3

3025 Words
Untuk kesekian kalinya, Eun Ji menunduk saat akan memasuki kelas yang tampak seperti tempat menyeramkan baginya. Yah, semuanya berubah setelah insiden ciumannya dengan si Mark itu. Walaupun tidak sengaja, tapi tetap saja itu adalah hal yang memalukan. Bagi dirinya tentunya. Entah bagaimana perasaan Mark setelah itu terjadi. Tapi entah apakah itu hanya perasaan Eun Ji saja, Mark tampaknya biasa-biasa saja dengan hal itu. Tidakkah dia merasa malu? Apalagi dengan statusnya yang masih bisa dibilang murid baru di sekolah ini. Oh ya, Eun Ji hampir melupakan di mana sekolah tempat Mark menempuh pendidikan sebelumnya. LA ... bukankah orang-orang di sana sudah tidak merasa asing dengan hal semacam itu? Budaya seperti itu mungkin sudah mempengaruhi pikiran Mark. Hingga membuatnya merasa biasa-biasa saja dengan yang namanya berciuman. Ok. Sejenak mari kita lupakan tentang hal itu. Eun Ji melirik ke sebuah benda yang sebenarnya sejak tadi digenggamnya dengan erat. Sebuah benda yang dengan mudahnya membuat ingatannya kembali ke dua hari yang lalu. Di mana Mark bersikap aneh padanya. Eun Ji akui, laki-laki itu cukup membantunya untuk pulang ke rumah tanpa harus terguyur derasnya hujan saat itu. Mark memberikannya payung. Aneh memang. Yang Eun Ji tahu, Mark membencinya. Begitu pun sebaliknya, Eun Ji membencinya.  Alasan kenapa Eun Ji tidak mengembalikan ini kemarin, karena ia belum punya cukup nyali untuk bertemu laki-laki itu dan mengucapkan terima kasih padanya. Itu cukup memalukan dan sangat sulit untuk dua kata itu Eun Ji ucapkan untuknya. Berat sekali rasanya.  Tapi untuk hari ini, mau tidak mau, Eun Ji tetap harus mengembalikannya. Tidak mungkin, 'kan, Eun Ji menyimpan benda miliknya di di rumah lama-lama? Tidak peduli jika dia akan menertawai Eun Ji nantinya. Tidak peduli jika dia akan merasa bahwa dirinya yang menang. Barang ini ... tidak akan Eun Ji biarkan terus tersimpan di kamarnya.  Eun Ji tersenyum seketika. Mengetahui si pemilik payung ini belum ada di kelas. Tentu saja itu berarti dia belum datang. Perlahan Eun Ji mulai melangkah mendekati tempat duduknya.  Niat awal untuk memasukkan payung itu ke dalam laci meja Mark, urung ketika sebuah suara mengejutkannya "Apa yang kau lakukan?" Buru-buru Eun Ji berbalik, dan mendapati dia, Mark, berdiri dengan gaya sok kerennya di hadapannya. Refleks, Eun Ji menyembunyikan payung itu di belakang punggunya. Konyol memang. Karena sekalipun Eun Ji menyembunyikannya di balik punggung, bentuk tubuhnya yang terbilang cukup ramping tidak akan mungkin dapat menutupi sebuah payung yang memang salah posisi saat dipegang.  Tidak lama kemudian, Eun Ji menyengir. Lalu ditaruhnya payung itu di atas meja sang pemilik.  "Gamsahamnida," ucap Eun Ji seramah mungkin. Eun Ji melangkah lagi, meninggalkan Mark yang masih berdiri diam di tempatnya. Langkahnya seketika terhenti ketika mendengarkan suatu kalimat terucap pelan dari mulut Mark.  "Seperti itukah caramu berterima kasih?" Entah sengaja atau tidak, yang pasti dia mengucapkannya sangat pelan, tapi Eun Ji masih bisa mendengarnya. Eun Ji hanya mendengus kesal. Lalu kembali meneruskan langkah menuju bangkunya. •• Entah harus berbuat dan berkata apa, Eun Ji hanya bisa berjalan melewati beberapa meja kantin yang lebih dulu ditempati oleh murid lain. Yang membuatnya tidak nyaman, beberapa dari mereka memberikan tatapan tidak suka terhadapnya. Tidak hanya tatapan, tapi mereka juga saling berbisik yang topiknya pasti berhubungan dengan Eun Ji. Eun Ji berusaha mengabaikannya. Yang terpenting sekarang ini adalah mencari tempat yang masih kosong, duduk di sana dan segera mengenyangkan perutnya. Sebuah tempat yang dicari itu akhirnya didapatnya juga. Meskipun ada beberapa siswi di sana, tapi tidak ada larangan untuknya duduk di sini, 'kan? "Bukankah dia yang ada di foto itu? Benar-benar tidak tahu malu." "Ya ... dia dengan Mark. Saat aku pertama kali melihat Mark, aku memang menyukainya. Tapi tentu saja aku tidak akan melakukan hal-hal semacam itu untuk mendapatkan Mark." Meskipun sibuk menyantap makanan yang ada di depannya, tapi Eun Ji masih bisa mendengar itu. Bahkan tanpa melihat mereka, Eun Ji tahu kalau mereka sesekali melirik ke arah Eun Ji. Perlahan gerak Eun Ji untuk memasukkan sendok itu ke mulutnya melambat.  Ia kemudian berhenti dan tersenyum menyeringai. "Kenapa kalian tidak mengatakannya langsung padaku?" Eun Ji menoleh ke arah dua siswi yang duduk tidak jauh di sebelah kirinya. "Apakah perlu jika aku mengatakan kalian ... pengecut?" "Apa kau bilang?!" Salah satu dari mereka berdiri, merasa tidak terima dengan ucapan Eun Ji barusan. Tidak  ingin kalah, Eun Ji ikut berdiri.  "Apa perlu kuulangi lagi? Kalian ... pengecut." Merasa tidak terima, siswi itu mendekati Eun Ji, hendak menjambak rambutnya. Namun sesaat sebelum itu benar-benar terjadi, seseorang berusaha menahan tangan siswi itu. "Berhenti!"  Eun Ji terkejut mengetahui kehadiran Mark di sana. Tepat waktu. Jika saja dia tidak datang, Eun Ji akan mendapat masalah besar lagi.  "Kalau kau tidak ingin mendapat masalah lagi, jangan membuat masalah," kata Mark. Eun Ji yang menyadari perkataan itu ditujukan untuknya, hanya diam. Seolah tidak ingin mendengarkan apapun lagi, ia kemudian berlalu. ••   Eun Ji berhenti di bawah pohon rindang yang berdiri di tengah-tengah taman sekolahnya. Ia kemudian duduk dan memeluk kedua lututnya erat. Baru sedetik ia menunduk, seseorang menghampirinya. Membuat kepalanya kembali mendongak. "Jangan hiraukan kehadiranku. Tenangkan saja pikiranmu. Aku di sini hanya ingin menemani." Jin Young duduk dengan kaki diluruskan ke depan, di sebelah Eun Ji.  "Tidak apa-apa. Aku lebih baik mengobrol denganmu daripada aku harus terus berdiam. Kau tahu, 'kan, aku bukan tipe orang yang suka diam berlama-lama? Aku tidak tahan." "Boleh aku bertanya?" tanya Jin Young. Eun Ji mengangguk.  "Kau terlihat sangat membencinya. Sebenarnya ada apa?"  "Ah, apa kau melihat kejadian tadi?"  Jin Young mengangguk pelan. "Itu semua dimulai sejak pesta ulang tahun Hye Rim. Saat dia merusak gaunku. Dia tidak tahu seberapa sayangnya aku pada gaun itu. Karena itu adalah pemberian terakhir ibuku sebelum dia meninggal. Lalu ... kau tahu, 'kan apa yang terjadi sehari setelah malam itu? Dia menjadi murid baru di kelasku dan membuat masalah denganku. Dan juga, aku ingin mencari tahu siapa yang menyebarkan foto itu," jelas Eun Ji.  "Aku akan membantumu untuk mencari tahu siapa yang melakukannya," ucap Jin Young yakin. "Terima kasih." Tanpa disadari Eun Ji dan Jin Young pada saat itu, Mark mendengarkan percakapan mereka. Tentang gaun itu. Mark tidak tahu harus berbuat apa. Dia menyesali kejadian itu. Seandainya jika dia mengetahui itu lebih awal, dirinya dan Eun Ji tidak akan bermusuhan seperti sekarang ini.  •• Eun Ji menatap sebuah buku yang terletak di atas meja belajarnya saat ini. Buku tugas matematika milik Mark yang sengaja dipinjamkan untuk Eun Ji. Beberapa hari ini, kira-kira sudah seminggu lamanya, Mark bersikap aneh terhadap dirinya. Entah yang dilakukannya karena ingin membuat Eun Ji naik darah setiap harinya, atau memang tulus melakukannya. Mark lebih sering melakukan hal baik padanya, walaupun kadang itu justru membuat Eun Ji naik darah. Eun Ji sempat berpikir terlalu jauh, mengira kalau Mark memendam suatu perasaan yang menurut Eun Ji gila, padanya. Tapi rasanya tidak mungkin juga. Tidak mungkin perasaan benci berubah menjadi perasaan suka secepat itu. Soal buku tugas matematika ini, Eun Ji ingat betul bagaimana Mark yang dengan sendirinya memberikan buku itu padanya. Seperti ada suatu keinginan tersirat dalam hati Mark, agar buku itu diterima oleh Eun Ji. Awalnya hanya penolakan yang diberikan Eun Ji. Namun, sadar akan keterbatasan otaknya dalam hitung-hitungan dan angka-angka, membuatnya mau tidak mau harus menerima buku itu. Hanya sekadar melihat jawaban dari soal-soal yang diberikan. Juga tidak ingin mendapati ada angka nol tercetak pada kolom namanya dalam buku daftar nilai sang guru. "Aneh. Dia bahkan sangat pintar menulis hangul padahal dia baru saja pindah dari LA," gumam Eun Ji sembari membalik satu per satu lembar kertas pada buku itu.  "Ah, tidak. Dia pintar, tapi belum terlalu pintar," gumamnya lagi, setelah mendapati ada sederetan kalimat bahasa inggris dalam catatannya. "Eun Ji, appa ingin ke rumah di depan sebentar. Kau tidak mau ikut?" Suara itu lantas membuat Eun Ji menoleh. Eun Ji menatap ayahnya yang berdiri di ambang pintu dengan tatapan yang sungguh sulit diartikan. Namun dalam otaknya hanya ada satu pertanyaan yang berputar. Ada urusan apa sampai appa ingin ke sana? Dan satu pertanyaan lagi yang tiba-tiba muncul dalam benaknya. Sekalipun appa punya urusan dengan ayah Mark, apa hubungannya denganku? Kenapa appa sampai berpikiran untuk mengajakku ke sana? Aneh. "Kau mau?" Ayahnya bertanya lagi saat putrinya itu belum menjawab apa-apa. "Ah, tidak." Eun Ji menggeleng. Lalu mengarahkan pandangannya kembali pada buku yang terbuka di atas meja belajarnya di hadapannya. "Aku sedang banyak tugas," imbuhnya.  Ayahnya hanya mengangguk-angguk. Sepertinya cukup kecewa dengan jawaban sang anak. "Ok. Appa pergi dulu." “Ne.” •• Mark melemparkan bola basket ke dalam ring. Setelah itu, ia mengambil kembali bola itu dan men-dribble bola hingga berjarak beberapa meter dari tiang ring. Kemudian melakukan shoot lagi. Namun entah yang ke berapa kalinya bola itu tak tepat sasaran. Hanya satu alasan yang membuatnya melakukan ini. Pelajaran olahraga sebelumnya, ia benar-benar tampak seperti orang yang bodoh dalam bermain basket. Dirinya adalah satu-satunya yang tidak berhasil memasukkan bola ke dalam ring.  Maka setidaknya ia harus berlatih, meskipun harus melewatkan jam istirahat yang seharusnya dipakai untuk mengisi perut kosong ini. "Mark!" Teriakan itu membuat aktivitas Mark terhenti. Melihat siapa yang baru saja datang membuatnya tersenyum. "Ah, Lee Eun Ji? Ada apa? Apakah sebegitu pentingnya sampai kau ingin menemuiku? Apa kau ingin membicarakan masalah serius? Atau kau menyukaiku? Katakan saja sekarang." Mark kembali melempar bola ke dalam ring.  Apa dia bilang? Menyukainya? "Aishh.. benar-benar kepedean,"  umpat Eun Ji. "Aku hanya ingin mengembalikan bukumu," katanya sembari berjalan mendekati Mark dan segera menyodorkan buku itu padanya. "Gomawo," ucap Eun Ji kemudian, sesaat setelah buku itu berpindah tangan kepada si pemilik.  "Apa senyummu semahal itu sampai kau sulit menunjukkannya?" "Aku memang tidak biasa tersenyum untuk seseorang sepertimu," jawab Eun Ji, tidak ingin kalah tentunya. Beberapa saat dalam keheningan, Mark kembali membuka mulut untuk berbicara. "Wait. Kau tidak biasanya ingin langsung berhadapan denganku hanya untuk mengembalikan barangku. Kau bisa menaruhnya di atas mejaku. Lalu ... ada angin apa yang membawamu kemari untuk menemuiku?" tanya Mark yang merasa janggal dengan apa yang dilakukan Eun Ji. "Setidaknya aku masih punya sopan santun untuk berterima kasih secara langsung seperti ini. Kau harus belajar banyak dariku dalam hal sopan santun." "Sopan santun? Kau pikir caramu berterima kasih tadi sudah terlihat sopan? Kau bahkan tidak tersenyum sedikit pun. Apakah itu yang disebut sopan santun?"  "Sudah kubilang. Aku tidak biasa tersenyum untuk seseorang sepertimu. Apa kau tidak mengerti?" balas Eun Ji, tetap tidak ingin kalah. "Ya ... terserah apa katamu. Tidak ada perlunya berdebat denganmu." Eun Ji mendapati lagi bekas luka di pergelangan tangan kanan Mark. Entah bagaimana bisa, Eun Ji tiba-tiba merasa kasihan juga. Walaupun ia membenci laki-laki ini, tapi hati dan perasaannya tetap tak bisa berbohong. Jujur saja, Eun Ji ingin membela Mark pada saat insiden itu terjadi. Tapi sepertinya saat itu bukanlah waktu yang tepat. Tak mampu menahan diri untuk bertanya, Eun Ji akhirnya membuka mulut juga. "Apakah tanganmu baik-baik saja?" Akhirnya, pertanyaan itu keluar juga dari mulutnya. Setelah sekian lama pertanyaan itu seperti memaksa untuk terucapkan oleh mulut Eun Ji.  Mark yang mendengar itu lantas menoleh ke arah Eun Ji. Mark berhasil dibuat bingung sekaligus heran.  "Gwaenchana. Kau ... apa yang membuatmu tiba-tiba peduli padaku?" tanya Mark. Iya juga. Kenapa aku tiba-tiba peduli seperti ini? Eun Ji-ya! Sadarkan dirimu! rutuk Eun Ji dalam hati. "Apakah itu salah?" balas Eun Ji canggung. "Lupakanlah," katanya lagi, lalu bergegas pergi dari sana. Sementara Mark masih berdiri diam dengan senyum yang perlahan mengembang di wajahnya.  •• "Kau belum pulang?" Pertanyaan itu lantas membuat Hye Rim menoleh kepada si pemilik suara. Entah apa yang membuatnya menahan senyuman yang ingin sekali ia tunjukkan untuk laki-laki yang baru saja hadir di tempat itu. Tanpa membalas, bahkan tanpa tersenyum, Hye Rim kembali mengalihkan pandangannya pada sekelompok siswa-siswi yang sibuk dengan aktivitas olahraga masing-masing.  "Apa yang terjadi denganmu, huh? Kau tidak balas menyapaku," kata Jin Young, lalu duduk di sebelah Hye Rim. Sepertinya menurut Hye Rim, orang-orang yang sedang berolahraga itu jauh lebih menarik perhatiannya dibandingkan Jin Young yang ingin mengajaknya mengobrol. Hal itu terbukti. Hye Rim tidak menggubris perkataan Jin Young sama sekali. Jangankan mendengarkan, menganggap Jin Young ada di sampingnya saja tidak.  "Ya! Aku berbicara padamu! Kau benar-benar!"  Sekali lagi, Hye Rim tidak menghiraukan seruan Jin Young. Hye Rim justru bangkit dari duduknya, hendak pergi dari sana. Tapi sebelum itu benar-benar terjadi, Jin Young meraih pergelangan tangannya. Erat. Hingga membuat Hye Rim kembali duduk di tempatnya sebelumnya.  "Ya!" teriak Hye Rim. "Apa yang salah denganmu? Kau tiba-tiba saja menghindariku dan Eun Ji. Bahkan kami sudah berusaha menghubungimu, tapi tidak pernah bisa. Kalau kau punya masalah, ceritakan padaku." Hye Rim menoleh sambil menyeringai. "Apa kau yakin? Aku sendiri tidak yakin apakah kau bisa membantu. Bahkan, aku juga tidak yakin kalau kau akan tetap bersamaku jika kau tau tentang masalahku."  Jujur saja, Jin Young bingung. "A-apa maksudmu?" "Sebelumnya, aku minta maaf,” kata Eun Ji sambil menunduk. "Apa? Apa maksudmu? Kenapa meminta maaf?" tanya Jin Young, semakin dibuat penasaran dengan permintaan maaf Hye Rim. Tak lama kemudian, Hye Rim mengeluarkan ponselnya dari saku jas seragam sekolahnya. Mata Jin Young beralih pada jemari Hye Rim yang bergerak, hendak mengetik sesuatu pada ponselnya. Jari-jari Hye Rim berhenti bergerak, lalu mengangkat ponselnya ke telinganya. Tak lama kemudian, ponsel Jin Young berdering. Setelah mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya, Hye Rim menyudahi panggilannya. Jin Young menatap layar ponselnya bingung. Ah, lebih tepatnya nomor ponsel Hye Rim yang tertera pada layar ponsel milik Jin Young. "Kau mengganti nomormu? Kenapa?" "Ini bukan tentang mengganti nomorku. Coba kau ingat lagi. Setelah kau tahu, kau bisa mengatakannya padaku. Ingat! Aku orang pertama yang harus kau temui setelah kau mengetahuinya," ucap Hye Rim dingin. Lalu beranjak pergi dari ruang olahraga itu. Jin Young masih memperhatikan nomor itu. Memang tampak tidak asing di mata Jin Young. Rasanya, dia pernah melihat nomor ini sebelumnya. Ia mencoba membuka kotak masuk pesan di ponselnya. Sampai ditemukannya sebuah pesan tanpa nama pengirim yang nomornya tertera jelas di sana. "Hye Rim? Dia ...." •• Perlahan, tampak jelas terdapat air yang menggenang di matanya. Setiap kali air itu mengalir keluar dari matanya, Hye Rim berusaha menyekanya. Entahlah, sebenarnya, ia tidak ingin siapa pun terutama Jin Young dan Eun Ji mengetahuinya. Tapi cepat atau lambat, mereka juga pasti akan mengetahui apa yang diperbuatnya. "Kim Hye Rim!"  Hye Rim berbalik, lalu menatap Jin Young yang berlari menghampirinya. "Kau ...," ucap Jin Young sambil mengatur pernapasannya. "Kenapa kau melakukan ini, huh?" "Akhirnya kau tahu juga," balas Hye Rim seraya tersenyum getir. "Aku memang berpikir kalau aku ini adalah seorang sahabat yang buruk."  "Kau memang buruk. Mana ada seorang sahabat yang mempermalukan sahabatnya sendiri?" balas Jin Young, tak percaya dengan apa yang telah diperbuat gadis di hadapannya itu. "Awalnya aku ingin melakukan lebih dari ini. Tapi, baru sekali aku melangkah, rasanya aku tidak mampu bergerak lebih jauh lagi. Dan aku sadar, bahwa aku tidak ditakdirkan untuk menjadi seperti itu," jelas Hye Rim tanpa memandang Jin Young yang berdiri di depannya, kemudian menunduk.  "Aku tidak tahu apa yang membuatmu seperti ini. Aku yakin pasti ada alasannya." "Ya. Memang ada alasannya. Tapi kurasa aku tidak bisa memberitahumu." Jin Young menghela napas. "Ok. Aku tidak akan memaksamu menceritakannya. Tapi aku akan katakan hal ini pada Eun Ji." Jin Young hendak melangkah pergi dari sana, namun Hye Rim meraih tangan Jin Young.  "Tolong ... jangan mengatakannya pada Eun Ji. Aku mohon ...," pinta Hye Rim. "Kalau begitu katakan alasannya." Hye Rim terdiam sesaat. Lalu memberanikan diri untuk berbicara. "Alasannya adalah karena kau. Kau yang membuatku seperti ini." "M-maksudmu apa? Kenapa denganku?" Jin Young kebingungan. "Aku iri dengan semua perhatianmu pada Eun Ji. Kau puas?" Jin Young akhirnya sadar. "Kau menyukaiku?" Tak lama setelah pertanyaan itu diajukan, Hye Rim mengangguk.  •• Sesekali Eun Ji menengok jam tangan yang terpasang dengan baik di pergelangannya. Sudah setengah jam dia menunggu, tapi sosok yang ditunggu itu belum muncul juga.  Ayahnya. Dia menunggu ayahnya. Hari ini ayahnya berjanji akan menjemputnya setelah pulang sekolah. Nyatanya? Sampai sekarang pun, ayahnya belum datang. Eun Ji jadi kesal. Belum lagi, kakinya mulai pegal. Kaki siapa yang tidak pegal setelah setengah jam berdiri?  "Aishh ... sampai kapan aku harus menunggu seperti ini?" gumamnya kesal.  Eun Ji kemudian sibuk mondar-mandir di halaman depan sekolahnya. Tapi tidak lama setelah itu, dia terdiam, setelah melihat sebuah mobil yang tampaknya tidak asing bagi Eun Ji berhenti tepat di depannya berdiri saat ini. Salah satu kaca mobilnya diturunkan. Tepatnya kaca mobil bagian belakang.  "Annyeong!" Eun Ji terkejut bukan main melihat wajah Mark muncul. "Mark ... kau ...." "Halo, Lee Eun Ji."  Eun Ji semakin dibuat terkejut. Ternyata Mark tidak sendirian. Ada ayahnya yang baru saja menurunkan kaca mobil depan. "Oh, annyeong haseyo, Ahjussi," sapa Eun Ji ramah seraya membungkuk. "Ikutlah dengan kami. Appa-mu bilang dia tidak bisa menjemputmu karena ada rapat mendadak. Jadi dia menyuruhku untuk mengantarmu pulang. Lagipula rumah kita berhadapan, 'kan?"  Entah apakah 'ya' atau 'tidak' yang akan terucap oleh mulutnya. Eun Ji sulit untuk memilih. "Ah, tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri," jawab Eun Ji akhirnya.  "Tidak apa-apa. Jangan sungkan. Ikutlah dengan kami." •• Lee Eun Ji dan Mark berada dalam satu mobil yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan oleh Eun Ji sendiri. Yah, seperti inilah yang Eun Ji tidak suka. Suasana terasa canggung. Tak ada dari ketiganya yang berniat memulai pembicaraan. Diam-diam, ayah Mark mencuri pandang, untuk sekadar melihat apa yang terjadi dengan kedua anak yang duduk di belakangnya.  Eun Ji sempat berpikir, andai saja ada Jin Young di sini, tak ada yang namanya kecanggungan dalam mobil ini. Jin Young pasti bisa mencairkan suasana. Omong-omong tentang Jin Young. Sebelum Eun Ji berjalan keluar dari sekolahnya, ia sempat mendapati Hye Rim dan Jin Young berdiri berhadapan di koridor sekolah. Sedang membicarakan sesuatu yang serius sepertinya. Tapi ketika Eun Ji menghampiri mereka, mereka tiba-tiba menunjukkan sikap aneh di hadapan Eun Ji. Beberapa kali ia mencoba bertanya, mereka hanya diam, lalu Jin Young melangkah pergi meninggalkan mereka begitu saja. Kenapa mereka bersikap aneh? Ini benar-benar keterlaluan. Kenapa semua orang jadi bersikap aneh seperti ini padaku? "Kalian tampak sangat lucu jika saling diam seperti itu," sahut ayah Mark tiba-tiba, yang tentu saja membuyarkan lamunan Eun Ji saat itu. Ucapan ayah Mark membuat keduanya saling bersitatap. Tapi itu tidak berlangsung lama. Mereka kembali membuang muka. Tidak ingin menanggapi lebih perkataan ayah Mark barusan. "Tapi apakah kalian tidak bosan dengan kecanggungan ini? Ayolah. Salah satu dari kalian harus berbicara," kata ayah Mark lagi. "Kami belum dekat, Ahjussi," jawab Eun Ji jujur. "Kalau begitu, cobalah mendekatkan diri satu sama lain." "Appa! Jangan mengatakan hal konyol seperti itu." Kali ini Mark angkat bicara. "Konyol? Bagaimana bisa konyol? Kalian berada di kelas yang sama, lalu kalian tetap akan seperti ini? Bagaimana pun juga, kalian sudah seperti satu keluarga di dalam kelas kalian. Apa salahnya saling mendekatkan diri?" balas sang ayah, tidak ingin kalah.  Meskipun Eun Ji tidak begitu menyukai apa yang dikatakan ayah Mark, tapi menurutnya perkataan ayah Mark barusan ada benarnya juga. "Ya. Kami akan mulai untuk mendekatkan diri nanti." Akhirnya Eun Ji yang berbicara. "Baguslah." balas ayah Mark sambil tersenyum puas.  •• "Gamsahamnida, Ahjussi," ucap Eun Ji sembari membungkukkan badannya setelah keluar dari mobil.  Eun Ji kemudian masuk ke dalam rumahnya. Namun, sesuatu yang tidak menyenangkan membuatnya terdiam.  "Appa?" Ayahnya kemudian berbalik, dan mendapati anaknya tengah menatapnya dengan terkejut. “Ada apa?” "Ayah Mark bilang kalau appa sedang rapat. Lalu kenapa appa di sini?" "Oh, soal itu. Tidak apa-apa. Appa sengaja."  Mendengar hal itu membuat Eun Ji memelotot. "M-maksud Appa?" Ayah Eun Ji yang pada saat itu tengah sibuk membaca koran akhirnya melipat koran itu. Lalu menatap Eun Ji sambil tersenyum. "Appa hanya ingin memperbaiki hubunganmu dengan Mark." "Apa?!" ••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD