Di dalam rumahnya yang sederhana tapi nyaman untuknya, Elsa sibuk membersihkan ruang tamu dapur dan kamarnya yang sejak tadi pulang dari kampus. Kemarin Dia tidak sempat membersihkan karena ditinggal kerja sampai larut malam.
"Akhirnya selesai juga. Sudah jam setengah 3, mandi dulu ah ... nanti ndak Dani keburu datang." Elsa ngomong kepada dirinya sendiri untuk mengusir rasa sepi di rumahnya.
Belum selesai mandi Elsa mendengar ketukan pintu di depan rumahnya.
"Tok tok tok ... Elsa, aku dah datang. Bukain pintunya. Kamu masih ada di dalam kan?" suara Dani bergema keras, untuk meyakinkannya kalo Elsa di dalam. Dia tidak mau ditinggal pergi Elsa duluan dan kehilangan waktu untuk menemaninya kerumah sakit.
"Iya iya Dan, tunggu dulu, nanggung..." jawab Elsa polos sambil bergegas menyelesaikan mandinya.
Selang berapa menit pintu telah dibuka Elsa. Elsa membukakan pintu dengan handuk yang melilit di tubuhnya. Aroma sabun yang masih kental tercium dari tubuhnya. Rambutnya yang basah dijepit ke atas sehingga membuat titik titik air jatuh di pundaknya.
Dani yang melihat pemandangan itu terpesona melihat tubuh Elsa yang hanya di balut handuk itu. Dia menelan ludahnya seakan ingin menelan Elsa saat itu juga. Biasanya dia melihat Elsa yang berpakaian sederhana tapi sedikit tomboy dalam kesehariannya.
"Hey, kamu kenapa Dan? Cepat duduk dulu. Aku siap siap dulu ya. Lagian cepet amat Kamu datangnya." celoteh Elsa polos sambil berjalan ke kamarnya meninggalkan Dani yang masih terdiam di depan pintu.
"i-i..ya Saa..." Dani menjawab terbata. Dia masih terpesona, tak ingin Dia melewatkan pemandangan indah itu. Elsa berjalan dengan kaki yang terlihat sampai ke paha, bo**ng yang bergoyang di dalam balutan handuk menjadi pemandangan yang indah untuk Dani. Dia terus melihat kearah Elsa, sampai Elsa tak terlihat masuk ke dalam kamarnya. Tak kerasa kelakiannya terbangun mengingat kejadian tadi.
'Huuuhhh mimpi apa gue semalam, melihat Elsa hanya pake handuk.' batin Dani dengan raut muka yang merah merona.
Selang beberapa menit Elsa kembali dengan celana jeans dan kaos pink yang menempel pas di tubuhnya. Walau dengan pakaian sederhana Elsa tampak cantik.
"Yuk Dan, berangkat atau mau minum dulu?" Elsa berjalan keluar dari kamarnya dan menyapa Dani yang masih bengong.
"Eh iya, Eh enggak... iyaaa... ehh gak usah." Dani menjawab gugup.
"Kamu kenapa sih Dan? kog jadi gagap gitu, Kamu haus? mau minum apa? gak habis liat hantu kan Dan, Kamu?" ucap polos Elsa.
'Habis liat bidadari berhanduk Sa...' Batin dani tersenyum malu.
Berusaha mengontrol perasaannya yang menerawang entah kemana Dani, berdiri sambil berkata "Yuk Sa, langsung aja berangkat. Aku ada air di mobil. Dan pastinya kamu keburu gak sabar kan ketemu tante Nawang?".
"Heee tau aja Dan. Yuk..."
Mereka berdua keluar dari rumah bersama dan kemudian masuk ke dalam mobil jazz putih milik Dani. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang memperhatikan gerak gerik mereka berdua.
"Non mereka pergi berdua. Dani menjemput Gadis itu. Ini saya masih mengikutinya." Roy mengirimkan pesan kepada Sarah memberikan informasi sesuai yang Dia dapatkan.
Tak selang berapa lama muncul balasan di pesannya " Pokoknya jangan sampai lolos, dan ingat perintahku besok jangan sampai gagal!!! kalo gagal aku adukan ke kak Vian biar kamu dipecat!! mengerti !!!" ancam Sarah.
"Baik Mbak." Roy menjawab pesan itu singkat sambil memikirkan apa yang harus dia lakukan agar Elsa tidak berangkat ke acara yang Sarah minta tadi, tanpa harus menculiknya.
Dan tiba tiba ponselnya berbunyi.
"Roy kamu dimana?" tanya suara di seberang sana kepadanya lewat telepon.
"Saya sedang mengikuti Gadis itu Pak, dan dia sedang bersama Dani laki laki yang disukai Mbak Sarah." jawab Roy menjelaskan.
"Yas udah, lanjutkan, jangan kecewakan Sarah ndak ngambek. Nanti malam, Kamu jemput saja Saya di Hotel Hercules setelah acara selesai jam 11 malam." pinta Vian kepada Roy sopir pribadinya.
"Baik Pak, dan setelah Saya amati ternyata gadis itu adalah..."
Tut..Tut...Tut....
Sebelum Roy selesai menyelesaikan ucapannya, telepon sudah di tutup oleh Vian. Sebenarnya Dia ingin memberitahu kepada Vian kalau gadis itu adalah gadis yang telah menabraknya waktu itu, yang merusakkan Laptopnya, tapi telepon keburu di tutup.
'Sudahlah pasti bukan hal yang penting," desis Roy dalam hati.
**
Elsa dan Dani sudah sampai di parkiran Rumah Sakit, tapi mereka masih duduk di dalam mobilnya karena Dani menghalangi Elsa keluar dengan mengunci mobilnya.
"Dan, kenapa kog dikunci?" tanya Elsa ingin tau.
"Maaf Sa, aku ingin ngomong dulu ma Kamu." jawab Dani memohon.
"Emang mau ngomong apa Dan? biasanya juga ngomong langsung kan?" goda Elsa berusaha mencairkan suasana.
"Sa ... aku mau kasih ini, aku harap Kamu mau datang yach." pinta Dani dengan sepenuh hati.
"Apa ini Dan? Kamu ulang tahun? kog gambarnya kartun?" sambil tersenyum membuka dan membaca kertas undangannya. " Oalah Varel yang ultah? kog baru dikasih sekarang sih? Aku kan belum kepikiran mau beli kado apa Dan." ucap Elsa sambil memikirkan sesuatu.
'Duh beli kado apa? mana aku belum gajian. Padahal acaranya besok malam.' batin Elsa berbicara sendiri.
"Sa, aku harap Kamu datang ya! Aku sangat berharap Sa. Aku ingin mengenalkanmu kepada Papa dan Mama ku kalo Kamu adalah orang yang spesial Sa buatku. Aku ingin serius ma Kamu Sa, aku sayang banget ma Kamu." Dani menggenggap Erat tangan Elsa sambil memohon.
"Dan... Kamu... Aku..."
"Ssstttt... sambil menempelkan jarinya di mulut Elsa yang tertutup... Varel juga sangat berharap kamu datang Sa, jangan kecewain Dia yach... " Dani berharap dengan menggunakan nama Varel, Elsa mau mengabulkannya.
"I...i...ya Dan.... aku pasti usahain datang Dan, demi Varel. Aku gak mungkin mengecewakannya." jawab Elsa tulus kepada sahabatnya itu.
Walau sedikit kecewa karena Elsa memberatkan kehadirannya karena Varel dia berusaha terima, yang penting Elsa mau datang." Makasih ya Sa... " ucap Dani senang.
"Tapi Da, aku mohon Kamu ingat komitmenku kan Dan?" ucap Elsa mengingatkan, kalo dia tidak ingin mengikat sebuah hubungan, jika Dia belum lulus dan bekerja meraih impiannya.
"Sa... Aku serius Sa ma Kamu, Aku ingin mengenalkan Kamu sebagai orang yang spesial kepada Mama Papaku Sa. Aku ingin mereka tau, aku bahagia ma Kamu Sa." pinta Dani lagi.
"Tapi Dan, Kamu masih ingat kan terakhir kali aku ketemu ma Tante Amara di sekolah dulu. Dia tidak ingin Kita sering bersama kan Dan." Sambil mengingat masa dulu saat dia disuruh Tante Amara menjauhi Dani.
"Itu sudah lama Sa, nanti malam aku akan bilang semuanya ke Papa Mama, kalo aku udah dewasa dan ingin memulai hubungan serius ma Kamu Sa." bantah Dani dengan penuh harap.
"Eh Dan itu mbak Dewi, ayuk kita samperin." pinta Elsa ketika melihat seorang yang Dia kenal berjalan di depan mobil yang terparkir itu.
"Iya Sa, Tapi besok Kamu datang kan??" dengan muka memohonnya.
"Iya iya... ayo keburu Mbak Dewi jauh Dan." jawab Elsa dengan muka gelisah.
"Janji ya Sa!"
"Duch kamu ini Dan, Iya iya aku janji pasti datang. Belum cukup?" jawab Elsa tidak sabar.
"Iya Sa, ayo..." walau belum puas dengan jawabannya, tapi Dani udah merasa lega Elsa mau berjanji datang di acara besok, dan Dia tak mau berdebat lagi dengan Elsa gadis yang dari dulu sangat Dia cintai. Dia berharap nanti di acara ulang tahun Varel, jadi kado terindah untuk hubungannya dengan Elsa.
Segera setelah keluar dari mobil Elsa berlari mengejar Mbak Dewi, perawat yang telah diminta intensif merawat dan menjaga mamanya.
"Duch Sa, Kamu kog lari cepat banget sih? ini kan Rumah Sakit Sa..." Dani mengomel ke Elsa karena Dia tergopoh gopoh mengejar Elsa yang berlari sangat cepat.
"Iya Dan maaf, habis aku terlalu bersemangat mengejar Mbak Dewi, maaf yah." ucap Elsa kemudian merasa bersalah.
"Iya iya, ayuks jalan aja, nanti pasti ketemu ma Mbak Dewi di ruangan Tante Nawang kog." sahut Dani menghibur Elsa sambil menggandeng tangannya.
**