BAB 20 : MONSTER

1905 Words
Dihadapan cermin maha raksasa, siang menghapus guratan biru diwajahnya. Rona-rona cemerlang, beserta putih lembut awan yang bersarang di kelopak matanya tanggal menghilang. Siang terdiam sejenak, mematung menatap pilihan warna-warna senja yang tersaji di meja riasnya. Ia bergumam kecil, menciptakan geluduk yang tak berarti. Jemarinya mulai meraba, menimang satu persatu warna, hingga berhenti diujung kelabu. Ia menggeleng keras-keras, menggurungkan niat. Sudah jadi tugasnya untuk menghibur manusia-manusia lelah dibawah sana, bukankah kelabu terlalu pilu?             Sekonyong-konyong, ia tak sengaja bersitatap dengan seorang gadis yang rambut panjangnya diikat tinggi-tinggi. Wajahnya tak henti-henti tersenyum melirik sosok lelaki yang berbicara mengiringi langkah. Sesekali, gadis itu menunduk. Berulang, tangannya berusaha menutup sekilas bekas luka mengangga dileher. Sang lelaki yang menyadari itu pun segera menepisnya, ‘Terluka bukanlah dosa, Nan. Itu membuatmu semakin terlihat istimewa’ ujarnya.             Rona merah pun tergurat terang diwajah sang gadis.             Siang pun terpesona, buru-buru meletakkan beribu satu awan beserta gugusan warna-warna indah diwajahnya. Lantas entah pada sesiapa, ia bertanya, 'Siapa yang lebih jelita antara gadis berona merah itu atau wajahku sore ini?’             Alan mendongak, seolah sadar siang sedang cemburu pada kecantikan gadis disebelahnya. Ia tersenyum kecil, ‘Senja, maafkan aku, dibawah sini aku sedang memuja kecantikan lain –selain kamu.’             Sementara, disampingnya, gadis berkuncir kuda itu turut mendongak, menatap wajahnya yang dilatari rona senja. Ia tersenyum kecil, sangat kecil, hingga tak ada sesiapa yang menyadari, ‘Terimakasih senja, kau membuatnya lebih mempesona.’             Belum tuntas gadis itu memanjakan mata, ponsel disaku kirinya bergetar untuk kesekian kali. Batinnya dengan mudah menebak sesiapa yang mengirimkan pesan sesore ini. Cepat-cepat ia menyalakan layar hitam, dan membaca lewat bar notifikasi.               Bunda             Hari ini Kinan nggak masuk kerja ya? Kata Mbak Anik lagi ada tugas disekolah?                         Gadis itu menggigit ujung bibirnya, menahan rasa bersalah yang membuncah didada.               Bunda Bunda kan udah bilang, kelas dua belas berhenti kerja di toko. Kalau Kinan butuh tambahan uang jajan, bisa bilang sama bunda. Bunda nggak masalah kalau cari pekerja lain. Jangan bebani diri Kinan sendiri kayak gini... Apalagi ke Mbak Nanik. Udah dua kali lho ya, Kinan ndadak banget bilang gak bisa datang. Mbak Nanik kan juga kerja ditempat lain, sayang... Nggak sama bunda aja.             Bunda             Bunda nggak bermaksud ngelarang Kinan nggak masuk kerja, lho, ya. Apalagi karena ada tugas sekolah yang harus dikerjakan. Sama sekali enggak. Malah Bunda nggak bakal bosen nyuruh Kinan berhenti kerja dan konsentrasi sama kelas dua belasnya...             Bunda Bunda Cuma mau Kinan belajar prioritas. Kalau bekerja emang udah jadi salah satu prioritasnya Kinan, ya harus bertanggung jawab. Gaboleh kayak gini. Ndadak, nggak ngehubungin bunda dulu, dan tiba-tiba nunjuk mbak Nanik buat gantiin. Kan masih ada Mbak Ratih atau Mas Tegar, sayang... yang nggak punya pekerjaan lain.             Bunda             Minta maaf dulu sama Mbak Nanik ya, nak...             Bunda             Nanti malam kalau nggak ada acara, bicara sama bunda ya?               Gadis itu menutup cepat layar ponselnya, tidak tau harus menjawab apa atau menjelaskan sepanjang apa agar bunda sampai pada pemahaman yang ingin ia utarakan. Gadis itu menatap Alan sekilas yang memandang perubahan raut diwajahnya. Bukan karena tugas sekolah, bunda, tapi karena seseorang yang akhir-akhir ini kusebut namanya dalam doa –batinnya.             “Ada apa, Nan?” tanya Alan, “Dicari bunda?”             Kinan menggeleng cepat, “Nggak kok.” Kilahnya.             Alan mengangguk-angguk kecil, “Jadikan ke bakso yang kata kamu itu?”             “Jadi dong!” serunya bersemangat, mendadak melupakan semua keegoisan yang sengaja ia buat untuk sampai dititik ini.             Dua muda itu terus berjalan seiring, menuruti sinar teduh sore menuju ujung parkiran sekolah. Hingga tanpa sadar, sejak satu jam yang lalu, sesosok lelaki yang lehernya terus menunduk menantikan kehadiran mereka. Ia sebenarnya tau dimana Kinan dan Alan menghabiskan waktu, namun sudut hatinya menolak menginterupsi.             “Jodhi?” sapa Alan dengan nada keheranan, “Kok lo belum pulang? Belum dijemput?”             Lelaki itu sedikit terkejut, kemudian menggeleng cepat. Tangannya meremas keras tali paperbag yang dibawa.             Kinan menatap Jodhi seksama, mencoba membaca apa yang sekiranya terjadi. Namun ia gagal, tidak ada gestur ketakutan yang ditunjukkan lelaki itu. Hingga ia menyadari sesuatu, “Mau ngomong sama Alan?” tanyanya.             Jodhi mengangguk tipis, sangat tipis. “Sama kamu juga, Nan.” ujarnya lebih lirih.             “Kenapa? Lo nggak diganggu Leo lagi kan?”             “Eng-enggak!” kilahnya cepat, “Le-leo nggak pernah ganggu aku lagi sejak hari itu.”             Kinan tersenyum, ini kalimat terpanjang yang pernah ia dengar dari mulut Jodhi, “Syukur, deh.”             Dengan sedikit takut-takut, lelaki berkacamata tebal itu menjulurkan bingkisan ditangannya, “I-ini.” ucapnya, “Buat kalian.”             Kening Alan berkerut kebingungan, namun tangannya tetap tangkas menerima, “Apa ini?”             Belum sempat menjawab, Jodhi ditampar rasa malu yang beribu. Ia segera berlari begitu saja menyisakan tanda tanya besar. Alan mengikuti arah berlari sembari terus meneriaki namanya, sementara Kinan hanya berdiri penuh senyum. Ia tau, apapun yang berada didalam paperbag itu adalah bentuk rasa terimakasih Jodhi pada Alan –atau bahkan pada dirinya.             “Apa banget si Jodhi.” Keluh Alan terheran.             Kinan hanya menggedikkan bahu sembari memamerkan senyuman manis, “Coba dilihat apa isinya.”             Alan membuka pengait paperbag itu hati-hati, ada dua kotak plastik berisi roti cokelat dengan merk terkenal dan sepucuk surat kuning didalamnya. Tanpa banyak bicara, lelaki itu segera membacanya.             Buat Alan dan Kinan,             Makasih ya...             -Jodhi             Alan tertawa kecil, kemudian melemparkan matanya kearah gerbang yang menghilangkan lekuk tubuh Jodhi, “Cih, dasar!” decihnya demi menutupi rasa haru dalam d**a, “Lebay banget pake dikasih cake segala.”             Kinan terkekeh kecil melihat tampang garang Alan yang luluh hanya karena selipatan surat, “Tapi lumayan banget dapet cake mahal. Sama-sama ya, Jodhi.”             “Ah, udahlah. Yuk berangkat, keburu malem.” Ajak Alan.             Motor favorit Alan pun segera meliuk meninggalkan sekolah yang telah benar-benar sepi. Ada yang berbeda dari caranya berkendara sore ini. Tidak ada gas yang diputar terlalu penuh, tidak ada klakson modifikasi yang dibunyikan berturut, bahkan tidak ada makian pada pengendara yang melintasi trotoar pejalan. Alan lebih tenang sore ini. Ah, atau malah tidak tenang? Karena sedari tadi, ia berulang kali melirik Kinan lewat spion kiri. Seolah, ia ingin memastikan, tak ada ketidaknyamanan pada raut gadis dibalik punggungnya itu.             “Nan?” panggilnya.             “Hm.”             “Jangan tidur.”             Kinan memajukan wajahnya, “Apa?” tanyanya agak kencang.             Alan terdiam sejenak, merasakan betapa tipisnya jarak diantara mereka, “Jangan tidur.” Ulangnya.                        “Hehehe, ajakin ngomong dong makanya.”             “Nah, ini makanya lagi diajak ngomong.”             Percakapan-percakapan sederhana, gelak tawa kecil dan pengulangan kalimat dengan frekuensi tinggi agar tak kalah dari deru jalanan pun menemani perjalanan mereka. Lampu merah demi lampu merah, belokan demi belokan, hingga satu jalan lurus dibalik sebuah ramainya kota motor Alan berhenti juga. Iya, dibalik keramaian pasar ini, ada satu bakso favorit Kinan. Bakso pelipur lara seorang gadis kecil yang ditinggalkan sendirian di Kota orang.             “Ini?” tanya Alan tidak yakin. Matanya memicing pada tempat pembuangan sampah terakhir yang berdiri semerbak disamping kios bakso.             “Jangan dilihat sampahnya. Bau kuah bakso beserta isinya dijamin bikin semua itu ilang.”             Lelaki itu menatap Kinan, memastikannya sekali lagi.             “Udah, ayo masuk.” Ujarnya sembari menggeret tangan Alan.             Kios bakso ini tidak semewah kebanyakan. Hanya sebuah gerobak kecil, yang dikelilingi meja-meja kayu reot. Atapnya tak lebih dari seng-seng yang disusun sekenanya, panjangnya kira-kira sejengkal dari punggung pembeli. Namun meski begitu, masih sesore ini, pembeli sudah berbondong-bondong mengatri. Bukan dari kalangan menengah kebawah saja, namun mereka-mereka yang mengendarai mobil edisi terbarupun rela berdiri dalam antrian. Dua puluh tiga menit berlalu, Kinan dan Alan yang sudah susah payah menunggu giliran agar dua badan mereka cukup diselipkan diantara bapak-bapak tua dan ibu-ibu dengan bayi mungil dipangkuan pun terbayarkan.             “Terkenal banget ya, Nan?” tanya Alan setelah mencoba membaca profile satu persatu pengunjung. “Mana murah juga, satu porsi isi pentol sapi satu, tim dua, pentol ayam satu, gorengan empat, bihun, somay dan tahu Cuma sepuluh ribu.”             “Apa aku bilang, emang segitu terkenal dan murahnya. Sayang aja, mereka nggak nyediain minuman.” Jawabnya, “Kamu bakso campur?”             “Iya deh.”             “Pak, bakso campurnya dua ya.” Ujar Kinan pada seorang lelaki paruh baya pemilik kios bakso ini.             “Eh, neng Kinan. Kok tumben nggak sama bunda?”             “Iya, Pak. Hehehe.” Jawab Kinan sekenanya.             Tak lama, dua mangkok bakso tersaji begitu lezat dihadapannya. asap-asap tipis tanda kuah yang masih panas pun menari menggetuk-ngetuk saraf penciuman. Alan tak lagi kuat menahan air liurnya, disantapnya semangkok bakso itu tanpa banyak kata. Hingga tepat pada sendokan terakhir, ia sadar, sedari tadi seorang gadis menyaksikan kelahapannya diam-diam.             “Enak?” tanyanya.             Alan mengangguk polos, “Banget.”             Kinan tertawa, “Kalau makan pelan-pelan. Lihat, sampai kuahnya netes dibajumu gitu. Besokkan masih dipakai.” Ujarnya sembari merobek tissue dan membersihkan kemeja Alan. Lelaki itu hanya diam, atau lebih tepatnya pasrah. Seolah, asalkan Kinan ia tidak akan keberatan.             “Udah yuk?” ujar Kinan setelah mengakhiri sendokannya.             “Bentar, duduk dulu. Udah nggak ada yang antri kok.” Cegah Alan.             Kinan hanya mengangguk tipis, langsung setuju tanpa mempertimbangkan pesan Bunda yang hanya ia balas sesingkat, ‘Iya, Bunda. Maafin Kinan.’             Diantara percakapan hangat diantara dua mangkok bakso yang mengering, tiba-tiba suara tangisan melengking dari seorang bayi mungil disebrang mereka menginterupsi keramaian kios. Sang ibu pemilik bayi itu lantas berdiri, menunduk-nunduk kecil meminta maaf atas keributan yang dibuat putranya. Ia menjelaskan, bahwa putranya tak suka bila digendong sambil duduk. Alhasil, sambil terus menimang-nimang bayi mungilnya, sang ibupun harus rela menghabiskan baksonya sambil berdiri.             Kinan yang menjadi saksi dari kejadian itupun menolak diam, sepuluh tahun yang ia habiskan di panti asuhan membuatnya bangkit tanpa aba-aba dan menawarkan pertolongan, “Biar saya gendong dulu bu, saya sudah selesai makan.” Ujarnya lembut.             Sang ibu menoleh terkejut, menatap ketulusan seorang remaja berseragam SMA dihadapannya, “Nggak papa, Mbak?”             “Nggak papa, bu.” Jawabnya tulus.             Sang ibupun menyerahkan gendongannya, “Makasih ya, Mbak. Jadi ngerepotin.”             “Enggak kok bu.” Ujar Kinan sembari membawa bayi mungil itu kepelukannya.             Sementara, diujung yang sama, mata Johan merekam setiap pergerakan dan perkataan Kinan yang membuat harinya berakhir begitu sempurna. Satu senyuman tipispun tanggal, saat matanya tak sengaja bersitatap dengan Kinan yang turut tersenyum. Sungguh, ketulusan diwajah gadis berambut panjang itu mampu menghentikan detak jantungnya.             Berdetik berlalu, Alan bangkit meninggalkan tempat duduknya kala sepasang muda menatapnya penuh pengusiran. Ia berjalan mendekati Kinan yang masih sibuk tertawa bersama bayi dipelukannya.             “Alo, mas Alan!” sapanya mencoba menirukan suara anak-anak.             “Halo, adek. Namanya siapa?”             “Dimas! Adek Dimas.”             Alan tersenyum, menatap kelembutan Kinan. Hingga tanpa sadar, tangannya terjulur mengacak pelan puncak kepala Kinan. Gadis itu menoleh, sedikit terkejut. “Kamu baik sekali, Kinan.” ujarnya.             Kinan terdiam, membiarkan tangan itu terus bertengger dikepalanya.             “Kamu baik sekali, Kinan.” ulang Alan lagi-lagi, “Terimakasih telah menunjukkan hal-hal baik pada hidupku yang tak kunjung membaik.”             Gadis itu merekahkan senyumnya lebih lagi, ditatapnya kesungguhan luar biasa diwajah alan, “Aku yang harusnya berterimakasih.” Jawabnya.             Alan menoleh, mengamati rekahan senyum diwajah sang gadis yang mulai menguncup.             “Dulu sekali, Lan, orang-orang melabeliku ‘monster’ sampai aku benar-benar percaya bahwa aku memang semenakutkan itu. Hingga akhirnya, aku mendengarkan pujian maha baik darimu sekarang. Kamu pandai sekali, mengubah seorang monster menjadi malaikat.”             Sebenarnya, Alan tak benar paham dengan ungkapan ‘monster’ yang dibicarakan Kinan. Namun, dari caranya berbicara, sepertinya ada luka lebih dalam yang membekas dihati Kinan. Alan pun menolak memperpanjang, ia tidak ingin merenggut senyum dibibir Kinan.    Lelaki itu tersenyum cerah, “Seburuk apapun kamu, aku akan selalu berhasil menemukan kebaikan diantaranya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD