Udara yang dingin menyelimuti malam hari ini. Vian bersama rekan bisnisnya memasuki sebuah Cafe untuk mencari penghangat tubuhnya. Setelah memasuki sebuah Cafe di dekat Hotelnya, mereka disambut oleh Ibu muda yang modis dan mengantarkan menuju sebuah ruangan vip di Cafe tersebut.
"Silahkan Pak Vian, Pak Yoga menikmati hidangan special di Café Star ini." Dengan ramah Bu Cantika membantu hanny menghidangkan menu special malam hari ini.
"Wah wah tampak lezat ya Bu, apalagi dihidangkan oleh wanita cantik cantik disini." Puji Pak Yoga sambil melihat ke arah Hanny.
"Ah Pak Yoga bisa saja memuji, karena semua disini saling melengkapi Pak, agar pengunjung serasa seperti raja." senyum Bu Cantika mengembang senang mendengar pujian pak Yoga, ia berharap Cafe ini bisa masuk ke cabang hotel baru yang akan di buka.
"Iya enak bu, pasti chef disini bukan cheff biasa ya bu.." tanya Pak Yoga penasaran.
"Kebetulan chef disini emang luar biasa Pak, dari bumbu masakan nenek moyang yang spesial juga membedakan dengan cita rasa masakan di tempat lain. Semoga Pak Vian dan Pak Yoga mau memberi kita kesempatan untuk masuk di bisnis yang akan di bangun nanti." kata bu Cantika penuh harapan mendengan kliennya senang dengan menu yang di hidangkan.
"Baik bu akan kita pertimbangkan, karena memang sangat banyak restauran maupun cafe yang mendaftar untuk masuk di proyek baru ini. Dan Pak Vian hanya memilih 5 terbaik untuk ikut berpartisipasi. Semoga ada kabar baik ya Bu Cantika. " Terang Pak Yoga lagi.
"Terimakasih Pak Yoga, Pak Vian, sudah mau mempertimbangkan Cafe ini untuk ikut mendaftar. Kami pasti akan menyajikan menu yang terbaik nanti." ucap Bu Cantika.
"Selain menu yang jadi tolak ukur Kita dalam penilaian, tetapi juga adakah inovasi baru yang di tawarkan selain makanan di tempat ini? Itu yang bu Cantika juga perlu pikirkan." Vian yang dingin mengeluarkan nasehat singkat untuk Bu Cantika.
"Iya benar sekali Bu, karena kadang kala pengunjung bukan hanya mencari makan di sini, kadang yang hanya ingin menghibur diri dan mengerjakan tugas, atau hanya menemani anak atau keluarganya makan. Jika tidak ada fasilitas lain tentunya merka akan merasa cepat bosan kan?" sambung Pak Yoga melengkapi.
"Baik Pak, terimakasih atas masukannya. Dan sekali lagi terimakaih atas kunjungannya malam ini. Mari saya antar sampai depan" jawab bu Cantika senang.
Setelah selesai mereka bertiga keluar, Vian yang terlihat dingin namun tampan, berjalan didepan diikuti Pak Yoga dan Bu Cantika. Saat Vian lewat di ruang karyawan Vian menjadi primadona wanita yang melihatnya. Ketika Vian yang berjalan keluar, sekilas Dia berpapasan dengan seorang gadis sedang berjalan mebawa baki dengan sangat hati hati.
"Gadis itu?" desis Vian pelan sambil menoleh ke arah Elsa, tapi sudah tak tampak masuk ke sebuah ruangan.
Pak Yoga yang hampir menabrak Vian yang tiba tiba berhenti bertanya. "Ada apa pak Vian? apa ada yang ketinggalan?".
"Ahh tidak Pak, mungkin saya salah lihat." sambil meneruskan langkahnya.
'Kenapa aku jadi berhalusinasi tentang dia?' batin Vian tak percaya.
Bu Cantika pun ikut menoleh kearah Elsa dan berkata dalam hati. 'Apa Pak Vian mengenal Elsa? tapi rasanya tidak mungkin.'
"Pak Vian mari saya antar, kebetulan Saya lewat satu arah dengan Pak Vian." Ucap pak Yoga menawarkan melihat Roy belum datang menjemput Pak Vian.
Vian yang berdiri di depan Cafe memberi aba aba tangannya suruh menunggu dan menghubungi Roy. "Kamu dimana?"
"Ini pak, Saya sedang mengantarkan nona Sarah ke rumah sakit, katanya sakit perut."
"Dimas sopir Sarah kemana?"
"Kebetulan tadi jam 8 sudah ijin pulang Pak."
"Ya sudah temani Sarah, Saya pulang dengan Pak Yoga." sambil memberi aba aba ke Pak Yoga tanda setuju kemudian memasuki mobilnya.
**
Matahari sudah terbit dengan silaunya, menandakan hari sudah pagi. Tadi malam setelah pulang dari kerja Elsa tidak langsung tidur, Dia menyempatkan membuatkan jaket rajut untuk kado Varel di hari ulang tahunnya sampai hampir jam 3 pagi. Elsa yang masih bersembunyi di dalam selimut tempat tidurnya dikagetkan oleh suara telp dari Handphonenya. "Hallo ini siapa?" dengan mata masih tertutup Elsa mengangkat telpnya.
"Sa, apa Kamu belum bangun nak? ini pak Tommy. Aku sudah mengirimkan lokasi dan alamat lengkap Pak Vian, nanti jam 4 kamu langsung aja ketempatnya, tidak usah ke Terapis." Suara Pak Tommy terdengar jelas di telinga Elsa walaupun dengan mata tertutup.
"Baik pak, nanti Saya akan datang tepat waktu." Jawab Elsa masih dengan posisi yang sama." Kemudian sambungan telepon sudah dimatikan.
"Hhuaaahhh capek sekali, untungnya sabtu libur kuliah jadi aku bisa sedikit santai." ucap Elsa pada dirinya sendiri.
Ia mencoba membenarkan selimut menutupi tubuhnya dengan sempurna, tapi terdengar suara telepon lagi..."Hallo siapa?" masih dengan matanya yang tertutup.
"Kamu belum bangun Sa? Nanti jangan sampai gak datang ya! acara Varel mulai jam 7 malam yach!" Ucap suara Dani di dalam telepon.
"Iya Dan, lanjut ntar ya aku masih ngantuk." jawab Elsa masih setengah sadar lalu mematikan teleponnya.
Tak lama setelah iti terdengar bunyi telepon lagi dan Elsa mengangkatnya kembali, "Dan aku masih ngantuk, ntar lagi ya... please" ucap Elsa sekenanya.
"Elsa, bangun ini Mbak Dewi. Kamu bisa kerunah sakit sekarang Sa? ini soal mamamu Sa." terdengar suara mbak Dewi di seberang telepon.
Mendengar kabar tentang Mamanya Elsa langsung terbangun dari tidurnya, melihat jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. "Ada apa mbak? ada apa dengan Mama?" tanya Elsa cemas.
"Pokoknya kamu kesini aja Sa sekarang, Mbak tunggu ya."
"Mbak..!" Belum sempat Elsa bertanya lebih lanjut Mbak Dewi sudah mematikan teleponnya. Dengan cepat Elsa bergegas mandi dan menuju Rumah Sakit tempat mamanya di rawat.
**
"Bagaimana Pak Tommy? apakah janji Gadis itu bisa dipegang? Apa dia benar benar akan menepati omongannya? Hari ini saya benar benar capek dan tak ingin kemana mana. Saya ingin dipijat dirumah." Vian berbucara lewat telepon kepada Pak Tommy.
"Saya sudah kirim lokasi dan alamat Pak Vian, nanti jam 4 sore Dia akan datang tepat waktu Pak. Barusan saya juga sudah mengkonfirmasi Dia lewat telepon." jawab Pak Tommy dengan yakin.
"Baik Pak Tommy, saya tunggu." Kemudian mematikan teleponnya.
Entah mengapa sejak Vian mendapatkan layanan terapis dari Elsa, Dia terus membayangkan wajahnya. Wajah yang polos dan pekerja keras. Sampai sampai di Cafe Star tadi malam bersama Pak Yoga dia serasa melihat gadis itu. Vian tak sabar mendapatkan pijatan gadis itu lagi.
**
Seperti Roller Coaster yang berjalan sangat cepat, Elsa berlari sepanjang rumah sakit karena takut terjadi sesuatu terhadap mamanya. Mbak Dewi jarang menyuruhnya ke rumah sakit secara dadakan kalo bukan masalah penting tentang keadaan mamanya.
"Mbak Dewi?" Elsa dengan kencang membuka pintu kamar tempat Mamanya di rawat dan tidak menemukan mamanya di tempat tidurnya. "Mama dimana Mbak?" Tanya Elsa histeris, dan tak kuasa butiran air jenih keluar dari kelopak matanya yang indah.
"Sa, Kamu yang sabar ya Sa, Tante Nawang sekarang ada di ruang ICU. Tadi malam saat Mbak pulang kerumah untuk mengambil baju ganti, keadaan Tante Nawang memburuk. Ternyata kabel Ventilator Tante Nawang terlepas Sa, untungnya Mbak datang tepat pada waktunya, sehingga Tante Nawang masih terselamatkan Sa. Kamu tenang ya sa." Sambil memeluk tubuh lemah Elsa.
Elsa tak tahan menangis sendu di kamar itu, Dia tak tahu harus berbuat apa. Yang Dia tau, Dia hanya ingin Mamanya selamat. "Mbak, terus serus sekarang Mama gimana Mbak?." Elsa bertanya dengan terbata bata karena tangisnya.
"Ayo Sa, Mbak antar Kamu. Kamu bisa melihat Tante Nawang dari jendela kamar ICU." sambil menuntun Elsa berjalan di ruang ICU yang tidak jauh dari kamar itu.
Melihat Mamanya terbaring di ICU Elsa bertambah sedih, dan dia terduduk lemas di lantai sambil menangis parau.
"Sa, kamu harus kuat Sa, tadi Dokter bilang Tante sudah mendapatkan penanganan terbaik, tapi Sa...." Mbak Dewi menghentikan kata katanya.
"Tapi kenapa Mbak??" Tanya Elsa penasaran.
"Operasi Tante Nawang harus segera di lakukan Sa, paling tidak besok atau lusa. Apa kamu siap Sa?" tanya mbak Dewi tidak yakin.
Bagai disambar petir di siang hari tubuh Elsa menjadi kaku tak bertenaga. "Besok atau lusa mbak? Kalau tidak apa yang akan terjadi mbak?" tanya Elsa dengan hati hancur. Ia tahu jika operasinya dilakukan besok atau lusa brarti uang untuk operasi juga harus siap besok atau lusa.
"Kata dokter, itu adalah jalan satu satunya untuk menyelamatkan Tante Nawang Sa, karena kondisi tante sekarang tidak memungkinkan jika harus bertahan lebih lama lagi." Mbak dewi pun ikut menangis menyampaikan kabar itu kepada Elsa.
Elsa dan Mbak Dewi pun berpelukan dalam tangis di lantai lorong dekat kamar ICU. Keduanya berharap akan ada keajaiban untuk kesembuhan tante Nawang.
Dengan sisa sisa kekuatannya, Elsa memberanikan diri untuk menelepon Pak Tommy. Ia berniat untuk meminjam uang kepada Pak Tommy. Siapa lagi yang ada dipikirannya selain bos tempat kerja nya di Terapis. Tak lama telepon pun diangkat. "Ha... Hallo Pak Tommy, ini Elsa.." Elsa berbicara sambil sesenggukan karena tangis.
"Iya Sa, ada apa Sa? Kamu menangis?" Pak Tommy mengetahui kalo Elsa menangis dari suaranya.
"Pak.. maafkan Elsa Pak, apa bapak bisa membantu Elsa?" Elsa berbicara dengan menahan isakan tangis tetapi tetap tak berhasil.
"Bantu apa Sa?" Pak Tommy semakin penasaran mendengar Elsa yang menangis tidak seperti biasanya.
"Apa bapak bisa meminjamkan Elsa uang pak? Elsa butuh uang 150 juta untuk besok pak. " tanya Elsa penuh harap, karena dia tak tahu harus meminjam ke siapa lagi.
"Apa?150 juta? besok? Apa kamu tidak salah Sa?" sahut Pak Tommy kaget mendengarnya.
"Iya Pak, Elsa butuh besok Pak, karena besok Mama harus di operasi pak..." Pecahan tangis terdengar karena Elsa sudah tidak bisa menahannya. "Elsa berjanji akan menggantinya Pak, Elsa akan bekerja lebih giat agar bisa cepat melunasinya..." lanjut Elsa kembali.
"Iya Sa, bapak percaya sama Kamu. Tapi, bapak tidak ada uang segitu banyak, apalagi besok harus ada. Ini juga hari sabtu Sa, pengajuan bank juga tidak mungkin." Pak Tommy menjawab dengan rasa iba terhadap Elsa.
"Tidak bisa ya pak? Te-terimakasih banyak Pak," Elsa kembali lemas karena harapan satu satunya telah hilang. Pandangan matanya gelap, kemudian Elsa kehilangan kendali sehingga Handphone Elsa terjatuh dan mati. Elsa yang pingsan saat itu juga sebelum menyelesaikan teleponnya kepada Pak Tommy. Mbak Dewi yang berada di sampingnya memanggil perawat jaga untuk membantu Elsa ke Igd.
"Hallo Sa, Sa... apa yang terjadi Sa?" Suara Pak Tommy di telepon tidak ada sahutan. Dia mencoba menelepon lagi tapi handphone tidak aktif. Dia menjadi cemas dengan keadaan Elsa.
**