Langkah demi langkah menemani Dani dan Elsa menelusuri rumah sakit menuju sebuah ruangan tempat dimana mama Elsa di rawat. Dengan tak sabar Elsa mengetok pintu lalu membukanya. Elsa mendapati mamanya seorang diri di dalam ruangan.
"Dan, Mbak Dewi kemana? mama kog sendirian?" tanya Elsa khawatir kepada Dani yang bersamanya.
"Kita tunggu Sa, mungkin baru ada keperluan." ucap Dani berusaha menenangkan.
"Tante Nawang belum juga sadar ya Sa sejak dulu?" tanya Dani iba.
"Iya, beginilah Dan keadaan Mama, kadang kadang saja Mama menggerakkan jarinya kata Mbak Dewi."
Terdengar suara derit pintu terbuka, sehingga pandangan Dani dan Elsa mengarah ke pintu itu. Terlihat sesosok perempuan berusia 30an dengan senyum hangat masuk dan menyapa Elsa.
"Elsa, udah lama datangnya?" tanya Mbak Dewi ramah.
"Belum Mbak, Mbak Dewi dari mana? tadi aku liat Mbak Dewi di depan, tapi saat aku kejar sudah tidak ada." tanya Elsa penasaran.
"Nebus obat ini Sa, ama konsul dokter baru karena Dokter Bambang mau purna. Td ada tambahan obat untuk tante Nawang untuk persiapan operasinya bulan depan."
"Operasi? bulan depan? brarti keadaan Mama sudah membaik Mbak?" elsa bertanya dengan sangat antusias.
"Iya Sa, barusan ini td Mbak baru aja dari ruang Dokter, dan kata Dokter operasi bisa dilakukan bulan depan." terang Mbak Dewi dengan lembut.
"Terimakasih ya Mbak, akhirnya bisa dilakukan operasi untuk Mama, ini semua berkat ketelatenan Mbak Dewi." tersenyum sambil menatap Mamanya.
"Tapi Sa, biaya operasi lumayan mahal, berkisar 150 juta, apa Kamu sudah ada Sa?" tanya Mbak Dewi, karena Dia tau Elsa bekerja sendiri untuk mencukupi biaya Rumah sakit ibunya.
"Kamu tenang aja Sa, aku pasti bantu kamu." Ucap Dani yang mendengar percakapan Elsa dan Mbak Dewi.
"Tidak usah Dan, aku sudah ada tabungan kog. Kamu tidak usah repot repot Dan." Walau sebenarnya Elsa belum punya uang sebanyak itu, Dia tidak ingin menjadi beban untuk Dani, karena kalo sampai Tante Amara tau pasti Elsa yang akan kena imbasnya.
"Aku tidak repot Sa, aku hanya ingin membantu Kamu aja Sa. Aku juga udah menganggap Tante Nawang sebagai ibuku sendiri." ucap Dani membela keinginannya untuk membantu biaya operasi tante Nawang.
"Sudah ada Dan, Kamu tenang aja. Sekarang udah hampir jam setengah 5 lho, katanya Kamu ada acara, nanti keburu gelap." bantah elsa berusaha mengganti topik pembicaraan.
"Yaudah Sa, aku duluan ya, pokoknya kalo Kamu butuh apa apa, Kamu bilang ma aku ya! jangan sungkan!" berusaha meyakinkan Elsa lagi.
"Siap pak Dani Syahputra!" Elsa tetap berusaha menunjukkan sisi cerianya walaupun pikirannya sedang tak terarah.
"Mbak Dewi, nitip tante Nawang dan Elsa ya Mbak, Dani pulang dulu." pamit Dani kepada Mbak Dewi.
"Iya Dani, kamu hati hati ya di jalan."
"Terimakasih Mbak."
Walau Dani jarang ke Rumah Sakit, Mbak Dewi sudah mengenal Dani karena Danilah satu satunya teman Elsa yang sering menemani Elsa sejak masih di bangku putih abu abu. Mbak Dewi menatap Elsa yang tampak gusar sambil memegamg tangan ibunya yang tak bergerak itu.
"Sa, Mbak lihat Dani tulus Sa mau membantu kamu. Mbak tau, Kamu belum ada kan uang segitu?" Mbak dewi bilang dengan sangat hati hati.
"Iya Mbak, aku tau, tapi aku gak mungkin menerima bantuam dari Dani Mbak, sedang Tante Amara tidak suka ma Elsa Mbak, Dia bahkan pernah terang terangan minta ma Elsa untuk menjauhi Elsa karena takut Elsa hanya ingin memanfaatkan kekayaannya. Elsa gak mau Mbak, dianggap cuma ingin memanfaatkan Dani." terang Elsa menjelaskan kepada Mbak Dewi.
"Iya sih Sa, Mbak ngerti kog. Tapi satu bulan lagi bagaimana Sa? Mbak paling juga adanya beberapa juta saja Sa."
"Mbak Dewi gak usah pikirkan masalah itu, pasti Elsa akan mendapatkannya. Lagian masih ada waktu satu bulan kan mbak." Elsa berusaha memberi kepercayaan kepada Mbak Dewi untuk tidak ikut memikirkan biaya mamanya itu.
" Oya Mbak Dewi ada acara tidak? kalo mbak Dewi mau pulang dulu, atau kemana nggak apa apa lho Mbak, Elsa masih bisa nemenin mama sampe jam 7 malam kog Mbak, sebelum Elsa berangkat kerja nanti." ucap eEsa lagi.
"Enggak kog Sa, Mbak hanya mau mandi aja. Mbak tinggal mandi bentar ya Sa." pinta mbak Dewi.
"Oke Mbak." jawab Elsa semangat.
Elsa menemani mamanya yang berbaring itu, sambil memijat kaki dan tangan mamanya dengan minyak terapis pemberian Pak Tommy secara perlahan dan lembut.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 18.30 malam, Elsa berpamitan kepada Mbak Dewi untuk berangkat kerja di Cafe Star.
Disepanjang perjalanannya menuju Cafe Star Elsa terus memikirkan bagaimana cara mengumpulkan uang untuk biaya operasi Mamanya dalam waktu satu bulan ini.
**
Gemerlap lampu warna warni terlihat begitu indah menerani Cafe Star pada malam hari ini. Tapi ditempat kerjanya pun, Elsa hari ini kurang bersemangat seperti biasanya. Dia lebih banyak melamun dan diam sambil berfikir keras.
"Sa, Kamu kenapa sih? daritadi melamun saja. Nanti kalo Bos liat kamu dimarahi lho. Cepat sana beresin meja no 4!" sapa Hanny patner kerjanya di Cafe Star.
"Iya Han, maaf ya. Biar segera aku bereskan." Sahut Elsa yang terbangun dari lamunannya. Ia bergegas membereskan meja no 4 dan kembali ke dalan ruang karyawan.
"Hallo semuanya, gimana? semua perfect kan?" Bu Cantika pemilik resto tiba tiba datang ke Cafe Star. Biasanya dia datang hanya pada akhir pekan saja.
"Eh Bu Cantika, tumben Bu jumat malam sudah datang ke Cafe?" tanya Dion salah satu karyawan Cafe.
"Iya donk... Ibu hari ini ada kesepakatan dengan pengusaha sukses. Semoga aja berhasil yah, kalau berhasil nantikan gaji kalian juga yang bakal naik." Terang bu Cantika dengan sangat bersemangat dan bahagia.
"Hore..." Seru karyawan secara bersamaan mendengar berita bahagia ini.
"Ya sudah sekarang Kamu Dion bersihkan ruang vip, kasih pengharum ruangan, dan beri lampu yang syahdu, selanjutnya kamu Elsa masak menu best seller di Cafe ini, setelah siap tugas kamu hanny dandan yang cantik dan antar ke ruang vip. Dan selanjutnya tugasmu Elsa membantu vivi pegang kendali di pelayanan Cafe depan yach." terang bu Cantika memberikan instruksi kepada karyawan karyawannya.
"Baik bu, siap laksanakan" Jawab mereka secara serentak.
"Jam 10 semua harus siap ya, karena tamu kehormatan kita akan datang jam 10 tepat. Setelah urusannya di Hotel sebelah selesai. Oya Elsa kamu ikut ibu sebentar ke ruangan Ibu, Ibu mau bicara sama kamu." sambil memberi aba aba kepada Elsa untuk mengikutinya.
Elsa pun kemudian melangkahkan kaki mengikuti Bu Cantika masuk ke ruangannya.
"Elsa Arneta, Ibu langsung aja ya, tidak usah basa basi. Apa kamu masih ingin bekerja disini?" tanya bu Cantika menyelidik.
"Tentu saja masih Bu, Saya sangat memerlukan pekerjaan ini."
"Kalau begitu, jika Kamu ada masalah diluar pekerjaanmu, Ibu minta tolong jangan di bawa bawa ke Cafe Star ini oke!. Kamu disini pokoknya fokus bekerja saja, jangan sampai mengecewakan ibu dan pelanggan Cafe ini, mengerti?"
"Baik Bu Cantika, Saya minta maaf kalau tadi saya sempat melamun." Sambil menahan air mata yang ingin keluar dari kelopak matanya.
"Kalau Ibu boleh tau, emang kamu ada masalah apa?" tanya bu Cantika.
"Sa-saya sedang memikirkan bagaimana cara mendapatkam uang 150 juta dalam waktu satu bulan bu, untuk biaya operasi Mama saya."jawab Elsa jujur kepada Bu Cantika.
"Wah banyak juga ya, sayangnya kalo ibu bantu, ibu belum bisa karena Kamu juga belum lama kan, dan Cafe Star ini masih dalam proses pembaharuan. Trus apa yang kamu punya? Sertifikat? atau mobil atau saudara kaya?" Selidik Bu Cantika berusaha memahami.
"Tidak ada bu, Eh ada sertifikat rumah tapi itu adalah satu satunya tempat tinggal Saya bu, dan nanti bersama Mama saya kalo sudah pulang dari Rumah Sakit bu."
"Dasar bodoh, siapa yang suruh menjualnya, kan Kamu bisa gadaikan saja." Bu Cantika mencoba memberi ide kepada Elsa.
"Tapi semua masih atas nama Mama saya Bu, apa bisa?"
"Hemmm sulit juga ya,,, yawdah sekarang fokus kerja dulu sana. Kalo Ibu bisa dapat jalan keluarnya, Ibu pasti akan bantu Kamu." tenang saja, masih ada waktu satu bulan kan. Walaupun Bu Cantika dikenal tegas, tapi sebenarnya Dia sangat perhatian kepada seluruh karyawannya.
"Iya bu Cantika, terimakasih banyak Bu, saya ijin keluar dulu Bu, untuk melanjutkan pekerjaan Saya." Elsa berpamitan kepada bu Cantika dengan hormat, dan bu Cantika memberi kode dengan tangan mengiyakan.
**