Ruang seba putih. Kelambu yang coraknya mulai pudar menutup rapi ranjang kecil tempat seorang gadis tergeletak tak lagi bernyali. Pejaman matanya begitu rapat, seolah inilah sesuatu yang ia nantikan sejak lama. Sedang, tanpa ia sadar, seorang lelaki yang mulai masuk kedalam mimpinya semalam sedang duduk menatap guratan wajahnya yang pucat. Lelaki itu bergumam sendiri didalam hati, mempertanyakan, mengapa masa depan harus digapai dengan cara semenyakitkan ini.
Perlahan, seorang suster muda yang rambutnya digulung sempurna mendekati mereka. Lelaki itu segera berdiri, mempersiapkan telinga. Suster itu tersenyum, memeriksa rintikan infus, “Nggak papa, mas. Nggak usah khawatir. Cukup pantau aja apa yang dia konsumsi. Kasus seperti mbaknya ini sangat sering terjadi menjelang ujian.” Ujarnya mencoba menenangkan.
“Dia kecapekan, Sus?”
Suster itu menggeleng berat, “Kadar kafein didalam darahnya tinggi, plus sepertinya dia terlalu banyak minum suplemen. Biasanya memang menjelang ujian, banyak yang mengonsumsi minuman seperti ini untuk mencegah rasa lelah dan ngantuk. Padahal, itu hal berbahaya. Bisa merusak jantung dan pembuluh darah.” Jelasnya, “Mau seberat apapun beban yang ditanggung, tubuh juga berhak untuk istirahat. Istirahat adalah bentuk apresiasi pada diri sendiri setelah melakukan yang terbaik.”
Johan menoleh, menatap kelopak mata Della yang masih kuncup. Gadis itu terlalu keras pada dirinya sendiri.
“Yasudah, saya pergi dulu ya mas.”
Lelaki itu mengangguk santun, “Terimakasih, sus.”
Dari arah pintu Unit Gawat Darurat, Kinan yang bertugas menghubungi orang tua Della pun berjalan gontai mendekati bilik. Dari ekspresi sang gadis, sesiapapun bisa menebak apa jawaban yang ia dapatkan.
“Gimana, Nan?” tanya Johan.
Kinan menggeleng.
“Nggak jawab?”
Gadis itu lagi-lagi menggeleng, “Nggak bisa datang, disuruh naik Taxi. Ada rapat dinas atau apa gitu.” Terangnya. “Aku udah bilang Pak Nur, katanya nanti Pak Nur aja yang nganter.”
Johan menghela nafas panjang, melirik Della sejenak, “Terus Pak Nur Sekarang dimana?”
“Antri ngurus administrasi.”
Lelaki itu mengangguk-angguk.
“Kamu tau rumahnya Della?” tanya Kinan tiba-tiba.
Johan menatapnya sejenak, “Tau.”
Kinan menangguk tipis, “Aku beli roti dulu ya? Buat Della nanti kalau bangun.”
“Aku aja.”
“Jangan, aku aja.” Larang Kinan, “Della nggak bakal seneng kalau bangun-bangun lihatnya mukaku. Kamu disini aja, temenin dia dulu.”
“Ta-”
“Jo...” sela Kinan halus, sorot matanya begitu tegas melarang Johan untuk berbicara lebih banyak. “Kamu disini dulu.”
Johan pun tak punya banyak pilihan selain menganggukkan kepala. Kinan tersenyum tipis, kemudian pergi meninggalkan mereka dibilik putih yang semakin kemari semakin sepi itu.
Setelah memastikan punggung Kinan hilang tepat dipersimpangan lorong, ia kembali duduk ditempatnya semula. Memandangi wajah pucat Della yang kini sedikit mulai memerah. Batinnya berdoa, gadis itu tak pantas terluka. Hingga bermenit lalu, bola mata gadis itu mulai bergerak-gerak.
Remang-remang cahaya mulai menusuknya perlahan-lahan. Jemarinya berkedut, meraba kain tipis yang kini menyelimuti separuh badan. Ia menoleh, saat bayangan hitam berganti menjadi sosok yang begitu ia rindukan. Della mengerjap, mencoba membangunkan tubuhnya yang masih lemah. Johan?
“Della?” panggil Johan, “Kamu udah sadar?
Gadis itu diam, matanya berputar keseluruh ruangan. Ini bukan UKS. Dan orang-orang berbaju putih itu bukan anggota PMR sekolah. Ini dimana? Rumah sakit?
“Ini di Rumah Sakit.” jelas Johan setelah berhasil menerjemahkan pergerakan mata Della, “Tadi kamu pingsan disekolah.”
Della masih diam, mencoba mencerna perkataan Johan. “Kamu yang bawa aku sini?” tanyanya patah-patah, “Makasih ya? Jadi ngerepotin.”
“Ngerepotin? Apa itu masalahnya? Kamu minum berapa banyak suplemen dan berapa cangkir kopi setiap harinya sampe pingsan begini? Itu bahaya Della. Itu nggak baik buat kesehatan kamu. Aku tau kamu butuh konsentrasi lebih untuk belajar, tapi nggak gini caranya. Jangan pernah nyakitin diri sendiri, karena dirimu adalah satu-satunya hal yang paling pantas untuk diapresiasi karena mampu berjuang sejauh ini.”
“Kamu pasti selama ini jarang makan, kan? Kamu sering belajar sampe lupa makan kan?”
“Itu masalahku, jangan khawatir.”
“Hey, aku yang lari-lari gendong kamu ya. Jadi aku punya hak buat khawatir. Kamu nggak punya hak buat ngelarang aku.”
Tidak terduga, Della merespon ocehan Johan dengan senyum penuh. Baru kali ini, ia merasa sesenang itu ketika seseorang mengomentari hidupnya. Hanya Johan dan Cuma Johan yang mampu membuatnya seperti ini.
“Ih, senyum!” protes Johan.
“Terus apa kalau nggak senyum?” tanya Della menantang, “Aku harus sakit lagi?”
“Ya, jangan.”
“Tapi aku pengen sakit lagi, tuh. Aku seneng ada yang ngomelin begini.”
“Jangan khawatir. Kalau soal ngomel, aku lebih dari mampu buat ngelakuinnya tiap hari.”
“Della!” panggil Pak Nur dengan nada Khawatir dari ambang bilik. Lelaki paruh baya itu mempercepat langkah, meletakkan obat-obat yang baru ia tebusnya sembarangan dan menggengam tangan Della penuh ketakutan. “Della, kamu bikin Bapak Khawatir aja.” ujar Pak Nur, “Gimana sekarang? Sudah mendingan?”
Della mengangguk, “Maafkan saya, Pak.”
“Bagi saya, maaf itu adalah perbuatan. Jadi cukup buktikan bahwa kamu nggak lagi minum suplemen-suplemen itu.”
“Iya, Pak.”
“Eh, Kinan mana?” tanya Pak Nur setelah menyadari salah seorang muridnya tak ada ditempat.
Kening Della berkerut, “Kinan?” tanyanya lirih yang disambut anggukan Johan. Ah, seharusnya ia tidak terkejut. Bukannya dimanapun ada Johan, disana pasti ada Kinan?
“Beli ro-” jawaban Alan terjeda setelah melihat gadis berambut panjang itu datang menginterupsi percakapan, “Nah ini dia.”
Kinan mengangkat kedua alisnya, mempertanyakan kenapa namanya disebut.
“Dari mana, Nan?”
Gadis itu mengangkat kantong plastik hitam digenggamannya, “Beli roti buat Della, Pak.” Jawabnya. Gadis itu menata barang belanjannya pada meja kecil disisi ranjang dan membuka bungkus roti sobek cokelat keju untuk Della, “Makan dulu, Dell.”
Della mengangguk tipis. Johan pun cekatan bangkit membantunya duduk. Dibantu Kinan, Della makan sesuap demi sesuap roti cokelat yang sebenarnya sedikit terasa hambar dimulutnya.
“Kalau udah selesai makan, kamu istirahat dulu. Kamu bisa pulang kalau infusnya sudah habis.”
Della mengangguk, “Makasih, Pak Nur.”
“Ya, sama-sama.” jawab sang guru santai, “Saya kedepan dulu ya. Nan, nanti kalau ada apa-apa langsung telepon saya.”
“Baik, Pak.”
Ruangan kembali menghening. Della terlelap dalam sekantong infus yang masih mengalir perlahan pada pembuluh darahnya. Kinan merebahkan kepala didinding, menatap kosong ujung yang paling kelabu dari kelambu dan membiarkan pikirannya meramu hal-hal tak perlu. Sedang Johan, masih berada disana, ditempatnya semula. Menatap wajah pucat yang sama, namun pikirannya menyebrang pada gadis dihadapannya.
Tanpa sengaja, matanya bertemu dengan Kinan. Mereka berbagi diam yang sama. Saling menatap satu sama lain, tanpa suara. Gadis itu membagikan senyum tipis, yang disambut dengan kekehan kecil dari Johan. Apa yang sebenarnya mereka lakukan?
Johan bersiul kecil saat mata Kinan kembali sibuk pada apa-apa yang kosong. Lewat kedutan matanya, ia berhasil mengarahkan Kinan pada karet gelang yang dimainkannya diantara jemari. Kini giliran Kinan tertawa kecil dibalik telapak tangannya.
Entah apa yang sebenarnya mereka lakukan, namun dua muda itu nampak begitu bahagia dengan dunianya sendiri hingga melupakan seorang gadis yang sedang menahan tangis dibalik pelukan selimut.