9. Amarah

1471 Words
Suara musik yang bergema di ruangan, diikuti kerlap kelip lampu yang megah sudah berlangsung kurang lebih 3 jam lamanya. Acara ulang tahun Varel malam itu berlangsung meriah. Balon dan pita yang menemani jalannya acara pun mewarnai ruangan itu. Hari itu Varel terlihat merasa sangat senang, sambil memegang kado yang Dia dapatkan secara bergantian, ditemani bibi yang menemaninya. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, Dani yang yang dari tadi gelisah menunggu kedatangan Elsa pun, tak henti hentinya melihat jam tangan merk Alexander Cristie yang melingkar di tangannya. Tamu pun satu persatu sudah mulai pamitan pulang karena acara yang meriah tadi sudah selesai, tinggal beberapa yang masih ada urusan dengan keluarga Syahputra yang masih tinggal, termasuk Sarah. Sepasang pria dan wanita paruh baya tapi terlihat elegan sedang asyik mengobrol dengan Sarah. Mereka adalah orang tua Dani dan Varel. Dari dulu Tante Amara sangat menyayangi Sarah dan berharap hubungan Sarah dan Dani bisa berlangsung sampai ke pernikahan. Baginya Sarah adalah dari keluarga sukses yang sepadan dengan keluarga Syahputra. Sedangkan Tuan Syahputra tidak begitu mendikte Dani, Dia percaya pada Dani seutuhnya. "Ma.. saya temani Pak Roman dl di sana, Dia ingin ikut bekerja sama dengan cabang kita di Luar." ucap Tuan Ahmad Syahputra ke istrinya dengan lembut. "Iya Pa, semoga sukses ya Pa." Jawab Tante Amara dengan senang. "Om tinggal dulu ya Sarah, silahkan lanjutkan ngobrol dengan Tante," sambil berpamitan dengan Sarah. "Baik Om, Sarah masih kangen dengan Tante Amara." Jawab Sarah manja sambil menggandeng tangan Tante Amara. "Sarah, Kamu bawa mobil sendiri apa diantar sopir sayang?" tanyanya kepada Sarah sambil merangkul pinggang Sarah. "Sarah Nanti di jemput sopir Sarah tante, kalo malam Sarah gak boleh bawa mobil sendiri ma kak Vian Tan, kalo Sarah ngeyel bisa bisa Sarah dihukum nggak boleh keluar rumah." sahut Sarah manja. "Itu tandanya Vian sayang ma kamu Sarah, soalnya sekarang rawan lho anak gadis pergi malam malam sendiri, iya kan?" Tante Amara membenarkan. "Iya sih Tan, Kak Vian emang over protektif tapi Sarah tau, Dia sangat peduli ma Sarah." Ucap Sarah penuh percaya diri. "Yaudah Nanti biar kamu di antar Dani aja yah pulangnya... btw kapan Vian menikah Sarah?" tanya Tante Amara lagi. "Tapi, apa Dani mau tan? hemmmm kalo Kak Vian pacar aja belum punya gimana mau nikah tan, nikah ma siapa?" ucap Sarah sambil ketawa kecil mengingat kakaknya. "Ohya? ganteng dan sukses belun punya pacar, besok kapan kapan biar tante kenalkan ma anak saudara tante yach..." pancing Tante Amara. "Iya ya tan.. boleh boleh Tan, Biar kak Vian gak kaku ma cewek ya Tan.. Dia dingin banget kalo sama cewek semenjak pisah mas Kak Manda." "Iya Sarah, terus Kamu dan Dani gimana? kapan mau menikah?" goda Tante Amara. "Kalo Sarah sih ikut Dani aja Tan, Sarah siap. Tapi sepertinya Dani mau kuliah dulu sampe lulus Tan." Ucap Sarah dengan pipi kerahnya. "Yaudah kalian Tunangan dulu yach..." "Tunangan Tan??" muncul angin kebahagiaan menghampiri Sarah. "Iya... apa Kamu gak mau Sarah?" tanya Tante Amara. "Ma...Mau Tan... Tapi apa Dani mau Tan?" sambil berharap. "Ya pasti maulah, Kamu kan cantik Sarah, dan kemaren Dani bilang mau mengenalkan orang yang spesial di ultah Varel ini, orang itu pasti Kamu kan Sarah? siapa lagi disini yang nemenin Tante selain Kamu." ucap Tante Amara menerangkan. "Makasih ya Tante." sambil memeluk tubuh Tante Amara, karena apa yang Dia inginkan akhirnya terwujud juga untuk mendekati Tante Amara dan memulai hubungan dengan Dani dengan restu orang tuanya. "Dani! Cepat kesini!" sambil memberi kode Dani untuk mendekat ke arah Mamanya yang memanggil. "I-iya Ma." Dani terkaget dipanggil mamanya karena tadi sedang melamun memikirkan Elsa yang dari tadi dihubungi tidak bisa. Ia sangat berharap Elsa datang untuk dikenalkan kepada orang tuanya sebagai orang yang special tapi semua gagal. Ia hanya bisa berjalan mendekati Sarah dan mamanya yang sedang menunggu. "Dani nanti antar Sarah ya, kasihan udah jam 10 malam, biar anak gadis yang cantik ini aman sampai rumah." sambil mengelus rambut Sarah yang terurai. "Apa Kamu nggak dijemput Sarah? biasanya diantar mas Dimas?" tanya Dani ke Sarah. "Aku...." "Mama yang ingin Kamu yang ngantar Sarah, Dani!! Apa Kamu sudah nggak mau nurutin permintaaan Mama?" dengan kata kata tegasnya semotong kalimat Sarah. "Ya sudah ayuk Sarah, Aku antar sekarang aja keburu larut." Dengan muka terlihat tidak bersemangat. "Oya Sarah... Sampaikan ke keluargamu kalo seminggu lagi setelah pekerjaan Om dan Tante selesai, Kita akan datang kerumahmu membicarakan pertunangan kalian." Sambil tersenyum melihat Sarah dan Dani bergantian. "Ma... siapa yang mau bertunangan?" tanya Dani penasaran. "Siapa lagi kalo bukan Kamu dan Sarah." Jawab Mamanya dengan suara berwibawa. "Mama... Dani dan Sarah hanya berteman! lagipula yang Dani ingin kenalkan adalah Elsa ma!" jawab Dani mengikuti kata hatinya. "Elsa? mana Dia?apa Dia datang? Apa Dia sepadan dengan keluarga kita? Dia mungkin gak berani datang kesini karena merasa nggak pantas?" ucap Mamanya ketus. "Dia nggak dating, mungkin karena lagi sibuk Ma, mungkin sebentar lagi Dia datang." Sambil memberi pembelaan kepada Elsa. "Dani, Apa sekarang Kamu sudah tidak melihat jam? ini sudah jam 10 malam.Undangan jam 7, kalo sampai jam segini Dia belum datang, mau dating jam berapa? Ini acara yang penting bagi keluarga kita, apa Dia pantas? berarti Dia udah nggak menganggap keluarga Kita! Tidak menghargai undangan Kamu!" dengan nada merendahkan Elsa. "Tapi Tan, Dani emang deketnya ma Elsa sekarang Tan, kemana mana sama Elsa." ucap Sarah menambahkan berdalih polos. "Pokoknya Mama tidak mau dengar alasan apapun! Yang cocok dengan Kamu, dengan keluarga Kita ya hanya Sarah Dani! Sudah, Mama capek mau istirahat dulu! cepat antar Sarah dan pastikan Dia selamat Sampai rumah, Mengerti?" sambil berjalan masuk meninggalkan Dani dan Sarah yang terdiam karena mendengar ucapan Ny Amara yang tegas. ** "Pak Tommy? apakah karyawan bapak semua pembohong seperti ini?" Suara pria berwajah tampan terdengar nyaring tapi berwibawa lewat telepon menghubungi Pak Tommy. "Maksud Pak Vian bagaimana Pak? maaf Saya tidak paham?" jawab pak Tommy gugup. "Siapa yang berjanji akan melakukan apa saja dan datang kesini untuk menebus kesalahannya? membayar keteledorannya? kenapa sampai sekarang tidak datang? heh!!!" amarah pun keluar dari suara Vian di telepon. "Maksud Pak Vian apa Elsa? apa Dia belum dating Pak?" tanya pak Tommy dengan rasa takut. "Siapa lagi!! siapa yang berani mempermainkan Saya! membuang waktu Saya sia sia menunggu sampai sekarang!!! apa Dia pantas?" lanjut Vian dengan sebelah tangannya meremas remote tv yang Dia pegang. "Ma-maaf Pak... Saya benar benar tidak tahu, kalau Dia benar benar tidak datang Pak, tadi pagi saya sudah ingatkan dan share lokasi apartemen Pak Vian, dan siangnya Dia menghubungi saya, tapi Dia terdengar aneh..." dengan agak ragu Pak Tommy berhenti menerangkan. "Aneh kenapa? Lanjutkan!!" "Ba...baik Pak. Dia tersengar aneh, bilang mau meminjam uang 150 juta untuk besok pagi Pak. Tapi saya tidak bisa meminjami, akhirnya telepon mati dan setelah itu Saya hubungi kembali tidak bisa Pak nomornya." Terang Pak Tommy menjelaskan. "Apa Pak Tommy tak tau Dia ada di mana sekarang?" selidik Vian yang penasaran tapi tetap merasa di permainkan. "Saya tidak tahu Pak, setahu saya, selain rumahnya hanya kampus dan tempat kerja malamnya pak." "Kerja malam?" tanya Vian penasaran. "Iya pak, selain Dia kerja di Terapis Jariku, Dia juga part time kerja di Cafe Star." jawab Pak Tommy. "Cafe Star?" Vian mengulang kata itu sambil mengingat sepertinya mengenali tempat itu. "Iya pak. Apa Saya perlu ke tempat Pak Vian untuk menggantikan Elsa hari ini pak?" Tanya Pak Tommy hati hati. "Tidak usah. Pastikan selanjutnya hal seperti ini tidak terjadi lagi. Mengerti?" tegas Vian kepada Pak Tommy. "Baik Pak. Terimakasih." Telepon kemudian dimatikan Vian. Dia berfikir sejenak.. 'Apa benar itu Cafe deket dengan hotel Hercules milik Bu Cantika?' batinnya dalam hati. Kemudian dia mengirimkan pesan kepada Roy untuk menyelidiki rumah dan tempat kerja Elsa, gadis yang membuat ulah di depan Terapis Jariku dan jika Roy menemukan Elsa agar membawanya ke tempatnya untuk bikin perhitungan. Dia merasa di permainkan Elsa, dan ini untuk pertama kalinya Dia berdiam diri dirumah hanya untuk menunggu Elsa. Ini seakan membuat darahnya mendidik menahan amarah. Tak lama suara telepom berdering terdengar bertuliskan nama Roy di layarmya. "Ada apa? apa kurang jelas?" Suara khas Vian ya g dingin terdengar nyaring. "Maaf Pak, rumah gadis itu di Gang sempit ujung jalan mawar, sedangkan selain bekerja di Terapis Jariku, Dia juga bekerja di Cafe Star dekat dengan Hotel Pak Vian, Hotel Hercules. Apa Saya perlu mengeceknya sekarang kesana?" Jawab Roy penuh percaya diri karena bisa memberikan jawaban dengan cepat. "Bagaimana kamu bisa secepat itu tau Roy, padahal Aku baru menyuruhmu menyelidiki?" tanya Vian penasaran. "Kebetulan Gadis ini sama dengan Gadis yang Mbak Sarah suruh ikutin kemaren Pak. Dia yang sudah merebut pacar Mbak Sarah!" terang Roy berdasarkan kata kata Sarah. "Kenapa baru bilang sekarang?" "Maaf Pak, kemaren Saya mau memberi tahu tapi Pak Vian sudah mematikan Teleponnya. Saya kira ini bukan hal yang penting Pak." terang Roy. "Selanjutnya jika ada kabar tentang Dia kasih tau aku. Sekarang Kamu ke Cafe Star! kita ketemu di sana!" ucap Vian datar kemudian bersiap meninggalkan apartemennya. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD