Lewat kaca spion kiri Johan, Kinan sibuk menata kembali rambutnya yang berantakan akibat terpaan angin dan pelukan helm hitam kesayangannya. Entah kenapa, jantung berdebar kencang, seolah ini bukanlah perayaan ulang tahun namun ajang penghakimannya akibat terlalu sering membiarkan Johan melewatkan bimbel harian.
Sebenarnya, mama Johan tidak sekeras itu pada Kinan. Ia menjadi ‘tante’ yang teramat baik saat Kinan datang kerumah untuk sekadar belajar bersama atau merayakan ulang tahun Johan. Namun, Kinan sadar, dibalik senyuman itu ia bisa merasakan kedatangannya sedikit menganggu. Apalagi, saat persiapan ujian. Senyum itu berubah begitu kecut. Kinan tau diri, tapi anak sang tante yang tidak.
Gadis itu mengerjap pelan, memikirkan kata apa yang pantas ia ucapkan saat mereka pertama kali bertemu nanti.
“Udah cantik.” Tegur Johan.
“Emang.” Jawab Kinan ketus. Gadis itu segera melangkah, mengikuti Johan yang memilah kunci pada gantungan AC MILAN nya. “Eh, itu kan mobil mamamu.”
Johan menoleh, mengikuti ujung telunjuk Kinan, “Mogok itu. Tadi mama naik taksi.”
Kinan mengambil alih kerdus kue ditangan Johan ketika sadar kawannya itu nampak kesulitas memasukkan lubang kunci, “Nan, bawain dong.” Ujar Kinan menyindirnya.
Lelaki itu tersenyum sekilas, “Nan, bawain dong.” Ulangnya dengan nada mengejek.
Saat Kunci diputar, Johan merasakan ada sesuatu yang janggal. Rumah tidak terkunci. Apa ia lupa saking buru-burunya? Tapi, seingatnya tadi, ia bahkan mengecheck kuncian pintu dua kali sebelum berangkat. Namun berpikir banyak, ia membuka pintu rumahnya. Dalam sekali tatap, tidak ada yang aneh. Tidak ada yang hilang.
Tidak ada.
Sampai Kinan menarik pelan ujung jaketnya, dan menunjuk kearah kamar yang terbuka.
Pintu kamar putih itu terbuka lebar. Sebuah ukiran kayu bertuliskan ‘JOHAN’S’ yang ia beli dipasar minggu dua tahun lalu tak dapat terlihat dari tempatnya berdiri. Gadis dibalik badannya itu kembali menarik-narik ujung jaketnya, kali ini, tarikan yang membuatnya menoleh kesisi lain.
Kinan berjinjit, mencoba menjajarkan bibirnya dengan telinga Johan, “Mamamu udah datang kayaknya.” Ujarnya sembali menunjuk handbag hitam yang tergeletak begitu saja disisi tembok kamar Johan.
Seketika, lelaki itu sadar apa yang sebenarnya terjadi. Apalagi, saat satu suara ngilu khas sobekan kertas berdering sedetik lalu. Lelaki itu berjalan cepat, pikirannya mendadak begitu marah.
“MAMA!” sentaknya tepat diambang pintu.
Perempuan paruh baya yang sedari tadi sibuk menyobek semua poster didinding dan merobohkan buku-buku latihan soal SOSHUM Johan menoleh terkejut. Ia tidak menyangka anaknya pulang secepat ini.
Tapi Johan lebih tak menyangka. Dihari yang begitu baik ini, ia malah dihujani duka.
Dari tempatnya berdiri, Kinan mematung tanpa tau harus berbuat apa. digenggamnya kuat tali rafia yang merapatkan kotak kue tart hadiah Johan. Ia menatap semuanya sendu. Ia tau Johan didepan sana sedang hancur.
“Oh, udah pulang.” ujar sang mama sembari terus menyobek catatan geografi yang semalam suntuk baru selesai Johan pelajari, “Makan sana, mama bawa ayam bakar.”
Amarah Johan tak lagi dapat dibendung. Lelaki itu segera merampas buku ditangan ibunya. “Apasih, Ma!” sentaknya lagi, “Aku Cuma mau ngejar mimpiku, apa salah?”
“HUKUM?” tanya mama penuh amarah, “Mau jadi apa kamu masuk hukum? Kamu itu Cuma kepengen. Padahal nggak tau lulusan hukum itu jadi apa.”
“Iya, aku Cuma pengen. Tapi aku tau lulusan hukum itu jadi apa, Ma!”
“Hah, berani sama orang tua.”
“Iya, berani!” jawabnya lantang, “Kenapa Ma? Kenapa mama selalu berusaha menghancurkan mimpi yang aku bangun?”
“Mama Cuma mau yang terbaik untuk kamu, Johan! Kenapa kamu ngelawan.”
Kinan menunduk, larut dalam emosi yang menyeruak dirumah ini. Bagaimana bisa orang tua begitu mudah menghancurkan harapan dan berlindung dibalik kata ‘kami tau yang terbaik?’ bukankah anak-anak lebih sadar apa yang paling baik dirinya?
“Semua ini mama lakukan untuk kamu. mama Cuma mau kamu konsen ngejar SNM sama SBM. Nggak usah melenceng ke hal-hal yang nggak jelas. Keluyuran sama temen-temenmu, pacaran mulu sama Kinan, ngegame terus. Bisa nggak sih, kamu berhenti bikin mama susah mikirin kamu?”
Mendengar namanya disebut, Kinan menunduk dalam. ia sebenarnya tau jika cepat atau lambat akan mendengarnya. Namun entah mengapa rasanya masih semenyakitkan itu.
Johan menghela nafas dalam, membiarkan kemarahannya larut, “Ma, mama pernah nggak sekali aja tanya ke aku apa mau ku? Apa kesulitanku? Apa yang aku inginkan? Apa yang yang aku cita-citakan? Gimana susahku disekolah? Gimana aku yang nggak mampu ngikutin pelajaran fisika? Pernah mama sekali aja tanya begitu?”
“Enggak kan ma?” tanyanya lagi, “Yang mama lakukan hanyalah ngomong ‘memberikan yang terbaik’ padahal itu semua menyakitkan buat aku. Mama udah bikin aku kehilangan diri sendiri.”
Perempuan paruh baya itu berdecak kencang, “Sejak kapan Johannya mama pinter ngelawan kayak gini?” tanyanya sinis, “Pasti sejak sama Kinan.”
Mata Johan segera mengerucut sinis, ditatapnya sang ibu penuh amarah, “Kinan! Kinan! Kinan terus! Mama nggak bisa apa berhenti nyalahin anak orang dan konsentrasi sama kebobrokan anaknya sendiri? Mama kenapa sih, Ma?” tanyanya dengan nada tinggi, “Ah, apa jangan-jangan semua ini Cuma buat nutupin rasa malunya mama?”
“Mama itu menantu paling rendah pendidikannya dikeluarga papa, ya kan? makanya mama berusaha mendorong anak-anak mama supaya jadi dokter, biar mama dicap menantu yang berhasil. Biar mama bisa nunjukkin ke oma, walaupun mama kuliah diswasta, anak-anak mama bisa jadi dokter semua.”
“Mama mau dipuji kan? Mama haus pengakuan kan!”
PLAKKK!!!
Satu tamparan penuh amarah mendarat dipipi Johan. Seketika, keadaan begitu tegang dan hening. Kinan memejamkan mata, tidak ingin melihat sesuatu yang seharusnya tak boleh ia ketahui. Sedang, Johan masih mematung pada posisinya. Membiarkan rasa panas dipipi menjalar mengheningkan tubuhnya.
“Kurang aja!”
Mata Johan bergulir pelan menatap sang ibu tepat dimatanya, “Terimakasih, ma. Akhirnya aku tau bagaimana rasa sentuhan ibu.” Ujarnya kemudian berjalan cepat meninggalkan segalanya didalam rumah.
Kinan menggigit bibirnya, tak tau harus apa selain tetap berdiri ditempatnya sembari menggumamkan seribu kekhawatiran pada Johan. Seketika itu, suara motor yang dipacu kencang membara dipelataran.
“JOHAN!” teriak Mama dari dalam kamar. Kakinya yang terjebak diantara buku-buku segera diangkat, mencoba mengejar putranya. Namun, saat matanya bertemu dengan Kinan, ia berhenti. “Kamu?!”
Gadis itu menunduk, menatap kerdus kue tart yang masih ia genggam. Tangannya gemetar, ketakutan.
“Dari kapan kamu disini?” tanyanya sembari menghampiri Kinan.
“Maaf, tante. Tadi-”
“Hei, Nan! Kamu sadar nggak, gara-gara kamu anak saya jadi pembangkang seperti itu? Dia dulu nggak pernah sekalipun bentak tante kayak tadi.” potong mama Johan cepat.
“Tante, saya-”
“Apa? Dari dulu, ya, saya nggak pernah suka sama kamu. Asal-usul nggak jelas, tiba-tiba dateng kerumah. Saya sudah yakin, anak-anak seperti kamu pasti bawa pengaruh buruk ke anak saya. Lihat, harusnya belajar chattingan tiap malam. Harusnya bimbel, jalan sama kamu! kamu nggak tau diri apa gimana sih?”
‘Anak-anak seperti kamu.’ ulang Kinan dalam hati. Memangnya, ia anak seperti apa? Apakah anak tanpa orang tua memang layak dicap seburuk itu? Kinan menunduk dalam, menyembunyikan air matanya yang mulai beruntaian. Sebenarnya, ia tidak terlalu sakit hati dengan segala tuduhan Mama Johan. Ia hanya merasa sakit karena tidak ada orang yang berteriak untuknya ketika dunia memperlakukannya tak adil.
Andai aku punya mama, pasti ia tidak akan membiarkanku diteriaki seperti ini –batinnya.
“Kamu lihat tadi Johan? Ngomongnya berlagak nggak butuh orang tua. Apa? Saya yakin, seratus persen yakin, kamu andil dalam setiap pemberontakan Johan. Kamu ikut campur dalam tiap keputusannya. Saya yakin, kamu mempengaruhi Johan!”
“Sa-saya, saya nggak pernah mencoba mempengaruhi Johan Tante. Ma-”
“Halah! Semenjak sama kamu itu lho, dia jadi suka membangkang.”
Air mata Kinan menderas, baru pertama kali ia merasa ditelanjangi seperti ini. Gadis itu mengangguk, memilih untuk mengalah. “Maaf, Tante.” Ujarnya lembut.
Ia meletakkan kotak kue tart diatas meja telepon disebelahnya, “Ini tadi Johan beliin Tante Kue Tart, mau ngasih surprise katanya.”
Mendengar itu, perempuan yang selalu tampil elegan itu mendadak pias. Matanya mengurut tiap detail kotak putih yang baru saja diletakkan Kinan. Ia baru sadar, hari ini ulang tahunnya. “A-apa?”
“Maafin saya tante, kalau pertemanan saya sama Johan bikin tante kecewa.” Ujar Kinan, “Saya pulang dulu, Tante. Selamat ulang tahun.”