BAB 21 : ORANG BAIK

1228 Words
Di sudut taman, di bangku kayu tua yang dipahat panjang, Bunda menanam matanya dalam-dalam ke bunga mawar yang mekar dikejauhan. Hadiah ulang tahun ke lima belas Kinan dari Johan. Masih hangat diingatan Bunda, Kinan yang datang berlarian sembari memeluk polybag yang bagian kanannya sedikit robek. Masih lengkap dengan seragam sekolahnya yang kini penuh tanah kering ia berkata penuh senyum, ‘Dari Johan, bunda.’. Senyum itu, adalah senyum yang lebih lebar daripada senyum yang pernah ia pamerkan sebelumnya. Lebih lebar dari saat ia menerima penghargaan, kiriman baju dari kakak-kakak panti asuhan, atau undangan makan malam mewah dengan direktur rumah sakit Bunda.             Senyuman itu sangat lebar, sampai Bunda merasa tidak perlu lagi berharap ada senyum yang lebih luar biasa dari itu. Namun, semesta memang bercanda. Ia senang mengabulkan doa yang tak pernah terucap. Seperti sore ini, ketika tiba-tiba sepeda motor antik yang beberapa bulan kebelakangan menghiasi taman panti asuhan berhenti begitu saja di halaman depan.             Kinan pulang, bersama Alan, dengan senyum yang lebih lebar dari yang pernah dilukiskan Johan diwajahnya. Kini, sudut bibir Bunda terangkat. Melihat Kinan berani pulang dengan buncahan kebahagiaan setelah membohonginya, Ia sadar, gadis kecil itu kini telah beranjak dewasa. Tidak ada rasa marah dihati Bunda, barang secuil. Sesiapa saja pasti akan melewati fase ini. Fase jatuh hati.             “Eh Alan.” Sapa Bunda yang disambut perubahan ekspresi signifikan diwajah Kinan, “Bunda kira kerja kelompok sama Gavin atau Okta, ternyata sama Alan, to? Udah selesai tugasnya?”             Mata Kinan bergulir takut-takut membalas tatapan heran milik Alan. Gadis itu menggigit ujung bibirnya, kehilangan kata-kata. Kebisuan ini benar-benar menangkapnya basah.             “Eh, bu-”             “Sudah, bunda. Ya, meskipun Kinan yang lebih banyak ngerjain sih. Aku nggak tau apa-apa soalnya.”             “Nggak papa, yang penting saling ngajarin ya, Nan?” ujar Bunda sembari menepuk halus pundak Kinan.             “Iya, Bunda.” Jawabnya gugup. “Bunda kok tumben sudah pulang? Biasanya kalau hari Jumat agak malam.”             “Iya, nggak banyak pasien hari ini.” ujarnya. Bunda melirik kearah kresek hitam yang dibawa Kinan, “Itu apa, Nan?”             “Ah, ice cream, bunda. Buat adik-adik, dibeliin Alan.” Jawabnya.             “Wah, makasih ya, nak!” ujar Bunda penuh senyum, “Yaudah cepet dikasih adik-adiknya, Nan.”             “Iya, bunda.” Ujar Kinan lantas beranjak pergi meninggalkan Alan dengan kecanggungan yang ia ciptakan sendiri.             “Alan makan malam disini kan?”             “Nggak ngerepotin, bunda?” tanya Alan malu-malu.             “Ah, nggak lah. Malah Bunda yang lebih sering ngerepotin Alan.” Jawab Bunda santai. Alan menoleh, menamatkan kata-kata bunda. “Alan lebih sering jagain Kinan dari pada Bunda. Terimakasih, ya?”             Lelaki itu menunduk, mengusap tengkuknya, “Nggak kok Bunda, aku nggak pernah jagain Kinan, malah Kinan yang lebih sering jagain aku. Kinan lebih bisa jaga diri sendiri.”             “Menurutmu begitu?” tanya Bunda. Ternyata, Alan tidak tau banyak tentang Kinan.               Alan mengangguk sopan.             “Tapi, Alan, beberapa waktu yang lalu pasien bunda datang dengan pakaian yang begitu ‘cetar’ –kalau kata anak sekarang, bukan pakaian yang selayaknya dipakai untuk kunjungan dokter. Semua orang memuji kepercayaan dirinya memakai pakaian seperti itu. Tapi bunda tidak, bunda tau, orang-orang sepertinya adalah orang yang sebenarnya memiliki banyak ketakutan. Baju itu seperti rompi baja, yang melindunginya dari ketakutan-ketakutan itu.” Bunda menatap Alan, “Setiap orang punya cara unik untuk melindungi diri. Ada yang bernampilan megah, ada yang bersikap keras, ada yang diam saja, ada yang terus tertawa, ada yang ingin terlihat garan dan lain sebagainya. Maka dari itu jangan pernah menilai kebahagiaan seseorang dari caranya tertawa. Karena yang tertawa paling keras, biasanya menangis untuk lebih keras lagi.”             Alan terdiam, matanya beralih pada Kinan yang sedang sibuk membuka satu persatu bungkus ice cream untuk adik-adiknya. Gadis itu terlalu terlihat ceria, sampai sesiapa saja tak menyangka bahwa dibalik rambutnya yang terurai panjang tersimpan luka yang entah bermuasal dari mana.             “Alan pasti juga punya cara untuk melindungi diri sendiri bukan? Cara yang hanya bisa dipahami Alan.”             Lelaki itu mengangguk, meski tak tau apa.             “Bunda dengar, Alan pemain bola ya?”             Alan meringis, “Iya, Bunda.” Jawabnya.             “Kok ketawa?”             “Nggak, Bunda.” Kilah Alan, “Cuma, aneh aja. Bunda satu-satunya orang yang tidak menggunakan kata ‘dulu’ ketika bertanya tentang itu padaku.”             “Jadi semua orang menganggap Alan dan bola hanyalah masalalu?”             “Ya gitu, deh, bunda.” Jawab Alan tidak ingin memperpanjang.             Bunda tersenyum, membaca gerak-gerik Alan, “Tapi menurut Alan, orang-orang yang menganggapnya seperti itu atau Alan yang membuatnya terlihat seperti itu?”             Lelaki itu menghentikan langkah, menatap kedua mata penuh cinta disampingnya. Ia tergugu, satu tamparan keras untuk hidupnya yang tak kunjung diperjelas. Logika dan hatinya kompak mengamini ucapan Bunda. Ia tau, ia yang membuatnya seperti itu, namun marah ketika orang lain mengatakan apa yang mereka tangkap. Egois. Apakah keegoisan ini bentuk perlindungan diriku?             “Alan bisa potong tempe nggak? Mau bantuin bunda bikin makan malam?”             Pertanyaan bunda menginterupsi renungan Alan. Lelaki itu spontan mengangguk mengikuti langkah bunda.             “Bunda ambilkan baju dulu ya, kayaknya masih ada baju punya mas-masnya Kinan.”             “Ah, nggak usah bunda. Besok seragamnya sudah nggak dipakai.”             Bunda berdecak kecil, “Gak boleh nolak.”             Tepat saat Bunda pergi, dari arah ruang kamar, seorang lelaki kecil berlarian menghampiri Kinan yang masih sibuk dengan adik-adiknya yang lain. Sang gadis yang sama sekali tak nampak kelelahan itu menoleh, “Kenapa, Sat?” tanyanya dengan suara lembut.             Satya mendongakkan kepala, memarkan lendir yang menggenang dihidungnya. “Gabisa dibuang.” Keluhnya dengan nada manja.             Kinan menghela nafas, “Ambil tissue.” Perintahnya.             “Nggak bisa pakai tissue, Mbak Kinan!”             Gadis itu menumpu kakinya, menjajarkan diri dengan adik tersayangnya, “Mbak sekarang bisa bantu Satya, tapi kalau Satya udah sekolah gimana?” ujarnya sembari membiarkan Satya membuang ingus ditelapak tangannya. “Udah?”             Satya mengangguk.             “Loh, Nan, jangan dibiasain.” Tegur Bunda.             “Rewel nih Satya, Bunda.” Ujarnya sembari berlalu pergi.             Alan masih mematung melihat pemandangan itu. tidak semua mau melakukan hal yang serupa, pada saudara kandungnya sekalipun. Gadis itu memang sesuatu, sedang ia sesuatu yang lain.             “Ini, Lan.” Ujar Bunda.             Alan tersenyum, dan menerima kaos hitam yang sudah mulai kelabu itu, “Makasih, Bunda.” Ujarnya.             “Masih ada Kinan dikamar mandi, mau ke kamarnya adik-adik aja?”             Alan menggeleng halus, “Habis ini Kinan juga selesai, Bunda.” Jawabnya sembari melemparkan mata kearah pintu kamar mandi yang masih tertutup, “Kinan baik banget ya, Bunda?” ujarnya tiba-tiba.             Bunda yang terkejut karena perubahan topik itu segera menoleh cepat, “Hm?” gumamnya, “Ah, Kinan?”             Alan mengangguk tipis.             “Alan juga baik.”             “Ah, bunda Cuma tau dari cerita Kinan.”             “Kata siapa?” tanya Bunda dengan nada mengejek, “Bunda itu percaya, orang baik akan bertemu orang baik. Dan, orang yang kurang baik, akan bertemu dengan orang yang lebih baik.”             “Kalau orang baik pada ketemuan, orang buruk gimana Bunda?”             “Tuhan nggak pernah menciptakan keburukan, ia selalu menciptakan sebaik-baiknya manusia.” Jawab Bunda, “Hanya saja, manusia kadang salah memilih jalan dan dianggap ‘buruk’ oleh orang lain. Padahal menurut bunda, ia tidak buruk, tapi keliru, dan perlu dibantu untuk benar.”             “Lagi pula, Alan, kebaikan dan keburukan itu semu, tergantung prespektif. Jadi jangan terlalu mudah melabeli baik atau buruknya seseorang. Kita hanya manusia, tempatnya salah. Jadi, mari memanusiakan manusia.”    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD