BAB 35 : STADION

1431 Words
Tepat dihadapan kemegahan stadion Gajahyana, Kinan mendadak menghentikan langkah. Matanya tertegun sejenak meneliti spanduk-spanduk klub bola daerah yang dipajang sepanjang arena parkir. Ia menoleh, tertarik pada pemandangan disudut kanan pintu masuk, tepatnya dihadapan loket yang tirainya tertutup rapat. Tempat ekelompok punggawa bola berseragam merah biru sedang berdiri melingkar. Kepala mereka menunduk, mungkin berdoa, mungkin juga membisikkan strategi p*********n. Sedang, diambang pintu masuk, dihadapan pintu merah yang terbuka lebar, wartawan dari berbagai surat kabar membentuk kesebelasan sendiri. Beberapa dari mereka sibuk dengan kamera, beberapa lain mencuri pandang memperhitungkan waktu wawancara yang paling tepat.             Gadis itu menoleh pada seseorang yang membawanya ketempat ini, Alan. Matanya mengerjap pelan, menuntut penjabaran. Namun, alih-alih menjelaskan tujuannya hari ini, Alan malah tersenyum cerah menatap Kinan penuh. Ia ingin membalaskan dendam setelah hanya mampu melirik lewat kaca spion kiri sepanjang perjalan tadi.              Entah mengapa, Kinan begitu cantik hari ini. Perpaduan blouse kuning berornamen daisy, unfinished jeans, dan sneakers putih membuatnya memiliki kesan sederhana namun tetap elegan. Apalagi ditambah rambut lebat hitamnya yang jatuh sempurna dan riasan wajah tipis yang membuat wajahnya lebih berseri. Wah, sejak kapan Kinan punya kemampuan menjadi secantik ini?             “Aku kira kita bakal kemana gitu.” Ujar Kinan membangunkan lamunan Alan.             Lelaki itu mengerjap cepat, memupuk kembali kesadarannya, “Hm?”             “Kamu kok nggak bilang mau kesini? Aku ngerasa salah kostum.”             Meski ingin menggeleng menolak keras pernyataan Kinan, Alan memilih mengangguk penuh canda, “Iya, agak salah.”             “Tuh kan!” ujar Kinan. Gadis itu segera membandingkan pakaiannya dengan orang-orang sekitar. Huh, apa yang ia pikirkan? Kemana sebenarnya ia mengharapkan Alan mengajaknya pergi?             “Emang kamu mikir kita mau kemana?”             Kinan menatap Alan sekilas, “Nggak tau, beli gitar mungkin.” jawabnya. Padahal, ia mengira Alan akan mengajaknya pergi mengunjungi tempat-tempat yang indah. Gadis itu lupa satu fakta, bahwa sebagai Alan, tempat yang indah itu tak lain adalah lapangan bola.             “Oh, syukur deh. Aku kira kamu mikir yang lain. Kan, aku jadi nggak enak.” Godanya.             “Yang lain?”             “Nge-date misalnya.”             Gadis itu tertawa canggung, “Nggak lah, ngapain?”             “Habisnya kamu cantik banget sih hari ini.” balas Alan santai. Seolah memuji Kinan bukan hal sulit untuknya. Padahal, bagi sang gadis, pujian itu malah membuat jantungnya semakin berdebar kencang. “Makasih, jangan?” “Jangan.” Jawab Alan, “Aku aja yang makasih. Makasih udah mau nemenin hari ini.” Kinan tersenyum tulus, “Sama-sama.” ujarnya, “Ngomong-ngomong, ada acara apa?” “Ini?” tanya Alan memastikan, “Pertandingan persahabatan, biasa, jelang liga daerah. Teamku main kedua.” “Ah, gitu.” Ujar Kinan sembari mengangguk-angguk kecil. Pantas saja stadion sangat ramai. Rupanya ada lebih dari empat kesebelasan yang datang kemari. “Sebenernya aku mau ngajak kamu ketemu sama teamku dibelakang.” Alan menjeda, keningnya berkerut sejenak nampak berpikir, “Tapi, nggak jadi deh.” “Loh, kenapa? Aku aneh banget ya?” Alan menggeleng, “Kamu cantik banget sih, nanti digodain anak-anak.” Jawabnya bergurau. “Ih, apaan sih, Lan.” Protes Kinan setelah mendengar jawaban tak masuk akal itu, “Katanya bisa gelut, kok masih takut aku digodain?” balasnya. “Eh?” Alan tertawa renyah mendengar balasan Kinan. Semakin mengenalnya, semakin Alan sadar Kinan punya banyak sisi yang masih belum terungkapkan. Setelah habis tawa mereka, sepasang muda itu berjalan membelah keramaian stadion terik ini. Alan menuntunnya menjauhi tribun, berbelok di lorong ramai yang menyajikan ruang-ruang istirahat bagi para team kesebelasan. Para pemain yang sedang bersiap bertanding itu berjajar-jajar sembarang memenuhi lorong untuk sekadar bermain bola, bergurau, atau menggenakan kaos kaki. Hingga tepat satu ruang sebelum ujung lorong, sebuah logo kuda putih gagah dengan perisai hitam yang ditempelkan sekenanya dimuka pintu menghentikan langkah Alan. Lelaki itu terhenyak. Pikirannya kembali pada masa-masa yang pernah ia lalui. Apa keputusannya untuk datang kemari sudah benar? “Lan?” tegur Kinan, “Ini?” tanyanya. Alan mengulum senyumnya dan mengangguk tipis, “Ini teamku.” Kinan melongok, mengintip disela-sela kaca, “Kok nggak masuk?” Lelaki itu diam, tak bisa merespon Kinan. Ia memang diundang sang pelatih untuk datang kemari, teman-temannya juga telah menghubungi dari jauh-jauh hari. Ia sadar, tak ada kesemnpatan lagi untuknya bergabung dalam team. Tapi kenapa ia masih datang? Kenapa manusia suka menyianyiakan waktu untuk berekspetasi? Padahal, sebagian besar patah hati yang terpatah disebabkan oleh ekspetasi berlebihan pada diri sendiri. “Ada apa, Lan?” tanya Kinan setelah membaca perubahan ekspresi diwajah Alan, “Apa mau balik aja?” Alan menggeleng, “Nggak.” Ia kesini tidak untuk membual tentang harapan baru. Ia kesini untuk menggunjungi kawan-kawan lamanya. Sekonyong-konyong, dari dalam ruang, seorang lelaki jakung yang keringatnya bercucuran deras keluar bersama dengan sepatu putih dan kaos kaki hijaunya. Matanya tak sengaja bersitatap dengan Kinan, lantas cepat menyadari sesiapa lelaki berhoodie army yang berdiri didepannya. “Alan?” soraknya. Alan menoleh, mengatur senyumnya, “Bob!” Lelaki yang dipanggil Bob itu berhambur memeluk Alan, “Gila, lo kemana aje gila! Nggak waras lo udahan? Ilang gitu aja, dihubungin susah. b******n emang!” keluhnya sembari terus merapatkan pelukan. Alan melepaskan pelukan mereka, “Apaan sih, anjing. Hombreng lo.” “Kangen, sat!!” protesnya. Bob menggetuk keras jendela hitam disisinya, “Woy, ada Alan nih! Woy!” Sekali komando, team yang dikatakan Alan berhamburan keluar. Wajah mereka berseri menyambut kedatangan teman lama yang beberapa bulan terakhir sengaja memutuskan kabar. “b******n lo!” “Nggak mati ae lu sekalian?” “Bukannya dia emang udah mati? Nih arwahnya.” “Sok banget ngechat captain ‘sorry, bro, gue ngga bisa bareng lagi sama kalian. thanks kenangannya.’ Udah kayak wasiat ae.” “Drama lo, b*****t!” “Si b******k dateng kemari gak bawa apa-apa. Dah berapa bulan ini. Masih punya malu lo? Gila lo sumpah!” “Lo kalau mau ngilang yang totalitas dong, Lan!” “Gue kira lo udah lupa ame kita.” “Tau, sok ngilang. Lupa kali pernah mandi bareng, hahaha!” “Biar aja, entar kalau dia ngilang lagi tinggal diprint fotonya. Dijual sekalian.” “Sumpah masih ada fotonya?” “Aman, gue simpen, Bob!” Ketika mereka sibuk mencecar Alan, Kinan diam-diam tersenyum. Wajah Alan yang tadi nampak begitu khawatir kini telah kembali berseri. “Apaan sih lo pada, kalau kangen bilang aja!” “Kangen lo? Ngapain brooo! Kayak nggak ada kerjaan aja.” Alan tersenyum, “Udahlah, sono pemanasan. Lo mau sampe kapan reunian sama gue?” “Ayo dong abang kiper, pimpin pemanasan lagi.” ujar Bob, “Gue mah kiper gadungan. Jangan berharap banyak.” “Nggak ada yang ngarepin lo kali.” Gurau Alan. Alan menyingkir sedikit, membiarkan Kinan yang sejenak terlupakan masuk kedalam lingkaran percakapan mereka. Ia menyentuh punggung Kinan pelan, “Eh, kenalin.” Ujarnya memberi pengumuman, “Kinan.” Kinan tersenyum gugup. Ada percikan rasa bahagia yang timbul. Ini kali pertama ada seseorang yang mempersilahkan masuk kedalam dunianya. Jadi begini rasanya, diperkenalkan? “Biadab, lo dateng pamer pacar?” “Buaya nih. Baru berapa bulan di Malang langsung dapet cewek. Lo ngaku lo Lan, lo sebenernya nggak cedera kan? lo Cuma cari mau cari cewek.” “Sa ae modusnya.” Kinan menggigit ujung bibirnya salah tingkah, tidak tau harus mengatakan apa selain tersenyum tipis dan menganggukkan kepala sopan. Bob membersihkan telapak tangannya dilengan baju dan menjulurkan salam pada Kinan, “Kinan ya? Aku Bob. Dulu Back, sekarang Kiper. Jadi nggak kalah keren kok dari Alan.” Gadis itu tertawa kaku, tangan gugupnya bergerak hendak membalas jabatan tangan Bob. Namun, Alan cepat-cepat menghentikan tangannya. Lelaki itu menggengam jemari Kinan seolah tidak ada yang diizinkan menyentuh gadisnya, “Nggak ada salaman.” Sautnya ketus. Kinan terdiam, senyumnya menghilang, matanya sejurus menatap genggaman Alan. “Coookkkk!” lorong mendadak riuh u*****n. Gadis itu kembali memamerkan senyum, “Halo semuanya.” Sapanya kikuk.             “Halo mbak cantik.”             “Halo, Nan. kamu kena pelet ya? Masa cantik-cantik mau sama cowok b***k begini.”             “Nan, mending gandengan sama aku aja. Tanganku nggak kapalan.”             “Bacot lo pada.” Canda Alan, terkekeh kecil, “Udah lah, sana lo pemanasan! Gue mau cari coach dulu.”             “Yeu, sibangsat tukang pamer!” komentar mereka bersautan.             Alan tidak perduli. Ia melambai sombong dan berbalik menyusuri Lorong dengan tangan Kinan yang masih ada digenggamannya.             “Eh, Lan.” Panggil Kinan.             “Hm?”             “Nggak mau dilepas?”             “Apanya?”             “Tanganmu?”             Alan menatap tangan mereka dan mengangkatnya, “Ini?”             Kinan mengangguk kecil, “Iya.”             “Kata orang, aku harus melepaskan untuk bisa menggenggam yang lebih baik. Jadi, hari ini aku akan mencoba melepaskan duniaku dan menukarnya dengan tanganmu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD