BAB 31 : UNIK, KHAS, SATU

1119 Words
Menjelang senja, ruang utama panti asuhan hangat oleh derai tawa dan selingan protes lucu dari adik-adik yang kalah bermain ular tangga. Semua orang nampak sedang sibuk berbahagia. Termasuk Alan, yang turut duduk melingkar sembari menyeruput jus jambu dan menghabiskan sepiring penuh pisang goreng buatan Bunda. Lelaki itu terus tersenyum, sabit mendadak berorbit dimatanya, seolah luka duka yang pernah ada dapat hilang pada sekali kedipan mata. "Yes, menang lagi!" lonjaknya bahagia. "Ih, mas Alan ih!" protes Satria kesal. "Iya, hoki mulu." Saut Satya. "Ye, ini bukan hoki. Ini berarti mas pinter." Dua lelaki kecil itu cemberut, "Nanti yang kalah harus cuci piring, ya!" ujar Satya yang disambut anggukan berat pada kepala Satria. "Nggak, basah semua nanti!" saut Kinan yang sedang berjalan sembari membawa sekeranjang penuh pakaian basah, "Taruh meja makan aja, biar mbak yang cuci." "Biarin, to, Nan." sergah Bunda dari meja makan, "Adik-adikmu nanti kalau dilarang terus kapan bisanya?" "Berantakan, Bunda. Bersih enggak, busanya dimana-mana." Protes Kinan. Bunda menggeleng mantap, "Nggak papa, namanya juga belajar." "Iya, Bunda." Jawab Kinan menyerah. "Huuuu!" ejek Satya sembari menjulurkan lidahnya, "Nggak papa, ya!" "Apa kamu!" "Ipi kimi!" saut Satria turut andil mengejek Kinan. "Loh-" Ketika Kinan siap mencubit pipi kedua adiknya yang sangat nakal itu, Alan menghadangnya. Ia tersenyum, memindah keranjang cucian ketangannya, "Dijemur didepan?" tanyanya. Kinan mengangguk patah-patah. "Yaudah, yuk." Ajaknya. "Lanjutin dulu ya mainnya!" pamitnya pada Satria dan Satya yang sontak mengangguk bersamaan. Dua muda itu seketika mengheningkan riuh, sibuk bergelut dengan baju-baju basah. Tidak ada percakapan atau tawa yang sengaja mereka ciptakan, seolah sama-sama sadar setiap orang butuh kesendirian. Namun, sesekali mata Alan diam-diam mencuri pandang pada Kinan. Mencoba meneliti pikiran apa yang sedang digelutinya akhir-akhir ini, hingga ia nampak semurung itu. Menit berlalu, pakaian-pakaian basah mulai mendasar. Ketika Kinan hendak mengambil helai pakaian terakhir dari dalam keranjang, tangannya tak sengaja berpapasan dengan Alan. Ia terhenyak sejenak, merasakan jantung yang hampir meledak, kemudian buru-buru menarik tangannya dan membuang mata kesembarang arah. Sementara itu, Alan tersenyum tipis menyaksikan sekelumit kegugupan Kinan dihadapannya. Gadis itu nampak lucu, malah sangat lucu. Tidak membiarkan tangannya mengambang lebih lama, Kinan segera mengambil helai pakaian terakhir lebih dulu dari Alan. Namun, lelaki yang terus menganggumi ekspresi lucunya itu malah mengenggam tangannya erat-erat. Mata hangatnya lembut menusuk Kinan hingga membuat sang gadis tak mampu mengerjap. Ia mematung, jantungnya berdegup kencang. Lan, jangan mempermainkanku... Kata orang, cinta adalah soal keraguan. Namun, Aku membenciku yang ragu, meski dengan sadar selalu jatuh lebih dalam pada pelukmu. Ah, tunggu, apa baru saja aku mengaku bahwa: aku mencintaimu? -Batin Kinan. Alan memiringkan kepala, merebahkan senyumnya semakin lebar, "Senyum dong, belum lihat Kinan senyum hari ini." ujarnya. Kinan semakin terpaku, "A-Ha?" tanyanya gugup. "Senyum." Ulang Alan dengan nada lucu. Gadis itu tiba-tiba memulihkan kesadaran, "Males." Ujarnya sembari menarik tangannya dari genggaman Alan. Namun, lelaki itu masih enggan melepaskan, "Yaudah, nggak dilepasin." "Apaan sih, malu dilihatin adik-adik, loh." "Yaudah, lihatin balik aja." ujar Alan menggoda, "Mbak Kinan kan pinter marah-marah." "Ih, kata siapa? Pasti kata Satria. Itu anak dasarannya emang bandel, suka berantakin barang dan nggak mau ngembaliin. Tapi, herannya, bunda bisa banget sabar sama dia. Huh, aku mah nggak bisa." Celoteh Kinan. Alan tertawa. Rupanya gadis itu sedikit lupa bahwa tangannya masih ada digenggaman Alan. "Nah, gitu dong. Bawel. Nggak diem mulu." "Terserah, lepasin!" protes Kinan sembari memukul kecil punggung tangan Alan. Alan mengalah, melepaskan tangan Kinan. Ia mengambil helai baju terakhir dan berdiri, bersiap menjemur satu lagi. Dengan sengaja, ia mengibaskan baju basah itu kearah Kinan. Cipratan sisa air sabun segera menyambangi wajah sang gadis. Kinan melindungi wajahnya dibalik lengan, "Alan!" Alan terbahak, "Mandi dulu, Nan!" Gadis itu tak mau mengalah, dicabutnya sehelai baju terdekat dan turut mengibas. Dua muda itu tertawa. Tertawa bahagia pada dunia yang sengaja mereka cipta, hingga luka dan lara tak berani datang menyapa. Ketika tawa Kinan melemah, Alan menghentikan perbuatannya. Disambut kembali jemari gadis itu pada dekapan tangannya, "Nah gitu ketawa, cantiknya nggak jadi ilang." Ujarnya. "Jadi, kalau aku sedih cantiknya ilang?" Alan mengangguk. Kinan tersenyum tipis, meletakkan kembali baju pada tiang jemuran, "Padahal, hanya saat seseorang bersedih, kamu bisa menemukan wajah aslinya. Wajah terburuk, namun mampu menggambarkan dirinya dengan baik." Alan menatapnya sejenak, merasa bersalah karena pernyataanya barusan, "Tapi, kalau itu kamu, aku selalu mampu menemukan kebaikan diantara keburukan yang ada." Kinan terkekeh, "Gombal!" "Bener, kok. Ketika adek-adek bilang kamu suka marah, aku malah ketemu sama sisi imutmu kalau lagi ngomel." "Oh, gitu?" tanya Kinan dengan nada mengejek. "Beneran." "Iya-iya, beneran." Ujarnya sembari mengangkat keranjang cucian kepelukan, "Udah sana main ular tangga lagi sampe sukses." "Nggak deh, mau gangguin kamu terus aja biar nggak sedih." "Apaan sih, aku nggak lagi sedih. Lagian, sedih kenapa coba?" "Omongannya Della tadi. Iya, kan?" tebak Alan. "Nggak kok." Jawab Kinan cepat, lalu berlalu meninggalkannya. "Kamu nggak gitu, kok, Nan!" ucap Alan setengah berteriak, "Kamu itu unik, khas, dan satu. Jadi nggak heran, banyak yang selalu ingin sama kamu. Termasuk aku, Alan." Kinan menghentikan langkah. "Berteman sama sesiapapun nggak bikin kamu terlihat murahan. Kamu harus tau itu." ujarnya, "Aku tau kok, semenjak Della ngomong kayak gitu, kamu jadi diem terus dikelas. Makanya tadi aku ngotot minta anterin pulang. Aku Cuma nggak mau kamu mikir aneh-aneh tentang dirimu." "Kamu itu, Nan... Hal yang bikin seorang Alan sadar bahwa masih banyak hal baik yang ditabur Tuhan pada hidup. Kamu itu, adalah doaku yang terkabulkan." "Aku nggak mikirin omongan Della, kok, Lan." Jawabnya, "Aku Cuma mikir, salah sebesar apa yang sudah aku lakukan sampai Della sebenci itu sama aku." Alan mengulum senyumnya, senang Kinan akhirnya buka suara tentang apa yang dipikirkan. Ia berlarian kecil menghampiri Kinan. "Kamu mungkin terlalu sempurna." "Apanya yang sempurna? Kita semua sama saja, punya luka masing-masing." "Udahlah, Della Cuma manusia, dia nggak punya kuasa untuk melabeli siapa kamu. Jadi, pokoknya, apapun yang dikatakan Della jangan pernah membuatmu merubah cara pandang terhadap diri sendiri. Kamu nggak salah apa-apa, Della juga nggak salah apa-apa. Dia Cuma berada disudut pandang yang salah." Kinan tertawa kecil, "Iya, mas Alan." guraunya, "Abis makan pisang goreng berapa banyak sih sampai sebijak ini?" "Sepiring tadi kayaknya aku doang yang ngabisin, adek-adekmu Cuma ngambil cokelatnya aja." ujarnya jujur. "Ih, dasar!" "Habisnya enak." "Besok mau dibawain?" ujar Kinan menawari. Alan mengangguk cepat, "Mau." "Goreng sendiri, wle!!" "Awas aja kamu." "Awas apa?" "Awas ada Sule." "Prikitiw jangan?" "Asolole aja." Tawa kembali berderai diantara mereka. Alan mengambil alih keranjang cuci dipelukan Kinan. Namun gadis itu menolak, "Nggak usah, aku aja." "Mannes makes man, Nan." "Apaan sih, orang Cuma bawain keranjang cucian." "Hehehe, ya gitu deh." Jawab Alan salah tingkah, "Eh, Nan, sabtu minggu depan ada acara nggak?" Kinan terdiam sejenak, nampak berpikir, "Selain cuci-cuci, kayaknya nggak ada. Kenapa?" "Temenin aku." Pinta Alan tanpa basa-basi. "Temenin? Kemana?" "Ketempat dimana semua mimpi dimulai dan diakhiri dalam waktu yang sama."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD