Eun Ji berjalan menyusuri koridor sekolah masih dengan tas ransel yang menggantung di pundaknya, ditambah beratnya beberapa buku tebal yang diangkatnya hingga menghalangi sebagian pandangannya ke depan. Kepalanya menoleh ke kiri-kanan untuk melihat jalan di depannya.
"Aishh ... benar-benar menyebalkan!" gerutu Eun Ji sebal. Dia tidak akan repot-repot naik-turun tangga dengan beban berat begini kalau bukan karena Kim ssaem, guru matematika yang terkenal galak dan pemarah itu menyuruhnya. Seandainya saja Eun Ji tidak datang sepagi ini.
Masih menuruni anak tangga, Eun Ji tanpa sengaja menjatuhkan beberapa buku yang diangkatnya. Saat hendak berjongkok untuk mengambil buku-buku itu, seorang pemuda berlari ke arahnya dan tanpa sengaja menyenggol Eun Ji. Dan tebak apa yang terjadi. Kini semua buku di tangannya terjatuh berhamburan di tangga. Eun Ji berdiri dengan geram lalu berbalik kepada si penabrak yang sekali pun tidak menoleh ke belakang.
"YA!" Eun Ji menghentakkan kedua kakinya jengkel. Rasanya dia ingin menangis detik ini juga. Eun Ji menarik napas dan membuangnya berkali-kali untuk menenangkan diri dan mulai bergerak membereskan buku-buku itu. "s**l sekali pagi ini."
Sepasang kaki berdiri di hadapan Eun Ji yang tengah berjongkok. Sambil tersenyum, Jin Young ikut berjongkok dan membantu membereskan buku yang tersisa.
"Gomawo, chingu-ya," ucap Eun Ji kemudian.
Jin Young yang mendengarnya seketika terdiam sejenak dengan senyumnya yang memudar. Namun dengan segera dia menyodorkan buku di tangannya pada Eun Ji.
"Ne," balas Jin Young.
••
Suasana kelas yang sedari tadi ribut, kini menjadi hening setelah salah seorang murid menyebarkan berita bahwa guru akan datang. Tak lama kemudian, pintu dibuka dan seorang guru masuk. Eun Ji segera melepas earphone sebelum kena teguran dan disita seperti terakhir kali.
Guru itu masuk ditemani seorang laki-laki yang tampaknya tidak asing di mata Eun Ji.
Tunggu. Dia, 'kan ....
"Selamat pagi. Hari ini kalian akan mendapat teman baru. Silakan perkenalkan dirimu," perintah Lee ssaem.
Laki-laki itu kemudian membungkuk seraya tersenyum. "Annyeong haseyo, Mark Kim imnida. Saya murid pindahan dari LA. Nice to meet you all. Saya berharap kalian bisa menerima saya dengan baik di kelas ini."
Semuanya bertepuk tangan, kecuali Eun Ji. Bahkan ketika teman-teman perempuan sekelasnya mengagumi parasnya, Eun Ji masih bergeming menatap laki-laki itu tanpa berkedip.
Mark mengedarkan pandangan ke seisi kelas, dan objek perhatiannya mendarat pada Eun Ji. Sebelah alisnya terangkat. Meski dari tempat duduknya, Eun Ji bisa melihat bagaimana satu sudut bibir laki-laki itu terangkat.
"Ok. Kamu bisa duduk di sana." Lee ssaem menunjuk ke arah bangku kosong di sebelah Eun Ji. Eun Ji membelalak. Bukan hanya karena Mark adalah laki-laki menyebalkan malam itu yang dia pikirkan, tapi juga karena selama ini Eun Ji sudah nyaman duduk sendirian. Sekalinya dapat teman duduk, kenapa harus laki-laki s****n itu?
"Kau beruntung karena bisa duduk di sampingnya," bisik Hye Rim yang duduk di belakang Eun Ji.
Eun Ji geleng-geleng kepala, tidak mempercayai takdir yang menimpanya. Ini sama sekali bukan sesuatu yang bisa kubanggakan.
Mark berjalan menuju bangkunya, lalu duduk tanpa memedulikan gadis yang duduk di sebelahnya itu.
Beberapa saat setelah Lee ssaem keluar dari kelas, keadaan kembali seperti semula, gaduh. Eun Ji kembali mendengar lagu lewat mp3-nya untuk menenangkan dirinya dan mengaluhkan perhatiannya dari Mark, Hye Rim mengerjakan tugas, dan Mark yang sebelumnya duduk tenang di tempatnya akhirnya bangkit berdiri menghampiri sekelompok pemuda di pojokan kelas.
"Hei guys!" sapa Mark pada sekelompok pemuda itu.
Eun Ji menoleh setelah merasakan punggungnya dicolek Hye Rim. Hye Rim menunjukkan senyum lebarnya yang membuat Eun Ji mengerutkan kening.
"Wae?" tanya Eun Ji sembari melepas earphone dari telinganya.
"Aku tau kau sangat baik, Eun Ji-ya."
Kali ini Eun Ji memutar setengah badannya ke belakang. "Apa maksudmu?" Eun Ji bertanya sekali lagi.
"Boleh kulihat tanganmu?" Hye Rim menunjuk tangan kanan Eun Ji.
Eun Ji mengangkat tangannya hingga tepat berada di depan wajah Hye Rim.
"Wah ... mulus sekali ...." Hye Rim mengelus pelan telapak tangan Eun Ji. Namun, dalam sekejap mata Hye Rim meletakkan bola-bola kertas di atasnya, lalu kabur ke bangku yang lebih jauh dari Eun Ji.
"Ya! Aishh ... kau benar-benar menyebalkan. Jangan memberi harapan palsu kalau kau hanya menginginkan sesuatu dariku!" Setelah berteriak, Eun Ji akhirnya bangkit dari tempat duduk dan melangkahkan kakinya untuk keluar dari sela-sela kursi dan mejanya menuju tempat sampah yang berada di pojok ruang kelasnya.
"Kim ssaem datang!" teriak salah satu murid yang baru saja mengintip lewat celah kecil dari pintu yang sedikit terbuka.
Eun Ji sontak ikut panik saat murid-murid lain menyambarnya untuk berlari kembali ke tempat duduk masing-masing. Eun Ji semakin terkejut lagi saat menyadari seseorang dari sekelompok pemuda di pojokan kelas itu berbalik dengan cepat, dan akhirnya menabrak tubuhnya hingga terjatuh. Kali ini keduanya sama-sama terjatuh dengan tubuh laki-laki itu menindihnya.
Cup.
Dalam sepersekian detik yang sangat singkat itu, Eun Ji memejamkan mata dan merasakan sesuatu yang lembut dan hangat mendarat di bibirnya. Eun Ji membuka matanya yang langsung bertemu sepasang mata milik Mark yang hanya berjarak beberapa senti saja dari matanya. Kertas yang sejak tadi digenggamnya berguling jatuh dari telapak tangannya yang terbuka di lantai.
Seluruh murid seketika berkerumun untuk menyaksikan kejadian langka itu. Sebagian dari mereka mengeluarkan ponsel mereka dan mengambil gambar Eun Ji bersama Mark.
Menyadari itu, Eun Ji buru-buru mendorong tubuh Mark agar menjauh darinya, lalu bangkit secepat mungkin. Namun Eun Ji terdiam begitu menyadari seorang guru perempuan berdiri di dekat mereka dan menyaksikan semuanya.
••
Eun Ji menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya memberanikan diri untuk memasuki kelas. Pemandangan pertama yang Eun Ji lihat setelah beberapa menit di ruang BK adalah seluruh teman kelasnya berkumpul di tengah-tengah kelas, hendak memperbincangkan sesuatu diam-diam. Tapi begitu sadar kehadiran Eun Ji, mereka segera bubar dan bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Eun Ji menyadarinya. Satu-satunya yang dapat dilakukannya saat ini hanya diam dan berusaha untuk tidak peduli.
••
Eun Ji menarik napas lalu membuangnya kembali. Dia mengulangnya beberapa kali lalu memberanikan diri mengetuk pintu ruang kerja ayahnya. Eun Ji memutar gagang pintu perlahan, kemudian menutupnya kembali setelah ia masuk di dalam ruangan.
"Appa ...," panggil Eun Ji.
"Ne?" Ayahnya mengalihkan pandangannya dari laptop.
Eun Ji mendekati meja kerja ayahnya yang dipenuhi berkas-berkas keperluan kerja, lalu menyodorkan sebuah amplop putih. Tidak lama setelah itu, ayahnya meraih amplop itu dari tangan Eun Ji.
"Itu ... surat panggilan. Aku tidak sengaja membuat kesalahan itu. Percaya padaku, Appa. Ini semua karena Mark! Dia yang membuatku berada dalam masalah ini," jelas Eun Ji, takut ayahnya akan marah padanya.
"Nugu? Siapa kau bilang?"
"Mark. Mark Kim.”
Ayahnya kemudian membaca isi surat itu. Dia tampak lebih tenang dari yang Eun Ji kira.
"Appa akan datang besok. Kamu tenang saja." Ayahnya memasukkan kembali surat itu ke dalam amplop lalu kembali memfokuskan perhatiannya kepada laptop yang menyala di depannya.
"Baiklah," balas Eun Ji pasrah.
••
"Bukan seperti itu. Dia yang memulai! Dia yang membuat masalah! Trust me. Jika bukan karenanya, mungkin surat ini tidak ada di sini sekarang." Mark mencoba menjelaskan pada ayahnya.
"Siapa nama anak itu?"
"Kalau tidak salah ... Lee Eun Ji."
"Lee ... Eun Ji?"
••
Eun Ji berjalan gontai menuju kamar, tempat kesukaannya di rumah selain ruang makan. Tubuh mungil itu terhempas begitu saja hingga terbaring telentang di atas ranjang. Sepasang matanya menatap langit-langit kamarnya sembari memainkan jemarinya di atas perut. Kemudian sebuah ingatan yang muncul di kepalanya.
Eun Ji mengangkat tangan kanannya, lalu jemarinya bergerak menyentuh bibir. Tatapannya kosong.
"Bagaimana mungkin ... itu bisa terjadi?" gumamnya pelan.
"Dia menciumku ...."
"My first kiss? Dengan Mark?!"
Eun Ji bahkan tidak bisa menerima kenyataan gila itu.
"Jangan seperti ini, Lee Eun Ji! Kau membencinya!" teriak Eun Ji menggema dalam kamarnya.
••