BAB 33 : WHEN THE LIGHT FADE OUT

1130 Words
Sebenarnya, sisi sekolah mana yang paling layak disorot pada halaman utama? Ornamen rindang bertuliskan SMA Negeri Sekian dengan logo sekolah yang disorot lampu merah-kuning-biru bersamaan disisi timur gerbang; taman kecil dengan bunga pukul sembilan yang sengaja dirawat matang-matang disisi barat demi mempertahankan estetika; pagar depan yang dicat hitam mengkilap agar sesiapa saja yang melewatinya sadar bahwa inilah batas adalah dunia nyata dan ilmu fisika; bagian bertingkat halaman upacara yang dikhususkan untuk s*****n berparas cantik khas team paduan suara; tiang bendera tua yang tiap gerimis membuat anggota paskibra terbirit rela menunda catatan matematika; lorong prestasi yang memamerkan juara-juara tanpa nama asal mampu membawa nama baik sekolah; ruang guru yang sumpek kertas-kertas koreksi bahkan kotak makan siang oleh-oleh rapat diknas; atau ruang-ruang kelas yang hampir seluruh kepalanya menunduk tertekuk menyemai satu persatu soal ujian? Ah, atau sebenarnya, sisi sekolah mana yang sengaja disorot pada halaman utama? Potrait ornamen rindang yang diambil dari sudut kemiringan sekian agar lebih jelita; taman kecil yang dikerumuni kader lingkungan hidup perwakilan kelas; Team tata tertib sekolah yang berdiri penuh senyum hangat menyambut siswa berambut panjang di muka pagar; team paduan suara yang membuka bibirnya dengan manis sembari menyanyikan lagu Indonesia Raya; Bendera merah putih yang berkibar dengan gelombang syahdu dilangit biru beralaskan awan-awan putih; sederet siswa-siswi berprestasi yang senyumnya mengembang sebab tangan langsung dijawab kepala sekolah; guru-guru yang sedang berkumpul mendiskusikan sesuatu dengan kertas-kertas rapi ditangan dan beberapa hidangan hangat dimeja; atau ruang kelas yang sesak akibat hampir seluruh siswa mengangkat tangan berlomba mengajukan pertanyaan? Entah mana dan apa yang sengaja disorot sekolah pada halaman utama, itu tidak akan pernah mengubah kenyataan bahwa setiap manusia punya dua wajah yang berbeda. Atau bahkan tiga sampai lima. Seperti siang ini, apa yang baru saja terbingkai lewat kamera DSLR tata usaha berbeda jauh dengan apa yang terjadi didepan mata. Siswa-siswi kelas dua belas benar-benar menunduk, menekuk leher mereka dalam-dalam dengan alis berkerut-kerut, mengumpulkan sisa-sisa hafalan semalam. Pikiran mereka lebur tergerus soal-soal berangka yang begitu menyebalkan. Sedang, beberapa lain mulai grusak-grusuk. Menjantuhkan penghapus, rautan, pena atau bahkan terbatuk kecil berharap seseorang menoleh dan mamaparkan jawaban. Hingga menit-menit pun berlalu begitu cepat. Pengawas ujian berdiri, mengumpulkan satu persatu kertas jawaban yang lebih banyak diisi doa itu. Para siswapun menghembuskan nafas pasrah, membiarkan segala yang mungkin terjadi akan terjadi. Siapa tau, semesta ada dipihak mereka kali ini. Siapa tau. Siapa tau. "Serius jawabannya A?" tanya Gavinda menggebu. Gadis itu belum putus asa membandingkan jawabannya dengan Kinan, "Salah dong aku!" gerutunya. Kinan cepat menyaut lembarannya, "Belum tentu aku yang bener kali. Udahlah, jangan dikoreksi, nanti kepikiran malahan." "Tau nih Gavinda. Aku yang nomor satu kelihatan beda sama Kinan aja langsung skip total. Dahlah, adek udah lelah bang. Markipul, mari kita pulang." Gavinda menghembuskan nafas panjang, "Yaudahlah, yuk. Aku juga udah dijemput sama mas pacar." "Kencan teros!" "Kayak kamu nggak aja, Nan." "Aku sama siapa?" "Mulai soknya." Saut Okta. Gavinda terkekeh, "Bener, sama siapa. Kan sekarang ada dua ya, Nan?" Gadis yang sedari tadi hanya tersenyum tipis itu tiba-tiba melotot, menusuk tajam mata Gavinda dengan kemarahannya, "Heh!" tegurnya. "Siapa?" tanya Okta penasaran. Gavinda hanya menggedikkan bahu, menghargai privasi Kinan. "KINAN!" dari ambang pintu kelas, seorang lelaki yang telah merangkul sempurna tas ranselnya melambai kearah Kinan. Entah apa yang ia pikirkan hingga membuat sapaannya siang ini begitu ceria. "Dijemput tuh." Ujar Gavinda sembari menyikut pelan lengan Kinan, "Yang dibelakang gimana? Dibiarin tidur terus?" lanjutnya bertanya sembari melirik kecil lelaki disudut ruang yang masih menenggelamkan kepalanya. "Apaan sih." Jawab Kinan ketus, "Dahlah sana pacaran." "Ih, pacaran nyuruh pacaran." Tiga s*****n itupun memutuskan berpisah ditempat, meninggalkan Kinan yang kini dihampiri Johan penuh senyuman. "Nan." panggilnya lagi. "Apanih?" tanya Kinan curiga. Dilihat dari gerak-geriknya, Johan seperti ingin mengajaknya berpergian jauh lagi. "Kemarin kan nggak jadi ke hutan pinus. Katamu nunggu habis tryout? Sekarang kan udah habis tryout." "Ya masa sekarang? Lupa sekarang hari apa? Aku kerja." "Kata Bunda kamu nggak kerja selama persiapan ujian praktek?" "Ups ketauan." Jawab Kinan santai. "Kok gitu sih." "Kamu nanti dimarahin mamamu lagi, Johan." "Yaudah, kalau dimarahin tinggal didengerin. Masuk kuping kanan, keluar kuping kiri." "Kamu mana bisa." Protes Kinan, "Yang ada, masuk kuping kanan, keluar dimulut." "Kelepasan, Nan." jawabnya melemah, "Udahlah, jangan ngomel soal waktu itu." Kinan berdecak kecil, "Pulang dulu tapi ya. Mau lihat makan malamnya adik-adik dulu. Soalnya bunda ada seminar hari ini." "Pasti dong." Jawab Johan semangat. Lelaki itu merampas tas yang hendak dipanggul Kinan kepelukannya, "Yuk!" ajaknya. Sebelum benar-benar melangkah, mata Kinan melirik kesudut yang sempat disinggung Gavinda tadi. Sudut tempat Alan pulang lebih terlambat demi menuntaskan mimpinya. "Loh, pulang?" sapa Johan pada Della yang akhirnya beranjak dari tempatnya duduk, "Hati-hati, ya?" Della mengangguk tipis, begitu tipis hingga membuat Johan sempat menyangka Della mengabaikannya. Namun, disela itu, matanya menangkap percikan keringat dingin merembet didahi gadis itu. "Dell, nggak papa?" tanya Johan memastikan. "Kok kamu pucet Dell." Saut Kinan yang memang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Della. Sepanjang ujian tadi, gadis itu terlihat terus menggeliat sembari mencengkeram perutnya keras-keras. "Nggak papa, Dell?" tanya Kinan penuh kekhawatiran. Della hanya menggeleng kaku, lantas bergegas pergi. Johan menahan lengannya, "Kamu dijemput kan?" tanyanya. Sebuah pertanyaan sederhana yang membuat Kinan terheran. Ternyata, hubungan mereka sudah benar sejauh itu. Sampai seorang Johan yang menurut Gavinda tidak tertarik pada perempuan manapun selain Kinan bertanya hal sesepele itu. Della menggeleng patah-patah, "Aku naik Taxi." Jawabnya. "Yaudah, bareng kedepan yuk." Ajak Johan yang disambut anggukan hangat dari Kinan. Della menatap sejenak tas Kinan yang kini berada digenggaman Johan. Ada rasa cemburu yang mekar sempurna dihatinya. Dengan sedikit terhuyung akibat badannya yang menggigil, perutnya yang mengeras, dan sorotnya yang mulai redup, gadis itu menyampirkan tas selempangnya. Langkahnya pelan sedikit tertatih menggimbangi tawa yang diusung Johan pada tiap tatapan untuk Kinan. Gadis itu terus menghela nafas berat, mencoba mempertahankan kesadaran ditiap geraknya. Kinan melingkarkan tangan dipunggungnya, mata sayu gadis itu menatapnya penuh kekhawatiran. Dasar perempuan munafik. "Kamu nggak papa, Dell?" tanyanya, "Pucet banget, Lho." Johan turut menghentikan pergerakannya, menatap Della penuh pertanyaan, "Apa mau ke UKS dulu?" "Mau, Dell?" Della menggeleng tipis. Mengumpulkan sisa kekuatan untuk melepaskan tangan Kinan dengan kasar. Ia muak. Della pun kembali berjalan, terus terseok. Hingga tepat saat matanya jatuh pada bunga mawar yang mekar diujung taman sekolah, pandangannya mengabur. Duri-duri mawar itu mendadak meremang, menyisakan kepingan-kepingan cahaya mentari yang fana. Tubuhnya benar-benar berat, kepalanya terbakar. Seluruh suara disekitar berubah melambat, begitu lambat, kemudian menghilang. Menelannya pada kegelapan yang entah kapan kembali fajar. "DELLA!" teriak Kinan saat melihat gadis itu jatuh tergeletak dipelukan halaman sekolah. Dengan penuh kekhawatiran, gadis itu menggoyang-goyangkan tubuh Della yang sangat lemah. "Della, Della bangun Dell!" Seluruh sudut sekolahpun segera berhambur menggerubungi pusat keributan. Johan pun menghalau cepat, meminta mereka menyisakan ruang udara untuk Della yang tergeletak tak sadar. Ia segera berjongkok, menyiapkan punggungnya, "Nan, naikkan." Perintahnya. Dalam sekali hentakan, Johan berlari membawa sang gadis dengan beribu luka itu dipunggungnya, "Minggir!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD