Hari Ketiga (3/4)

1711 Words
Melinda pergi begitu saja setelah memberitahu jika Reyga tidak akan dikeluarkan dari sel hari ini untuk keamanan. Anita masih berdiri di depan jeruji sel, tersenyum lembut yang mengingatkan Reyga pada ibunya sendiri. "Jangan takut. Melinda itu sebenarnya anak yang baik kok. Cuman ada beberapa hal yang menurutnya adalah keputusan terbaik, meski agak terlalu keras sih. Dia nggak ingin ada banyak keributan," jelas Anita. Reyga mengangguk paham. Menurutnya ia memang lebih baik di dalam sel daripada berhadapan dengan Rudy yang berniat akan membunuhnya. "Kalau mau, Ibu akan di sini untuk menemani kamu." Tawar Anita. "Ma... Makasih, Bu..." Reyga bersyukur karena ia masih memiliki kesempatan bertemu dengan orang baik seperti Anita. Anita segera duduk ke permukaan lantai, bersandar pada jeruji sel. Reyga juga ikut duduk. "Ini sebenarnya ada dimana ya, Bu?" Reyga bertanya. "Kita berada di Polsek Johar. Tempat ini cukup aman untuk kita," jawab Anita. "Terus... Saya dengar Ibu dan Mbak Melinda..." Reyga sedikit kikuk memanggil Melinda dengan sebutan 'mbak'. Tapi memang Melinda kelihatan cukup muda, mungkin usianya masih diawal 30 tahun atau malah kurang dari usia itu. "... kalian berdua ngomongin orang yang namanya Surya. Surya itu... siapa?" "Oh... Surya..." Anita mengangguk-angguk. "Surya itu adalah pemimpin pasukan evakuasi. Melinda termasuk dalam anggota tim tersebut. Pusat mengirimkan beberapa tim evakuasi yang ditugaskan ke setiap area di Jakarta. Tapi setahu Ibu, banyak tim yang nggak berhasil dievakuasi. Tim Melinda juga nggak beruntung. Mereka hanya berhasil melakukan evakuasi satu hari, setelahnya mereka terjebak. Jumlah Maligon meningkat pesat dan semakin ganas. Dan Surya ini terinfeksi tanpa ada yang mengetahuinya. Sama seperti kamu, Surya nggak menunjukkan gejala sama sekali selama beberapa hari." "Terus orangnya mana, Bu?" Reyga bertanya antusias. Dia ingin bertemu dengan orang yang bernasib sama seperti dirinya. Anita terdiam sesaat. "Hmm... soal itu... Sebelumnya Ibu dan suami Ibu yang berhasil dievakuasi, ditugaskan untuk menganalisis kondisi Surya. Dan sebelum kami sempat memeriksa keadaan Surya lebih jauh, Surya tiba-tiba saja menghilang. Dan sampai sekarang kami masih sedang mencari keberadaan Surya." Reyga terdiam. "Ke...kenapa dia menghilang ya, Bu?" "Nah, Ibu juga nggak tahu. Padahal waktu itu dia dikurung di dalam sel," Anita juga terlihat berpikir keras. "Waktu itu Surya sedang dalam kondisi yang cukup buruk." "Seburuk apa keadaannya, Bu?" Reyga bertanya. Anita memandang Reyga sebentar, lalu ia malah tersenyum. "Kamu pasti khawatir ya?" Tanyanya. "Keadaannya nggak kayak kamu di hari ketiga kok. Kamu bahkan kelihatan jauh lebih baik." Namun Reyga malah merasa tidak tenang mendengar kata-kata Anita. Ia masih penasaran mengapa Surya tiba-tiba menghilang. Apakah Surya kabur sendiri atau kah ada yang melepaskannya? Sayangnya Anita terlihat tidak mau lagi membeberkan apa pun tentang Surya. Mungkin alasannya tidak ingin membuat Reyga cemas dan ketakutan. Konyol sekali diperlakukan seperti ini oleh Anita. Padahal Reyga sudah 17 tahun, dia bukan anak kecil lagi. "Bu," Reyga sedikit ragu untuk bertanya lagi. Tapi ia terlalu penasaran dan mumpung Anita masih bisa diajak bicara. "Ibu tahu kenapa wabah ini bisa terjadi?" Anita malah terdiam, ekspresi wajahnya terlihat tidak nyaman. "Apa kamu tahu sesuatu?" Reyga mengangkat bahu. "Saya hanya tahu informasi dari radio, Bu. Saya dengar ada lembaga penelitian ilegal dan virus bobol tanpa disengaja." Anita menarik nafas berat. "Yang kamu denger itu memang benar," ia mengangguk. "Ibu dari kelompok peneliti yang mengembangkan virus itu." Reyga membelalak kaget. Hah? Yang benar saja? Anita menghela nafas. "Iya... Ini salah Ibu. Dan juga tim Ibu. Ibu nggak ngerti kenapa Ibu masih bisa selamat sampai hari ini, sementara teman-teman ibu sudah banyak yang meninggal... Atau bahkan berubah menjadi Maligon..." Reyga terdiam. Ia tidak tahu harus bersimpati atau marah setelah mengetahui fakta jika Anita adalah salah satu dari kelompok orang yang menyebabkan wabah mengerikan ini. "Jadi tujuan awal dari penelitian kami adalah untuk menciptakan obat dari segala penyakit," Anita melanjutkan. "Kami mengembangkan vaksin dari sebuah virus yang kami anggap dapat meningkatkan sistem imunitas tubuh manusia. Kami mengharapkan generasi baru yang sehat, tanpa kanker dan terhindar dari cacat kelahiran." "Sayangnya virus itu tidak cocok untuk DNA manusia," Anita menghela nafas lagi. "Sebelumnya kami mengujinya dengan hewan lab, dan tidak menunjukkan tanda-tanda fatal apa pun. Hingga akhirnya ketika kami selesai merampungkan vaksin ini, kami mulai mencobanya kepada manusia. Seharusnya kami segera berhenti ketika mendapatkan kegagalan, namun kami tetap saja melanjutkannya hingga menyebabkan wabah mengerikan ini." Reyga sebenarnya merasa marah mendengarnya. Tapi percuma saja. Toh, semuanya sudah terlanjur. Tidak ada gunanya mengungkit masa lalu. Yang lebih penting saat ini adalah... bagaimana caranya untuk bertahan hidup dan selamat dari wabah ini. "Lalu... Sekarang kita harus bagaimana?" Tanya Reyga yang kedengaran putus asa. "Apakah mereka benar-benar akan meledakkan Jakarta?" "Ya, itu yang Ibu dengar," Anita mengangguk dengan ekspresi pasrah. Reyga merasa ngeri. Pasukan bantuan saja gagal mengevakuasi warga, apalagi orang-orang biasa yang ditinggalkan di sini ia. Tentu sangat sulit bertahan hidup di dalam kota yang dipenuhi mayat hidup yang kelaparan serta virus yang ganas. Pantas saja orang dari Pusat tidak lagi mengirimkan bantuan. "Jangan terlalu dipikirkan. Untuk saat ini kamu istirahat dulu aja, OK?" Anita kembali menunjukkan sikap ceria yang kelihatan canggung. Tentu saja, mereka kan baru saja membahas penyebab asal mula wabah mengerikan ini terjadi. Reyga mengangguk. "OK, Bu." Jawabnya dan juga terdengar canggung. *** Reyga mengangkat wajahnya ketika seseorang muncul mendekati sel. Danang melemparkan sebotol air mineral dan satu bungkus roti ke dalam sel. Reyga segera menerimanya, namun masih memandang gugup pada Danang yang kini duduk di seberang sel. Mungkin pria itu mendapat giliran bertugas untuk mengawasi Reyga. "Ma... Makasih, Om," ucap Reyga yang dibalas dengan anggukan tanpa suara dari Danang. Reyga makan dengan canggung karena Danang diam saja menontonnya. Lalu akhirnya Danang mengabaikannya, yang kini menyibukkan diri mengelap ujung kapaknya yang runcing. Meski samar-samar, Reyga ingat kapak itu pernah menancap pada kepala Maligon yang menerkamnya sebelum ia pingsan. Reyga bergidik ngeri mengingatnya. "Semuanya aman?" Haikal tiba-tiba muncul dengan suara bariton cerianya yang memecah keheningan. Seketika saja Reyga dan Danang menoleh serempak ke arah Haikal. Reyga merasa sampai sekarang ia belum pernah mendengar Danang berbicara. Dan Danang hanya mengangguk untuk menjawab Haikal, bibirnya masih saja terkatup rapat. Dia menduga Danang itu tuna rungu. "Biar aku yang jaga, kamu bisa istirahat," ujar Haikal pada Danang. Danang sepertinya tidak perlu dinego karena ia segera pergi setelah Haikal menawarkan diri. Haikal duduk di depan sel, tersenyum ramah pada Reyga yang kikuk. "Kamu pasti khawatir dengan kedua teman kamu ya?" Tanya Haikal, menebak isi kepala Reyga. "Iya, gimana keadaan Karin dan Bayu, Pak?" "Aman, Dik. Karin sudah nggak demam lagi. Bayu bahkan lebih sehat dari sebelumnya. Keduanya kepengin ketemu sama kamu. Sayangnya Melinda belum mau mengizinkan." Reyga mengangguk mengerti. "Eum... Lalu gimana dengan Bang Rudy, Pak?" "Oh, itu juga aman. Bapak sudah mengancam dia. Yah, orang kayak dia emang perlu sedikit ancaman. Ya nggak?" Reyga tersenyum menyambut kata-kata Haikal yang setengah bercanda. "Jangan cemas. Bapak dan Bu Anita akan memastikan kalau kamu itu aman." Reyga mengangguk berterimakasih dengan kepercayaan pasangan suami istri ini. Mereka berdua ini... Keren sekali. Reyga sampai terkagum-kagum. "Pak..." Reyga memanggil ragu-ragu. "Apakah Bapak juga termasuk dalam tim peneliti?" Ekspresi wajah Haikal mendadak berubah. Dari tersenyum menjadi suram dalam sekejap. "Anita yang cerita ke kamu?" Reyga mengangguk. "Yah... Kami adalah anggota tim penelitian itu..." Haikal mengangguk, ia memalingkan wajah seolah merasa tidak nyaman membicarakan hal ini kepada Reyga. "Bapak bagian Genetika, sementara Anita bagian imunologi..." "Jadi... Kenapa saya nggak berubah menjadi Maligon, Pak?" "Bapak sudah membahas ini dengan Anita sebelumnya," Haikal menjawab. "Bisa dibilang... Kamu adalah good sample." "Hah... Good... sample?" "Ya, Dik. Sampel adalah sebagian dari populasi, objek yang diteliti. Dan good sample, sampel yang baik, salah satu syaratnya adalah sampel yang representatif atau yang mewakili. Dan kamu sebenarnya adalah objek yang cocok dalam penelitian ini. Sayangnya penelitian kami melibatkan virus dan manusia yang tentu tidak dapat kami kendalikan semau kami." "Saya tidak mengerti kenapa Bapak menyebut saya sebagai sampel yang baik," ujar Reyga, benar-benar merasa pusing dengan penjabaran Haikal yang seorang ahli genetika. "Lebih jelasnya adalah kita bahas lebih dahulu darimana virus ini berasal. Virus ini sama sekali belum dibeberkan ke masyarakat luas atas keinginan pemerintah. Virus ini juga masih langka dan hanya menginfeksi sebagian orang saja. Ditemukan di Asia tenggara, Indonesia dan Malaysia." Reyga sebenarnya tidak butuh pelajaran sejarah virus, tapi sayangnya ia tidak dapat menyela Haikal dalam melanjutkan penjelasan. "Virus ini menyerang manusia dengan menurunkan imunitas tubuh manusia hingga menyebabkan cacat dan kelumpuhan. Namun virus ini hanya menyerang pada orang-orang tertentu. Saya menyadari jika seharusnya kami, tim peneliti, juga harus meneliti kondisi tubuh korban yang terinfeksi pertama kali. Yang saya tahu, sebelumnya korban-korban itu adalah orang-orang yang sehat, seperti kamu. Dan juga Surya jika kamu sudah diberitahu." "Jadi begitulah, kami mengambil objek dari populasi tanpa menyeleksi dengan baik kemampuan imunitas objek dalam menyerap vaksin yang kami buat. Itu adalah kesalahan fatal. Objek yang kami gunakan gagal dalam menyerap vaksin hingga menyebabkan kelumpuhan pada sistem otak dan meningkatkan rasa lapar. Tidak seperti sifat virus aslinya yang sebelumnya hanya dapat terpapar pada orang-orang tertentu, pengembangan virus ini menyebabkan virus ini dapat dengan mudah terinfeksi pada siapa saja." Haikal menarik nafas. "Karena itu Bapak dan Anita berharap kamu dapat memberitahukan aktifitas tubuh atau otak kamu, agar kami dapat mempelajarinya. Mungkin kami dapat mencari tahu bagaimana mengobati orang-orang yang sudah terinfeksi itu di suatu hari." Tapi sorot mata Haikal sangat jelas merasa pesimis. Orang-orang yang sudah menjadi Maligon tentu tidak akan dapat sembuh kembali. "Jadi kalian mau saya jadi objek penelitian?" Tanya Reyga, menangkap basa-basi canggung Haikal kepadanya. "Ya, jika bisa, Dik. Bapak dan Anita sudah meminta Melinda untuk segera mengantarkan kita ke Pusat. Kamu harus dievakuasi terlebih dahulu." "Bukannya Jakarta mau diledakkan?" "Ya, benar. Tapi mungkin hal itu nggak akan terjadi jika kita bisa memperbaiki keadaan. Salah satunya adalah dengan mempelajari sifat virusnya dari tubuh kamu." Reyga terdiam. Ia merasa tidak nyaman menjadi objek suatu penelitian. "Kamu jangan cemas, Dik," Haikal seperti membaca pikiran Reyga. "Bapak dan Anita akan memastikan kamu aman. Hidup kita sekarang ada di tangan kamu." Reyga masih sedikit ragu. "Saya nggak yakin bisa membantu banyak. Tapi jika itu yang terbaik, mungkin memang itu yang harus saya lakukan." Haikal tersenyum lega mendengar keputusan Reyga. "Anak baik. Terima kasih sudah mempercayai kami." Ujar Haikal. Pria itu tersenyum lebar yang membuat Reyga teringat dengan ayahnya sendiri. Reyga menundukkan kepala. Ia semakin merindukan keluarganya saja. "Monster itu udah bangun ya?" Gelegar suara Rudy membuat Reyga nyaris terlonjak. Lalu ia melihat pria bertubuh besar itu masuk ke dalam ruangan sambil membawa pistol.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD