Bioskop memang tak kenal tanggal hitam. Entah sesibuk apapun hari itu, orang-orang selalu berhasil menyisipkan waktu untuknya. Bagi mereka, dua jam yang dihabiskan untuk menonton film bersama orang yang spesial bukan kesia-siaan. Itu merupakan investasi waktu yang paling berharga. Apalagi, saat tak sengaja jemari tangan mereka bertemu dikantong popcorn yang harganya dua kali makan siang. Ah, bioskop memang selalu berhasil menciptakan romansa tersendiri.
Dideretan tengah kursi-kursi merah yang mulai terisi penuh, seorang lelaki melepas jaket jeansnya. Matanya melirik seorang gadis bershortdress merah muda yang duduk tenang disisinya. Entah mengapa hari ini gadis itu begitu jelita dengan goresan perona pipi tipis dan pewarna bibirnya.
Lelaki itu terdiam sejenak, lantas dengan hati-hati bertanya, “Mau pakai?” ujarnya menawarkan jaket.
Sang gadis menatap heran, “Hm?”
“Mau pakai?” ulangnya, “Biar kakimu nggak dingin, Del.”
“Ah.” Ujarnya ketika sadar apa yang dimaksud. Della segera menerima jaket jeans itu dan menyampirkan dipangkuannya. “Thanks, Jo.”
“Urwell.” Jawabnya singkat, kemudian kembali tenggelam pada layar ponsel pintar.
“Nggak nyangka sih, kamu mau datang.” Ujar Della diantara keheningan mereka, “Makasih, ya.”
Johan menutup ponselnya, merasa tidak enak, “Ya, datang lah. Masa kamu pertama kali ke bioskop aku biarin sendirian. Entar nggak tau lagi caranya beli tiket. Mau masuk bioskop, malah nyasar ke kamar mandi.” Guraunya.
Della memukul lengan Johan kasar, “Hey, aku tuh Cuma nggak pernah ke bioskop. Bukan bodoh.”
Lelaki itu mengaduh, “Ampun, mbak jago.”
“Eh, tapi, nggak papa nonton film ini? Kartun, lho.”
“Nyantai...” jawabnya, “Aku mah nurut apa katamu aja.”
“Cih, gombal.”
“Ngomong-ngomong, kamu izin apa ke mama papamu?”
“Belajar bareng sama Johan.” Jawabnya singkat, tanpa rasa bersalah.
“Ya gitu, pinter, jual namaku.”
“Abisnya, mama Cuma kenal kamu.”
“Yaudah, nanti-nanti kalau kamu mau keluar bilang aja belajar bareng sama aku. Siapa tau dibolehin lagi kan? Tapi ya, jangan sering-sering juga. Nanti mamamu curiga.”
“Mama tiap hari curiga, kok. Nggak kaget.”
“Ya, gimana nggak curiga.” Dagu Johan menunjuk dress-nya,“Mau belajar bareng tapi pake baju begitu.”
“Lah, kenapa?”
“Kayak mau ngedate.”
Della mengerjap, “Aku biasa pakai baju gini, kok, kalau keluar.” Jawabnya, “Kenapa, aneh ya?”
Johan menggeleng, “Cantik, kok.” Jawabnya.
“Cantik mana sama Kinan?”
“Kecantikan itu nggak bisa dinilai, apalagi dibandingkan. Setiap orang punya cara cantiknya masing-masing.”
“Cih, pinter banget kalau ngeles.”
Mereka kembali terdiam sejenak, menikmati lalu lalang penonton yang baru datang dan iklan-iklan apa saja dilayar lebar. Hingga tiba-tiba, lampu meredu. Petanda film akan segera dimulai.
“Tapi, kamu baik-baik aja kan?”
Della menoleh, menatap lelaki yang bertanya tanpa menoleh kearahnya, “Kamu mau jawaban yang kayak apa?”
“Yang nggak bikin aku khawatir sampai akhir film ini.” jawab Johan.
Gadis itu tersenyum tipis, “Yah, padahal aku pengen terus terang. Aku bener-bener lagi nggak baik-baik aja, everything so mess up lately.”
Johan menoleh, menghujami Della dengan tatapan khawatir.
“Maaf ya, aku emang sengaja bikin kamu khawatir. Biar seenggaknya, meskipun Cuma dua jam pikiranmu buat aku. Bukan buat Kinan.” mata gadis itu berkaca-kaca, “Kau tau, Johan, aku mulai sangsi pada orang-orang yang bercerita tentang bagaimana menyenangkannya saat lampu bioskop mulai redup. Apalagi mereka yang bercerita tentang romantisme ketika film dimulai, dan beberapa jumpscare membuatmu melompat kepelukan yang tepat.”
“Bagiku, Johan, saat yang paling indah dari Bioskop adalah ketika lampu menyala. Saat dimana orang-orang malas menyaksikan iklan dan memilih menghabiskan waktu dengan berbicara satu sama lain. Dan juga, saat film telah usai dan orang-orang saling memandang melemparkan ekspresi tentang bagaimana cerita dituangkan. Seperti kita, tadi dan nanti.”
“Jadi, bisa nggak kamu tutup roomchat nya Kinan? Dua jam aja. Supaya aku benar-benar merasakan, kamu ada dipihakku sekarang.”
“Dell-”
“Sssttt.” Potong Della cepat, “Jangan ngomen, pikirin aja dulu sepanjang dua jam film ini. Kalau kamu butuh sesuatu untuk bikin Kinan cemburu, nanti kita bahas, oke?”
Kini, giliran mata Johan mengerjap. Ia tidak tau, Della mengerti inti kedatangannya hari ini. Lelaki itu menunduk, mematikan layar ponselnya. Ia tidak ingin menyakiti Della lebih banyak lagi. Film benar-benar dimulai. Ruang teater mendadak sunyi digantikan audio-audio menggema yang membuat jantung berdegup. Johan mencoba fokus, mengabaikan segala distraksi yang ada dikepalanya. Della pula, meskipun ia tampak menikmati, sebenarnya kepala gadis itu penuh dengan hal-hal bisu.
Apalagi, luka yang sedang ia sembunyikan. Luka yang disebabkan oleh kecerobohannya sendiri.
Johan, mama nyuruh aku les privat karena tau aku suka sama kamu. Jadi dia menghadiahkan perpisahan terakhir untuk kita –batin Della, sembari menghapus air mata diujung matanya.
Dua jam berlalu begitu lambat. Segala tingkah lucu karakter dibalik layar sana, sama sekali tidak mengubah keadaan. Lampu mulai menyala, sedang Johan mematung menatap layar lebar yang gelap. Hingga sesaat kemudian, ia menoleh, menatap wajah yang menyambutnya penuh senyum.
“Seru banget, mau nonton lagi!”
Johan mengangguk, “Iya, seru. Nanti ya, kalau udah keluar bajakannya.”
“Dasar anak bajakan!” ujarnya gemas.
“Yaudah, yuk. Makan, laper.” Ujar Johan sembari menegakkan punggungnya.
“Eh, foto dulu!” pinta Della. Gadis itu mengotak atik ponselnya, dan mengarahkan pada mereka berdua, “Sekali aja.” rengeknya.
Tanpa menjawab, Johan mengukir senyum diwajahnya dan membentuk lambang perdamaian di jemarinya.
“Satu, dua, tiga, cisss!”
“Sekali lagi, dong!” ajak Johan.
Della tersenyum senang, “Satu, dua, tiga.” Ia mengotak-atik ponsel, sementara Johan memakai kembali jaket jeansnya, “Udah aku kirim, kalau kamu mau ngirim ke Kinan.” ujarnya, kemudian berjalan mendahului Johan.
Lelaki itu tiba-tiba mengeluarkan ponselnya yang bergetar, dan memotret keadaan bioskop setelah film sudah selesai. Sebuah potret orang-orang berhambur keluar dan seorang gadis jelita berkerumun diantaranya.
Ini ide yang lebih baik untuk isi pesan yang sedari tadi ia pikirkan.
Johan Imando Pratama
[Pict]
Filmnya bagus, sayang udah selesai. Kamu harus nonton juga.
Sementara itu, disudut meja ruang utama Panti Asuhan Kasih Bunda, ponsel yang sedari tadi ditinggalkan, begetar pelan. Sebuah getaran, yang membuat gadis berkuncir kuda meninggalkan penanya demi menyambut sesiapa yang datang. Satu nama yang memang ia nantikan kabarnya, terpampang di layar. Satu nama yang hampir merobohkan gengsinya.
“Hpmu tuh, Nan, geter.” Ujar seorang lelaki yang menyandarkan tubuhnya disofa.
“Oh, iya.” ujar Kinan sembari mengecheck pesan yang masuk.
Lelaki itu melirik, menatap jemari Kinan yang menggambang canggung diatas layar ponsel. Seolah tak tau harus menjawab apa. “Siapa, Nan?”
Kinan menoleh terkejut, ia segera memalingkan ponsel dari pandangan Alan, “Johan.” Jawabnya.
“Oh, Johan.” Ulangnya, “Kenapa? Mau kesini?”
“Enggak, Cuma ngabarin aja.”
“Kalian emang gitu?”
“Maksudnya?”
“Ya, suka saling ngabarin.”
“Biasa aja, sih. Cuma hari ini dia emang mau belajar bareng sama kita sebenernya, Cuma ada acara sama temennya.”
Alan manggut-manggut, “Ohhh, gitu.”
Kinan kembali menunduk, mencoba memutuskan apa yang hendak ia tuliskan.
Kinantha Almathea
Ceritain aja entar. By the way, have fun^^