Dibawah kanopi yang masih menyisakan gerimis tadi pagi, Alan menyandarkan tubuhnya pada salah satu tiang penyangga. Matanya khusyu mengikuti bumbungan asap rokok yang keluar dari bibir lelaki kekar yang telah menjadi pelatih bola 16 tahun belakangan. Pikirannya melayang pada hari-hari pertama pertama mereka bertemu. Kala itu di asrama –seingatnya, ia bertemu ketika lelaki itu sedang menghabiskan hisapan rokok diberanda lantai dua. Matanya tajam, kumisnya lebat, dan bibirnya yang miskin senyum menyambutnya dingin. Alan mengulurkan tangan, menjabatnya ragu. Sang pelatih tiba-tiba tersenyum, ‘Disini kalau sudah masuk, nggak ada kata pulang. Yang ada latihan, latihan, dan latihan.’ Tegasnya yang membuat Alan semakin menggigil ketakutan.
Namun, setelah berturut hari Alan mengenalnya, ia menjumpai sisi berbeda. Lelaki garang itu tiba-tiba menjelma mampu menjadi ayah, kakak, bahkan kawan sepanjang malam-malam sepinya didalam asrama. Setiap kali Alan merasa kesepian, lelaki itu datang mengetuk kamarnya. Membawakan ice cream cokelat atau gula-gula kesukaan lali mengajaknya latihan digelanggang. Lelaki garang itu benar-benar mampu menghangatkan ruang kosong pada diri Alan dan mengubahnya menjadi sesuatu yang luar biasa. Menjadi kiper kebanggaan kuda putih, contohnya.
Ah, ia jadi rindu pada hari-hari itu. Hari-hari yang ia habiskan dalam belenggu sekolah asal-asalan, latihan hingga malam, dan bercecar canda sepanjang malam dikamar asrama. Such a good old day.
Coach mematikan rokoknya yang mulai memendek, ia menatap Alan yang masih sabar menunggunya buka suara, “Setelah pamit nggak bakal balik, saya kira kamu nggak bakal mau dateng lagi kepertandingannya anak-anak.” Tegurnya.
Alan mengangkat ujung bibirnya, “Setelah pamit nggak bakal balik, saya kira coach atau anak-anak nggak bakal ngehubungin saya lagi.” jawab Alan, membalikkan pembicaraan.
Coach tertawa serak, “Bisa-bisanya mikir gitu.” Ujarnya, “Saya mana sempet mikir begitu. Baru lupa kamu sedetik aja, captain mu dateng nyerocos nanyain kamu. Belum lagi ngotot minta ambil HP nya pas latihan buat ngehubungin kamu secara langsung.”
Alan tersenyum penuh, ia tidak terkejut dengan perbuatan sang captain. “Pantesan Edo bisa telpon saya waktu jam latihan.”
“Waktu kamu pamit, captainmu uring-uringan ke manajemen. Dikira kami yang nge-kick kamu karena cidera. Padahal, kamunya aja yang banyak drama.”
Lelaki itu tertawa renyah, “Masa coach? Orang saya dateng tadi aja dimaki-maki mulu.” Respon Alan pura-pura sangsi, “Emangnya, Coach enggak?”
“Saya? Ngapain?”
“Ikut galau kangen saya.” Jawab Alan penuh percaya diri, “Secara, kiper terbaik empat musim berturut-turut.”
Coach terkekeh, “Ngapain?” ujarnya sembari menyalakan pemantik, “Jangan lupa, saya ini pelatih. Kalau anak didik pertama saya saja sehebat kamu, saya berarti bisa mendidik anak lain lebih baik daripada kamu. Kamu bisa 8 cleen sheet didelapan belas pertandingan? Saya yakin, kedepannya juga bisa mencetak kiper yang dua ratus kali lebih baik daripada itu.”
Alan mencebikkan mulut, kecewa.
Coach menepuk pelan pundak Alan, “Saya memang bisa, Lan, mendidik orang lain agar lebih dari kamu. Tapi, saya nggak bisa mendidik dia supaya menjadi kamu. Bocah ingusan yang rela jauh dari rumah demi meraih mimpi dan cita-cita. Yang rambutnya selalu cepak karena nggak pernah punya sisir. Yang bikin saya jatuh cinta karena kemampuannya menangkap bola dilatihan pertama. Yang nggak pernah ngeluh meskipun diajak latihan sampai jam dua belas malam. Yang mampu menjelma menjadi anak laki-laki saya diasrama.”
Senyum Alan tersungging mendengarnya.
“Jika saya saja, orang yang berada didekatmu hanya ketika latihan bisa merasakan seperti itu, apalagi rekan seteam mu, Lan. Orang yang dua puluh empat jam selama tujuh tahun belakangan hidup berdampingan, sekamar, sepiring, segelas sama kamu.” tambah coach mencoba menyentuh hati Alan, “Kamu tau, Lan, manajemen sudah melihat potensi Bob untuk menggantikan posisimu. Tapi, captain, team, bahkan Bob menolak itu. Mereka ngotot formasi ini hanya sementara, hanya selama sahabat mereka cedera. Tapi, yang ditungguin malah tiba-tiba pamitan. Apa kamu nggak mikirin perasaan team mu?”
Alan terdiam, tidak punya jawaban.
“Lan, kalau kamu merasa mulai nyerah sama mimpimu, coba ingat-ingat kenapa kamu memulainya, ingat seberapa panjang perjuanganmu untuk sampai dititik ini. Jangan mau kalah sama keadaan.” Tutur coach, “Pamitmu itu nggak akan saya anggap. Manajemen pun juga. Kamu sedang cedera dan butuh istirahat, hanya itu, tidak ada yang lain.”
“Coach, saya tidak datang untuk ini. saya datang untuk ketemu anak-anak. Saya Cuma mau menunjukkan, meskipun saya nggak ada diteam, saya akan selalu ada untuk mendukung mereka.”
“Lan, kamu sadar kamu sedang melarikan diri? Kamu sedang melarikan diri ke zona paling aman versimu. Lan, kalau bumi nggak pernah diterpa badai, dunia hanyalah gurun pasir. Kita nggak akan pernah melihat pantai, gunung, lembah, danau, dan sebagainya. Jangan terkungkun pada masa lalumu.”
Coach menghela nafas, mencoba merangkai kata-kata yang lebih baik, “Lan, kamu nggak perlu kembali untuk saya. Kembalilah untuk dirimu sendiri. Kembalilah untuk cita-citamu. Kembalilah untuk hal-hal yang ingin kamu perjuangkan. Kembalilah dengan memikirkan teammu.”
“Kembalilah dengan memikirkan siapa yang akan menepuk pundak Edo waktu team kalian kalah telak? Siapa yang memijat kaki Samuel ketika kram? Siapa yang masakin Bob diam-diam waktu tengah malam padahal kalian harus diet? Siapa yang nemenin Diko latihan sampai subuh tiap satu hari sebelum pertandingam? Siapa yang bantuin Ronal ngarang alasan buat keluar asrama demi kencan?”
Alan tersenyum, ternyata coach tau segalanya.
“Jangan sia-siakan harapan teammu, Lan.”
Alan berdehem, “Coach tau sendiri, ini bukan soal apa. Saya Cuma udah nggak punya kesempatan untuk kembali. Nggak ada yang ngebiayain saya lagi disekolah bola. Ada hutang besar yang harus saya bayar ke abang. Juga, saya sedang cedera.”
“Cideramu bisa diterapi, Lan. Cidera pemikiranmu yang nggak bisa.” Potong coach, “Soal biaya, itu gampang, Lan. Selama performamu baik, pertandingan jalan terus, uang adalah hal yang mudah buat kamu.”
Alan hanya tersenyum, matanya melirik kearah Kinan yang sedang melemparkan mata kesembarang arah demi membunuh waktu tunggunya. Sebenarnya, Alan tidak masalah bila Kinan bergabung dalam pembicaraan ini. Namun, gadis itu memilih tidak. Ia ingin menyisakan ruang waktu pribadi untuk pelatih dan anak didik kesayangannya.
“Lan, tapi kamu sadar kan, kalau kamu sedang menghukum dirimu sendiri?” tanyanya yang disambut anggukan pendek Alan, “Ah, kalau dilihat dari caramu menjawab, itu lebih mengarah bahwa kamu sengaja melakukannya.”
Alan lagi-lagi hanya tersenyum.
“Kamu ya nggak terapi kan?” tebaknya. “Iya, nggak mungkin kamu terapi. Kamu sibuk menyalahkan dirimu, menyalahkan keadaan. Padahal, menyalahkan keadaan nggak akan pernah mengubah apapun. Kamu harus berdiri, bertindak, bergerak. Kamu itu nggak salah, Lan. Semuanya atas nama takdir. Kamu nggak boleh ngehukum diri sendiri. Kamu masih berhak bercita-cita, kamu masih berhak berjuang. Masalah Abangmu, masalah keluargamu, itu lain cerita. Kamu harus menang atas dirimu sendiri.”
Alan tertawa kecil, menanggapi segala tutur yang diberikan. Lagi-lagi, matanya melirik Kinan, mencoba berdamai dengan hal-hal ramai.
Diam-diam, sang pelatih mengikuti arah pandangnya. Ditatapnya gadis cantik yang berdiri canggung ditengah gelanggang pertandingan. Dilihat dari cara Alan menatapnya, gadis itu pasti lebih dari kawan. Ini sebenarnya sedikit membahayakan, atau juga tidak.
“Oh, jadi itu yang bikin anak-anak heboh.” Tegurnya.
Alan tergagap, menggeleng cepat, “Bukan siapa-siapa kok, coach. Cuma temen kelas. Kebetulan dia lagi kosong, jadi saya ajak.”
“Mana ada yang seperti itu. Saya kenal kamu banget, Lan.” Sautnya, “Kamu nggak akan bersama orang yang nggak kamu percaya. Hm, hebat ya kamu, padahal baru berapa bulan di Malang. Mana cantik lagi.”
“Cuma temen coach.” Sanggah Alan lelah.
Coach tertawa kecil, “Nggak usah tegang gitu dong, kamu lagi bebas, nggak bakal dilarang pacaran dan dikasih hukuman latihan tambahan kok, tenang aja. puas-puasin sebelum balik.”
“Kayak mau balik aja.” jawab Alan bercanda.
“Loh, nih anak ngelunjak lama-lama.”
“Peace, coach.”
“Eh, siapa tadi namanya?”
“Kinan. Kinan Tha Almathea.”
“Hm, Kinan. Antik juga namanya.” Tanggapnya.
“Orangnya juga.”
“Hu!” ujar Coach sembari memukul pelan kepala Alan, “Udalah, kamu daripada kesini jadi b***k cinta, mending kebelakang, ngawasin anak-anak pemanasan.” Perintahnya sembari mengalungkan kartu tanda official team pada Alan.
Alan terdiam, tidak bisa menolak, tidak ingin mengiyakan.
“Katanya mau tetep dukung anak-anak? Yaudah kesana. Jangan khawatir sama Kinan, saya ajak duduk ke tribun. Nanti kalau mulai, saya bawa ke bangku cadangan deh. Janji. Kamu nyusul aja.”
“Nggak dulu lah, coach. Kinan kesini datang sama saya, ya dia harus sama saya terus.”
“Khawatir banget sih, nggak bakal saya apa-apain Kinannya.”
“Saya bilang Kinan dulu, Coach.” Ujarnya latas berjalan cepat menghampiri Kinan. Coach pun turut pergi, ingin mengenal Kinannya Alan lebih baik lagi.
“Nan.” sapa Alan.
Gadis itu terkejut, bahkan sedikit gugup saat melihat siapa yang dibalik Alan. Ia mengangguk sopan pada coach dan memamerkan senyum manis andalannya.
“Halo, Nan.” sapa coach.
“Halo, Pak.”
“Nan, aku disuruh coach ngawasin anak-anak pemanasan.” Ujar Alan, “Boleh nggak?”
Mata gadis itu terbelalak. Kenapa Alan meminta persetujuannya? “Eh? Ya Nggak papa lah, Lan.” Ujarnya, “Kalau gitu, aku tunggu di-”
“Tadi saya janji ke Alan, kalau dia ngawasin anak-anak, kamu saya yang jagain. Ayo duduk di Tribun, nunggu bareng saya.”Ajak Coach.
Mata Kinan membundar sempurna, merasakan hawa canggung luar biasa. Matanya melirik Alan, meminta persetujuan. Dan ketika lelaki itu mengangguk sempurna, Kinan baru berani mengiyakan, “Oh, iya, Pak.
“Udah sana. Saya jagain kok yayangmu ini.” gurau coach.
Alan tersipu, kemudian pergi menyemai keramian dan menghilang tepat dipintu pembatas tribun dan lapangan.
Coach menoleh, memperhatikan mata Kinan yang belum lepas pada jejak yang ditinggalkan Alan, “Ayo ke Tribun, Mbak.” Ajaknya.
Kinan mengangguk, menyamai langkah, “Iya, Pak.”
“Panggil coach aja, semua orang manggil saya gitu.”
Gadis itu menggigit ujung bibirnya“I-iya, Coach.”
Mereka terus berjalan, membelah kerumunan dimuka pintu dan mulai menapaki tangga demi tangga di tribun. “Kinan sudah lama temenan sama Alan?” tanyanya.
“Hm, ya sudah selama awal dia pindah coach.”
“Oh, lumayan lama ya. Alan gimana dikelas? Baik anaknya? Apa jangan-jangan pernah berantem.”
Kinan menggeleng cepat, “Nggak kok, coach. Ya, meskipun dia sering tidur dikelas, Alan anaknya baik banget.”
“Kalau Alan nggak tidur dikelas ya bukan Alan emang.” Tanggap coach penuh tawa, “Ngomong-ngomong, Kinan tau kalau Alan dulu pemain bola?”
“Tau, coach. Itu jadi cerita heboh disekolah.”
“Kenapa, dianggap keren ya kalau anak bola?” tanyanya, “Padahal, dia jarang mandi.”
Kinan terkekeh kecil.
“Terus, Kinan tau kalau Alan cidera?”
Kinan mengangguk ragu, “Saya nggak tau cidera spesifiknya bagaimana, coach. Tapi Alan pernah cerita soal kecelakaan yang bikin dia harus berhenti dari sekolah bola.”
Coach memandang Kinan lamat-lamat, “Berarti, kamu tau tentang abangnya?”
“Tau, coach.”
“Wah.” Puji coach takjub, “Saya senang kalau Alan sudah berani terbuka ke orang lain. Karena selama saya kenal Alan, dia orangnya tertutup banget. Kinan mungkin benar-benar bisa bikin Alan nyaman ya?”
“Kalau itu, saya nggak bisa jawab coach. Tapi yang saya tau, saya yang nyaman sama Alan.”
Coach tersenyum, “Sekarang ini adalah fase terberatnya Alan, Nan. Sebagai pemain sepak bola, cidera adalah hal yang rumit dan menyedihkan untuknya. Apalagi ditambah abangnya yang sakit. Saya terimakasih banyak karena sudah menemani Alan selama ini. Asal Kinan tau, memiliki seseorang yang berjalan disampingmu ketika dunia tak lagi berarti adalah hadiah terbaik.”
Kinan terhenyak sebentar.
“Tolong ya, Nan. Temani Alan terus.”
“Saya tidak berani berjanji, coach, tapi saya akan mengusahakan yang terbaik.”
“Iya, bagus kalau begitu.” pujinya, “Tapi, Nan, saya boleh minta tolong sesuatu?”
Alis Kinan terangkat, “Apa itu coach?”
“Pastikan Alan rutin terapi ya, supaya setelah lulus SMA dia bisa kembali kesebelasan.”
“Terapi?”
“Iya. Kakinya. Dia butuh terapi.”
“Ah...” Kinan terdengar lesu, ia tidak pernah tau itu.
“Alan masih punya rasa bersalah yang besar pada abangnya. Jadi dia nggak pernah mau terapi. Jadi, Kinan coba bujuk ya.” Pintanya, “Saya punya keyakinan besar, asal itu atas perintah Kinan, Alan pasti mau melakukannya.”
“Karena sepertinya, Kinan sudah dianggap lebih dari sekadar teman sekelas.”