Bukh
Alisya mengeluh kesakitan di bagian perutnya. Setelah pernyataan Alvian, dan beberapa media yang sempat mengabadikan momen langkah tersebut tanpa basa-basi Aditya menyeretnya pulang. Meski acara tersebut belum usai.
“akh mas, sakit... perutku sakit mas” adu Alisya memegang perutnya yang tiba-tiba terasa keram karena tekanan yang diberikan oleh suaminya sendiri
“gak usah banyak alasan, bangun perempuan sialan” tak ada belas kasih dari laki-laki tersebut, justru begitu gencar menarik tangannya menuju kamar mandi.
Byurr
“mas.... ampun, dingin suadah mas, ampun” pinta Alisya memohon, ditengah malam dengan tega laki-laki itu mengguyur tubuhnya dengan air yang sudah diatur suhunya.
“tidak ada kata ampun untuk kau” ucap Aditya menambah lajunya mengguyur air tanpa belas kasih sedikitpun
Setelah tak ada perlawanan dari sang empuh barulah Aditya menghentikan aktivitasnya, ia takkan berhenti sebelum puas, setelahnya Aditya meninggalkan Alisya yang terkulai lemah seorang diri. Seperti tak mereasa sudah melakukan kesalahan ia mengganti pakaian yang tak jauh beda kuyupnya dengan sang istri dengan pakaian santai seperti bersiap tidur.
“bangunlah aku tau kau bukan perempuan lemah yang pingsan karena guyuran air segitu” setelah mengatakan hal itu Aditya merebahkan tubuhnya di atas ranjang mereka seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
Sementa Alisya, perempuan itu berusaha sedikit demi sedikit bangkit tanpa air mata meski hatinya sangat ingin menangis. Sekejam apapun perlakuan suaminya, ia sudah tak pernah lagi menangis, air matanya sudah lama mengering.
Alisya menatap nanar laki-laki yang sudah terlelap di atas ranjang mereka, seolah tak melakukan kesalahan dengan gampang laki-laki itu tertidur dengan sangat nyenyak, tak ingin larut menatap laki -laki yang jauh di lubuk hatinya masih ia cintai yang sialnya selalu menyakitinya secara mental, tak jarang pula melukainya secara fisik.
****
Bila menjadi istri pada umumnya Alisya akan menuntut perceraian atau kabur, namun ia tak bisa melakukan hal tersebut. Jauh di lubuk hatinya ia masih berharap suaminya berubah lebih tulus dan tidak terus-terusan mengasarinya. Terbukti saat ini ia masih melayani kebutuhan suaminya, seolah tadi malam tak terjadi apapun.
“kau masak apa?”
“mas, aku kepingin buat nasi kuning karena hari ini kandunganku memasuki usia ke empat bulan”
Tak ada jawaban dari mulut suaminya bahkan laki-laki menyungingkan senyum remeh terhadap dirinya
“aku lapar” ucap Aditya tegas
“iya mas” seolah sudah paham dengan ucapan dua kata tersebut Alisya meletakkan msakannya kedalam piring suaminya.
setelah mengambilkan sarapan untuk suaminya, Alisya memilih duduk disamping Aditya dengan memilin jemarinya, seperti henda ingin menyampaikan sesuatu.
“ada apa?” tanya Aditya tiba-tiba.
“maksudnya mas?”
“pasti ada yang ingin kau inginkan, katakanlah”
“bolehkah?” tanya Alisya dengan mata berbinar
“cepatlah”
Alisya mengangguk kemudian meletakkan sebuah undangan di atas meja dengan ragu-ragu. Undangan yang ia temui di dalam tas tangan yang tadi malam ia pakai menemani suaminya, yang entah kapan seseorag meletakkan di sana.
“apa kau yakin ingin menghadiri pernikahan adik kembarmu?”
“apa kau masih punya muka untuk bertemu dengan keluarga yang sampai detik ini kau tinggalkan demi suami yang kau cintai ini?” pertanyaan itu membuat kandas harapan Alisya. ingin sekali Alisya menyela tapi ucapan suaminya benar adanya.
“jawab Alisya, bahkan kau baru mengetahui pernikahan adikmu dari undangan seperti ini, kemana perginya otak pintarmu itu? Mereka tidak mengharapkan kehadiran kau, mereka sudah membuang kau sayang”
“aku cuma mau melihatnya dari jauh mas”
“kau tau jawabannya adalah tidak”
“mas” tak gentar Alisya mencoba terus merayu laki-laki tersebut
“aku tak ingin membuat kekacauan di kantor hanya karena terpancing emosi dan berimbas pada karyawanku yang lebih berharga, jadi lebih baik kau lupakan permintaan konyolmu itu”
“mas”
“apa kau tuli sialan? sekali tidak maka selamanya tidak” bentak Aditya.
Mendengar itu Alisya hanya mengangguk, suaminya benar. Ia sudah di buang karena ulahnya sendiri.
“untuk kau” ucap Aditya melempari wajah Alisya dengan sebuah kartu
“ini untuk apa mas?”
Aditya tergelak mendengar pertanyaan konyol istrinya “apa lima tahun kau ku kurung membuat otakmu tak mampu melihat itu apa?”
“aku tau ini kartu kamu, tapi untuk apa”
Aditya mendesah kasar “beli lah baju dan produk kecantikan yang kau suka, aku baru menyadari penampilan kau tadi malam sangat tak layak, jadi berbenahlah sedikit”
“baiklah mas” memang apa lagi yang bisa dijawab olehnya selain menurut.
“kau pergi bersama sekretarisku, aku yakin dia bisa membantumu belanja, dan tentunya jangan pernah berharap kau bisa menggunakan hari ini untuk kabur” setelah mengatakan hal tersebut Aditya berjalan meninggalkan istrinya yang masih terdiam seorang diri.
****
Alisya mengenakan pakaian dari pilihan sekretaris suaminya, saat itu juga ia menyadari perkataan suaminya benar, ia tak lagi Alisya yang seperti dulu, lima tahun dalam penjara berlapis emas membuat ia lupa caranya berhias atau mengenakan pakaian yang menarik di hadapan suaminya.
“bagaimana apa ada yang kurang?” tanya sekretaris suaminya
“sudah, ini sudah cukup”
“baiklah kalau begitu kita ke salon, rambutmu tak jauh beda dari ekor sapi” entah penghinaan apa lagi yang ia dapati, bahkan kini dari sekretaris suaminya.
“pantas Aditya lebih sering mengajakku dari pada kau keacara penting, penampilanmu tak ada bedanya dengan upik abu” Alisya tak menjawab, bahkan menelan mentah-mentah ucapan kasar wanita anggun di hadapannya ini, entah bullying apa yang di lakukan suaminya membuat ia tak mampu untuk sekedar membela dirinya, membuat mentalnya benar-benar hancur, suaminya benar-benar sukses membuat dirinya seperti orang bodoh.
“lakukan yang terbaik untuk kakak ku ini, dua jam lagi aku balik, ada beberapa tas incaranku”
Alisya menatap lurus perempuan bermuka dua tersebut keluar dari salon tempatnya berdiri hingga suara petugas membuyarkan lamunananya.
“aku ingin memakai produk yang aman untuk bayiku, aku sedang mengandung” usai mengucapkan hal tersebut Alisya duduk pada kursi yang telah di sediakan, Rileks. Satu kata yang bisa ia ungkapkan, pijatan lembut di sekitar kepala hingga pundaknya membuatnya tenang bahkan hampir tertidur.
___
Masa untuk bersenag-senang seorang Alisya telah usai dan kini ia kembali menjadi upik abu seperti ucapan sekretaris suaminya tadi siang, tapi kalau dipikir-pikir memang tak ada bedanya antara dirinya sebagai istri dengan upik abu. Yang hanya bertugas di rumah dan melayani suaminya bila laki-laki itu membutuhkan dirinya. ia tidak mempermasalahkan bila harus melakukan tugasnya melayani suaminya sendirian, tapi kondisinya berbeda, ia diperlalukan sangat tidak manusiawi oleh suaminya sendiri.
“siapa yang menyuruh kau memotong rambutmu?” tanya seorang laki-laki dengan suara dinginya
“mas, kamu sudah kembali, duduklah biar aku siapin secangkir kopi untukmu”
“jawab pertanyaanku ALISYA, siapa yang menyuruh kau memotong rambutmu?”
“sakit mas” ucap Alisya mencoba melepaskan cengkraman laki-laki itu dikedua bahunya.
“apa kau tuli, siapa yang menyuruh kau memotong rambutmu?” bahkan cengkramanya lebih kuat dan kali ini mungkin meninggalkan bekas, sangking kencangnya
“sekretaris kamu akh...” ucapnya sedikit kesulitan. Ia tak berbohong, memang sekretaris suaminya lah yang membuat rambut panjangnya lenyap.
Aditya melepas cengkraman kerasnya pada bahu Alisya kemudian merogoh ponselnya.
“awas kalau kau sampai berbohong” ucapnya meninggalkan Alisya yang masih meringis kesakitan.