Alisya mengamati lekat langit-langit kamarnya, setelah kegiatan panasnya dengan sang suami laki-laki itu pergi begitu saja tanpa mengajaknya berbicara sedikitpun, baginya tak ada beda antara istri dengan perempuan sewa yang dipakai bila di butuhkan dan di rendahkan bila sudah muak.
Berkali-kali mendapati perlakuan yang sama belum juga membuat Alisya jera dan putus asa, ia berharap suaminya bisa mengasihi dirinya seperti cinta kedua orang tuanya yang seperti tak lekang di makan waktu, terkadang ia berfikir dosa apa yang dilakukan olehnya sehingga ia harus menanggung hal semenyakitkan ini.
Dan untuk yang pertama kali setelah bertahun-tahun air matanya menetes kembali, baginya ini sudah akumulasi dari penderitaan yang ia alami selama ini. Tangannya terkepal kuat meremas seprai bermotif bunga lili yang beberapa waktu lalu menjadi saksi bisu pergumulan ia dan suaminya.
“aku salah apa mas, kenapa kamu sejahat ini sama aku, aku mencintai kamu tapi kau membenciku. Aku harus bagaimana” raungnya frustasi.
Sementara di tempat lain Aditya tengah menikmati sebatang rokok dengan redwine yang selalu tersimpan rapi di dalam kamarnya.
Hampa. Satu kata yang mewakili perasaannya setiap kali ia usai menuntaskan hasratnya, namun egonya tetap saja menutupi semua tersebut, ada goals tertentu yang ingin ia capai yaitu membuat keluarga MAHESA merasakan penghinaan yang ia terima ketika dulu ia hanya seorang pekerja serabutan yang mencoba merajut tali kasi dengan perempuan yang kini menjadi istrinya.
Dendam tersebut sudah merajai hatinya, di usir di rendahkan di depan semua orang membuat ia berpikir agar ia bisa membuktikan seorang Aditya yang dulu keset kaki keluarga Mahesa kini sudah tinggi menjulang bahkan kini perempuan tersebut tengah jatuh sejatuhnya dalam tipu dayanya. Ia bersumpah takkan melepas perempuan tersebut sampai ia puas melihat penderitaan yang ia beri pada mereka, yang pernah menginjak harga dirinya.
Aditya merogoh ponselnya mengetikkan sesuatu pada layar ponsel pintar miliknya.
“aku ingin kau melakukan hal biasa dan serapi biasanya, aku tak akan mentolerir cacat sedikitpun” tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya Aditrya mematikan ponselnya sepihak kemudian memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa semakin lengket.
****
Alisya tak mampu menahan harunya, saat laki-laki yang berstatus sebagai suaminya mengajaknya mendatangi pesta pernikahan adik kembarnya, entah sudah berapa banyak rasa syukur atas hari ini. Dan untuk kedua kalinya suaminya mengenalkan dirinya sebagai istri pada siapapun yang ia temui.
“ada apa?” tanya Aditya melihat raut tegang di wajah sang istri
“apa mereka akan menerima kita mas?”
“kau tenang saja, mereka takkan mengusir kita di tengah tamu-tamu penting yang datang”
Alisya mengangguk, membenarkan ucapan suaminya, papi dan ummanya takkan mungkin membuat aib mereka sendiri. Apa lagi ini pernikahan adiknya.
“cepat lah di sini panas, kau tidak ingin riasan mahal itu terbuang sia-sia karena keringat yang bercucuran di wajahmu”
Lagi-lagi Alisya tersenyum, meski tingkat kepedasan ucapan suaminya tak berkurang ia tetap bahagia, baginya itu adalah bentuk perhatian dari seorang Aditya yang jarang ia dapati, satu kali setahun pun belum tentu.
“hei cepatlah” titah Aditya yang berjalan lebih dulu
“iya mas sebentar” ujar Alisya mengikuti langkah suaminya yg sudah berjalan lebih dulu.
“terima kasih” ucap Alisya ketika menerima es krim pesanannya. Pernikahan sang adik tak jauh mewahnya dari pernikahan abangnya. Hanya pernikahannya yang di gelar sederhana bahkan sangat di tutup karena aib yang ia bawa.
Alisya memilih duduk di antara para tamu agar tak bisa di kenali oleh yang lainnya. Sementara Aditya laki-laki itu izin ke toilet karena tak sengaja terkena tumpahan kuah rendang oleh seseorang yang tiba-tiba menabrak suaminya.
“Ica” seketika Alisya tersedak esnya sendiri, mendengar nama kecilnya di sebut seseorang.
“Rere” ucapnya tersentak. Ternyata dia adalah kakak iparnya, istri Alvian
“ya ampun Ca kamu apa kabar, kemana aja kamu selama ini?”
“aku masih di kota ini Re, hanya saja sedikit di perbatasan”
“kamu sedang hamil? berapa bulan? kakanya mana?” tanya Rere antusias. Yah hanya Rere yang menerima keadaannya dari awal tanpa memandang renda dirinya sedikitpun meskipun tak ada satupun dari keluarganya yang merendahkan dirinya, namun sangat jelas kalau mereka sangat kecewa padanya.
“mereka semua meninggal sebelum aku bisa melihat wajah mereka”
“mereka?”
“ini keamilan ku yang ke tiga, kedua anakku meninggal ketika usia kehamilanku di bawah 6 bulan, mungkin karena ibunya banyak dosa sehingga mereka terkena imbas atas kebodohan aku”
“mereka gak ada sangkut pautnya dengan kesalahan kamu lakukan, aku yakin kau akan merasakan nikmatnya menjadi seorang ibu” bagi Alisya Rere jelmaan malaikat tak bersayap. Abangnya sangat beruntung mendapati perempuan tulus seperti Rere.
“Re, Ica... kamu datang dek?” tanya Alvian tiba-tiba
“iya mas, aku mau melihat momen-momen membahagiakan seperti ini”
“mas kangen banget sama kamu dek, kamu apa kabar?”
“malam itu kamu kenapa ngilang begitu aja, apa suami kamu memperlakukan kamu dengan baik selama ini?”
“mas, kamu nanya satu-satu jangan di borong semua, pelukannya jangan kencang-kencang ada ponaan kamu didalamnya” peringat Rere lembut
“maafin uncle yang sayang”
“Ica baik mas” hanya itu yang mampu ia ucapkan. Tak etis rasanya bila ia mengumbar yang sejujurnya di tengah keramian seperti ini.
Ekhem...
Seketika momen-momen nostalgia keluarga tersebut terhenti mendengar deheman seseorang yang sudah jelas milik siapa.
“maaf, tapi saya ingin membawa istri saya” ucapnya menarik pergelangan tangan istrinya
“sebelum dia menjadi istrimu dia lebih dulu menjadi adikku” cegat Alvian tak terima, tersirat raut tak suka dari laki-laki dua anak tersebut. Sampai kapanpun ia masih belum benar-benar percaya dengan Aditya.
"kalian sudah membuangnya bukan?" tanya Aditya tak kalah tajamnya.
melihat hal itu Alisya memilih membawa suaminya sedikit menjauh dari kembaran serta iparnya, ia tidak ingin ada keributan di hari bahagia adiknya.
"mas, mbak aku ikut mas Adit yah" pamit Alisya menahan malu.
“mas kita pulang?” tanya Alisya memelas
“bukan, tapi kita harus makan, dari tadi pagi kamu belum memakan apapun. Kita sudah membayar mahal untuk memakan semua makanan ini”
****
Sedari tadi Alisya merasakan perutnya begitu mulas entah karena apa namun ini bukan mulas seperti biasanya. Ini sangat berbeda dan sangat menyiksanya tak hanya itu kepalnya terasa begitu berdenyut yang sulit ia tahan. Namun Alisya tetaplah Alisya ia mewarisi sifat Nadine yang mampu menyembunyikan rasa sakit yang ia dapati “kita kemana mas?” tanya Alisya ketika suaminya menarik tangannya begitu cepat.
“kita pamit pada mempelai”
“jangan mas, kita langsung pulang aja, aku gak berani melihat umma sama papi” ucapnya jujur. Ia masih belum punya nyali untuk bertemu pada cinta pertamanya yaitu kedua orang tuanya.
“ada aku kalau mereka menolak kamu”
Deg
Untuk pertama kalinya setelah lima tahun suaminya kembali mengatakan hal tersebut, tapi kali ini terdengar hampa di telinganya.
“hei apa yang kau fikirkan? cepatlah!” tanpa persetujuan dari sang empu Aditya sedikit memaksa istrinya untuk menemui mempelai di atas pelaminan
“apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Daniel dingin, mendengar itu Alisya hanya menunduk tak mampu melihat umma ataupun papinya.
“kami datang karena undangan ini, tentu kami menghadiri acara kerabat sendiri pi” jawab Aditya santai seolah tak merasa melakukan kesalahan barang sedikitpun
“sebaiknya kalian pulang aku muak melihat kalian disini” mendengar itu Alisya tak mampu menahan laju air matanya, sudah lima tahun namun papinya tetap membentangkan jarak padanya, sementara Nadine, Alisya tak mendengar sedikit pun sura sang ibu
“setidaknya kami harus bertemu dengan mempelai pengantin bukan?”
“kalian benar-benar tidak punya malu, keberadaan kalian sudah tidak aku harapkan tapi dengan lancang kalian berani menginjakkan kaki di pesta ini, bagiku kalian sudah mati”
“mas” bukan Alisya melainkan Nadine, terdengar ketegasan dengan nada bicaranya
“cepatlah menemui pengantinnya setelah itu silahkan pergi” ucap Nadine memalingkan wajahnya kearah lain.
“umma pengertian ternyata” Aditya menarik istrinya menuju adik iparnya yang sedang melakukan sesi foto dengan beberapa temannya mungkin.
“mbak kamu datang makasih yah” Alisya hanya mengangguk
“mbak kamu sakit, kamu pucat banget”
“mbak gak papa maklum lah hamil muda"
“mbak pamit dulu selamat atas pernikahan kalian”
“Ca, kamu halangan? Darah kamu sudah merembes” ucapan tersebut membuat pikirannya melayang, takkan mungkin ia mengalami datang tamu.
Di detik selanjutnya pandangan Alisya mengabur dan sayup-sayup ia mendengar namanya dipanggil.
Sementara Aditya, laki-laki itu menyunggingkan senyum miringnya seolah-olah menikmati kekalutan yang di rasakan oleh kerabat istrinya.