BAB 24 : JEALOUS

1306 Words
“Yang mana? Yang pertama atau yang kedua?” ulang Johan. Alih-alih menjawab, Kinan hanya tersenyum penuh. Seolah, pertanyaan itu tak perlu jawaban. Toh, apa yang terjadi sudah lebih dari jelas. Gadis itu merampas bola ditangan Johan, memantulkan berkali-kali, berlarian kesana kemari. Sedang, Johan masih diam menatapnya penuh harapan. Bukankah Kinan keterlaluan? “Mama kamu apa kabar?” tanya Kinan tiba-tiba disela engahan nafasnya. Johan menatap langit sekilas, membuang rasa kesalnya, lantas mengangguk-angguk kecil, “Baik.” Jawabnya singkat, “Masih seluar biasa dulu, melakukan segala hal demi masa depan anaknya. Meskipun itu berarti memotong sayapku.” “Tapi, itu bukan berarti kamu menyerah untuk terbang kan, Jo?” Johan menatap Kinan sejenak, “Gimana mau terbang, kalau sayap aja nggak punya.” “Peterpan juga gak punya sayap, tapi dia bisa terbang karena ada tinkerbell. Jadi jangan khawatir kalau sayapmu patah, kamu masih punya aku.” Lelaki itu tertawa kecil, “Jadi kamu tinkerbell?” “Emangnya kamu mau kalau aku jadi wendy? Cuma bisa dikenang dalam ingatan.” “Enggak, sih. Tapi, aku nggak mau peterpan.” “Kenapa?” “Dia bodoh, ninggalin tinkerbell demi wendy. Padahal, siapa yang ada disamping peterpan selama ini?” “Bener. Tapi, Tinkerbell deserve better sih, Jo.” ujar Kinan sembari melempar bolanya pada Johan, “Tinkebell selalu disana untuk Peterpan, padahal Peterpan selalu berlari menuju Wendy.” “Kalau gitu, aku Tinkerbell dong.” “Hm?” Johan tersenyum sekilas, lantas sibuk memainkan bolanya, “Kamu sama Alan terus akhir-akhir ini.” ujarnya, “Waktu itu aku mau mampir ke Panti, tapi ada motornya Alan.” “Ah, Jumat kemarin? Iya, Aku sama Alan abis ke-” “Aku nggak nanya kok, Nan.” potongnya cepat, “Aku juga nggak masalah. Kamu berhak punya dunia sendiri, selain dunia kita.” “Apaan sih?” tanya Kinan sembari terkekeh kecil, “Kamu cemburu?” Dari tempatnya berdiri, Johan melemparkan bola basketnya ke ring. Dua poin sempurna. “Menurutmu?” tanyanya. “Ngelawak banget, sih.” Komentar Kinan sembari mengejar bola Johan, “Aku padahal biasa aja kalau kamu sama Della.” “Kok jadi Della?” tanya Johan heran. “Ya, kamu! Orang kita lagi berdua malah bahas orang lain.” Satu senyum kecil buncah diwajah Johan, “Jadi Alan orang lain?” Kinan menghela nafas lelah, “Johan, kita mau belajar basket kan bukan bahas Alan?” ujarnya, “Sini ajarin shooting.” Johan melenggang, mendekati Kinan yang telah siap menimpuknya dengan bola basket apabila membuka suara. “Kaki tanganmu harus rileks dulu.” ujarnya sembari memukul kecil lengan Kinan yang terbuka kaku, “Jangan gini, kayak mau ngajak duel orang aja.”             Kinan menggoyang-goyangkan tubuhnya, mencoba melemas –meski tak yakin itu dapat membantunya.             “Badanmu hadapkan ke ring. Waktu ngelempar, sikumu dibuka, terus lenganmu lurus kearah ring. Ngikutin bola. Kalau butuh tembakan lebih, lututmu tekuk dikit terus loncat.”             Gadis itu mengerjap dua kali, sama sekali tidak paham apa yang baru saja dikatakan Johan.             “Nggak paham?”             Kinan menggeleng polos, tidak merasa bersalah.             Johan berpindah tepat dihadapan Kinan. Ia menyentuh kedua siku gadis berambut panjang itu, “Buka segini. Badanmu sejajarin sama ring.” Johan menoleh, memastikan tubuhnya terlebih dahulu kemudian menggeser Kinan sedikit, “Nah, disini.”             “Terus lutut ditekuk, loncat, lempar?” tanya Kinan memastikan.             “Iya, coba.”             Kinan mengangguk tipis, memperagakan apa yang baru saja ia pelajari. Namun seperti yang sudah ia duga sebelumnya, lemparan itu sia-sia. Johan segera mengejarnya, dan memberikan kembali pada sang gadis.             “Kalau loncat segitu nggak bisa nyampe ke ring, coba lebih tinggi lagi.”             Tanpa banyak bicara, Kinan segera melakukannya lagi. Benar, memang benar loncatannya tinggi, tapi lemparannya mendatar. Gadis itu tidak memberikan kekuatan penuh pada kedua lengannya.             “Nan,” panggil Johan lirih, “Loncat maksudku itu nggak loncat kayak gitu. Loncat buat nambahin tinggimu gitu, lho. Buat bantu dorongannya tanganmu. Tanganmu juga yang lurus, lempar ke atas, bukan chestpass.”             Kinan menghela nafas berat, menatap bola bundar yang kini sempurna ia peluk. “Aku kayaknya nggak bakat olahraga deh, Jo. Mending kita nyerah, terus makan es krim bunda. Jangan buang tenaga. Yuk?”             “Sama kamu kok buang tenaga.” Ujar Johan menghentikan langkah Kinan, “Kamu itu bukan nggak bisa, tapi males usaha. Males bisa. Kalau capek istirahat dulu, jangan nyerah kayak gini. Aljabar aja bisa masak lempar bola nggak bisa.”             “Beda, aljabar mah belajar dulu, bola mah keahlian.” Protesnya.             “Bola juga belajar dulu kali.”             Johan kembali pada posisinya, “Tekuk, loncat, lempar tinggi.” ujarnya sembari menatap sepasang mata bening itu, “Sekarang lemparnya diatas kepalaku.”             Kinan menatap Johan, mencoba mencerna kalimatnya, “Kamu didepanku?”             Lelaki itu mengangguk cepat, “Kepalaku ukurannya. Kamu harus loncat dan lempar diatas itu.”             “Aneh-aneh.” Ujar Kinan sembari mendorong kecil lengan Johan, “Minggir.”             “Udah cepet lempar.”             Kinan menatapnya sejenak, “Yakin?”             “Udah, cepet.”             Gadis itu pun kembali melemaskan tubuhnya, mengambil ancang-ancang agar sesuai yang telah dituturkan Johan.             Namun, ketika kakinya siap melompat. Johan cepat menahan bahunya, “Bentar.” Cegahnya. Kening Kinan mengerut, “Kenapa?” “Nggak baik buat jantungku.” Ujarnya kemudian membalikkan badan, “Udah.” Sambungnya. Kinan terdiam, menatap tubuh yang memunggunginya. Bohong, bohong bila ia menganggap semua perkataan Johan hanyalah candaan antar teman. Teman tidak mengatakan hal-hal yang seperti ia katakan. Gadis itu terdiam, ia tidak tau harus bersikap seperti apa. Johan menoleh, “Kok bengong, ayo lempar.” Kinan mengangguk kecil. Kembali merapal satu persatu ajaran Johan dan melakukannya. Dan entah tenaga dari mana, arah bola gadis itu melayang persis diatas kepala Johan kemudian dipantulkan bibir ring. Johan seketika bersorak, mengejar bola agar tidak terlalu jauh melangkah dan tersenyum penuh menatap Kinan, “Nah, bisa kan? Tinggal dikit lagi, arahin lebih keatas.” Kinan mengangguk penuh senyum, “Iya!” “Ayo lagi.” “Kamu didepanku lagi?” tanyanya. “Iya, sampai kamu bisa masukin bola.” Kinan tersenyum, “Yaudah, buru balik badan.” Dan dalam hitungan detik, bersama buncahan lelah dan ingin buru-buru kembali pulang, Kinan melemparkan bola basket malang itu sekuat tenaga. Dua pasang mata itu seketika mengikuti laju bola dengan seksama. Kinan meremas ujung lengan Johan, harap-harap cemas. Dan... Three point. Johan menggengam tangan Kinan untuk menyorakinya, “Yeay!!! Poin pertama Kinan.” ujarnya. Kinan tersenyum begitu lebar dari telinga ke telinga, “Berkat Johan!” ujarnya.             Lelaki itu membalas senyuman Kinan dengan tulus, diusapnya perlahan punggung tangan Kinan yang jatuh nyaman ditelapaknya. Dimomen itu, ada satu tekad yang ingin ia bulatkan. Namun, segalanya tiba-tiba sirna saat mata Johan tak sengaja jatuh pada pergelangan tangan Kinan. Kuncir rambut yang beberapa waktu lalu pernah ia sangsikan keberadaannya, bertengger angkuh disana.             “Ayo, lagi.” ujar Kinan sembari menarik tangannya.             Johan cepat menahan, ia benar-benar ingin menamatkan kuncir rambut s****n itu, “Cantik, Nan.”             Kinan mengikuti arah pandang Johan. Lantas cepat menarik tangannya sekali lagi, “Iya.” jawabnya singkat.             “Dikasih ya? Kamu kan nggak pernah punya kunciran rambut.”             Gadis itu mengangguk cepat, kemudian melempar matanya ke sembarang arah.             Melihat gelagat itu, tanpa perlu repot-repot bertanya. Johan tau siapa dalang dibalik itu semua. Mungkin, ini saat yang tepat untuk memastikan langkah.             “Pulang yuk, sabtu lagi.” ajak Johan tiba-tiba yang kemudian dibalas tatapan dalam dari Kinan, “Aku takut dicari mama.” Kilahnya cepat.             Lagi-lagi, gadis itu mengangguk.             Johan mengambil bola yang diam ditengah lapangan, seolah ingin menjadi bagian dari kesedihannya, lalu melenggang begitu saja meninggalkan Kinan sendirian. Gadis itu menoleh, menatap betapa kasarnya langkah Johan. Mungkin ini yang paling baik dari keadaan mereka: mulai belajar memperjelas batas –pikirnya.             Ketika Kinan sedikit sempoyongan mengikuti langkah Johan, lelaki itu menoleh, “Nan.” panggilnya, “Aku diajak Della nonton selasa besok. Jadi maaf ya, kayaknya kita nggak jadi belajar bareng.”             
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD