. Berpapasan dengan keturunan Mahesa membuat emosinya selalu dipermainkan. “nikmati malam ini karena aku akan mentraktir kalian semua sepuasnya” ucap Aditya mengangkat gelasnya tinggi tinggi, sontak saja membuat semuanya heboh. Setelah mengatakan hal tersebut Aditya menyingkir dari rangkulan wanita di sampingnya, ia justru keluar dari sana menuju salah satu roftoop, Aditya tak melakukan apa-apa selain menenggak beberapa kali sampanyenya sambil menatap malam cerah ditaburi bintang. “menyesal hee ?” tanya seseorang dari belakang memecah lamunannya “menyesal? hal apa yang harus aku sesali?” ucap Aditya membalikkan pertanyaan pada lawan bicaranya “menyesal sudah melangkah sejauh ini mungkin?” Aditya menyunggingkan bibirnya sebelum menjawab pertanyaan lawan bicaranya “sepertinya kau lupa tidak ada kata menyesal dalam kamusku” “mungkin jika orang lain akan percaya dengan ucapanmu, tapi tidak denganku. Aku terlalu mengenali kau imran ” Aditya berdehem kecil, sudah lama ia tak di panggil dengan nama tengahnya, nama pemberian dari kakek buyutnya. “aku tak perduli” “bagaimana kabar adik iparku, aku sangat merindukannya” “dia baik” “apa aku terlambat mengatakan selamat atas kehamilan istrimu yang ketiga” “tidak perlu karena aku tak yakin dia bertahan lama” ucap Aditya ambigu “sebaiknya lupakan dendam tak jelasmu itu Aditya, atau kau akan benar-benar menyesal” Aditya mengernyitkan keningnya “kemana arah bicaramu Devon, kau tau aku takkan mundur setelah memulainya, langkahku sedikit lagi” Aditya sedang malas berdebat dengan lawan bicaranya, memilih meninggalkan laki-laki bernama Devon tersebut. Langkahnya terhenti saat ada yang mencegat tangannya, dan ternyata itu adalah Alvian. Abang iparnya. **** “ingat! kau harus selalu tersenyum pada siapapun dan mengatakan kalau kau berbahagia hidup bersama ku” titah Aditya dengan tangan yang sibuk dengan dasi kupu-kupunya Alisya hanya mengangguk pasrah, setelah lima tahun terkurung dalam penjara berlapis emas baru kali ini ia kembali menginjakkan kaki di luar rumah mewah suaminya. Yah suaminya bukan lagi seorang staf salah satu di salah satu bank swasta, melainkan seorang petinggi, sedari awal laki-laki itu sudah membohongi dirinya, tapi apalah daya, dirinya dulu terlalu muda termakan rayuan maut suaminya ini. “mungkin akan ada keluargamu nanti, aku yakin perwakilan keluargamu akan bersikap seolah tak terjadi apa-apa, maka aku harap kau pun sama” Tanpa di undang air mata Alisya mengalir begitu saja mendengar penuturan suaminya. Bagaimana tidak, sudah lima tahun ia belum pernah sekalipun bertemu dengan keluarganya hingga kini ia akan bertemu dengan keluarganya yang entah siapa? Alisya seolah robot yang sudah di setel oleh majikannya, ia tersenyum pada setiap orang seolah tak ada segudang beban di pundaknya. Matanya tertuju pada alvian dan Alya yang sedang menghadiri acara penghargaan yang sama dengan dirinya, tersirat rasa iri melihat keduanya yang tersenyum tulus, tak seperti dirinya. Bahkan penampilan adiknya begitu memukau sangat berbeda di bandingkan dirinya yang jauh dari kata terawat. Alisya meminta izin ke toilet pada suaminya karena perutnya yang bergejolak ingin dikeluarkan, padahal Ia baru memakan makanannya sedikit perutnya sudah tak nyaman. “mbak” pergerakan Alisya terhenti melihat sosok adiknya dari pantulan cermin tempatnya menumpahkan isi perut nya. “Alya kangen banget sama kamu mbak” Alisya tak menghiraukan perkataan adiknya, justru mempercepat langkahnya keluar, hatinya masih belum sanggup bertegur sapa dengan adiknya. “mbak, mbak tunggu dulu” cegat Alya menarik tangan sang kembaran “mbak gak bisa maaf” dengan kasar Alisya menghempaskan tangan adiknya, dan berjalan tergesa-gesa menuju suaminya berada “sayang kamu kenapa?” Alisya mengedarkan pandangannya memberikan senyum terbaiknya pada rekan kerja suaminya yang entah siapa. “kamu keturunan Mahesa bukan?” tanya salah seorang yang sudah lama mengenal Alisya “yah, beliau keturunan Mahesa, saya sangat beruntung bisa mempersuntingnya” jawab Aditya menarik pinggang Alisya merapat padanya “sudah lama tidak mendengar kabar kamu, tapi sejak kapan kalian menikah? Bahkan kau sepertinya sedang mengandung” Alisya mencuri pandang pada suaminya, ia takut salah menjawab “sejak empat tahun yang lalu” bukan Aditya ataupun Alisya yang menjawab melainkan Alvian yang menjawab pertanyaan yang ia yakini perwakilan media online. Alvian menarik tubuh sang adik merangkul pinggang Alisya posesif juga menyalurkan kerinduan yang begitu mendalam pada adik tersayangnya. “pernikahan mereka memang tidak semeriah pernikahan saya ataupun Alya kelak. Itu permintaan kedua belah pihak yang menginginkan pernikahan secara sederhana dan kekeluargaan” Alisya mengangguk membetulkan ucapan abangnya, membalas pelukan tersebut tak kalah erat setidaknya hanya dengan momen seperti ini bisa ia manfaatkan situasi. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD