Sore terlalu mendung untuk disebut senja. Bahkan awan hitamnya sengaja menggurat segala luka dan asa diatas langit. Sesekali, ia mengaum, menunjukkan seberapa perkasa ia mampu mengobrak-abrik bumi dengan badai. Iya, badai. Pilu yang disalah artikan menjadi sendu lewat rangkaian prosa para pujangga. Harusnya, tak perlu meromantisasi badai. Bila pilu, biarlah pilu. Setiap orang berhak merasakan itu.
Setidaknya itu, sekelumit pikiran Johan yang sedang menatap langit mendung dari balik jendela kamarnya. Ia menghela nafas dalam, semua begitu sesak. Ia sadar, selama tidak diatur pada undang-undang, mimpi bukanlah kejahatan. Tapi mengapa dunia membuatnya seperti ini? mengapa dunia membatasinya pada norma-norma yang berlaku? Norma pertama, berbakti pada orang tua. Norma kedua, melanjutkan gelar keluarga. Nomor tiga, dilarang menjadi anak memalukan.
Ini baru mimpi, mimpi menjadi mahasiswa jurusan hukum universitas ternama. Baru sebatas itu, belum menjadikannya kenyataan. Kalau mimpi dilarang, bagaimana bisa Tuhan tau doa-doa hambanya?
Johan mengeluh, meremas pena hitam ditangannya. Soal-soal SAINTEK yang digelar dimeja begitu memuakkan. Angka-angka, logika-logika, matematika dan IPA. Bagaimana bisa seseorang dipaksa mengerjakan sesuatu yang sama sekali tak sejalan dengan dirinya?
Tidak bisakah siswa memilih ingin menjadi apa dan berkembang disana? Tidak bisakah sekolah membuka kelas musik, yang membuat siswanya berlatih penuh disana tanpa khawatir gagal diujian matematika? Tidak bisakah sekolah membuka kelas seni, yang membuat siswanya tenggelam pada angka tanpa khawatir mendapatkan delapan lima diujian fisika? Tidak bisakah sesekolah menjadi sesuatu yang lebih dari penjara berlabel ‘Sekolah menengah’.
Ditengah pikirannya yang semburat, satu getaran telepon segera menyelamatkannya. Dari Kinan, gadis yang tak pernah membuatnya kecewa sekalipun sedang meromantisasi luka.
“Johan!” teriaknya dari seberang sana, “Tidur? Jadi nggak?”
Lelaki itu menatap jam dinding hadiah dari Kinan dibelakang kepalanya, “Katanya jam setengah lima?”
“Ya kan kalau aku nggak masak.” Protesnya.
“Lah, kamu emang sekarang nggak masak?”
“Enggak, bunda beli makanan.”
“Gitu nggak bilang.”
“Kamu nggak nanya.”
Lelaki itu terkekeh, “Yaudah iya, maaf ya, Tuan putri.”
Gadis itu tertawa puas, merasa memenangkan pertandingan, “Yaudah buru berangkat.”
“Mama pulang jam delapan kok.”
“Terus, mau berangkat jam delapan?”
“Ya, enggak, Kinanku.”
“Yaudah buru, kamu itu lama siap-siapnya. Kayak di toko kue mau ketemu siapa aja.”
“Ya kan ketemu kamu, masak nggak ganteng?”
“Dahlah, aku tutup.” Ujar Gadis itu kemudian mengakhiri panggilan sepihak.
Johan tersenyum kecil. Matanya beralih menekuni tubuhnya didalam cermin. Meskipun belum mandi sejak pagi tadi, ternyata ia masih setampan ini. Lelaki itu bangkit, menyemprotkan parfum disetiap inchi tubuhnya, mengobrak-abrik lemari pakaian demi memilih warna yang paling Kinan suka, lantas segera bergegas menjemput sang pujaan hati.
Jarak rumah Johan dan panti asuhan tempat Kinan bernaung tak terlalu jauh, hanya memakan waktu lima belas menit itupun karena macet. Tapi jujur saja, bagi Johan jarak darimanapun menuju tempat Kinan berdiri adalah jarak yang paling jauh. Waktu bahkan melambat, seolah dengan sengaja tak membiarkan mereka bertemu lebih cepat.
“Bunda mana?” tanya Johan sesampainya dihalaman panti asuhan Kinan.
“PKK.”
“Bunda ikut PKK?”
Kinan mengangguk, “Dari akhir tahun lalu. Kata bunda, bunda terlalu banyak kerja dan dirumah sampai nggak bisa sosialisasi sama ibu-ibu tetangga.”
“Adik-adik mana?”
“Belajar didalem.”
Johan pun segera mengambil ancang-ancang untuk masuk, namun Kinan dengan cepat menahannya, “Kalau kamu masuk, entar kita nggak berangkat-berangkat dan adik-adik bakal ngajakin kamu main nggak jadi belajar.”
“Bagus dong?”
Kinan menatapnya sinis, “Yaudah, terserah. Nggak usah ngerayain ulang tahunnya mamamu.”
Melihat tingkah menggemaskan sang gadis, Johan tak tanggung mencubit kedua pipinya, “Ngambekan sih kamu, Nan.”
“Sakit!!” Pekik Kinan sembari melepaskan jemari Johan.
“Kamu kalau sama orang lain nggak ngambekan gini kan, Nan?”
“Nggaklah, sengaja ke kamu doang.”
“Kenapa?”
“Ya, soalnya kamu layak digituin.”
Johan terkekeh kecil dan membawa kepala Ae Cha pada himpitan lengannya, “Yaudah bagus, gitu terus ya? Sekarang, Cusssss!”
Sore mendung yang tak kunjung hujan itu meneduhkan perjalan mereka kesalah satu toko kue terbesar di kota ini. Sebuah toko kue yang menyajikan begitu banyak warna, namun tak bisa menandingi warna dimata gadis dibalik punggungnya.
Kinan menunduk, memimpin Johan memilah satu persatu kue tart. Johan hanya diam ditempatnya, mengikuti tiap pergerakan Kinan tanpa tertarik untuk turut. Ia percaya, Kinan akan memilihkan yang paling baik.
“Budget berapa?”
Johan mengucupkan bibirnya, berpikir sejenak, “Seratus ribu?” jawabnya tak yakin.
“Ndekor rumah atau nggak sih jadinya?”
“Nggak usah lah, males bersihinnya. Nggak penting juga.”
Kinan mengangguk-angguk, “Mamamu suka cokelat, keju, red velvet, taro, atau green-”
“Apa aja, mama mah.”
Gadis itu memutar bola matanya kesal, “Favoritnya apa, yang sering dimakan?”
Johan terdiam, tidak tau. Ia tidak sedekat itu dengan mamanya. Kalau bukan karena ia ingin meluluhkan hati mamanya pada bulan-bulan sebelum pendaftaran SNMPTN, ia tidak akan melakukan sesuatu sejauh ini. “Yang enak apa?” ujar Johan, balik bertanya.
“Ya, kalau yang paling umum dilidah, mending cokelat aja.”
“Kalau kamu suka yang mana?” tanyanya tiba-tiba.
“Aku?” jawab Kinan heran, “Keju.”
“Yaudah yang keju aja.”
Gadis itu memukul keras lengan Johan, “Yang ulang tahun siapa coba!”
“Mama nggak bakal makan banyak, paling Cuma sepotong. Sisanya kita. orang dia lagi diet.”
Kinan memilih masa bodoh dengan jawaban Johan, “Mbak yang blackforrest ini berapa?” tanyanya pada seorang pramusaji yang tampak lelah menunggu ujung perdebatan dihadapannya.
“Mau diameter berapa kak?”
“Yang segitu diameter berapa ya kak?”
“Dua puluh kak.”
“Kalau itu sembilan puluh delapan ribu, Kak.”
Kinan menoleh cepat kearah Johan, “Itu ya?” tanyanya, “Atau mau yang lebih kecil?”
“Itu aja, siapa tau papa dateng.”
Kinan mengangguk, “Mbak itu satu ya.”
Perempuan yang tiga atau empat tahun diatas Kinan itu menyodorkan sebuah kertas kecil bersama pena merah, “Tulisan kuenya ditulis disini ya, mbak.”
“Iya, Mbak.” Kinan segera menoleh, menatap Johan yang masih berdiri memandangnya tanpa melakukan apapun, “Mau ditulis apa?”
“Enaknya apa?”
Kinan berdecak keras, “Nanti kalau kamu nggak ada aku bakal gimana, Jo. Nggak habis pikir.”
“Makanya aku maunya sama kamu terus.”
Gadis itu mengerjap, “Ditulis apa nih?”
“Terserah kamu lah, bagusnya apa.”
“Happy Birthday, Mama cantik.” Gitu ya?
“Ih, nggak usah cantik.” Protes Johan.
“Lha, terus? Lagian mamamu emang cantik.”
“Iya sih.” Ujarnya tak mampu membantah, “Tapi nggak usah lah, cringe.”
“Yaudah, iya. Happy birthday, Mama gitu ya? Yang ke berapa?”
“Ha?” Johan tersentak, “Yang ke,” ia diam sejenak. Berpikir, meskipun tidak tau apa-apa, “Lupa.”
“Johan!” ujar Kinan sangat gemas, “Lahir tahun berapa?”
Lelaki itu menggeleng polos.
Kinan benar-benar nggak habis pikir. Gadis itu merasa percakapan mereka hanya buang-buang waktu. Ia memutuskan sendiri apa yang layak dituliskan.
Happy Birthday, my best mom ever! I love you.
Gadis itu menghela nafas panjang, ditatapnya tulisan itu seksama. Tulisan yang ia tulis sambil memikirkan seorang bidadari surga yang telah menyelamatkan hidupnya. Yang membuat ia masih bisa bangkit hingga hari ini.
Ah, sayang banget aku nggak bisa beliin kue tart cokelat dan menancapkan lilin harapan untuk mama. Tapi nggak papa, pasti di surga sana, mama dihadiahi pesta yang lebih layak daripada blackforrest ini. Kinan sayang mama. You re my best mom ever!
Johan menepuk pundak Kinan pelan setelah sadar perubahan sorot matanya, “Kamu harus ikut ngerayain ulang tahun mamaku ya?”