Malam mulai purnama, sedang Johan mulai kehilangan semangatnya. Berulang kali kepalanya terkatuk-katuk pada dinding mengelupas disisi kanannya. Penjabaran rumus fisika memang dongeng pengantar tidur paling tepat. Papan putih pun semakin penuh coretan angka dan garis merah hijau acak ditiap sudut terkecilnya. Johan menguap lebar, tidak membiarkan sesiapa mencuri udaranya. Ia pun terus kalah. Kepalanya kini sempurna miring merebah, menatap kosong papan tulis atau malah rambut panjang tutor dihadapannya. Ah, benar-benar membosankan.
Menit berlalu, kelas pun akhirnya tanggal.
Johan segera berdiri, mereganggkan ototnya seluas mungkin.
"Pindah tidur, Han?" celoteh seorang gadis berkacamata tebal yang sedari tadi selalu menengok tiap Johan menguap lebar, "Nyenyak?" sindirnya.
"Kurang." Jawab Johan sembari menggenakan sweater armynya, "Masih lebih nyenyak dibahu kamu, Put. Eaaa." Godanya.
"Yeilah, si garangan." Balasnya ketus, "Nge pap ga?" tanyanya sembari mengangkat buku catatan berwarna pink dengan ornamen unicorn ditengahnya.
"Siniin."
Putri melempar bukunya, "Tiga halaman terakhir."
Johan mengangguk, membuka halaman yang dimaksud Putri dan mulai memotretnya. Lelaki itu tampak serius, memindai satu persatu kata yang tertulis didalam sana. Ia heran, sepanjang tadi hanya mendapatkan tiga lembar? Wah, fisika memang bukan sesuatu yang bisa bersahabat dengannya.
Ditengah prosesinya, ponsel Johan bergetar. Awalnya, ia kira itu dari Kinan. Tapi, ternyata bukan.
Della BIMBEL
Sibuk?
Della BIMBEL
Bisa anter pulang?
Alis Johan terangkat tinggi setelah membaca pesan Della. Serius? -Tanyanya dalam hati. Tumben banget Della nggak dijemput.
"Malah HP an. Udah belum?" tegur Putri yang mulai tak sabar menunggu Johan.
"Eh, udah udah. Nih." Johan segera bergerak cepat mengembalikan buku kemeja Putri, "Terimakasih ya cantik."
"Sama-sama ya buaya."
Johan tersenyum tipis menanggapinya.
"Ngomong-ngomong, Della ngapain keluar bimbel?"
Lelaki yang sedang mengemasi kertas-kertas berserakan dimejanya itu mendadak menjeda. Kepalanya berat menoleh kearah Putri, "Apa?" tanyanya.
"Della." Ulang Putri, "Ngapain kok tiba-tiba keluar bimbel? Tadi aku lihat dia pas ngurus administrasi."
"Oh ya?"
"Loh, kamu nggak tau?" tanya Putri, "Eh, sorry. Aku kira kamu tau. Orang biasanya kalian barengan, satu sekolah lagi."
"Kapan?" tanya Johan, "Kapan Della ngurusnya?"
"Tadi sore. Pas aku ngurus jam tambahan."
Tanpa basa-basi, Johan cepat menyelesaikan urusan kemas mengemasnya kemudian pergi meninggalkan Putri yang masih bertanya-tanya. Langkah lelaki itu dibuka lebar-lebar, menyusuri lorong yang mungkin dilewati Della setelah menyelesaikan pelajarannya. Namun, Nihil. Tak ada gadis bermata sendu itu. Johan memutar arah, berlarian kecil ke ruang loker.
Dan benar saja, seorang gadis dengan short dress biru langit sedang berdiri menatap kosong kedalam loker dihadapannya. Johan menghela nafas, membuang seluruh kekhawatirannya. Lelaki itu segera menghampiri Della, merampas buku-buku dipelukannya.
"Dicariin malah disini." tegur Johan.
Gadis itu melonjak terkejut, "Kaget!" keluhnya.
"Ngapain?" tanya Johan seolah tidak ada yang terjadi.
"Ngerombak loker." Jawab Della sekadarnya.
Johan tersenyum tipis, menatap kecanggungan dimata sang gadis. Ah... Della tidak berkata apapun padanya, jadi yang dikatakan Putri bisa jadi salah.
Namun,
Meski manusia mampu menampik segala spekulasi, sudut hati akan diam-diam selalu menyuarakan kebenaran.
"Gabut?" tanya Johan sembari tertawa.
"Dikit."
"Jadi dianter pulang?"
Della menoleh, "Aku kira kamu nggak mau." jawabnya sedikit heran.
"Kok gitu?"
"Habisnya, kamu nggak bales chatku."
"Ya kan habis itu aku cari kamu langsung."
"Iyadeh." Jawab Della mengalah. Gadis itu mengambil buku ditangan Johan dan meletakkannya pada kardus kecil yang entah sejak kapan telah ia siapkan.
Johan turut jongkok, membantunya menata agar kotak muat lebih banyak. "Mau dibawa pulang, Dell?" tanya Johan.
"Iya."
"Kenapa?"
"Ya nggak papa. Pengen aja."
"Kok gitu?"
"Emang bawa pulang buku harus ada alasannya?" balas Della yang sontak membuat Johan diam seribu bahasa.
"Ya... enggak sih."
"Nah." Gadis itu menutup kotak perlahan, "Yuk, anterin pulang."
"Kamu nggak dijemput?"
"Kamu kok bawel banget sih hari ini?"
"Cuma nanya."
"Iya, enggak."
"Kenapa?"
"Apanya yang kenapa?" tanya Della kesal, "Ya Cuma nggak dijemput aja. Makanya minta anter pulang."
Johan menatap sejurus sepasang mata gadis yang nampak menyembunyikan banyak hal itu, "Mau beli nasi goreng dulu nggak?" tawarnya.
"Disuruh mama langsung pulang." jawab Della, "Yuk."
Johan mengangguk, menyerah. Ia berjalan selangkah dibelakan Della, membiarkan gadis itu menunjukkan apa yang ingin ia tunjukan. Mereka berjalan dalam diam menuju peristirahatan sementara sepeda motor Johan.
Ketika belum sempurna helm Johan terpasang, lelaki itu melirik botol minuman Della, "Minta minum, Dell."
"Tapi bukan air putih, gapapa?"
"Apa dong?"
"Multivitamin."
"Hm?"
"Mau?"
Johan menggeleng, "Enggak deh, makasih." Ujarnya sembari memberikan helm biru muda yang nampak selaras dengan bajunya hari ini.
"Padahal lebih bisa bikin melek dari pada kopi."
"Serius?"
"Iya, racikanku." Ujarnya bangga.
Johan menggeleng, "Nggak sehat, jangan minum banyak-banyak."
"Biarin."
Della menyentuh bahu Johan, bersiap duduk dibalik punggungnya. Gadis itu mempersempit jarak diantara mereka, membiarkan jemarinya bersemayam disisi-sisi sweater Johan.
"Yuk." Ajaknya lagi-lagi.
Johan menoleh, menatap dua tangan yang kini mengenggam erat sweaternya. Ini kali pertama, Kinan tak pernah melakukannya. Lelaki itupun menghela nafas panjang dan kembali berpacu meliukkan tubuh diantara udara dingin Malang dan lampu-lampu kota yang kian benderang.
Malang memang selalu begini. Tiap sudutnya bercahaya, memancarkan harapan pada sesiapa yang sengaja melewatinya. Johan terus meliuk, membiarkan motornya melaju dengan kecepatan sedang agar angin dapat menggibarkan harapannya.
"Kamu nggak ada yang mau diomongin ke aku, Dell?" tanya Johan pada detik ketiga puluh lampu merah perempatan Savana.
Della merapatkan lingkaran peluknya ditubuh Johan, ia merebahkan kepala pelan, "Nggak ada." Jawabnya, "Pinjami aku punggungmu, aku ingin meletakkan segala beban disana."
"Pakai aja." jawabnya.
"Thanks, hari ini aja kok."
Johan mengintip Della lewat spion kanannya. Mata gadis itu nampak menerawang jauh keangkasa. Ia tampak kesepian, atau juga tidak. Ia nampak sedih, atau juga tidak. Ia tampak bertopeng, atau memang iya.
"Della." Panggilnya tepat didetik pertama lampu hijau.
Gadis itu bergerak kecil, menyamankan kepala.
"Aku sudah tau, kamu nggak perlu cerita. Aku juga nggak akan tanya kenapa semua bisa terjadi. Jadi kamu boleh bersedih semaumu, aku bakal disini terus untuk mengatakan semua akan segera baik-baik aja."
Gadis itu terus diam, hanya air matanya yang mulai bergerak.
"Let me be your 911."
Johan memperlambat laju motornya, membiarkan angin malam perlahan menghapus untaian air mata Della yang mulai menderas.
"Percayalah padaku meski digelap malam kamu nggak sendirian. Dan semua bintang yang kutinggalkan temani kau sampai akhir malam [TIPE X – KAMU NGGAK SENDIRIAN]." nyanyi Johan dalam remang malam
"Johan," panggil Della, "Aku mau lari yang jauh. Ke hutan sebelantara apapun, asal itu pilihanku, aku mau lari sejauh itu."
"Jadi, ini bukan pilihanmu?" tanya Johan melanggar janjinya.
"Sejak kapan hidupku adalah pilihanku? Sejak kapan mama papa membiarkan aku memilih apa yang menurutku terbaik? Sejak kapan hidupku sebahagia itu?"
Johan terdiam, tidak tau harus berkata apa.
"Mungkin kita akan sangat sulit bertemu setelah ini. Tapi percayalah, semua waktu yang pernah kita habiskan adalah satu-satunya waktu yang kupilih atas kuasa ku sendiri."
"Kok ngomongnya gitu sih, kita masih bisa ketemu kapanpun kok."
Della hanya tersenyum tipis, "Terimakasih, Johan, karenamu aku jadi percaya, bahwa bahagia adalah hal yang nyata. Aku mungkin bukan cinderella yang diselamatkan pangeran dari kehidupan sulit lewat sepatu kaca. tapi aku Della, yang dilukiskan Johan sebuah senyum lewat waktu yang kita habiskan bersama. Terimakasih."