9. kekajaman itu Nyata🔞

1184 Words
Suara langkah kaki berbalut sepatu itu terdengar berirama mengetuk lantai hingga membuat seluruh pelayan yang berkumpul diruang tengah itu menundukkan kepalanya guna menyambut kehadiran sang tuan. “Saya harap sarapan kali ini tidaklah hambar seperti sarapan yang kalian siapkan kemarin.” Alex duduk di meja makan dan menatap mereka dengan tatapan tajamnya, “Siapa yang bertugas menyiapkan sarapan pagi ini?” “Saya tuan.” Seorang Wanita paruh baya bersuara sembari sedikit memajukan langkah kakinya ke depan. Alex memang seperti itu, dia suka memerintah orang membuatkan makanan untuknya apabila makanan itu tidak cocok di mulutnya maka Alex akan mengamuk dan membuang makanan itu tepat di wajah orang yang mengolah makanannya. “Apakah kau yakin benda yang kau sajikan ini bisa dimakan?” Alex mengambil pisau dan mulai memotong daging asap yang disiapkan oleh sang pelayan. “Saya sangat yakin tuan.” Suara pelayan itu terdengar bergetar, “Saya sudah memastikannya sendiri dengan cara mencicipinya.” Dan ucapan sang pelayan membuat gerak tangan yang memegang pisau itu berhenti. “Mencicipi?” Alex tergelak, “Kau memberikan makanan sisa untuk saya?” suara itu naik dengan nada satu oktaf diiringi suara gebrakan meja yang keras hingga membuat semua orang terpekik takut. Prang! Piring dilempar, menghantam lantai hingga porselin mahal itu hancur dan membuat seluruh isi piring berceceran “Maaf Tuan,Bukan begitu maksud saya.” Sang pelayan berlutut, memohon ampun, “Saya sama sekali tidak memberikan makanan sisa untuk anda.” Tubuh wanita paruh baya itu bergetar ketakutan. “Jadi maksudmu saya yang tidak paham dengan napa yang barusan kau ucapkan?” Alex bangkit dari duduknya, berjalan kearah si pelayan dan mencengkram wajahnya dengan tangan kiri kemudian membawa wajah pelayan itu mendongak menatapnya. “Kau pikir saya orang t***l yang tidak bisa mencerna ucapanmu, hah?!” cengkraman itu semakin keras hingga membuat wanita paruh baya itu menangis. Dan mereka yang melihat kelakukan keras sang tuan tidak ada yang berani bertindak untuk membantu karena bisa jadi mereka juga menjadi sasaran kemarahan tidak jelas dari pria itu. Termasuk Luna yang berdiri di deretan pelayan. Gadis itu meremas seragam yang dia gunakan sebagai pegangan diri. Luna ingin membantu tapi dia sadar tubuhnya lebih kecil dan lebih lemah dari siapapun yang ada disini. “Kalau kau menganggap saya salah paham, saya akan memaafkan dan tidak memberikan hukuman berat untukmu?” tawaran sang tuan tentu saja mendapatkan anggukan semangat dari sang pelayan. “Maka makanlah makanan itu.” Alex menolehkan kepalanya kearah makanan yang berserakan di lantai. “Tapi tuan…” pelayan itu meneguk ludahnya serat, menatap makanan yang berceceran itu dengan pandangan jijik yang ketara. “Sepertinya kau rela untuk kehilangan lidahmu yang lancang daripada menuruti perintah saya?” senyum mengerikan itu terbit dan semua orang tahu jika sang tuan berekspresi demikian maka tandanya tidak ada yang mustahil dari ucapan pria itu. Alex lantas berdiri, berjalan kearah meja makan dan mengambil pisau yang ada disana. Pria itu menguji ketajaman pisau kecil itu dengan mengiris ibu jarinya sendiri hingga darah secara perlahan keluar dari kulitnya yang telah robek. “Tidak!” geleng pelayan itu keras, “Saya akan melakukan apapun perintah anda, Tuan.” Pelayan itu merangkak kearah dimana makanan itu berada, mengambil daging yang tergeletak diatas lantai dengan menggunakan tangannya. “Siapa yang menyuruhmu menggunakan tangan?” ucapan yang keluar dari bibir Alex membuat pelayan itu menghentikan gerakannya, “Gunakan lidah lancangmu itu secara langsung!” sengitnya. “Baik, Tuan.” Pelayan itu menganggukkan kepala, secara perlahan wanita itu membungkukkan kepalanya dan mulai menjulurkan lidah sembari menahan tangis yang siap meluncur di pelupuk matanya saat memakan daging asap yang tergeletak diantara pecahan porselin seolah dia adalah anjing liar yang kelaparan. Luna yang baru pertama kali melihat kelakuan bengis sang tuan hanya bisa tersikap kaget dengan jantung berdetak penuh takut pasalnya pria itu melakukan orang seenak hatinya seolah mereka adalah binatang. “Bagaimana makanan yang kau buatkan untuk saya?” Alex meraih apel yang ada diatas meja, “Apakah seenak yang kau pikirkan?” lantas menggigit apel itu dalam gigitan besar. “Sangat enak Tuan.” Angguk pelayan itu setelah menelan serat daging yang telah kotor itu. “Kalau begitu habiskan tanpa ada sedikitpun sisa.” Alex lantas menunjuk saus yang berceceran dilantai, “Termasuk saus yang telah kau buat itu.” “Iya. Saya akan memakannya.” Angguknya berat dengan bahu melemas menahan muntah tapi mau tak mau wanita itu tetap melakukan perintah sang tuan. “Malam ini saya akan pulang cepat jadi pastikan makan malam sudah siap ketika saya sampai di rumah.” Alex mengedarkan pandangannya kearah para pelayan yang semakin menundukkan kepala mereka. “Dan makan malam saya akan dibuatkan oleh si Cacat.” Dan suara Alex bagai petir yang menyambar keras ditelinga Luna. “Saya akan makan makanan apapun yang kau buatkan untuk saya.” Alex berjalan mendekat kearah Luna dengan jemari mengangkat wajah gadis itu, “Pastikan kau membuat makan malam special untuk tuanmu ini dan pastikan juga untuk tidak membuat kesalahan sepert orang t***l itu.” Tunjuknya pada si pelayan yang masih melanjutkan perintah sang tuan kemudian tangan pria itu terulur, menepuk keras kepala Luna sebelum akhirnya pergi. “Sudah cukup hentikan! Tuan sudah pergi!” Suara Pak Karim mengalun keras dan tanpa diminta, Sri langsung berlari kearah wanita paruh baya yang makan makanan diatas lantai itu, membantunya berdiri dan membawanya untuk pergi kearah kamar mandi terdekat untuk memuntahkan seluruh makanan yang masuk kedalam perutnya sedangkan pelayan yang lain mulai kalang kabut untuk membereskan kekacauan yang diciptakan tuan mereka. “Minumlah ini.” Luna dengan sigap memberikan teh hangat kepada pelayan malang tadi saat wanita itu selesai mengeluarkan seluruh isi perutnya dan kini sedang duduk di meja dapur. “Terima kasih.” Manic paruh baya itu menggenang penuh air mata sebelum akhirnya meraih gelas yang diberikan Luna dan menyesapnya dengan teramat pelan. “Apakah anda tidak apa-apa? Perlu saya buatkan sesuatu untuk anda supaya perut anda lebih baik?” Luna menatap wanita itu khawatir, “Kenapa anda tetap bertahan di tempat seperti ini jika anda diperlakukan sedemikian buruk oleh Tuan Alex?” “Gaji di rumah ini sangat besar. 3 kali lipat dari tempat lain, selain itu saya juga punya hutang budi yang cukup besar pada mendiang Ibu Tuan Alex.” “Tapi Tuan bersikap seperti itu kepada anda…” setiap orang punya alasan cukup kuat untuk bertahan di rumah ini, termasuk Luna. “Saya tidak apa-apa.” Wanita itu tersenyum teduh, “Yang perlu kamu pikirkan adalah nasibmu nanti malam, Luna.” Dan ucapan yang keluar dari mulut pelayan itu membuat Luna tergugu. “Saya tidak tahu makanan apa yang harus saya siapkan untuk Tuan nanti.” Luna terdiam dengan wajah tertunduk lesu, dia pastinya membayangkan jika kejadian mengerikan itu terjadi juga padanya. “Tuan tidak suka makanan pedas, beliau suka makanan yang punya aroma rempah yang kuat.” Sri datang dan duduk disalah satu kursi yang ada disana, “Kamu bisa mencoba makanan khas Indonesia untuk nanti malam.” “Bagaimana kalau tidak cocok dengan selera Tuan nanti?” luna tertunduk dengan tangan berkeringat dingin. Luna tidak bisa membayangkan jika dirinya diperlakukan seperti hewan liar oleh sang tuan. “Kami akan membantumu, Luna.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD