“Ayo, masuk.” “I-iya, Pak.” Aku tergagap mendengar suara Pak Abidzar, lalu menyudahi keterpanaan saat melihat ruangan yang terlihat mewah dan megah. Setelah masuk ke dalam, aku malah merasa bingung harus berbuat apa. Sedangkan Pak Abidzar lenyap ke ruangan yang sepertinya adalah sebuah kamar mandi. “Kenapa masih berdiri di situ?” tukasnya membuatku terkejut. “Tidur, lah, istirahat. Atau mau makan dulu?” tawarnya. “Terserah Bapak saja,” jawabku sambil mengulas senyum, tapi hatiku grogi bukan main. Pak Abidzar mengangguk-angguk, lalu menyuruhku duduk kembali. Aku pun menurut dan mendekat ke dekat ranjang yang luasnya entah berapa hektare. Terlalu berlebihan memang, tapi baru pertama kali ini aku melihat tempat tidur sebesar itu. “Sebentar, ya. Aku mau telepon dulu.” “Iya, Pak.” Tanp

