Eun Ji menatap pantulan dirinya melalui cermin yang berdiri tegak di hadapannya saat ini, merapikan rambutnya, seragam, dasi, jas almamater, kaos kaki, dan sepatunya. Semuanya sudah lengkap dan rapi. Setidaknya, Eun Ji bertekad ingin membuat hari ini lebih baik dari pada kemarin.
Mengingat kejadian kemarin, Eun Ji naik darah lagi. Mark. Karena laki-laki itu, dirinya berada dalam masalah sekarang. Lee Eun Ji, yang terkenal tidak pernah berbuat ulah di sekolahnya, akhirnya mendapat masalah yang sebenarnya bukan karena ulahnya. Semuanya, semua yang terjadi, adalah karena dia, Mark.
"Tenangkan pikiranmu, Lee Eun Ji," ucapnya, lalu menarik napas dalam-dalam dan membuangnya kembali.
Saat hendak mengambil tas di atas sofa, tanpa sengaja matanya mendapati gaun hitam yang tergantung di dalam lemarinya yang masih terbuka. Kenapa rasanya seperti semua hal di sekitarnya mengingatkannya pada Mark?
"Sudah cukup. Sudah cukup dia membuat hariku buruk." Eun Ji melangkahkan kakinya mendekati lemari secepat mungkin, lalu membanting pintunya sampai terdengar menggema di kamarnya, bahkan mungkin terdengar sampai di luar kamarnya. Setelah selesai dengan lemari, Eun Ji bergegas menuju ke kamar ayahnya.
"Appa. Aku berangkat. Annyeong!" pamit Eun Ji, lalu segera beranjak keluar dari rumah.
"Jin Young!" Eun Ji terkejut melihat Jin Young berdiri di depan rumahnya dengan senyum merekah di wajahnya. Eun Ji menghampirinya masih dengan ekspresi wajah bingung.
"Selamat pagi,” sapa Jin Young bersemangat.
"Ada apa? Tumben sekali."
"Tumben? Bukannya aku sudah sangat sering ke sini dan menjemputmu?" protes Jin Young.
"Ah, mianhae. Aku lupa."
Jin Young tersenyum sesaat, lalu membukakan pintu mobil untuk Eun Ji masuk.
••
Jin Young berjalan di belakang Eun Ji menyusuri koridor sekolah untuk sampai di kelas masing-masing. Jin Young memperhatikan Eun Ji dari belakang. Dilihat dari gerak-geriknya dan sikap gadis itu terhadapnya, sepertinya dia sedang menyembunyikan sesuatu, jika tidak, mungkin ada hal lain yang dipikirkannya. Bayangkan saja, selama 15 menit perjalanan dari rumah Eun Ji ke sekolah, Eun Ji sama sekali tidak ingin memulai obrolan dengan Jin Young. Berbeda dengan Eun Ji yang seperti biasanya yang tampak ceria dan bersemangat, juga selalu menjadi orang pertama yang memulai pembicaraan dengan siapa pun. Jin Young seperti bertemu dengan Lee Eun Ji yang bertubuh dan berwajah sama, tapi jiwa dan kepribadiannya berbeda.
Eun Ji tidak bisa menghapus ingatannya tentang kejadian kemarin. Jika perlu, Eun Ji ingin mengalami amnesia saja agar semuanya itu terlupakan. Eun Ji mulai gelisah karena hal itu. Bahkan ketika masuk ke kelasnya, di mana beberapa teman kelasnya telah datang lebih awal darinya, Eun Ji seperti masuk ke dalam sebuah ruangan di mana dirinya benar-benar seperti terasingkan dari yang lain. Beberapa teman kelasnya menatapnya dengan tatapan menghakimi, membuat Eun Ji hanya bisa berjalan tertunduk, guna menahan rasa malu yang sejak tadi mulai ia rasakan.
Eun Ji menghampiri sebuah bangku yang terletak di ujung belakang kelasnya. Seperti yang telah disepakati oleh wali kelasnya dan dirinya beserta Mark kemarin, kalau mereka akan duduk dengan jarak yang terbilang sangat jauh. Mereka sama-sama duduk di ujung kelas itu. Meskipun begitu, Eun Ji merasa cukup lega. Karena ia tidak perlu bertemu dengan laki-laki menyebalkan itu.
Panjang umur! Laki-laki itu akhirnya datang. Dengan wajah sok cool-nya membuat tangan Eun Ji gatal ingin menampar pipinya sekeras mungkin. Eun Ji menunjukkan senyum miring ketika Mark juga memperhatikannya. Eun Ji terpaksa membuang muka. Jika hal itu tidak dilakukan, laki-laki yang menjadi objek perhatian Eun Ji tadi itu akan besar kepala.
Tidak lama setelah Mark duduk di bangkunya, dia menggelindingkan sebuah bola kertas ke arah Eun Ji hingga tepat mengenai sepatu gadis itu. Eun Ji yang merasakannya buru-buru mengambil kertas itu dan membukanya.
'WANT MORE?'
Eun Ji membulatkan matanya setelah membaca tulisan itu. Secepat mungkin ia menoleh kepada si penulis yang berada di seberangnya itu. Tahu-tahu Mark mengedipkan sebelah matanya dengan jahil saat Eun Ji menoleh ke arahnya. Benar-benar membuat Eun Ji mual. Jengkel, Eun Ji akhirnya berdiri sembari memukul keras mejanya dengan kedua tangannya.
"Ya! Apa yang kau inginkan, huh?" seru Eun Ji menggema dalam ruang kelasnya. Seketika dirinya menjadi pusat perhatian teman-teman kelasnya yang sebelumnya sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Mark dengan santai menanggapi teriakan itu dengan senyuman seraya berdiri menghadap ke arah Eun Ji.
"Sejujurnya, aku tidak ingin apa-apa. Kupikir, kau yang menginginkan sesuatu dariku, benar, 'kan?"
Eun Ji menaikkan sebelah alisnya, bingung dengan perkataan Mark.
"Kau seperti ini karena kau ingin balas dendam padaku karena sudah merusak gaunmu. Kau selalu mencari kesalahanku agar kau bisa menang. Karena itu juga kau selalu membesar-besarkan masalah. Kau selalu ingin bertengkar denganku. Padahal, dengan permintaan maaf yang tulus saja, seharusnya membuat kita berteman sejak saat itu. Dan masalah kemarin, itu bukan sesuatu yang disengaja, 'kan? Tapi kau bersikap seolah-olah kau menuduhku dan menyalahkanku atas apa yang terjadi. Bukan begitu, Lee Eun Ji?"
Eun Ji terdiam. Dia tidak tau apakah harus membentaknya sekali lagi, atau harus membenarkan ocehan Mark barusan. Di satu sisi, dirinya sendiri merasa bahwa yang dikatakan Mark adalah benar. Tapi di sisi lain, Eun Ji tidak bisa diam saja diperlakukan seperti ini. Apakah ia mulai egois?
"Terima kasih ... karena sudah memancing amarahku lagi." Eun Ji melempar kertas dari Mark tadi lalu bergegas keluar dari kelas. Mark yang melihatnya hanya berdiri diam sembari memperhatikan gadis itu yang hendak berjalan keluar dari kelas dengan tangannya yang dikepal.
••
Eun Ji menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Entah apa yang dipikirkannya, yang jelas dan pasti bahwa Mark adalah salah satu yang dipikirkannya. Ya, mungkin hanya Mark. Kedatangan laki-laki yang menurutnya b******k itu membuat hidupnya terasa seperti di neraka.
Eun Ji meluruskan kakinya meski sedang melamun. Tapi kemudian, lamunan itu akhirnya buyar juga ketika ponsel yang disimpannya dalam saku jas sekolahnya bergetar. Ia akhirnya membuka pesan yang baru saja masuk itu.
"APA-APAAN INI?!” teriakan itu menggema dalam lapangan olahraga indoor itu. Eun Ji yang sedari tadi bersandar pada dinding akhirnya menegakkan badannya.
'Lee Eun Ji, si siswi populer yang terkenal tidak pernah memiliki hubungan spesial dengan satu lelaki pun, yang tidak pernah menimbulkan masalah, akhirnya mendapatkan ciuman pertamanya dengan si tampan Mark, murid baru itu. Ia sedang dalam masalah sekarang! Lihatlah!'
Sebuah foto terpampang dalam pesan itu. Tebak itu foto apa. Foto itu diambil saat dirinya dan Mark tanpa sengaja berciuman. Eun Ji mencengkeram ponselnya kuat-kuat, lalu tertunduk. Siapa yang berani melakukan ini padanya?
••
Eun Ji yang awalnya berniat untuk kembali ke kelas, urung ketika melihat ayahnya yang tengah berjalan menuju ke ruang guru. Ia kemudian mengikuti ayahnya masuk ke dalam ruangan itu. Mark dan ayahnya juga ada di sana.
Eun Ji dan Mark saling melempar tatapan dingin satu sama lain. Yang membuat keduanya bingung, ayah mereka masing-masing tenang dan santai membicarakan masalah yang sebenarnya serius bagi Eun Ji dan Mark. Eun Ji semakin kaget lagi ketika senyuman dari ayah masing-masing terus nampak sejak keduanya bertemu. Benar-benar aneh.
Setelah membicarakan masalah itu, Eun Ji dan Mark bergegas kembali ke kelas. Eun Ji tidak ingin tahu tentang bagaimana hubungan ayahnya dengan ayah Mark. Yang jelas, dirinya memang benar-benar membenci seorang Mark Kim.
••
Eun Ji menghempaskan tubuhnya di atas ranjang empuknya itu. Seperti biasa, ia menatap kosong ke arah langit-langit kamarnya. Entah bagaimana bisa, setelah insiden kemarin dan tadi membuat orang-orang bersikap aneh terhadapnya. Terutama Jin Young. Ketika pulang sekolah, tidak seperti biasanya, Jin Young malah pulang lebih dulu meninggalkannya. Padahal, biasanya Jin Young akan menunggu Eun Ji, bahkan jika Eun Ji pulang terlambat. Lagi-lagi, semuanya karena Mark.
Suara klakson mobil membuatnya tertarik untuk melangkah menghampiri jendela kamarnya. Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan sebuah rumah yang berdiri berhadapan dengan rumah Eun Ji.
Eun Ji berlari turun ke lantai bawah, lalu mengintip melalui jendela.
"Mark?!"
"Bagaimana ... bagaimana mungkin?" Eun Ji masih menganga, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Tak kuasa menahan rasa jengkelnya, Eun Ji memukul kaca jendela di depannya cukup keras. Tahu-tahu, Mark yang berada di luar sana menoleh.
Buru-buru Eun Ji bersembunyi.
Sekarang, tidak hanya sekolah yang membuatnya merasa seperti di neraka. Eun Ji merasa bisa gila dengan Mark yang menjadi tetangga barunya.
••
Taman sore itu ramai. Eun Ji ikut bertepuk tangan untuk bersorak kepada beberapa pemain skateboard yang tengah menunjukkan aksinya. Benar-benar hebat, pikirnya. Ya, menurut Eun Ji, siapa pun yang dapat bermain skateboard itu hebat, karena tidak semua orang dapat menguasai permainan itu.
Lee Jin Young yang duduk di sebelah Eun Ji akhirnya menoleh. Gadis itu tersenyum, tampak bahagia.
Jin Young masih mengingat malam ulang tahun Hye Rim itu. Saat di mana wajahnya hanya berjarak beberapa senti saja dari wajah Eun Ji, dan Eun Ji mengatakan bahwa dia tidak bisa menciumnya dengan mudah. Tapi yang terjadi sehari setelahnya, Eun Ji malah menerima ciuman pertamanya dari orang lain yang bahkan baru dikenalnya. Sejujurnya, Jin Young kesal dan marah. Kalau saja Jin Young ada di sana saat itu, mungkin Jin Young akan kehilangan kendali pada laki-laki itu. Sayang, semuanya sudah terjadi. Dan Jin Young bahkan baru mengetahuinya sehari setelah kejadian itu. Sahabat macam apa dirinya?
"Ya! Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Eun Ji heran.
"Ah, tidak ada apa-apa," jawab Jin Young singkat, lalu kembali memfokuskan pandangannya pada seorang pemuda yang mulai menunjukkan aksinya bermain skateboard.
Eun Ji ikut memperhatikan pemuda dengan topi yang menutup setengah wajahnya. Tapi jujur saja, Eun Ji terkagum-kagum saat melihat keahliannya. Beberapa trik ia tunjukkan dengan sempurna. Setelah selesai dengan aksinya, Eun Ji berdiri sambil bertepuk tangan sekeras mungkin dan tersenyum untuknya.
••
Pertunjukan selesai. Eun Ji dan Jin Young sama-sama menghampiri si pemuda yang menunjukkan aksinya dengan sempurna tadi.
"Kau melakukannya dengan sangat baik!" Eun Ji menepuk bahu laki-laki itu dengan semangat. Laki-laki itu kemudian berbalik, lalu melepaskan topi yang menutupi sebagian dari rambut berwarna coklat tuanya.
Senyuman yang sejak tadi terpampang di wajah Eun Ji memudar seketika setelah mengetahui siapa sebenarnya si lawan bicaranya ini.
Eun Ji melongo. "Kau ... Ternyata itu kau."
Mark balas menepuk bahu Eun Ji sambil tersenyum. "Terima kasih telah menyukai penampilanku," ucap Mark percaya diri sambil memeluk skateboard-nya dan meninggalkan Eun Ji dan Jin Young.
"Masalah kita belum selesai, paham?" teriak Eun Ji.
Menyadari teriakan itu ditujukan untuk dirinya, Mark berbalik lagi. "Aku tahu!" balasnya singkat sambil menyeringai.
"Apa dia yang menciummu waktu itu?" tanya Jin Young dingin.
Eun Ji hanya menatap Jin Young tanpa menjawab, lalu melangkah pergi seolah-olah tidak mendengarkan apa pun.
••
Bel istirahat berbunyi. Seperti biasa, Eun Ji dan Jin Young menuju ke kantin bersama. Namun kali ini, mereka tidak bersama Hye Rim. Hye Rim memilih untuk ke perpustakaan seorang diri. Hye Rim tidak pernah seperti ini sebelumnya. Hye Rim yang dikenal Eun Ji dan Jin Young adalah Kim Hye Rim yang jangankan pergi ke perpustakaan, menyentuh buku pelajaran saja enggan. Apalagi sendirian. Eun Ji tahu betul Hye Rim benci kesendirian.
"Ada apa dengan Hye Rim? Dia tidak biasanya seperti ini. Dia seperti menghindar dariku," kata Eun Ji, mencoba mengutarakan apa yang ada di pikirannya saat ini.
“Entahlah,” Jin Young mengangkat bahu.
Eun Ji menghentikan langkahnya saat tiba di kantin dan menemukan sekelompok laki-laki teman sekelasnya berkumpul di salah satu meja panjang. Mata Eun Ji hanya tertuju pada salah satu laki-laki yang duduk di sana. Kemudian perlahan mengangkat tangannya untuk menunjuk Mark.
"Dia ... kenapa di sini?" tanya Eun Ji, masih dengan tangannya yang terulur untuk menunjuk Mark.
Semua orang di meja itu mengalihkan pandangan kepada si objek yang ditunjuk.
"Mulai sekarang, Mark Kim adalah bagian dari kami," sahut laki-laki yang menunjukkan eye smile ketika tersenyum itu, Jae Ki sambil merangkul pundak Mark. Sementara Mark hanya diam saja dan tidak ingin menanggapi pertanyaan yang sebenarnya didedikasikan untuk dirinya itu.
Eun Ji kemudian duduk berhadapan dengan Mark, dengan Jin Young di sebelahnya. Jin Young melempar tatapan tidak suka untuk Mark ketika pandangan mereka bertemu.
Tidak lama kemudian, Mark berdiri.
"Aku ke kelas duluan. Ada sesuatu yang harus kuurus," ucapnya, lalu berjalan meninggalkan meja itu.
Sebelum keluar dari kantin, Mark tertarik untuk mendapatkan sebuah minuman soda dari dalam vending machine yang berada di sudut kantin. Saat hendak mengambil minuman kaleng yang keluar dari lubang bawah vending machine, kaki seseorang tiba-tiba saja menendang tangan Mark. Minuman kaleng yang baru disentuh Mark terjatuh begitu saja menggelinding di lantai. Meskipun merasa tangannya sakit, Mark akhirnya menegakkan punggung menghadapi Jin Young.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan, huh?" tanya Mark sambil berusaha menahan emosi.
"Aku? Aku tidak menginginkan apa pun. Itu hanya sebagai balasan karena kau telah ...," Jin Young mendekatkan wajahnya ke telinga Mark untuk berbisik, "... mencium Eun Ji."
Mendengar itu, Mark hanya tertawa. Tapi tak lama kemudian, tawanya segera terhenti.
"Jadi kau menuduhku atas semua itu? Sebagai balasan juga karena telah menendang tanganku yang tidak bersalah, kau ingin aku memukulmu?"
"Mwo?" Suara Jin Young terdengar meremehkan. "Apa kau bilang? Memukulku? Bisa kau katakan sekali lagi dengan keras?"
"Ah ... apa pendengaranmu terganggu? Kau harus pergi ke dokter sebelum semakin parah," sindir Mark dengan suara keras sampai mengundang perhatian siswa-siswi di sekitar mereka. Mark kemudian berbalik dan beranjak pergi dari sana.
Sebelum semakin jauh, Jin Young segera menarik kerah kemeja Mark dan mendaratkan tinjunya tepat di pipi kiri Mark.
"Apa yang kalian lakukan?!" Eun Ji muncul di tengah-tengah mereka untuk melerai pertengkaran itu. Sebelum semuanya semakin kacau, Eun Ji segera menarik tangan Jin Young untuk keluar dari kantin.
"Apa yang kau lakukan, huh? Kau ingin membuat masalah?" tanya Eun Ji kesal.
"Aku hanya ingin membelamu karena dia sudah berani menciummu."
Eun Ji tersenyum sinis. "Kau tidak punya urusan dalam masalahku. Biarkan aku yang mengurusnya sendiri." Setelah mengatakannya, Eun Ji berbalik hendak meninggalkan Jin Young.
Namun, suara Jin Young membuat langkahnya terhenti.
"Apa kau pikir aku tidak cemburu?"
Eun Ji menoleh. "Jangan bercanda. Kita ... hanya bersahabat. Dan kau tidak perlu cemburu, paham?" Kali ini Eun Ji benar-benar meninggalkannya.
"Sahabat? Aku tidak bisa hanya menganggapmu sahabat, Lee Eun Ji ...."
••
Lagi-lagi, Jin Young pulang lebih dulu. Meninggalkan Eun Ji yang sudah hampir satu jam menunggu hujan mereda. Bahkan murid lain sudah pulang. Kim Hye Rim, entah apa yang merasuki sahabatnya itu sehingga ia tampak seolah-olah menghindari Eun Ji akhir-akhir ini.
Eun Ji memeluk tubuhnya yang kedinginan. Ia lagi-lagi menatap langit yang tertutupi awan gelap itu. Sesekali dia mendesah. Eun Ji tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini. Ayahnya? Ayahnya bahkan lebih menganggap penting pekerjaannya dari pada menjemput putri semata wayangnya ini.
Lalu ... mau sampai kapan Eun Ji berada di sini?
Mark? batinnya, begitu Mark tiba-tiba muncul dan berdiri di tak jauh di sampingnya. Mark hanya menoleh padanya sambil menyeringai, seperti Mark yang biasa. Eun Ji hanya memanyunkan bibirnya kesal.
Tak lama kemudian, payung yang sejak tadi dipegang Mark, dia buka, lalu diletakkannya begitu saja di samping kaki Eun Ji. Entah apa maksudnya, Mark meninggalkan payung itu bersama Eun Ji. Laki-laki itu bahkan rela menerobos derasnya hujan. Eun Ji sempat mendapati luka kecil pada pergelangan tangan Mark. Dan Eun Ji tahu luka itu disebabkan oleh sahabatnya, Jin Young.
Meskipun dirinya membenci orang itu, tapi entah bagaimana ia juga bisa merasa kasihan padanya. Haruskah ia meminta maaf?
Secepat mungkin Eun Ji menggeleng, mencoba menyingkirkan pikiran aneh itu dari kepalanya. Eun Ji mengamati payung yang ditinggalkan Mark di samping kakinya. Dengan ragu, Eun Ji mengambil payung itu.
"Haruskah aku memakainya?" tanya Eun Ji pada dirinya sendiri.
Meskipun ragu, Eun Ji akhirnya meraihnya dan bergegas pulang.
••