7. Hormon Sang Tuan (21+)

1456 Words
Alex datang ke Maximilian setelah jam kerjanya di Groovy usai. Pria itu melangkahkan kakinya menuju lantai 2 dimana gadis yang dia booking sudah menunggu di salah satu kamar yang ada disana. Dan benar saja, begitu pintu dibuka, Alex disuguhi pemandangan dua wanita yang mengenakan lingerie seksi berwarna hitam dan putih, berbaring dengan posisi menantang seolah siap untuk digauli. "Lakukan pekerjaan kalian! Sekarang!" suara pria itu mengalun keras. Tanpa diperintah dua kali, dua wanita seksi itu turun dari atas ranjang, berjalan kearah sang tuan kemudian memanjakan sang tuan dengan belaian tangan lembut mereka. Salah satu wanita penghibur itu tanpa malunya mengelus inti kejantanan Alex dari luar celana kain yang dia pakai, mengelusnya dengan gerakan penuh puja dan kekaguman saat senjata yang masih tertidur itu terasa sangat besar di telapak tangannya. “Milik anda sepertinya ingin menghirup udara segar, Tuan.” Wanita itu mendongakkan kepala, menatap sang Tuan dengan penuh permohonan, “Bolehkah saya membebaskannya?” “Lakukan apa maumu!” tangan Alex terulur mengelus rambut wanita itu dengan belaian lembut sebelum akhirnya berubah menjadi cengkraman keras, “Buat milik saya berdiri, Jalang!” diperlakukan dengan cara yang kasar seperti itu tidak membuat sang jalang ketakutan, wanita itu justru tersenyum lebar dan langsung membuka kancing celana Alex dan menarik turun celana pria itu beserta boxer yang dipakainya. Jalang itu tersenyum lebar saat apa yang dia mau tersaji dihadapannya, terlihat begitu besar meskipun dalam posisi setengah tidur. “Belum berdiri saja sudah sebesar ini." wanita itu tersenyum m***m, "Saya yakin, saya akan langsung menjerit nikmat saat milik anda masuk kedalam milik saya, Tuan.” Tangan wanita itu memegang kejantanan Alex tanpa malu sebelum pekik lirih keluar dari mulutnya saat Alex mendorong wanita itu untuk memasukkan kejantanannya kedalam mulut. “Jangan banyak bicara! Lakukan saja tugasmu! Gunakan mulutmu sebagaimana mestinya!” erang Alex begitu miliknya masuk kedalam mulut wanita itu tanpa peduli perbuatannya itu membuat sang jalang sempat tersedak. “Bukankan kemeja anda sangat menganggu?” wanita yang sedari tadi memuja tubuh atas Alex ikut bersuara, dia terlihat iri pada temannya yang kini sibuk menikmati kejantanan sang tuan, "Saya akan bantu lepaskan." Dan tangan lentik itu membuka satu persatu kancing baju sang tuan kemudian membuangnya begitu saja ke lantai. Wanita itu tersenyum senang dan langsung melayangkan kedua tangannya untuk menyentuh tubuh tegap pria itu. Menyentuhnya dengan gerakan memuja sebelum akhirnya wajah wanita itu menunduk dengan lidah terulur demi bisa menjilat dan mengecup tubuh yang terpahat seksi di depannya. "Engh!" Alex mengelus surai wanita itu saat sang jalang menjulurkan lidahnya untuk menggoda puncak dadanya. “Katakan bagian mana yang anda suka, Tuan.” Wanita dibawah sana mendongakkan kepala, menatap Alex dengan wajah nakalnya, “Anda suka bagian ini masuk kedalam mulut saya…” lidahnya terulur, menggoda ujung kejantanan pria itu, melakukan gerakan memutar sebelum akhirnya seluruh kejantanan Alex masuk kedalam mulutnya. “Atau anda suka jika saya bermain dengan bagian mungil ini?” wanita yang lain ikut bertanya dengan menjilati puncak d**a pria itu. “Saya lebih suka jika kita langsung bermain ke permainan inti!” jawaban Alex membuat kedua wanita itu terpekik senang. Alex berlalu kearah ranjang, berbaring disana dengan kejantanan yang sudah berdiri. “Lepaskan kain sialan kalian sekarang!” tanpa diminta dua kali, dua jalang itu langsung membuka lingerie mereka hingga total polos tak berpenutup. “Apakah kami berdua sudah cukup seksi untuk anda?” kedua jalang itu memamerkan bentuk tubuh mereka tanpa malu. “Apakah ukuran buah saya sesuai selera anda?” wanita itu menangkup kedua buahnya sambil sesekali memainkan puncaknya, “Terlihat sangat lembut, bukan? Saya membayangkan jika mulut anda menghisap buah saya dan juga menghisap dibawah sini.” wanita itu mengelus intimnya hingga membuatnya mengerang pelan atas perbuatannya sendiri. “Dan kami juga punya ini.” Salah satu jalang membalikkan tubuhnya, memamerkan bagian belakang tubuhnya. “Plak!” wanita itu menampar gemas bagian selatan tubuhnya. “Cepat kemari!” Mereka berdua mengambil tempat di kanan dan kiri sang tuan, merapatkan tubuh telanjang mereka hingga kulit bertemu dengan kulit. “Plak!” tangan Alex menampar bagian selatan tubuh wanita itu kemudian meremasnya dengan keras hingga membuat wanita yang kini sedang mengelus kejantanan Alex itu terpekik pelan, “Tuan!” rajuknya manja. “Lanjutkan pekerjaanmu tadi!” Alex membuka kedua kakinya hingga sang wanita bersimpuh dibawah kaki pria itu. “Tentu saya akan melanjutkannya, Tuan.” Senyum jalang itu lebar, memasukkan milik Alex kedalam mulutnya, melahapnya dengan lahap sembari memuaskan dirinya sendiri dibawah sana dengan jemarinya sendiri, membuat dirinya basah sebelum kejantanan besar sang tuan masuk kedalam inti tubuhnya. Jalang itu sudah tidak sabar menanti benda besar sang tuan masuk kedalam tubuhnya. Sedangkan jalang yang lain terlihat iri, dia juga ikut bersimpuh disebelah temannya. Dia ingin merasakan benda itu masuk kedalam mulutnya juga. “Pasang pengaman itu untuk saya!” Alex menyodorkan pengaman dan sang jalang dengan senang hati memasangkannya. “Engh!” erangan demi erangan tercipta saat sang jalang menggosokkan kejantanan Alex ke intinya yang basah dan berkedut, “Bolehkan saya masukkan sekarang? Milik saya sudah tidak sabar ini dimasuki, Tuan.” Manic itu meredup dan tanpa komando, Alex mendorong wanita itu hingga kejantanannya masuk sempurna ke inti tubuh sang jalang. “Ach!” manic itu terpejam erat dan detik berikutnya erangan terdengar disertai suara hentakan yang keras. “Tuannn…!” tubuh wanita itu terlonjak- lonjak tak terkendali, tubuhnya terbakar oleh rasa nikmat dan geli dengan rasa yang memabukkan. “Setelah ini, giliran saya.” Jalang yang lain menggigit bibirnya tidak sabar sembari memuaskan dirinya sendiri dengan jari namun rasanya hal itu kurang memuaskan baginya hingga dia menyelip dibawah temannya sembari mengulurkan lidah guna menjilati kedua bola kejantanan sang tuan yang terlihat sangat besar. “Tuan…” rengekan itu terdengar seperti jalang yang terpuaskan bahkan dia tidak peduli lagi kalau kini tangan sang tuan memukuli bagian selatan tubuhnya hingga tercipta rona merah yang menyengat. “Ya! Saya suka! Agh!” “Suka?!” Ekspresi Alex mulai aneh dan pria itu mengulurkan tangannya, mencengkram wajah jalang yang mengendarai tubuhnya itu, “Saya belum tentu suka!” “Brak!” Pintu terbuka dan sosok yang tidak diundang itu berjalan masuk ke ruangan itu tanpa rasa malu sedikitpun. Dan mereka bertiga sepertinya sama sekali tidak terganggu akan kedatangan orang asing di tengah permainan mereka bahkan andrenalin mereka terpacu semakin keras hingga permainan berjalan semakin panas. “Alex!” wanita itu adalah Gabriel. Dia menatap Alex yang sedang bersenggama dengan para jalangnya itu dengan ekspresi meledak. “Mau bergabung bersama kami?” Seringai itu terbit, “Giliranmu terakhir!” dan Gabriel yang mendapatkan tawaran itu mengeram kesal. “Minggir sialan!” Tangan wanita itu terulur, dengan kasar dia menarik jalang yang mengendari tubuh Alex hingga penyatuan keduanya terlepas. “Nona, Tuan belum keluar!” rengeknya sembari menatap kejantanan Alex dengan pandangan sayu yang menandakan bahwa dia ingin terus bermain dengan pria itu. “Saya juga belum merasakan milik Tuan, Nona.” Jawab yang lain dengan ekspresi kecewa, “Bagian bawah saya sudah basah ingin dimasuki juga.” Ucapnya tanpa malu sembari menggaruk inti tubuhnya yang suah banjir. “b*****t Sialan!” suara Gabriel mengalun keras yang juga merupakan akhir dari permainan Alex malam itu. “Mau kemana, kamu?” Gabriel menatap Alex yang bangkit dari atas ranjang dan kembali mengenakan pakaiannya, pria itu sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan Gabriel. “Alex!” suara Gabriel mengalun sepanjang jalan. Gabriel berusaha menyamakan langkah kakinya dengan langkah lebar Alex. “Brak!” Alex masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan Gabriel di pelataran parkir Maximilium seorang diri. “Sialan!” Namun Gabriel tetaplah Gabriel, wanita itu tidak patah arang. Dia segera masuk kedalam mobilnya sendiri dan mengikuti pria itu. “Apakah kau akan terus mengacuhkanku?!” suara Gabriel kembali terdengar saat mereka sampai di rumah pria itu, “Jika kau ingin bermain, kau bisa bermain denganku!” suara Gabriel mengalun keras, penuh dengan nada kemarahan dan cemburu yang kental. “Memangnya kau siapa berani mengatur saya?” Alex membalikkan tubuhnya dan menatap Gabriel dengan ekspresi kerasnya. “Kau tahukan mereka bisa saja terkena penyakit karena mereka bermain dengan banyak orang! Mereka berbeda denganku yang rutin control kesehatan!” “Bisakah kau diam! Mood saya buruk karena ulahmu! Jangan buat saya melakukan hal yang tidak kau inginkan, Gabriel!" “Aku belum selesai bicara! Argh!” Dan pekikan Gabriel terbungkam saat tubuh wanita itu terbanting diatas sofa. “Alex…” Gabriel tergagap, wanita itu menatap Alex yang berada diatasnya dengan manic terbelalak lebar. Alex melihat yang menurutnya Aneh itu mengurungkan niatnya untuk melintasi ruang tengah dan Alex tahu bahwa sosok yang menyebut dirinya Luna itu sedang bersembunyi dibalik dinding. “Yang kau inginkan adalah Seks bukan?” Dan Alex dengan sengaja mengeraskan suaranya supaya gadis cacat itu dengar. Dia ingin melihat bagaimana reaksi gadis aneh itu. “Lakukan seperti apa yang biasanya Jalang lakukan, Gabriel!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD