8.Hati-hati

1210 Words
8. Manic itu membulat saat menatap bayang yang tercipta didepan cermin sana. Saat sang tuan membuka kancing kemeja sang wanita dan menghisap manis kulit lembut wanita itu penuh gairah hingga membuat erangan-erangan erotis tercipta keras tanpa malu. “Alex!” wanita itu memanggil nama sang Tuan dengan desahnya saat wajah pria menurunkan kain penutup buah sang wanita, “Ya seperti itu!” dan sang wanita tersenyum lebar, mengelus surai sang tuan saat pria itu meremas buahnya dengan keras. “Apakah begitu enak saat buahmu diperas seperti ini?” Alex mengangkat kepalanya, bukan untuk melirik Gabriel yang berada dalam kuasanya tapi untuk melirik kearah almari kaca dimana si cacat sedang bersembunyi. Senyum Alex tersungging lebar saat manic si cacat yang semakin melebar dan kedua tangan wanita itu terangkat untuk mendekap mulutnya sendiri agar tidak berteriak histeris akibat tontonan dewasa yang gadis itu lihat. “Yah, enak sekali!” wajah Gabriel memerah sebagai symbol kenikmatan yang dia rasakan, “Cintai aku seperti biasanya Alex! Dan buat dirimu menikmati lembah madu yang berasal dari tubuhku!” tangan Gabriel terulur, membawa wajah Alex untuk menatap kearahnya. Wajah Gabriel terangkat, wanita itu seolah menginginkan sebuah ciuman mesra pada sang pria namun harapan itu tidak terwujud saat Alex mengalihkan wajahnya, menghindar. "Tidak ada ciuman!" suara itu mengalun pelan tapi sangat tajam dan keras. "Kalau begitu kita langsung saja ke permainan inti." Gabriel menahan diri untuk tidak mengumpat kasar. “Dengan senang hati saya akan melakukan apa yang kau pinta setelah sebelumnya kau mengacaukan kesenangan saya bersama dua jalang yang telah saya bayar dengan mahal.” Alex lantas bangkit dari atas tubuh Gabriel, melepaskan kemeja yang dia pakai dan melemparkannya keatas lantai. Dan Gabriel yang tergolek diatas sofa tentu saja tersenyum lebar sebelum akhirnya menggigit bibirnya sendiri dengan gerakan sensual, Gabriel memainkan puncak pinknya sendiri sembari menatap milik Alex yang berada didepannya itu. “Uh!” erangnya pelan sebelum wanita itu bangkit dari atas sofa tanpa peduli buahnya yang terpampang bebas dengan puncak pinknya yang mengeras. Wanita itu bersimpuh dibawah kaki Alex dan menarik turun celana pria itu. “Lakukan seperti biasa!” ucap Alex sembari menarik wajah Gabriel dengan kasarnya. “Tentu saja. Tanpa kamu suruhpun, aku akan dengan senang hati melakukannya, Alex.” Senyum Gabriel terbit wanita itu meraih kejantanan Alex yang masih tidur, mengecupnya lembut sebelum akhirnya mulut kecilnya itu terbuka, menjilat setiap sisi junior Alex yang masih tertidur sebelum akhirnya memasukkannya kedalam mulut. “Yah. Gunakan mulutmu dengan baik, Gabriel!” tangan Alex meraih surai Gabriel yang terurai, mendorong kepala wanita itu memakan miliknya. Alex yakin dalam posisi ini si cacat itu pasti bisa melihat dengan jelas bentuk kejantanan pria dan bagaimana cara untuk memuaskannya. “Yah!” satu erangan lolos dari balik bibir Alex, pria itu menikmati pekerjaan mulut Gabriel dibawah sana sembari menatap pantulan kaca yang mana telah menampilkan sosok si cacat yang kini terduduk dengan kedua tangan menutup wajah. ‘Si cacat itu pastinya sangat ketakutan.’ Dan Alex sangat senang melihat ketakutan yang dirasakan gadis disana dan itu sudah cukup bagi Alex untuk saat ini. “Cukup!” Alex mendorong wajah Gabriel menjauh dari kejantanannya, “Saya tiba-tiba tidak berminat melakukan hal seperti ini.” Alex membenarkan celananya kembali hingga membuat Gabriel menatapnya dengan ekspresi bingung. “Bagaimana mungkin kau tiba-tiba mengakhiri permainan kita yang bahkan baru saja dimulai?!” nada suara Gabriel terdengar tidak terima. “Saya bilang tidak itu berarti tidak!” “Tapi Alex?!” “Keluar!” pria itu memungut kemeja serta bra milik Gabriel yang tergeletak diatas lantai dan melemparkannya tepat ke wajah wanita itu, “Keluar sebelum saya memanggil salah satu pelayan dirumah ini untuk menikmati tubuhmu itu.” “Alex!” Gabriel menatap pria itu tidak percaya, “Kau mau melakukan hal itu padaku?” “Kenapa tidak?!” senyum Alex terpasang dan Gabriel tahu bahwa pria itu tidak pernah main-main dengan ucapannya. “b******k!” makian itu mengalun dengan kecil dari bibir Gabriel. Wanita itu buru-buru memakai pakaiannya dan langsung pergi dari rumah pria itu dengan membanting pintunya keras. Setelah kepergian Gabriel, Alex lantas melangkahkan kakinya menuju tempat dimana sosok mungil itu bersembunyi, menatapnya dengan tatapan tajam disertai dengan suara decihan yang cukup keras. “Apakah kau akan terus berada disini, hah?!” suara penuh bentakan itu membuat tubuh gadis yang terduduk dibawah sana bergetar kaget. “Maaf Tuan.” Namun gadis itu tidak berniat mengangkat kepalanya sama sekali. Gadis itu terlihat ketakutan namun dibalik itu dia tidak mau melihat sang tuan dalam kondisi yang tidak pantas. “Maaf kau bilang?! Kau pikir kata maaf bisa membuat mood saya untuk bersenggama kembali bangkit lagi?! Apakah kau mau menggantikan wanita yang telah saya usir tadi?!” dan ucapan yang keluar dari mulut Alex itu membuat gadis bernama Luna itu langsung mengangkat kepalanya. “Tidak Tuan! Saya tentunya sangat tidak pantas untuk melakukan hal itu dengan anda.” Wajah kusam gadis cacat itu terlihat pucat dan bibirnya terlihat bergetar ketakutan terlebih lagi saat manicnya tanpa sengaja menatap tubuh atas sang tuan yang kini tanpa berpenutup hingga menampilkan pemandangan seksi dengan balutan otot-otot sempurna disepanjang perut hingga akhirnya otot kekar itu membentuk garis V yang menghilang dibalik celana kain yang pria itu pakai hingga membuat Luna kembali menundukkan kepalanya,“Maafkan kelancangan saya karena saya telah mengintip kegiatan anda bersama kekasih anda…” “Saya terima permintaan maafmu itu, jadi jangan pernah mengulanginya lagi jika tidak mau menyesal dikemudian hari.” Dan Alex tersenyum lebar karena sangat menyenangkan saat dia bisa menikmati eskpresi ketakutan yang keluar dari wajah gadis cacat itu. “Sekarang kau bisa pergi ke tempatmu.” Alex mengusir Luna dengan tangan kirinya dan mendapatkan kesempatan untuk pergi tentunya tidak disia-siakan oleh gadis itu. “Tapi sepertinya saya perlu meralat sesuatu.” Ucapan yang keluar secara tiba-tiba itu membuat Luna menghentikan langkah kemudian membalikkan tubuhnya kearah sang tuan, “Wanita itu bukan kekasih saya. Dia hanyalah salah satu jalang yang beruntung.” Alex menatap Luna tajam, “Apakah kau paham dengan kalimat itu?” “Iya Tuan. Saya sangat paham dengan ucapan anda.” Angguk Luna pelan. “Baguslah.” Alex lantas menepuk bahu sempit gadis itu sebelum akhirnya pria itu menghilang dari balik tembok dimana ruangan pribadinya berada. Setelah pria itu pergi Luna juga langsung bergegas kembali ke kamarnya yang berada di pavilion sana. Luna buru- buru membuka pintu dan mengunci pintunya dari dalam. “Terima kasih telah menyelamatkanku hari ini, Tuhan!” tubuh gadis itu langsung meluruh diatas lantai seolah kehilangan tenaga setelah melihat tayangan dewasa yang tersaji secara langsung didepan matanya beberapa saat yang lalu. Jantung Luna berdetak lebih cepat bahkan nafasnya sangat sesak saat kejadian itu berlangsung, beruntung detik itu Luna tidak langsung pingsan. Namun dibalik itu semua, Luna kini mengerti kenapa semua pelayan di rumah ini adalah pria dan wanita berumur hingga membuat Pak Karim dan Bu Sri memintanya berpenampilan seperti ini karena bisa saja semua hal bisa terjadi tanpa bisa diprediksi. Luna menelan ludahnya serat saat sadar bahwa Sang Tuan adalah predator gila yang bahkan wanita yang sangat cantik tadi hanya diperlakukan tak ubahnya seperti jalang bagi pria itu. Pria itu lebih berbahaya daripada mucikari yang sedang mencarinya di luaran sana. “Apapun yang terjadi aku harus bisa bertahan sebelum akhirnya bisa keluar dari tempat ini dan serta membawa Ibu Arumi pergi dari sekapan Pak Rahardjo.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD