Masih disudut ruang utama, seorang gadis yang telah merebahkan kepalanya diatas tumpukan buku-buku itu mencoba memejamkan mata. Pikirannya melayang kebanyak hal. Hal-hal yang sebenarnya bisa ia putuskan semudah itu bila kehidupan tak menyeretnya sejauh ini. Sesekali, ponselnya bergetar nyaring. Mungkin dari grup kelas, curhatan kecil dari Gavinda, pertanyaan matematika dari Okta, atau pesan singkat dari Johan yang tak terasa hambar setelah hari itu. Meski begitu, ia sama sekali tidak bangun. Kepalanya terlalu berat dihimpit mimpi dan kenyataan.
Setelah sekian menit berlalu, Kinan memutuskan untuk bangkit dan melenggang menuju ruang kerja bunda. Namun langkahnya terhenti, saat separuh pintu yang terbuka itu menyajikan Bunda dengan airmatanya mencoba menghubungi seseorang lewat telepon genggam. Dari rautnya, bunda nampak sangat khawatir. Matanya berulang melirik kearah pigora cokelat diatas meja. Sebuah pigora yang membingkai kenangan bersama anak-anak panti generasi pertama. Generasi yang kini sudah pergi melalang buana menggapai mimpinya sendiri.
Bunda tidak pernah meminta mereka untuk membayarnya setelah sukses, sama sekali tidak pernah. Ia hanya menuntut kabar, ia hanya menuntut balasan pesan yang berkata ‘Aku sehat, Bunda. Kuliah lancar, kerjaku juga.’. Bahkan, Bunda tidak pernah menuntut anak-anaknya menjanjikan kata pulang. Padahal, tanpa sesiapapun tau, apabila mendekati akhir bulan dan anak-anaknya merantau mulai kelaparan, ia tanpa sungkan menelpon Bunda dan berkata ‘Bunda, gajiku masih lama. Bisa kirimkan uang?’
Iya, tidak semua. Karena kebanyakan dari mereka benar-benar menghilang. Tapi, bukankah sama saja? Bukankah disaat seperti ini, semua layak digeneralisir?
Kinan membalik bandan, bersembunyi dibalik tembok yang penuh coretan pewarna adik-adiknya. Gadis itu menghela nafas panjang, menatap langit-langit rumah yang telah membesarkannya. Bukankah pilihannya sudah benar? Meskipun kelak pemerintah memberinya bantuan, bukankah itu tetap membebani pikiran Bunda atas kehidupan dirantau? Meskipun bukan kampus impiannya, bukankah kuliah dimanapun sama saja? Bukankah kuliah di Malang adalah solusi terbaik, ia tetap bisa membantu bunda untuk mengurus panti asuhan?
Gadis itu menghela nafas panjang, sangat panjang, seolah menghirup kembali segala yang telah ia keluhkan. Kenapa aku ingin ke kampus itu? Apa karena ia dikenal sebagai kampus terbaik? Apakah karena pandangan masyarakat yang luar biasa pada mahasiswa disana? Bukankah kuliah soal ilmu, bukan soal almamater? Bukankah mahasiswa yang mengagungkan nama kampus, bukan kampus yang membuat nama mahasiswa agung? Kenapa? Gengsi? Apa, Nan? –tanyanya pada diri sendiri.
Kinan kembali melangkah, meninggalkan ruang kerja Bunda yang masih menyisakan rasa tangis. Ia merebahkan tubuh diatas sofa. Tidak tau harus melakukan apa, selain mempertanyaan sikapnya sendiri. Kenapa aku kecewa? Bukankah, takdir yang ditulis semesta adalah versi paling baik?
Gadis itu memalingkan wajah, menatap layar ponselnya yang masih baru saja bergetar. Tiba-tiba, dari arah ruang kerja, Bunda keluar bersama cangkirnya yang kosong dan terdiam menatap Kinan. “Nan?” panggilnya.
“Eh, Bunda.” Sapa Kinan, sedikit terkejut.
“Tidur dikamar.”
“Bentar Bunda, kurang lima soal lagi.”
Bunda menatap wajahnya, “Ada masalah, Nan? Mau cerita sama Bunda?”
“Nggak kok, bunda. Cuma agak capek aja. Banyak tugas, banyak ulangan, tapi harus belajar buat tryout dan SBMPTN.”
“Kinan tau kok kalau itu nggak bakal sia-sia, ya kan? Nggak ada usaha yang mengkhianati hasil. Dan meskipun hasil mengkhianati usaha, pasti itu yang terbaik versi-Nya.” Ujar Bunda, “Yaudah, Bunda buatin s**u ya?”
Kinan mengangguk kecil, membiarkan bunda meninggalkannya diantara kesepian raga dan keramaian pikiran. Tuhan, apa aku tidak berhak menjalani hidup dengan versi terbaik menurutku? –tanyanya.
“Ini, Nan.” ujar Bunda sembari meletakkan segelas s**u hangat dimeja, “Hangat, kok.”
“Makasih, Bunda.”
“Sama-sama.” jawab Bunda dengan nada khas, “Eh, ngomong-ngomong kok Alan yang kesini tadi? Katanya sama Johan?”
“Johan ada acara, Bunda.”
“Les?”
Kinan mengulum senyumnya dan mengangguk kecil.
“Udah lama kayaknya Bunda nggak lihat Johan.”
“Iya, Bunda. Sibuk di les-lesan.”
“Oh iya, gimana dia? Jadi ambil hukum.”
Gadis itu menggeleng, “Tetep Bunda, sesuai kata mamanya.”
“Sayang banget, padahal Johan punya kemampuan lebih di sosial kan katamu? Bunda mau ngomong ke mamanya juga sungkan, dikira nanti ikut campur. Dia pasti sedih ya, Nan?”
“Iya, Bunda. Dia sedih banget, tapi kayaknya capek kalau berantem sama mamanya terus. Jadi ya, let it flow gitu.”
“Kalau Alan? Alan gimana?”
“A-apanya, Bunda?”
“Mau kuliah dimana?”
“Eh,” Kinan menjeda, seingatnya Alan tidak pernah menyinggung soal dunia perkuliahan selama ini, “Nggak tau, Bunda. Nggak pernah bilang.”
Bunda mengangguk-angguk, “Semoga Alan cepet balik ke lapangan ya, Nan?”
“Iya, Bunda. Semoga aja.”
“Kalau Kinan sendiri, gimana? Jadi ambil kuliah dimana?”
Bagaikan petir yang menyambar mendung hatinya, gadis itu tersentak. Matanya bergulir cepat mencoba mencari jawaban yang tepat.
“Jadi dikampusnya Bunda kan?” tanya Bunda memotong pikiran Kinan.
“Di Malang, Bunda.” Jawab Kinan cepat.
“Kok di Malang? Kinan kan mau dikampusnya Bunda?”
“Sama aja, kok, Bunda. Lagian, kalau disana passing grade nya tinggi. takut nggak sampai nilaiku.”
Bunda terkekeh, “Kita sama-sama tau, Nan, kalau nilai mu lebih dari cukup buat masuk sana. Apalagi semua piagam yang kamu punya. Bener-bener lebih dari cukup.” Ujarnya, “Yang nggak cukup itu satu, kepercayaan dirimu. Dan dua,” Bunda menjeda.
“Dua?”
“Rasa nggak enakmu sama Bunda.”
“Nggak gitu, Bunda.” Kilah Kinan cepat.
“Kinan lupa ya, Bunda jadi psikiater udah berapa lama? Masih mau bohong didepan Bunda?” ujar Bunda memperingatkan, “Yang Kinan pikirkan apa? Kinan nggak enak sama Bunda? Kinan takut nggak ada yang bantu Bunda ngurusin adik-adik?”
Gadis itu terdiam, menunduk dalam. Tak mengerti harus menjawab apa.
“Nan, Bunda angkat anak asuh juga ada pertimbangannya. Kalau Bunda ngerasa, Bunda masih sanggup ngerawat mereka ya bunda asuh. Tapi, kalau Bunda ngerasa terlalu payah pasti Bunda sarankan ketempat lain. Kalau Kinan nggak ada, Bunda masih bisa sewa mbak yang bisa jaga adik-adik.” Ujar Bunda penuh kesabaran, “Uang Bunda masih cukup, Nan, buat itu semua. Jangan khawatir. Bunda ada, dan untuk kebaikan pasti selalu ada.”
Gadis itu menghela nafas, “Kinan tau, Bunda. Tapi bukan itu.”
“Terus yang Kinan khawatirkan apa? Kinan takut bakalan lupa sama Bunda?” tanya Bunda seolah bisa membaca seluruh pikiran Kinan, “Kinan takut bunda kesepian dan kangen Kinan?”
Dengan air matanya yang jatuh perlahan, gadis itu mengangguk.
Bunda menggengam jemarinya, “Nan.” panggilnya lirih, “Bunda emang bakalan kangen Kinan, kangen banget malahan. Tapi Bunda nggak akan kesepian, ada adik-adikmu yang tiap hari ada aja perkaranya. Ada temen-temen bunda.”
“Aku takut, aku juga bakalan sibuk kayak mbak mas.”
Bunda menggeleng, “Kinan nggak akan ngelupain Bunda. Bunda percaya itu. Oh ya, bukan karena sibuk yang bikin mbak masmu lupa telepon bunda. Tapi prioritas mereka. Jadi, bunda sadar. Malah mewajarkan. Mereka pasti akan ngabarin Bunda kalau udah selesai sama prioritas utama. Kamu jangan khawatir.”
Gadis itu masih menunduk dalam sembari terus mengisaki tangisnya.
Bunda segera memeluknya hangat, “Beban dipunggungmu sudah berat. Lepaskan, supaya sayapmu bisa mekar sempurna. Pindahkan beban pada tanganmu. Biarkan mereka hilang setiap kali kau mengadah, mengharap sesuatu.”
Kinan terus menangis, “Kinan nggak bisa tanpa Bunda.”
“Dicoba dulu.” ujar Bunda, “Kamu harus mencoba terlebih dahulu supaya tau, mana jalan lurus, mana jalan berliku, dan mana jalan buntu. Tapi apapun jalan yang kamu tempuh, selalu ingat. Bunda akan disini, jadi tempatmu beristirahat dari kejamnya ruang dan waktu.”
“Kinan sayang sama, Bunda.”
“Bunda lebih sayang sama Kinan.”