BAB 22 : FIRST OR SECOND

1145 Words
Lapangan kompleks perumahan Johan memang selalu sepi. Rupanya makin kesini, orang-orang lebih menyukai berolahraga dibawah terpaan AC daripada sinar matahari pagi. Diantara rumput-rumput yang semakin meninggi, Johan merebahkan tubuhnya. Matanya menyipit, menatap mentari yang porak poranda mendobrak rasa lelahnya. Tiba-tiba, satu telapak tangan menggambang meneduhkan pandangannya. Lelaki itu tersenyum, digapainya tangan manis itu kepelukan.             Sang pemilik tangan tertawa, “Baru sepuluh puteran aja udah K.O.” ejeknya.             “Ye, dari pada kamu baru dua puteran udah berhenti!”             Gadis itu melepas paksa tangannya dan memukul lengan Johan, “Enak aja, aku empat putaran ya!” jawabnya tak terima.             “Lima putaran ditempat maksudmu, Nan?”             Kinan tertawa, “Tumben pinter.”             “Dari dulu kali.” Ujarnya sembari bangkit dan mengacak rambut Kinan gemas, “Jadi belajar basket gak?”             Gadis yang rambutnya kini benar-benar berantakan itu diam saja, matanya memicing menatap Johan penuh amarah. Meskipun sadar ditatap semenakutkan itu, Johan tertawa puas. “Ululu, cantiknya hilang.” Godanya yang membuat Kinan makin berdecak kencang.             Pantas bila gadis itu sangat marah, sudah kali kesekian ia menjailinya hari ini. Johan tersenyum tipis, berjongkok menjajarkan pandang pada Kinan. Ditatapnya dalam dua mata bersinar yang menyembunyikan begitu banyak luka itu. Senyumnya mengembang sempurna. Jemarinya perlahan mengusap kepala Kinan, membenarkan letak anak rambut Kinan yang semburat menutupi wajahnya. Diam-diam, jantung Johan berdebar begitu kencang pada tiap helai yang berhasil ia singkap. Sejak kapan Kinan begitu cantik?             Mata Johan berhenti pada bekas luka Kinan yang entah mengapa tidak kunjung pudar. Jemarinya bergerak mengusap halus ujung ke ujung luka itu. Hatinya ngilu, membayangkan bagaimana seorang gadis yang begitu ingin ia lindungi terluka begitu dalam. Penyesalanpun terbayang dimatanya, Kenapa kita tidak dipertemukan lebih cepat?             Kinan menangkap kelabu dimata Johan, “Jadi ngajarin basket nggak?” tanyanya.             Johan mengangguk sembari menyampirkan sebagian rambut Kinan kedepan untuk menutupi bekas lukanya. Sebuah perlakuan kontras dengan Alan –yang selalu menyibakkan rambut Kinan. Ia memasangkan airpod miliknya ditelinga Kinan. Satu lagu kesukaan mereka pun mengalun sendu.             Kinan bangkit, meregangkan kedua tangannya.               All my bags are packed, i’m ready to go             I’m standing here, i hate to wake you up to say goodbye             But the dawn is breaking it is early morn             The taxi’s waiting, he is blow his horn already             Im so lonesome i could die (Leaving On The Jet Plane – Chantal Kreviazuk)               “So kiss me and smile for me. Tell me that you’ll never let me go.” nyanyi Kinan lirih.             “Cause im leaving on a jet plane, i dont know when i’ll back again.” Sambung Johan.             “Oh, babe i hate to go.” Dendang dua remaja itu hampir bersamaan, lantas diam sejenak, tertawa menatap satu sama lain.             “Lagunya kayak gini, terus kita dancing in the pouring rain pasti seru!” seloroh Johan.             “Seru gundulmu (kepalamu)!” jawab Kinan dengan nada lucu, “Yang ada masuk angin.”             “Ya tinggal ditempel tanda ‘STOP ANGIN DILARANG MASUK’ segede gaban dijidat.”             Kinan menggeleng tak habis pikir, dilemparkannya bola basket yang sedari tadi diam disisi mereka kearah Johan, “Garing!” Lelaki itu dengan cepat menangkapnya. “Oh, Kinan udah berani ngajak battle? Ayo,d diladenin nih.” Ujarnya sembari berlarian ketengah lapangan. Ia mendribble bola berulang, kemudian menembakkan kearah ring. “Three point!”             “Nanti ujian prakteknya kayak gitu ya?”             “Dribble, Chestpass, sama shooting kalau nggak salah.”             Kinan menghela nafas, “Shooting dari area tembak doang kan.”             “Nggak lah, dari tengah lapangan sama dari area tembak. Dikasih waktu berapa menit gitu buat nembak sebanyak-banyaknya.”             “Duh, gimana nih, aku nggak bisa olahraga.” Keluhnya, “Roll depan sama roll belakang aja gak bisa. Untung masuk kuliah nggak butuh tes olahraga. Bisa gila nih aku.”             “Nggak kaget, kamu udah gitu dari SD.” Johan melemparkan bola kearah Kinan. Dengan mata terpejam, gadis itu menangkapnya cepat. “Johan!” sentaknya terkejut. “Kesiniin, Chestpass.” Mulus. Lemparan Kinan sesuai yang diharapkan. Namun, lain cerita bila harus menangkapnya kembali. Gadis itu akan berdiri kaku dan memejamkan mata setiap kali bola datang. Untungnya, sepanjang pertemanan mereka, Johan tidak pernah bosan mengajari Kinan setiap kali ujian praktek sekolah datang. “Nan, dilihat dong bolanya.” “Udah!” “Kamu itu tutup mata tiap kali dapet operan bola, gimana mau pas nangkepnya?” omel Johan, “Dilihat bolanya!” Kinan menghela nafas berat, menyerah, “Udahlah nggak mau main lagi.” ujarnya sembari melempar bola sembarangan kearah Johan. “Ngambekan ih.” “Ya habisnya kamu! Orang aku udah lihat bolanya kok. Merem dikit kan gapapa, yang penting ketangkep.” Lelaki itu tertawa puas, inilah sisi yang tidak pernah ditunjukkan Kinan pada siapapun. Sisi Kinan yang benar-benar menggemaskan. “Iya-iya, udah ketangkep kok. Tapi kamunya jadi mundur-mundur gitu, nanti didiskualifikasi.” “Takut.” Jawabnya singkat, tidak menyelesaikan apapun. Johan menggeleng, menghampiri Kinan dan menggengamkan bola basket ditangannya. Dan dengan kalimat yang sama, yang selalu diucapkan Johan tiap kali mengajari Kinan bermain bola, ia berkata, “Kamu takut kena bolanya kan? coba deh dipegang bolanya. It wont hurt you, karena dia Cuma benda mati yang bisa diarahkan. Dan kamu yang punya kekuasaan untuk mengarahkannya.” Kinan diam saja, tidak menanggapi. Sejujurnya ia bosan mendengar ceramah Johan. “Didengerin nggak sih.” “Iya.” “Nah, kalau kamu takut kena bolanya, kamu harus buka mata. Ikuti pergerakannya, jangan kasih kendor, tangkap.” Terangnya, “Atau mau analogi yang lain?” “Apa?” “Bayangin aja, bola itu orang yang kamu suka. Kalau didatang kekamu, kamu harus tangkap.” “Analogi apaan? Cringe!” jawab Kinan sembari bergidik, “Kalau nggak ada yang disukain gimana coba?” “Yaudah, bayangin aja aku. Siapa tau jadi suka.” Ujar Johan lantas merampas bola ditangan Kinan, dan melemparkannya ke ring. Three point yang kedua untuknya hari ini. Johan menoleh, menatap Kinan yang masih terdiam memandanginya, “Ya kan?” “Johan-” “Becanda, Nan.” potongnya cepat, “Walaupun sebenarnya serius sekalipun, tolong anggap aja becanda.” “Coba lempar lagi.” Mendengar itu, Johan mengangga. Tapi entah kenapa, hatinya menuntut itu mengartikan dengan hal-hal yang membahagiakan. “Kok bengong?” “A-ah, iya.” Johan segera mengambil bola yang menggelinding bebas. Dari jarak yang sekiranya mungkin diterapkan pada ujian praktek nanti, ia melemparkan kearah Kinan. Sebenarnya, Johan sudah tidak berharap banyak dengan kemampuan olahraga Kinan. Ia percaya, tidak ada orang yang berbakat disemua bidang. Meskipun itu si nomor satu sekolah, Kinan. BUG! Tiba-tiba, suara debaman khas bola dengan telapak tangan membangunkan pikiran Johan. Lelaki itu mengerjap, menatap dua mata yang sedang tersenyum menyambutnya. Bola ditangkap Kinan dengan sempurna. Gadis itu terkekeh, menyedot seluruh kemanisan gula-gula didunia, “Kayak gini?” Johan mengangguk patah-patah. “Analogimu masuk akal juga rupanya.” “Yang mana?” “Ha? Apanya?” “Analogiku. Yang mana yang masuk akal? Yang pertama atau yang kedua?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD