“Kenapa Bapak bertanya seperti itu?” Akhirnya aku memberanikan diri untuk membuka suara. “Apa aku tidak boleh tahu masa lalu istriku sendiri, ya?” katanya membuatku tertegun lagi. Dia bilang, istri? Pak Abidzar memanggilku istrinya? Apa namaku sudah tertulis di hatinya walau masih dengan huruf kecil? “Benar, ‘kan?” Suaranya membuatku tersadar, cepat aku memalingkan pandangan. “Kenapa Bapak bisa tahu?” tanyaku sambil menatap Monumen Nasional kembali. “Karena aku lihat dia sangat perhatian denganmu.” “Tidak, Pak. Dia tidak perhatian.” “Tapi saat kamu kena tumpahan air panas waktu di rumah makan, dia begitu sigap memegangi dan menyingkirkan tanganmu.” “Itu hanya refleks, Pak.” “Memangnya kamu tahu itu refleks?” ujarnya lagi, entah kenapa malam ini Pak Abidzar lebih banyak bicara. “I

