Part 4

1286 Words
Alvian memandang geram pada sosok yang tampak sangat santai untuk ukuran seorang suami yang sedang menanti kabar antara hidup dan mati anak serta istrinya. Bahkan disaat situasi seperti ini ia masih sempat membuka ponselnya entah kepentingan apa yang lebih mendesak dari pada istrinya sendiri. “apa adikku tidak lebih penting dari ponsel sialan mu itu hee” tanya alvian geram sendiri. Bahkan papinya saja yang sudah menganggap adiknya mati tampak begitu kalut dan sangat jelas ada penyesalan di matanya, lalu entah pria macam apa yang menjadi suami dari adik malangnya? “ada beberapa klien penting menghubungiku” jawab Aditya santai Mendengar itu membuat Alvian semakin pitam, bagaimana bisa laki-laki ini berkata sesantai itu di hadapan kerabat istrinya sendiri. “tidak ada yang lebih penting saat ini selain adikku dan anaknya sialan” maki Alvian. Ia tak perduli lagi bila ia sedang berhadapan dengan adik iparnya sendiri. “lalu aku harus melakukan apa lagi? ia sedang berjuang di dalam sana dan aku sedang tidak ingin berfikiran buruk dan berusaha untuk bisa setenang mungkin” Alvian tetap tak terima dengan alasan seperti itu. “aku salut dengan ketenangan yang kau punya, tapi dari yang aku lihat kau memang seperti tak mengharapkan kebaikan untuk adikku atau calon anak kalian sedikitpun” “apa maksud ucapan mu barusan? tentu aku menghawatirkan istri dan calon anak kami, bahkan kami sudah kehilangan sebanyak dua kali” Alvian dan Aditya sama-sama terkejut dengan ucapannya sendiri yang dengan mudahnya mengatakan hal itu. Sementara Alvian kesulitan mencerna maksud ucapan Aditya barusan. “apa kalian tidak bisa diam! anakku sedang berjuang di dalam sana dan kalian sibuk berdebat disni, dan kau” Daniel menjeda ucapannya menetralkan deru nafasnya yang kian memburu “kalau kau memang tidak lagi menginginkan anakku kau bisa pergi saat ini juga aku masih mampu menghidupinya” perkelahian mereka terhenti hanya dengan kalimat singkat seorang Daniel Baik Alvian dan Aditya tak ada yang menjawab ucapan dari Daniel, seketika semuanya hening hingga Nadine keluar dari ruangan tempat Alisya di tangani. “umma bagaimana keadaan Ica sama anaknya” tanya Alvian lebih dulu. Saat itu pandangan Nadine tertuju pada Aditya kemudian beralih pada suaminya yang sangat tampak raut ketegangan disana. “bagaimana keadaan mereka?” tanya Daniel harap cemas Nadine hanya menggeleng kemudian menangis menatap kedua tangannya yang bergetar “aku mengeluarkannya mas, kedua tangan ini yang memaksa janin tak bersalah itu keluar” adunya pada sang suami. Kehilangan. Mungkin itu yang hanya di rasakan oleh keluarga Mahesa. Mereka sudah lama tak bertemu dengan sosok periang dan menyenangkan dari Alisya, sekali bertemu ia harus melihat penderitaan sang putri. Namun tidak dengan Aditya ia tampak biasa-biasa saja, apalagi itu bukan yang pertama kalinya bagi dirinya kehilangan calon anak yang ia anggap bisa menghambat jalannya di masa depan. Meski begitu, ia tak memungkiri kalau setiap ia kehilangan calon anaknya ada perasaan benci dalam dirinya, tapi buru-buru ia tangkis ia harus mengingat kekejaman keluarga yang tenga bersedih di hadapannya. Baginya hal itu bukan akhir, melainkan awal mula dari rangkaian balas dendamnya. **** Alisya mengerjakan matanya beberapa kali menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya. Setelah hampir dua jam terlelap karena kelelahan baik fisik maupun hatinya. Lagi-lagi ia harus merasakan kehilangan sebelum ia melihat seperti apa rupa anaknya. Sorang perempuan pasti akan langsung jatuh hati pada anaknya ketika ia mengetahui ada nyawa lain yang bersemayam di dalam perutnya. Sejahat-jahatnya wanita pasti akan merasa sedih ketika dinyatakan kehilangan anaknya untuk selama-lamanya. Apa lagi ia sudah kehilangan sebanyak 2 kali bahkan kini ia menambahnya menjadi 3. Ceklek Seketika Alisya mendongakkan kepalanya melihat siapa yang datang, Harapannya sedikit memudar melihat yang datang hanya ummanya. Tak ada papinya ataupun suaminya, meski begitu ia tetap bahagia ditengah luka yang menerpa. Setidaknya ummanya masih mau menjenguknya. “umma” susah payah Aisya mencoba untuk bangun “istirahat lah nak, kamu masih dalam tahap pemulihan” Tak ada penolakan, tubuhnya memang masih lelah “gak apa sayang, masih ada kesempatan yang lain, mungkin memang belum rezekinya kamu sayang” “iya umma” jawab Alisya serak, bersamaan dengan air matanya yang jatuh “kamu kurusan nak” “umma kangen sama kakak, kakak gak pernah jenguk umma lagi” “maafin Ica umma” pemandangan tersebut tak lepas dari ketiga pria yang sedang berdiri di ambang pintu dengan berbagai ekspresi. “pi mau kemana?” tanya Alvian menahan langkah Daniel yang tiba-tiba pergi tanpa menemui Alisya barang sebentar “sudah ada ummamu, pernikahan adikmu masih berlangsung” ucap Daniel menampilkan raut tegarnya. Entah sudah berapa kali laki-laki berkepala lima itu mengeluarkan nafas kasar. Melihat sang putri terbaring lemah karena pendarahan membuat dadanya sesak sebagai orang tua ia tak bersungguh-sungguh mematikan nama sang putri dalam hatinya. dalam sujud ditengah malamnya terselip doa khusus untuk kebahagiaan sang putri. “mas, Nadine temani Alisya sebentar” setelah membaca pesan yang masuk dari Nadine. Daniel menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi mobilnya, Ia tak benar-benar pergi ia hanya tak pandai menata hati bila melihat raut terkulai anak yang begitu ia cintai. drrt drrt ~Alya putriku. melihat nama Alya disana Daniel segera mengangkat panggilan tersebut “pi, gimana keadaan mbak?” Daniel mengangguk sejenak seolah putrinya bisa melihatnya. “mbak kamu sudah sadar, kamu tenang aja yah, maaf mungkin papi sedikit terlambat. tidak masalah kan sayang?” tanya Daniel tak lagi bisa menyembunyikan kekhawatirannya. “iya pi gak papa” **** “kamu makan lagi yah nak, lihatlah pipi kamu udah tirus begini padahal dulu kamu gembul sayang” “Ica hamil muda umma, nafsu makan Ica emang gak ada selama hamil” Nadine mengangguk paham, bukan mengenai pernyataan anaknya tapi tatapan tak enak sang putri yang seolah-olah dirinya menuduh Aditya tak mampu membahagiakan putrinya. disaat bersamaan pintu ruangan Alisya dibukak ternyata itu adalah Aditya. “sayang suami kamu datang, umma pamit yah nak. nanti setelah acaranya Alya umma ke sini lagi. boleh yah sayang” pinta Nadine menghapus air matanya. ia merasa serba salah, yang satu putrinya sedang ditimpa musibah ditempat lain putrinya pun juga membutuhkan dampingan darinya. “iya umma, Ica ngerti kok, makasih yah umma udah baik sama Ica sampaikan juga maaf Ica sama papi" Nadine mengangguk menghapus air matanya juga air mata Alisya yang tak hentinya mengalir. “kamu anak umma sama papi sampai kapanpun sayang, siapapun boleh marah sama kamu tapi tidak akan merubah status kamu menjadi anak umma sama papi. nanti setelah umma sampai hotel umma minta aunty Ara yang nemani kamu gantiin umma sementara” usai mengecup kening sang putri cukup lama, dengan berat hati Nadine berjalan meninggalkan sang putri. sebelum benar-benar meninggalkan ruangan putrinya Nadine memandangi wajah Aditya cukup intens Ia masih belum percaya dengan sosok laki-laki yang berstatus sebagai menantu nya. “bagaiman keadaan kamu?” tanya Aditya berbasa-basi. Tak ada jawaban melainkan tatapan nanar yang di perlihatkan oleh Alisya “ada apa?” “apa salah aku mas?” tanyanya dengan air mata yang sudah mengalir Tak ada jawaban apapun dari Aditya “kenapa kamu sebenci itu sama aku mas?” Dengan gerakan pelan Aditya menghapus sudut mata istrinya yang sudah banjir air mata. “tidurlah kamu masih dalam tahap pemulihan, aku ada urusan mendadak kalau ada apa-apa kau bisa memanggil perawat yang sudah ku sewa untuk menjaga kau” tanpa merasa bersalah Aditya pergi begitu saja. ____ “ini bayaran untuk kalian, pergilah kemanapun dan jangan pernah kembali lagi” “baik bos, kalau begitu kami pergi dulu, kau bisa menghubungi kami bila membutuhkan bantuan kami lagi ” Hanya deheman singkat yang dilontarkan oleh Aditya bahkan hanya seperti ngigau yang tak jelas bunyinya seperti apa. Usai menabur bunga yang entah kesekian kalinya Aditya duduk tersandar memandangi ketiga kuburan anaknya yang bahkan belum sempat ia lihat rupanya. Ada yang retak dalam hatinya setiap melihat ketiga gundukan yang selalu segar setiap harinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD